TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 184. ADA APA INI?


__ADS_3

"Ini rumah milik menantuku ini, puas kalian? Jadi selama kami masih berbaik hati tidak melaporkan tindakan kalian ini ke warga yang lain sebaiknya kalian pergi dari sini." Bu Ambar menggeram marah.


 Tapi dengan santainya intan malah mengibaskan rambutnya dengan sok anggun, lalu mendekati Bu Ambar lagi dengan jempol dan jari tengah menjentik jentik udara.


"Hei, nenek tua. Sadar! Kalau ngomong jangan ketinggian, jangan halu malu sama orang lain kalau sampai ketahuan bohongnya."


 Mendidih rasanya darah Bu Ambar mendengar kekurang ajaran Intan, terlibat sifat labilnya yang terang terangan menunjukkan ketidak sopanan malah di biarkan saja oleh ibunya bahkan terkesan di ajarkan.


"Hah, iya benar. Wong rumah ini saja punya menantuku si Fatan kok, di akui rumah dia sudah sin ting kayaknya ini orang dua. Sudahlah lebih baik kalian pergi sebelum kami panggil warga sini dan buat kalian malu," imbuh Bu Sukri dengan tak tahu malunya padahal baru saja sedetik yang lalu dia seolah benar benar syok mendengar perkataan Bu Ambar tentang kepemilikan rumah tersebut.


"Benar benar orang orang bebal, apa perlu kami panggil Pak RT untuk membuktikan semuanya?" tantang Bu Ambar tak habis akal.


 Terlihat wajah Bu Sukri dan Intan mendadak pias.


"Ah, hmmm ... untuk apa? Merepotkan saja, maaf ya kami orang kaya tidak punya waktu meladeni orang miskin macam kalian." Intan mencoba mengelak.


 Tapi gelagat keduanya sudah tercium oleh Bu Ambar dan Dara, terlebih Bu Sukri yang kini tampak semakin gelisah.


"Hah, bilang saja kalau kalian tidak berani. Atau jika tidak panggil Indi dan tanya padanya siapa yang punya rumah ini, dia itu cuma numpang tapi seenaknya masukkan orang asing ke rumah ini," tantang Bu ambar lagi.


 Intan dan Bu Sukri saling pandang sejenak.


"Baik, tunggu di sini jangan masuk selangkah pun ke dalam rumah ini. Nanti udara di dalam sini tercemari karna di injak sama orang kampung macam kalian," sindir intan lagi, sembari melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


 Bu Ambar mengangkat tangannya, geram sekali rasanya ingin mencakar wajah gadis muda yang gayanya selangit itu. Tapi Dara cepat meraih tangan mertuanya dan mengelus elus punggungnya.


"Sudah, Bun nggak ada gunanya adu otot di sini. Yang ada nanti bunda juga bisa kena masalah, lebih baik kita tunggu dan biarkan Indi nanti yang menjelaskan semuanya." Dara berkata lembut.


 Akhirnya Bu Ambar mengalah, membenarkan ucapan menantunya itu. Padahal jika tidak ada Dara di sana sudah pasti intan dan Bu Sukri itu sudah terkapar karna membuat Bu Ambar marah, mereka berdua bukanlah lawan yang seimbang bagi Bu Ambar yang sudah sabuk hitam legam kelam di karate dan silat.


 Bu Sukri membuang wajahnya saat Bu Ambar menatapnya lekat, mungkin sudah merasa kalau kebohongannya dan anaknya sebentar lagi akan terbongkar.


"Loh, ada apa ini?" tanya Fatan yang tiba tiba sudah berdiri di belakang Bu Sukri, wajahnya tampak seperti baru saja bangun tidur. Padahal suasana di luar sudah sangat terik bahkan adzan Zuhur sudah berlalu sejak tadi.


 Entah apa yang dia lakukan semalam hingga bangun tidur bisa sesiang ini.


"Wah, enak ya jam segini baru bangun tidur. Orang kaya darimana itu, bukan hari libur kok nggak kerja malah molor aja kerjaannya, apa mungkin orang kaya halu ya kayanya pas dalam mimpi doang makanya tidur mulu?" Sindir Bu Ambar menatap Fatan dengan tatapan meremehkan.


