TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 232. MULUT BERBISA BU ZAENAB.


__ADS_3

 Ziva buru buru berlari keluar dari kamarnya, mendatangi ruang tamu dimana pasangan yang tak lagi muda itu tampak tengah berseteru.


 Zaki tak lagi nampak di sana, sepertinya lelaki itu sudah pamit pulang saat dia ke dalam tadi.


"Ada apa ini, Pak? Bu? Kenapa teriak teriak?" seru Ziva melerai ke duanya yang masih tampak bersitegang.


 Pak Jamal dan Bu Zaenab menoleh bersamaan, raut wajah keduanya tampak sama merah padam.


Tak mendapat jawaban yang di inginkan akhirnya ziva memilih masuk kembali ke dalam, mengambil dua gelas air di dapur dan memberikannya pada bapak dan ibunya a yang masih saja saling menatap sinis di depan sana.


"Sebenarnya ada apa ini, Pak? Bu? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Ziva lebih lembut, matanya bergantian menatap wajah wajah tua yang selama ini menemani hari hari masa kecilnya itu.


 Pak Jamal menghirup udara dengan rakus, menetralkan perasaannya yang masih di landa amarah. Sedang Bu Zaenab, mulai terisak kecil seakan di sini dialah yang paling tersakiti.


"Hah, bapak sudah tidak sanggup lagi, nduk. Bapak menyerah," gumam Pak Jamal lirih, netra tuanya yang tak lagi bening itu tampak berkaca.


"Maksud bapak apa? Menyerah apa? Ziva nggak ngerti, Pak." Ziva menyentuh pundak sang bapak yang kebetulan berada di dekatnya, bersebrangan dengan Bu Zaenab yang kini masih terisak isak di tempatnya.


 Pak Jamal mengangkat sebelah tangannya yang kembali terasa panas, mungkin amarah yang baru saja merajainya membuat tubuhnya kian drop dan kembali sakit.


"Bapak ... sudah tidak sanggup lagi ... hidup dengan ibumu," tukas Pak Jamal tanpa mau menatap ke arah Bu Zaenab.


"Astaghfirullah," lirih Ziva menekan dadanya sendiri, walau sering merasa kesal dengan tingkah polah ibunya itu sebagai anak tetap saja Ziva tak tega jikalau sang ibu sampai kehilangan suaminya di masa tuanya. Itu akan sangat menyakitkan terlebih karna ziva tahu sebenarnya Bu Zaenab masih sangat mencintai Pak Jamal.


"Kamu jahat, Pak ... kamu jahat," Isak Bu Zaenab tergugu.


 Pak Jamal mencoba acuh, walau sebenarnya hatinya pun turut berdenyut perih mendengar suara sang istri yang sudah beberapa waktu terakhir meninggalkannya sendiri di rumah tanpa pamit dan salam.

__ADS_1


"Coba di bicarakan dulu baik baik, Pak jangan langsung mengambil keputusan yang mungkin saja akan bapak sesali sendiri nanti," ucap Ziva mencoba memberi saran.


 Pak Jamal bergeming, menatap keluar rumah lewat jendela kaca kusam yang ada di sisi ruangan.


"Kamu tidak akan mengerti rasanya jadi aku, Pak. Selalu saja kamu menganggap aku lah yang salah, tidak pernah sekali pun kamu mau mengerti tentang apa yang aku rasakan. Kamu sama saja dengan anakmu itu, keras kepala dan sok suci!" tandas bu Zaenab kesal, lalu bergegas meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


 Ziva kembali beristighfar, menggeleng kan kepalanya sembari mengelus dada. Sama sekali tak menyangka jika ibunya bisa berkata demikian di depan wajah sang bapak yang selama ini begitu menyayangi mereka sekeluarga tanpa membeda bedakan. Tak seperti Bu Zaenab yang selalu lebih mengunggulkan Zulfa ketimbang Ziva. Padahal jika ada apa apa pasti Ziva lah yang paling dulu di mintainya pertolongan.


"Sudahlah, nduk. Bapak sudah yakin dengan keputusan bapak ini, bapak sudah tidak sanggup lagi, nduk. Bapak capek, bapak lelah. Bapak ingin masa tua yang tenang, bukan tertekan seperti ini." Pak Jamal mulai meneteskan air matanya.


 Perlahan, air mata ziva pun mulai merebak membasahi pipi mulusnya yang tak ternoda satu jerawat pun walau tanpa menggunakan skincare yang berlebihan.


