
Setelah dari rumah Pak Sukri, Fatan memutuskan untuk pulang walau belum memberi jawaban apapun tentang rencana Pak Sukri dan Bu Sukri untuk menjodohkan intan dengannya. Pikiran Fatan ruwet, walau saat ini dia tengah bosan dengan sang istri, Indi namun tak terlintas sedikitpun di benaknya untuk menjadikan Intan istri kedua, terlebih lagi usianya dan intan terbilang cukup jauh intan baru 17 tahun dan sedang ranum ranumnya, sedangkan dia sudah menginjak 29 tahun dan tahun depan sudah kepala tiga.
Fatan mendengus keras ketika sampai di depan rumahnya dan mendapati rumah itu gelap gulita seperti layaknya rumah hantu. Padahal rumah rumah tetangga yang lainnya semua listriknya hidup.
"Kenapa rumah gelap sekali sih? Kamu sengaja matikan lampu ya, Indi?" seru Fatan saat baru saja masuk ke dalam rumah dan membuka pintu dengan kasar.
Bu Maryam dan Indi yang tengah duduk di dapur gegas menghampirinya sambil membawa sebatang lilin yang sudah habis separuh itu.
" Ada apa, Mas? Kok pulang marah marah? Kamu itu bisa nggak sih, Mas? Sehari aja nggak marah marah di rumah?" sahut Indi ikut kesal juga.
" Ini lampu rumah kenapa mati semua? Sengaja kamu ya?" Fatan malah balik memarahi Indi kembali.
"Kamu lupa, Mas? Tadi sore kan aku sudah bilang sama kamu kalo token listrik mau habis, tapi kamu malah nggak mau tahu dan pergi. Sekarang ya begini lah jadinya," sahut Indi pula.
"Memangnya ibu nggak ada uang buat beli token listrik dulu? Kan biasanya juga ibu yang selalu beli." Fatan mendengus.
"Ibu beli punya uang, belum gajian. Lagipula kamu itu laki laki harusnya kamu yang bertanggung jawab menafkahi dan menyukupi kebutuhan istri kamu. Bukan malah membebankan semuanya sama ibu!" marah Bu Maryam tak terima.
Sudah cukup selama ini dia selalu di jadikan tameng bagi Fatan untuk tidak bekerja, dan malah malas malasan saja di rumah. Tapi kerjanya setiap hari marah marah jika yang terhidang atau yang ada di rumah tak sesuai yang dia inginkan.
"Jadi ibu nggak ikhlas?" sentak Fatan tak merasa gentar sedikit pun, padahal selama masa pernikahannya dengan Dara dulu Fatan adalah sosok pria yang penyayang dan selalu lemah lembut terhadap keluarga istrinya. Namun entah kenapa sekarang dia berubah hingga 180 derajat sangat berbeda.
"Bukan maksud ibu nggak ikhlas, tapi harusnya kamu bisa lebih paham tanggung jawab kamu sebagai laki laki dan suami, apa lagi sebentar lagi kalian mau punya anak bukankah harusnya kamu lebih rajin dan lebih siaga menyiapkan semuanya untuk kelahiran anak kalian?" papar Bu Maryam mencoba melunak.
Fatan melengos dan menyugar rambutnya kasar.
"Halah, banyak alasan! Bilang aja kalau pelit!" bentaknya lalu berjalan melewati mereka untuk menuju kamarnya.
" Mas, mau kemana?" tanya Indi sambil berusaha mengikuti langkah Fatan yang tergesa.
"Ke kamar, sini kamu! Bawa juga lilin itu, rumah kok gelap sekali kayak di kuburan. Begini lah kalau punya mertua perhitungan," gerutunya yang masih terdengar oleh Bu Maryam.
Bu Maryam tak bisa berbuat banyak, dia takut jika salah berkata maka Indi nantinya yang akan menjadi tempat pelampiasan kemarahan Fatan, jadi walau dadanya bergejolak marah Bu Maryam tetap berusaha untuk tenang.
"Maaf ya, Bu." Indi berbalik dan menatap mata ibunya dengan nanar.
Bu Maryam mengangguk, menggosok pelan punggung Indi dan memberikan lilin di tangannya pada Indi.
__ADS_1
"Indi! Bisa cepet nggak sih? Gelap sekali loh ini!" bentak Fatan dari arah depan pintu kamarnya, mungkin dia takut untuk masuk karena kondisi kamar yang memang gelap gulita.
",Iya, Mas. Sebentar," sahut Indi sambil berjalan pelan menuju ke arah Fatan.
