
Satu minggu berlalu dengan cepat, sebuah tenda hajatan megah telah terpasang apik di depan rumah Laila. Lengkap dengan panggung hiburan dan pelaminan yang tertata apik dan cantik sekali. Dengan warna hijau Sage dan putih yang menghiasi sesuai keinginan Laila tempo hari.
"Bos, sekali lagi ... saya haturkan terima kasih banyak atas semua ini," ucap Halim yang tengah duduk berdua di teras rumahnya menatap ke arah tenda megah di sebrang sana yang sedang di pasang lampu lampu hiasan oleh para pekerja wedding organizer yang di sewa Pak Jatmika.
"Ini belum seberapa di bandingkan pengabdian kamu pada saya." Pak Jatmika menyahut dengan senyum di wajahnya, matanya berbinar seolah ikut bahagia dengan pernikahan asistennya itu yang akan di laksanakan malam nanti.
Halim menunduk, kebahagiaan sontak menyeruak kembali dalam relung batinnya. Hingga dia meraih tangan Pak Jatmika dan menciumnya sedalam-dalamnya.
"Saya benar-benar berterima kasih, bos. Andai saya punya ayah, saya ingin sekali ayah yang seperti bos."
Pak Jatmika menepuk kepala Halim dengan penuh kasih sayang.
"Ngomong apa kamu, hm? Bukannya saya saja juga cukup jadi ayah kamu? Kamu kan tahu, ibumu itu tidak akan mau menikah sampai kapanpun," sahut Pak Jatmika terkekeh.
Halim mengangkat wajahnya dan tertawa, menghapus jejak air mata dari sisi pipinya.
"Hei, kata siapa saya tidak mau menikah sampai kapan pun?" celetuk Bu Hana yang entah sejak kapan berada di depan pintu sambil berkacak pinggang.
Pak Jatmika menggaruk kepalanya salah tingkah, sedang Halim malah semakin tergelak.
"Bukannya ibu bilang memang nggak mau menikah?" cetusnya masih dengan wajah sumringah nya.
Bu Hana mencebik.
"Huh, ya kalo yang mau sama ibu ini orang kaya, tajir melintir, duitnya nggak ada serinya, terus penyayang? Ya siapa yang bisa nolak?"
Pak Jatmika memelototkan matanya , namun sengaja membuang muka agar tak ada yang melihat perubahan ekspresi wajahnya.
"Haha, sayangnya yang begitu cuma anak ibu ini kan, Bu? Dan sekarang sudah sold out lagi." Halim kembali tertawa lebar.
Pletakk
__ADS_1
Bu Hana menggampar pipi Halim dengan sebuah buku tebal yang di bawanya, lalu gegas memakai sandalnya tanpa mempedulikan rengekan sang anak.
"Haduh, ibu. Kebiasaan banget sih, nyiksa anaknya sendiri? Siapa yang mau sama ibu kalau bar bar begitu, Bu ... Bu," cetus Halim bersungut-sungut sambil mengusap usap pipinya yang terasa panas dan perih.
"Bodoamat, makanya jangan rese jadi anak! Udahlah, ibu mau ke rumah calon mantu ibu, mau lihat dia lagi apa." Bu Hana melengos dan langsung melenggang pergi menuju rumah Laila yang saat ini penuh sesak dengan para tetangga yang membantu mempersiapkan acara resepsi esok hari dan ijab qobul malam nanti.
Halim masih bersungut-sungut, dan semakin bertambah kesal saat Pak Jatmika menatap ke arahnya dan tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahaha, otot doang gede sama emaknya melempem," tawanya lebar.
Halim mencebik.
"Bos pun sama aja, sudah pulang sana! Saya mau ngapalin ijab qobul!"
Halim bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya dan tak lupa menutup pintunya rapat-rapat. Meninggalkan Pak Jatmika yang masih belum selesai dengan tawanya di teras.
****
"Neng, lagi apa?" tanya Bu Hana saat melihat ke dalam kamar Laila yang sudah di hias layaknya kamar pengantin itu, dan mendapati calon menantunya tengah duduk menunduk di depan meja rias.