"Loh, Dara? Kamu di sini?" tanya Fatan tanpa rasa bersalah sama sekali. Membuat Bu Ambar muak sekali melihatnya, masih terpatri dendam di hatinya akan Fatan dan Indi yang dulu sudah mengkhianati putranya.


"Orang kaya halu apanya sih? Situ kali yang halu, pede banget sih dari tadi ngatain orang. Mungkin di rumahnya nggak ada kaca kali ya," sahut Bu Sukri kembali terbakar amarah walau sebenarnya hatinya ketar ketir jika sampai setelah ini Fatan akan buka mulut tentang kenapa mereka bisa ada di sini.


"Bu! Ngomong apa sih? Kenapa bicara begitu? Ini juga kenapa Dara sama Bu Ambar di biarin berdiri di luar? Suruh masuk dong, Bu." Fatan melayangkan protes pada Bu Sukri, membuat Bu Sukri terdiam seketika.


 Bu Ambar tampak menyeringai penuh kemenangan, dan bersamaan dengan itu tampak dari arah dalam rumah intan tengah berjalan di depan Indi dengan wajah di tekuk dan kaki yang menghentak hentak di lantai.


"Mmmaaaaasssss," gumamnya sembari bergelayut di lengan Fatan, sengaja memamerkan kemesraannya di depan semua orang dan anehnya Bu Sukri malah tampak bangga dengan anaknya bersikap demikian, memang dasar ibu nggak beres ini otaknya.

__ADS_1


 Fatan tampak tak nyaman dan berusaha menepis pegangan tangan intan dari lengannya, tapi bukannya melepas Intan justru mengeratkan pelukannya di lengan Fatan dengan wajah di imut imutkan menyebalkan.


"Mas kok gitu sih? Intan capek tahu, Mas jalan dari gudang belakang ke sini." Intan memanyunkan bibirnya membuat Bu Ambar gemas ingin meremasnya dengan cabe setan satu kilo.


"Hih, lebay." Bu Ambar mengumpat lirih.


 Namun intan yang menyadari malah menjulurkan lidahnya pada Bu Ambar, membuat Bu Ambar geram setengah mati. Jika saja Dara tidak cepat mengambil alih situasi pasti saat ini wajah intan sudah babak belur di hajar Bu Ambar.


"M- Mbak Dara ...." Indi melangkah pelan lebih dekat pada Dara.


 "Indi, ini ada apa? Kenapa kamu bawa orang asing masuk ke rumah ini? Mbak memang minta kamu dan ibu tinggal sementara di sini tapi bukan berarti kamu bisa bebas memasukkan siapapun ke sini. Ini namanya tidak sopan, Indi." Dara mencecar Indi dengan banyak pernyataan, sifatnya yang biasa tenang dan kalem mendadak menjadi hilang setelah segala perlakuan dan kekurang ajaran yang di tunjukan Bu Sukri dan intan padanya dan mertuanya sejak tadi.


 Indi tampak termegap, dari raut wajahnya Dara tahu Indi hendak menjawab namun air mata dan isakan lebih dulu keluar dari bibirnya.


"Ah ya, Indi dan satu lagi yang harus kamu luruskan di sini. Tolong katakan pada tamu tak di undangmu ini siapa yang mengizinkan kamu dan ibu kamu tinggal di sini," imbuh Bu Ambar tak sabar membeli ucapan dan cacian Bu Sukri dan intan sejak tadi.


 Bu Sukri tampak pias mendengarnya sedangkan Intan sudah tampak acuh sembari bergelut manja di lengan Fatan tanpa mengindahkan orang orang di sekitarnya yang menatapnya tak suka.


"Indi, tolong jawab. Luruskan semua ini atau Mbak nggak akan pernah bantu kamu lagi, dalam hal apapun." Dara mendesak Indi sembari mengguncang pelan bahunya.


Indi masih tergugu, tapi di paksanya juga bibirnya untuk bicara walau hanya serupa bisikan.


"Mbak, t- tolong ... tolong kami, Mbak."

__ADS_1


__ADS_2