Fatan yang tak sabar langsung menyusul dan merebut lilin tersebut dari tangan Indi.
"Lama banget sih jalannya!" bentaknya lagi.
"Susah, Mas. Kan perutnya udah gede," sahut Indi pelan, mencoba memberi pengertian yang dia tahu tak akan di dengarkan oleh Fatan.
"Halah, alesan aja kamu itu. Sama kayak ibu kamu!"omel Fatan lagi lalu berlalu begitu sama masuk ke dalam kamarnya.
Bu Maryam mendekat karna takut juga di tinggal sendirian di ruang tamu yang gelap itu, sedangkan indi gegas menyusul suaminya masuk ke kamar karna penasaran apa yang tengah di lakukan Fatan di dalam sana.
"Kamu lagi apa, Mas? Kenapa lemarinya di bongkar?" tanya Indi kaget sambil memunguti pakaian yang berserakan di lantai karna di keluarkan sembarangan oleh Fatan.
Fatan tak menjawab tangannya terus saja mengeluarkan semua isi lemari itu sambil mencari cari sesuatu. Bermodalkan lilin di tangannya matanya liat menatap setiap sudut lemari berbahan kayu jati itu.
"Mas! Aku nanya loh, kalau kamu nggak bisa nemuin biar aku bantu cari, tapi jangan di berantakin semua baju bajunya, Mas. Kan capek aku beresinnya lagi." Indi melayangkan protes.
Fatan menatap Indi kesal.
Indi terkesiap mendengar bentakan Fatan, setelahnya dia hanya diam sambil memungut dan menyusun kembali pakaian yang berserakan itu.
"Sebenarnya kamu nyari apa sih, Mas? Kayaknya penting sekali ya?" tanya Indi masih penasaran.
Fatan berdecak.
"Kamu itu nanya mulu sih? Bantu juga nggak. Nih, kalo kamu mau tahu aku lagi nyari map warna merah, terakhir aku lihat di dalam lemari ini tapi lupa di mananya. Emangnya kamu ada lihat?"
Indi diam tampak mencoba mengingat ingat map yang di maksud oleh Fatan. Setelah beberapa saat dia beranjak dan menuju ke bagian lemari yang paling bawah, dimana terdapat sebuah laci di sana. Indi menariknya dan terlihatlah map merah yang di maksud Fatan tergeletak rapi di dalamnya.
"Ini ya, Mas?" Indi mengangkat map itu.
Fatan menoleh, matanya tampak berbinar menatap map itu. Lalu secepat kilat dia menyambar map itu dan membukanya.
"Nah, ini dia akhirnya ketemu juga."
__ADS_1
"Memangnya itu isinya apa, Mas?" Indi memberanikan diri bertanya lagi.
"Sertifikat," sahut Fatan singkat.
Dahi Indi tampak berkerut.
"Sertifikat? Sertifikat apa, Mas?".
Fatan memutar bola matanya malas.
"Hah, kamu itu banyak tanya banget sih? Nggak usah kepo kenapa?" dengus Fatan membuat Indi langsung terdiam.
Fatan hendak beranjak dari kamar itu saat Indi tiba tiba menahan pergerakannya.
"Mas, tunggu."
"Apa lagi sih?"
Indi menunjuk tumpukan pakaian yang kini berserakan di lantai dengan tatapan nanar.
"Tadi katanya kamu mau beresin ini semua," cetus Indi.
Fatan kembali berdecak malas.
"Hah, kamu itu apa gunanya jadi perempuan kalau begini aja aku yang harus beresin hah?"
"Ta- tapi kan, Mas. Tadi kamu bilang ...."
"Terus harus banget ya aku yang beresin? Nggak bisa gitu kamu nyenengin suami kamu ini dengan bantu beresin ini? Sedikit juga kan? Kamu mau beli kebutuhan buat calon anak kamu itu kan?" ucap Fatan entah dapat angin apa mulai membicarakan perihal anaknya yang bahkan sejak awal tidak di indahkannya itu.
Mendengar itu Indi langsung mengangguk dengan semangat.
"Mau, Mas."
"Bagus, kalau begitu kamu beresin ini Mas mau keluar dulu. Besok kita ke pasar belanja kebutuhan bayi."
Indi mengangguk dengan senang hati, dan melakukan apa yang di katakan Fatan.
__ADS_1
Fatan keluar dari rumah dengan senyum sinis di wajahnya.
"Dan setelah itu kamu harus kembali menerima keputusan besarku selanjutnya."