Bu Hana mendekat dan duduk di samping ranjang.
"Loh, kok nangis lagi? Kenapa, Neng?" tanya Bu Hana mengusap pundak Laila dengan tatapan penuh kasih, panggilan Neng sengaja dia sematkan untuk calon menantunya itu, agar terdengar lebih akrab.
Laila menggeleng pelan dan kembali mengulas senyum.
"Laila nggak papa, Bu. Cuma lagi lihat fotonya Mama sama Papa," sahut Laila sambil menunjukkan selembar foto kedua orang tuanya pada Bu Hana.
Bu Hana menerima foto tersebut dan memperhatikan wajah orang orang yang ada di foto itu dengan seksama. Dan sejurus kemudian matanya tampak membelalak.
"Jadi ... mereka orang tua, ah maksud ibu ... almarhum orang tua kamu?" tanya Bu Hana dengan suara yang entah kenapa terdengar bergetar.
__ADS_1
Laila mengangguk.
"Iya, Bu. Itu Papa dan Mama Laila, sayangnya mereka sudah berpulang lebih dulu karna kecelakaan bertahun-tahun yang lalu," sahut Laila apa adanya.
Bu Hana tampak salah tingkah, dia lekas mengembalikan foto itu ke tangan Laila dan bangkit berdiri.
"Loh, ibu mau kemana?" tanya Laila heran.
"Ah, ibu mau ... ibu mau pulang sebentar, mau melihat Halim." Bu Hana menjawab singkat dan tanpa kata lagi langsung keluar dari kamar Laila dan pulang menuju rumahnya.
Laila masih terpana menatap kepergian calon ibu mertuanya itu, padahal tak biasanya Bu Hana akan pulang dari rumahnya dalam waktu yang singkat. Karna pembicaraan mereka selalu nyambung Bu Hana malah lebih sering menghabiskan waktunya dengan Laila akhir akhir ini. Makanya saat Bu Hana bertingkah berbeda sedikit saja, Laila jadi cemas tanpa alasan.
"Ya Allah, semoga bukan pertanda buruk," desis Laila sambil memindai wajah ayunya di cermin, wajah yang begitu mirip dengan ibunya namun sangat sedikit memiliki kemiripan dengan ayahnya.
"Mbak," panggil Elis sambil melangkah masuk ke dalam kamar pengantin Laila.
"Kenapa, Lis? Si kembar mana?" tanya Laila tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin, karna dari sana pun dia bisa melihat ekspresi cemas sang adik sepupu.
"Bu Hana kenapa, Mbak. Barusan papasan sama Elis di depan, tapi beliau kayak nggak fokus dan jalan terus aja sampai nggak negur atau apa lagi gitu, Mbak. Ada apa memangnya?" tanya Elis membuat Laila sontak menoleh padanya.
"Apa , Lis? Ibu begitu?"
Elis mengangguk mengiyakan.
"Memangnya ada apa, Mbak. Soalnya tadi kayaknya Bu Hana baru dari sini kan? Terus tadi juga Elis nggak sengaja liat Bu Hana kayak nangis," sahut Elis lagi, semakin memperkuat kegelisahan di hati Laila.
Laila berbalik kembali, sambil meremas jemarinya karna kegelisahan yang sangat.
"Mbak El! Fatur mau kue," seru Fatur dari luar kamar Laila, ke dua bocah kembar itu memang di ajak Elis ke rumahnya karna Dara saat ini tengah pergi bersama Zaki untuk membeli kebutuhan rumah tangga sekaligus kado untuk pernikahan Laila dan Halim.
Menyimpan penasaran di hatinya Elis terpaksa melangkah keluar, meninggalkan Laila dengan kegundahannya sendirian di sana. Walau banyak tanya di dalam hatinya, tapi Elis merasa itu belumlah menjadi ranahnya.
__ADS_1
"Beri petunjuk- Mu, ya Rabb. Ada apa ini sebenarnya, jangan sampai ini pertanda masalah besar yang akan membuat pernikahan hamba dan Mas Halim menjadi batal," doa Laila penuh harap, sambil kembali menatap pantulan wajah gelisahnya di cermin.
****