
"Bagaimana, dokter?" tanya Zaki sesaat setelah dokter perempuan dengan usia yang sepertinya sepantaran dengan Bu Ambar itu selesai memeriksa Dara.
"Alhamdulillah, kondisi rahim ibu Dara baik dan insyaallah siap di buahi." Dokter itu menjawab dengan senyum lembut terpatri di wajah teduhnya.
Mata Zaki berbinar, menarik tangan sang istri dan menggenggamnya erat.
"Jadi, kapan kami bisa mulai program hamilnya, dok?" tanya Dara menimpali.
Dokter itu mengangguk. "Secepatnya, setelah Bapak dan ibu siap tentunya."
Dara menatap suaminya penuh harap, sesuai perkiraan sebentar lagi mereka akan bisa kembali menjadi orang tua dari bayi mungil yang akan lahir dari rahim yang sama dengan si kembar.
" Mulai sekarang jangan capek capek, kamu cukup di rumah aja. Soal butik biar Vania yang urus, dia juga sudah cukup mahir kan?" titah Zaki setelah mereka keluar dari rumah sakit usai menebus obat dan vitamin untuk Dara.
"Tapi nanti kalo aku bosen gimana, Mas? Selama ini hiburanku kan cuma ke butik sama main sama si kembar." Dara berpura mengeluh.
Zaki menepuk pelan puncak kepala sang istri, membuat Dara hampir saja meleleh di buatnya.
"Kalau kamu bosan, kan bisa telpon Mas. Nanti Mas bawa kamu sama anak anak jalan jalan sepuasnya, asalkan kamu janji jangan pernah capek dan ngerjain apapun. Setelah ini nanti kita cari pembantu buat ngerjain kerjaan rumah kamu udah nggak boleh ngerjain lagi fokus saja sama si kembar dan calon anak kita yang akan kita adon lagi mulai nanti malam," tegas Zaki tanpa malu sama sekali walau mengucapkan kalimat yang agak rikuh sebenarnya bagi Dara.
"Ngomong apa sih, Mas?" Dara menunduk malu karna beberapa orang yang lewat dan sempat mendengar kini mulai melempar tatapan aneh pada mereka.
Gegas Dara masuk ke dalam mobilnya karena mereka datang dengan mobil masing-masing. Tapi siapa sangka Zaki malah menyusul dan duduk di kursi penumpang.
"Mas kamu ngapain?" Dara mendelikkan matanya dengan tangan bersiap mencabut perut Zaki.
"Ada yang lupa," ucap Zaki ambigu.
Dahi Dara langsung berkerut.
"Apaan? Kan aku nggak pegang barang kamu satupun?"
"Ini yang lupa."
Tanpa aba aba Zaki langsung melayangkan sebuah kecupan mesra di kening sang istri lalu dengan secepat kilat melarikan diri masuk ke mobilnya sendiri yang parkir tepat di samping mobil Dara.
Dara masih terpana sambil memegang keningnya, jantungnya berdetak kencang dengan hati yang hangat dan perut seperti tergelitik.
__ADS_1
Tin
Tin.
Zaki menekan klakson mobil dan membuat Dara tersentak.
"Buruan pulang, nggak usah ke butik. Sebentar lagi Mas susul sambil bawain oleh-oleh buat kamu." Zaki berseru sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil.
Belum sempat Dara menjawab, Zaki sudah melajukan mobilnya keluar parkiran dan meninggalkan Dara di sana dengan hati yang meleyot manja.
"Astaghfirullah, lucunya suamiku." Dara mendesis sambil menutupi wajahnya yang memerah.
****
"Bos, ini serius acaranya di hotel X?" seru Halim saat menyambangi kantor Pak Jatmika dan mendapati kalau bosnya itu sudah mengatur pesta pernikahan untuknya di sebuah hotel berbintang.
"Lha iya, terus maumu dimana? Di mars?" seloroh Pak Jatmika.
Halim menghentakkan tubuhnya di atas kursi sambil terus memandangi brosur yang ada di tangannya. Brosur sebuah hotel berbintang dengan view pinggir pantai yang luar biasa indah, namun tentu saja harganya juga indah -- untuk kantong yang punya hotel --.
"Tapi, bos ... ini mahal sekali biaya sewanya, belum nanti jasa wo, MUA, catering." Halim menyugar rambutnya kasar sambil menutupkan brosur itu ke atas wajahnya dan mendesah keras.