"Tapi, Pak ...," ucap Ziva dengan nada parau.


 Sesak sekali dadanya mendengar keputusan sang bapak yang pastinya akan membawa dampak baginya dan adiknya nanti. Walau mereka sudah berumah tangga sendiri, tentu saja yang namanya perceraian orang tua sedikit banyak tentu akan membawa dampak bagi anak anaknya.


 Ziva tertunduk sedih, namun tak bisa menahan niat bapaknya yang sepertinya sudah bulat itu.


Pak Jamal menyandarkan punggungnya ke belakang, kepala yang terasa berat pun dia rebahkan ke sofa tersebut m. Wajahnya kembali pucat, gigil menghinggapi lagi tubuh rentanya hingga giginya terdengar bergemeletuk.


"Ya Allah, pak? Bapak sakit?" cecar Ziva cemas, di rabanya cepat kening Pak Jamal. Dan benar saja, panas tubuh Pak Jamal kembali naik tinggi.


Pak Jamal tak menjawab hanya gemeletuk dari gigi yang saling beradu saja yang terdengar dari bibirnya. Tubuhnya bergetar hebat membuat Ziva cemas luar biasa .


 Dengan panik, Ziva berlari menuju kamarnya meraih selimut yang bisa dia ambil dan membawanya ke ruang tamu dimana sang bapak tersandar lemah di sana.


"Ada apa, dek? Wajahmu tampak pucat? Kamu sakit?" tanya Amar yang baru saja kembali dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti, tetesan air pun masih berjatuhan dari rambutnya yang basah.

__ADS_1


"Ng- nggak, bukan aku Mas. Tapi ... tapi bapak," sahut Ziva masih dalam mode panik.


 "Apa? Bapak sakit? Sakit apa? Sekarang bapak dimana?" cecar Amar sembari menyampirkan handuk yang dibawanya ke balik pintu kamar.


"Masih di ruang tamu, ini ziva mau kasih tahu ibu dulu. Supaya bapak bisa istirahat di kamarnya, soalnya kan rumah kita cuma punya dua kamar," pungkas Ziva sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Amar menuju kamar sang ibu.


Sementara Ziva menuju kamar sang ibu, Amar gegas melihat kondisi bapak mertuanya yang berada di ruang tamu.


 Segera di pegangnya kening Pak Jamal untuk memastikan keadaannya, Amar cepat cepat menarik tangannya kala rasa panas dari kening Pak Jamal berpindah ke tangannya.


"Ya Allah, Pak badan bapak panas sekali. Kira ke rumah sakit sekarang ya, Pak." ucap Amar sambil duduk di hadapan pak Jamal.


 Pak Jamal yang samar masih mendengar ucapan Amar perlahan membuka mata, dan berusaha menjawab perkataannya.


"Tidak, le. Tidak usah, tidak papa, bapak tidak mau merepotkan kalian. Bapak belikan obat warung saja, setelah istirahat pasti bakalan sembuh kok," tolak Pak Jamal halus.


 Namun Amar menggeleng. "Tidak, Pak. Badan bapak panas sekali, bapak juga gemetar dan menggigil, Amar takutnya ada penyakit lain. Nggak papa kita ke rumah sakit saja ya, Pak."


"Tidak, le bapak tidak mau. Bapak di sini saja, niatnya bapak kan ke sini mau jenguk cucu bapak. Eh kok malah sakit, maaf ya bapak jadi merepotkan kalian," lirih Pak Jamal hampir tidak terdengar.


"Ya sudah kalau begitu, tapi besok kalau kondisi bapak belum membaik juga, kita ke rumah sakit ya," bujuk Amar lembut.


 Pak Jamal mengalah dan mengangguk.


 Lalu tak lama dari sana, muncul Ziva yang sudah berhasil memaksa Bu Zaenab membuka pintu kamarnya dan mengatakan jika sang bapak sakit, namun Ziva tidak memperhatikan ekspresi wajah Bu Zaenab kala mengatakan itu.


  Saat Ziva dan Amar ingin memapah tubuh Pak Jamal masuk ke dalam kamar yang selama ini di tempati Bu Zaenab. Tiba tiba Bu Zaenab menyeletuk. "Huh, begitulah kalau sok suci dan selalu menyakiti hati istrinya. Langsung deh dapat karma instan kan? Rasain, emangnya enak?"

__ADS_1


__ADS_2