TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 194.


__ADS_3

"Iya, masa sudah beberapa bulan menikah nggak hamil hamil, apalagi namanya kalau bukan mandul? Kasihan sekali suaminya, berharap dapat anak banyak malah nggak hamil hamil," ucap salah satu ibu ibu dengan nada judes.


Indi tertegun di tempat, sesaat tubuhnya membeku karna mengira mereka tengah menggunjingnya. Namun mendengar kata hamil dan mandul Indi bisa bernafas lega karna artinya bukan dirinya.


"Mau beli apa, Mbak?" tanya sang pemilik warung yang merupakan seorang laki laki itu sembari memperhatikan wajah Indi.


Indi terkejut sesaat karna sedang fokus mendengarkan gunjingan ibu ibu itu, lumayan buat tambahan informasi pikir nya.


"Ah, eh saya ...  saya mau beli ini, Mas." Indi menyerahkan secarik kertas yang tadi sudah di catat apa apa saja yang ingin di belinya sekaligus nominalnya.


Pria yang kita kira baru berumur 22 tahun itu menerima kertas tersebut lalu mulai mengambil apa apa saja yang tercatat rapi di sana.


"Iya loh, padahal kan kayaknya dua duanya sehat sehat aja masa iya belum punya anak juga. Apa mungkin sengaja ya? Kan suaminya kerja di puskesmas sini juga, mungkin di suntik KB sendiri kali istrinya biar nggak hamil dulu."


.


Rupanya sesi bergunjing tadi belum selesai, Indi sengaja tidak menutup payungnya atau meletakkannya di lantai teras warung. Dia sengaja membawanya untuk menutupi wajahnya dari ibu ibu itu, yang notabene adalah tetangga Dara yang sudah pasti akan mengenalinya jika melihatnya.


Indi masih belum siap kalau harus menjadi bahan olok-olok warga lagi, apalagi setelah ini kegiatannya mencari rejeki akan sangat erat kaitannya dengan para warga di kompleks tersebut, jadi sebisa mungkin Indi akan menjaga sikap dan sifatnya.


"Eh, kalian apa nggak ingat si Indi dulu yang ngerebut suami kakaknya sendiri itu. Kabarnya sekarang dia udah punya anak loh, masa yang nikahnya karna skandal jelek begitu aja bisa punya anak ini kok yang berita tentang mereka selalu baik baik tiba tiba malah jadi bahan omongan sih?" sela salah satu ibu ibu yang membawa bawa nama Indi.


Indi terhenyak, semakin memiringkan payungnya agar ibu ibu tak akan melihat wajahnya.


"Huh, tapi sama aja kalau nanti sampai setahun mereka belum punya anak juga. Berarti bener yang kita bilang, mandul itu pasti. Entah salah satunya atau malah dua duanya, huh kalo itu menantu saya ya sudah say tendang percuma cantik mah kalau nggak manjur, nggak bisa ngasih keturunan," timpal ibu ibu lainnya yang terdengar sama judesnya dengan ibu ibu yang lain.


"Mbak Indi belanjaannya, totalnya tiga ratus ribu." Pemilik warung itu memberikan sebuah kresek besar kepada Indi, Indi menerimanya lalu memberikan sejumlah uang pada si pemilik warung.


Setelah berterima kasih, Indi hendak berbalik dan pulang namun karna bawaannya yang terlalu berat Indi oleb hingga membuat ujung payungnya menyenggol salah satu ibu ibu julid yang ada di teras warung. Bukan senggol yang parah sih hanya sekedar menyentuh saja. Tapi ya namanya ibu ibu julid ya sukanya cari gara gara dan keributan.

__ADS_1


"Heh! Dasar kurang aj ar! Payung kamu itu ngenain saya tahu nggak?" bentaknya berang sembari menunjuk Indi yang masih berusaha melindungi wajahnya agar tak terlihat para ibu ibu yang lain.


"Ma- maaf, Bu saya ... saya nggak senga ...."