"Ya tapi saya kira nggak akan semahal ini, bos. Ini ... ini, gaji saya setahun juga kayaknya nggak sampe segini," keluh Halim kembali menatap deretan angka yang tertera di brosur itu.
Pak Jatmika menarik nafas dalam lalu bangkit dan berpindah tempat duduk tepat di sebelah Halim.
"Apa yang kamu takutkan?" pungkasnya seraya merangkul bahu asisten pribadinya itu.
"Ini terlalu mahal, bos. Saya nggak yakin bisa menggantinya," sahut Halim sedih.
Pak Jatmika malah menoyor kepalanya perlahan.
"Kamu pikir saya rentenir segala minta ganti?" dengusnya.
"Yah, walaupun nggak tapi setidaknya jangan di sinilah, bos. Bikin acara sederhana di depan rumah Laila juga saya mau aja kok, malah budgetnya pasti lebih minim dan lebih kekeluargaan juga." Halim coba menjelaskan, baginya uang segitu untuk makan setahun saja pasti masih bersisa. Sayang jika hanya di habiskan untuk pesta sehari saja.
"Anggap saja ini sebagai balasan atau hadiah dari saya karna kamu selama ini sudah loyal pada saya bahkan sebelum saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Kalau kamu menolak saya yang justru akan sedih'. Kamu itu sudah sayaa anggap anak sendiri loh, Halim. Masa kamu tega menolak kebaikan saya yang jarang jarang ini," gumam Pak Jatmika berpura mengusap sudut matanya yang bahkan tak ada airnya sama sekali --cuma caper doang--.
__ADS_1
"Tapi, kalau saya boleh meminta sih, bos. Pestanya sederhana saja biar di lakukan di depan rumahnya Laila saja, supaya kami bisa lebih akrab dengan tetangga di sana juga. Kalau untuk yang lainnya itu saya serahkan sama bos deh, cuma itu saja permintaan saya," ujar Halim mengalah.
Pak Jatmika tampak berpikir sejenak.
"Baiklah kalau itu kemauan kamu, nanti akan saya carikan jasa wo yang bagus dan bisa membuat pesta di rumah seakan di hotel. Bagaimana? Kamu setuju kalau begitu?"
Halim mengangguk cepat.
"Setuju, bos. Terima kasih sekali sudah mau menerima permintaan saya," sahutnya senang.
"Baiklah, sampaikan juga pada calon istrimu ya." Pak Jatmika menepuk pundak Halim beberapa kali lalu kembali beranjak menuju meja kerjanya lagi.
Halim sendiri langsung pergi ke luar guna menyampaikan kabar itu pada Laila, semoga saja Laila juga tidak keberatan juka pestanya di laksanakan di depan rumahnya seperti kebanyakan pesta warga di sekitar rumah mereka.
****
"Ngapain Mas di sini?" ketus Laila saat baru saja keluar dari Tk rupanya Halim sudah berada di sana dengan senyuman khasnya yang bisa membuat semut diabetes itu.
"Mau jemput calon istri lah," ucapnya penuh percaya diri.
Lalu berjalan menghampiri Laila untuk kembali menggandeng tangannya menuju mobil, --Halim baru saja melihat tutorial cara menyenangkan hati calon istri --.
Tapi Laila justru menepis tangan Halim dan berjalan cepat menuju arah lain.
"Maaf saya nggak mau, saya ogah punya calon suami plin plan. Apalagi ternyata Mas Halim sudah bohongin saya, katanya cuma asisten tapi ternyata anak kolongmelarat!" seru Laila kesal.
"Dek Laila," panggil Halim.
Laila langsung menghentikan langkahnya, berharap Halim akan menyusulnya dan membujuknya seperti di film Drakor kesukaannya.
Dan benar saja, Halim berlari menyusulnya lalu menggenggam tangannya erat. Laila masih membuang muka namun tak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya yang memerah.
"Dek la, jangan pergi dulu. Yang kamu bilang tadi salah, harusnya konglomerat bukan kolongmelarat,"ucap Halim dengan entengnya.
Wajah Laila merah padam, kali ini bukan lagi karna senang tapi karna kesal dengan tingkah Halim yang super duper random. Jadi dia mengejar itu cuma buat meluruskan ucapan Laila yang salah, padahal Laila sudah membayangkan hal romantis yang akan di lakukan Halim untuk membujuknya.
Dengan kesal Laila menyentak tangannya dan langsung berlari meninggalkan Halim yang malah terbengong.
__ADS_1
"Saya nggak mau ketemu Mas Halim lagi sampai Mas Halim berubah!" serunya marah.