TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 76. HARI PERTAMA DI KAMPUNG 2.


__ADS_3

"Aaahhhhhhhh tidaaakkkkkkkkkk!"


pekik Indi sejadi jadinya, namun tiba tiba dia merasa tubuhnya bagaikan di guncang seseorang.


"Indi, Indi bangun! Ngapain kamu tidur di kamar mandi begini hah?"


Indi tersentak bangun dengan kalang kabut, dan memindai sekitar mencari keberadaan pisau berkilat yang tadi dia lihat. Namun  nihil, benda itu tak ada sama sekali di mana pun. Hanya ada bak mandi dan kloset yang seakan menertawai dirinya kini.


"Loh, ibu juga ngapain di sini? Bukannya tadi ibu masih ...."


"Udah awas sana, ibu mau pipis. Kamu sendiri dari tadi di panggil nggak nyahut-nyahut. Kirain pingsan ternyata tidur di kamar mandi. Udah sana keluar udah nggak tahan juga ini." Bu Maryam mendorong tubuh Indi keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat. Sepertinya beliau benar-benar sudah tak tahan lagi menahan kandung kemihnya, maklumlah cuaca dingin memang membuat semua kandung kemih orang penuh dan mau tak mau harus meninggalkan kehangatan kasur dan selimut untuk ke kamar mandi sejenak.


Indi masih berdiri linglung di depan kamar mandi, dia masih bingung membedakan antara mana yang nyata dan mimpi dari semua yang dia lihat tadi.


"In, kamu ngapain berdiri di situ?" tegur Fatan yang tengah berdiri sambil memegang segelas teh hangat di tangannya.


Tetesan air yang jatuh dari rambutnya membuat Indi terjingkat karena masih merasa takut.


"Loh, kamu kok kagetnya sampe kayak gitu sih, In? Kenapa? Ada apa?" cecar Fatan sambil berjalan mendekati Indi.


Indi melindungi wajahnya saat Fatan tampak mengangjat tangannya untuk di tempelkan ke dahi Indi, dahi Fatan mengernyit.


"Nggak panas, kamu kenapa jadi aneh sih, In? Apa karna kelamaan di kamar mandi? Soalnya tadi Mas tunggu kamu nggak keluar keluar, jadi Mas tinggal ke depan buat ngeteh sama Pak Sukri. Padahal lumayan lama loh, dan kamu kayaknya juga baru keluar, ngapain aja sih di dalem?" cecar Fatan dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


Indi sampai heran mendengar betapa cerewetnya Fatan pagi ini.


"Mas? Ini ... beneran kamu?" malah kalimat itulah yang pertama kali terlontar dari mulut Indi.


Fatan tergelak, Indi menggunakan kesempatan itu untuk memegang wajah Fatan. Terasa begitu nyata, sepertinya ia masih merasa trauma dengan mimpinya tadi.


"Kamu kenapa sih, In? Kok kayak ketakutan begitu? Kamu kepikiran rumah yang bakalan kita tempati itu? Tenang aja, katanya Pak Sukri sekeluarga bakalan minta tolong warga yang lain juga buat bantu kita bersih-bersih rumah itu. Jadi kamu nggak perlu takut lagi ya," tukas Fatan yang mengira Indi masih takut karna melihat kondisi rumahnya yang kebetulan lebih mirip rumah hantu itu.


"Hah, beneran Mas?" tanya Indi yang mulai mendapatkan lagi kewarasannya dan langsung bisa membedakan antara yang nyata dan mimpinya barusan.


Fatan mengangguk dan singkatnya mereka pun langsung menuju ke rumah tersebut, sembari menunggu warga lain menyusul setelah di beri tahu oleh Pak Sukri, yang kini tengah menuju ke rumah Pak RT yang baru untuk meminta bantuan warganya.


Indi membawa sebuah golok kecil di tangannya, di minta Fatan jikakalau nanti akan di butuhkan, terutama untuk menerbas rumput yang mulai meninggi di halaman depan dan samping rumah itu.


"Nggak papa, biar nanti ibu nyusul belakangan aja sama Bu Sukri sama si intan. Mereka bilang nanti mau bawa cemilan buat kita yang bersih-bersih." Fatan menyahut sambil terus berjalan.


Sesekali tampak beberapa ekor kodok berlompatan ke sisi jalan setapak itu menghindari injakan kaki Fatan.