"Halah alasan aja nggak sengaja! Bilang aja kamu nggak suka kan kami ngomongin si Laila itu, memangnya masalah buat kamu? Siapanya dia kamu ha? Saudaranya? Atau apanya?" seru ibu ibu yang lain seenak udelnya sendiri memberi persepsi.


Indi menelan ludah, terlebih saat dari bawah payungnya dia melihat ibu ibu itu mulai berdiri dan menghadap ke arahnya.


"Ini orang dari tadi nutupin mukanya mulu pake payung, apa jangan jangan mukanya cacat ya?". celetuk salah satu ibu ibu yang lainnya lagi.


"Iya kali," timpal yang lainnya.


Indi menahan nafas, sekaligus menahan emosinya agar tidak meledak. Dia sadar tak memiliki siapa siapa di sini yang akan membelanya jika nekat melawan ibu ibu julid itu.


"Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Saya ... permisi dulu." Indi memilih mengalah dan hendak berlalu dari sana, saat tiba tiba dia merasa payungnya di tarik dari samping.


"Eitttssss, mau kemana kamu ha? Kamu nggak bisa kemana mana sebelum kamu ganti rugi karena tadi sudah nyenggol badan saya dengan payung lusuh kamu ini. Tahu nggak baju saya ini mahal, beli di butik terkenal. Sekarang jadi kotor gara gara payung udik kamu inj karatan tahu nggak!" bentak ibu ibu yang tadi di senggol oleh Indi dengan payungnya.


"Sekarang juga kamu harus ganti rugi!"


Indi membeku di tempatnya, memohon dan berdoa di dalam hatinya agar ibu ibu itu segera pergi darinya karena dia belum siap di lihat oleh ibu ibu itu sebagai Indi.


"Hei, ibu ibu! Lihat itu!" seru salah satu ibu ibu yang membuat teman temannya yang lain menoleh dan tidak lagi fokus pada Indi.


"Ada apa?" tanya ibu ibu yang tadi di senggol indi.


"Itu si Laila!"


Dan dengan segera ibu ibu itu berjalan cepat meninggalkan Indi, sepertinya mereka mendapatkan mangsa baru hingga melupakan Indi.

__ADS_1


Bahkan ibu ibu yang tadi menarik baju Indi kini juga ikut berjalan menjauh mengikuti rombongannya.


"Fiuuhhh, Alhamdulillah." Indi menarik nafas lega, lalu berbalik dan berjalan cepat pergi dari sana lewat blok sebelah.


Karna tidak mungkin dia berjalan lurus yang artinya akan kembali menjadi bulan bulanan ibu ibu itu.


****


"Astaghfirullah, Mbak . Kok Mbak nangis? Kenapa, Mbak?"  cecar Elis saat mendapati sang kakak pulang dari warung dengan wajah yang basah.


Laila menggeleng, lalu dengan tergesa masuk ke dalam rumahnya tanpa menghiraukan Elis yang tampak cemas padanya.


Elis panik, dia menoleh pada si kembar yang tengah bermain masak masakan di bawah pohon mangga.


"Fatur, Farah!" panggil Elis pada dua anak asuhnya yang tengah asik bermain itu.


Elis sengaja membawanya ke rumah karna hari ini adalah jadwal Dara untuk periksa kandungan ke dokter.


"Iya, Mbak El?" sahut Fatur dan Farah bersamaan.


"Mbak masuk dulu sebentar, kalian jangan kemana mana ya."


Fatur dan Farah mengangguk, lalu kembali asik dengan mainannya.


Setelah memastikan semuanya aman, Elis langsung bergegas masuk untuk melihat kondisi Laila.


Terdengar suara Isakan tangis tertahan dari dalam kamar Laila, gegas Elis menuju ke sana dan langsung masuk karena sang kakak tidak mengunci pintunya.


"Mbak," panggil Elis sembari menyentuh pundak Laila yang bergetar hebat karena tangisnya.

__ADS_1


"Mbak capek, Lis. Mbak capek, kenapa orang orang selalu menghujat Mbak? Salah Mbak apa kalau belum bisa hamil, bukannya wajar saja kalau belum hamil sedangkan Mbak dan Mas Halim belum genap setahun menikah?" jerit Laila frustasi.


__ADS_2