Indi begidik melihatnya dan terus saja memperhatikan langkahnya karena takut malah dia yang menginjak kodok.


Tak lama kemudian sampailah mereka berdua di depan rumah peninggalan orang tau Fatan kemarin.  Suasananya lebih nyaman karena matahari pagi sudah mulai menampakkan sinarnya menyinari rumah tersebut. Hingga kesan hangat lebih terasa walau rumah belum di bersihkan tapi kesan rumah hantu sudah tak tampak begitu kentara lagi saat itu.


"Kamu mau lihat bagian dalam rumah ini nggak, in? Bagus loh dalamnya, kayaknya juga nggak rusak deh barang-barangnya di dalam." Fatan mengintip dari kaca jendela keadaan di dalam rumah.

__ADS_1


Indi mengusap tengkuknya pelan, padahal hari masih pagi tapi dia sudah merinding. Entah karena takut atau karena udara yang masih bertiup dingin.


"Nggak usah deh, Mas. Nanti aja nunggu yang lain." Indi menolak halus dan lebih memilih membuang pandangan ke arah pohon mangga di sudut halaman yang kini tampak lebih rindang ketimbang kemarin.  Saat itu dia juga baru menyadari kalau ada sebuah ayunan di dahan pohon mangga itu, yang sepertinya tidak tampak kemarin karena suasana yang sudah gelap.


Fatan meminta golok dari tangan Indi dan mulai menerbasi rumput sembari menunggu warga yang lain.


Tak lama kemudian, beberapa warga mulai berdatangan membawa berbagai macam alat kebersihan. Begitulah hidup di desa semua akan bahu membahu membahu membantu sesama ketika di butuhkan tanpa berharap imbalan. Bersama mereka mulai membersihkan rumah yang cukup lama kosong itu, dan perlahan rumah mulai tampak bersih dan indah di pandang.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Bapak-bapak semua sudah Sudi membantu saya membersihkan rumah ini," ujar Fatan saat mereka tengah beristirahat setelah hampir setengah hari membersihkan seluruh halaman dan bagian dalam rumah tersebut. Kini semua sudah rapi karna banyak tangann yang membantu, hanya tinggal tugas para wanita saja untuk mengepel dan membersihkan debunya maka rumah itu siap di tinggali seperti sedia kala.


  Para warga yang sudah membantu Fatan semua mengucapkan terima kasih kembali, dan sembari menunggu hidangan yang sedang di bawa menuju ke rumah itu, Fatan meminta salah seorang warga untuk membeli panganan yang ada di sekitar sana.


"Beli gorengan Lek Genuk saja, Le," kata seorang bapak pada anak muda yang di mintai tolong oleh Fatan, anak muda sekitar umur belasan tahun itu mengacungkan jempolnya dan berlari kecil menuju arah yang di maksud.


Para bapak-bapak masih tampak asik mengobrol di teras depan, sedangkan Indi memilih masuk ke dalam rumah untuk melihat lihat kondisi di dalamnya.


Ruang demi ruang dia telusuri, semuanya tampak nyaman dan lega karna rumah tersebut yang memang besar. Hingga sampai di area dapur pun semuanya tampak sudah lengkap tersedia di sana, mulai dari perabot hingga peralatan pecah belah yang masih tampak baru.  Hanya perlu di bersihkan sedikit saja maka akan siap di pakai semua, setelah ini sepertinya Fatan harus segera memasang listrik di rumah itu maka sempurnalah semuanya. Indi sampai tersenyum sendiri membayang betapa nyamannya rumah itu nanti dia tempati, bahkan pikirannya sempat membayangkan bagaimana nanti akan ada anak-anak yang berlarian di dalam rumah tersebut.


"Hihihi, duh jadi nggak sabar mau bikinnya kan ah," kikik Indi sambil menepuk nepuk kepalanya dan berjalan kembali menuju teras.


Bertepatan dengan itu, rupanya Bu Sukri dan anak gadisnya baru saja tiba dengan membawa banyak cemilan untuk mereka, tentu saja uang untuk membuat itu semua di dapat dari Fatan.


Tapi bukan itu yang menjadi fokus Indi, melainkan anak gadis Bu Sukri yang di ketahui bernama intan itu yang tampak begitu mirip dengan gadis di mimpinya tadi pagi. Seketika bulu kuduk Indi berdiri ketika tak sengaja bersitatap dengan gadis muda itu.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya intan?"


__ADS_2