TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 45. SIASAT


__ADS_3

Semalam suntuk Fatan harus bertahan dari dinginnya angin malam dan nyamuk-nyamuk centil yang mengerubunginya.


Plak


Plak


Plak


Berkali-kali Fatan menepuk sisi tubuhnya yang terasa di gigiti nyamuk. Sedangkan Indi bisa tidur pulas di dalam mobil tanpa mempedulikan nyamuk yang sebenarnya juga berterbangan di depan wajahnya.


"Haish, makan buah simalakama ini mah." Fatan berdiri sambil menggerutu, kemudian keluar dari pagar rumah dan berjalan gontai menelusuri jalan setapak kompleks.


Tujuannya hanya satu, rumah Zaki.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum, Zak! Zaki!" seru Fatan di depan pintu rumah bercat putih gading itu, sebuah motor sport yang terparkir di garasi membuat Fatan yakin kalau Zaki ada di rumah tersebut.


Ceklek


"Ya Mas?" ucap Zaki dengan suara serak dan mata memerah, tampaknya dia baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Fatan.


"Mas numpang nginep di rumah kamu ya, Mas lupa bawa kunci rumah, terus pintu udah di kunciin sama Dara." Fatan menangkup tangannya di dada.


Zaki mengangguk dan beringsut dari depan pintu, mempersilahkan Fatan untuk masuk.


"Masuk, Mas. Maaf kalo berantakan," ujar Zaki sambil menutup pintu kembali dan berjalan mendahului Fatan.


"Kamu ngejek saya, Zak? berantakan dari mana ini mah?" cibir Fatan sambil memindai suasana rumah yang tampak sangat rapi dan bersih itu.


Zaki terdengar terkekeh pelan namun tak menjawab ucapan Fatan, tampaknya dia masih sangat mengantuk terlihat dari caranya berjalan yang sedikit sempoyongan.


"Mas mau langsung tidur atau ...." Zaki berhenti sambil menunjuk arah dapur.


Fatan menggeleng. "Nggak usah, langsung tidur aja. Mas juga udah ngantuk banget."


Zaki mengangguk dan membuka pintu sebuah kamar. "Ini, Mas. Kamarnya, maaf kalo kecil ya, yah maklumlah masih bujang."


Fatan mengibaskan tangannya sampai mengenai bahu Zaki. "Sa ae calon manten."

__ADS_1


"Ya udah Zaki tinggal ya, Mas. Masih ngantuk soalnya, buat senyamannya aja Mas. Anggap aja rumah sendiri," ujar Zaki sambil berlalu menuju ruangan sebelah yang sepertinya adalah kamarnya.


Fatan mengangguk dan masuk ke dalam ruangan kamar minimalis dengan cat putih itu, spreinya yang juga putih tampak bersih dan juga harum. Membuat Fatan merasa sangat betah dan nyaman di dalamnya.


Setelah menghidupkan AC Fatan langsung naik ke pembaringan dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal berbau harum di kamar itu.


"Ahhhh, akhirnya bisa tidur nyaman juga. Biarin dah Indi di sana, paling juga pagi besok baru sadar kalo di tinggal. Salahnya sendiri tidur kayak kebo, mana ngorok lagi," gumam Fatan sebelum matanya mulai terpejam.


Perlahan alam mimpi menyambutnya, menerbangkan angannya sampai ke nirwana yang selamanya hanya akan ada di dalam mimpinya.


****


Keesokan paginya.


Ceklek


Dara membuka pintu rumahnya saat matahari bahkan belum menampakkan sinarnya, dan tersenyum miring melihat mobil Fatan dan motornya terparkir di garasi.


Dara menghampiri mobil tersebut yang jendelanya tampak terbuka sedikit.


"Hah, sudah ku duga," desis Sarah saat melihat Indi yang masih tertidur pulas di dalam mobil tersebut.


"Semoga kamu masih bisa merasakan bahagia, adikku Sayang. Semoga pernikahanmu nanti, tidak akan di rusak orang ketiga, sebagaimana kamu ... merusak rumah tanggaku diam-diam."


Brugh


"Ah," lirih Dara memegangi lengannya yang terasa ngilu.


Fatan menggeragap, dia tidak mengira kalau Dara sudah bangun sepagi ini.


"Eh, Sa- Sayang? Sayang?" ucap Fatan gugup.


Hari masih pagi dan sejuk, embun bahkan masih turun tapi keringat tampak membasahi kening dan baju Fatan. Berkali-kali dia mengusapnya untuk mengusir rasa gugupnya.


"Dari mana kamu, Mas?" selidik Dara.


Fatan semakin gelagapan namun dengan cekatan pula dia menunjuk ke arah jalan rumah  Zaki, yang letaknya di belakang kompleks mereka.


"Dari rumah Zaki, Sayang."


"Apa? Ngapain pagi buta begini ke sana?" cecar Dara lagi, padahal dia sudah tau apa tujuan Fatan ke rumah Zaki.


Dara hanya ingin mendengar langsung jawaban sejujur apa yang akan di berikan Fatan padanya.

__ADS_1


"Maaf, Mas terpaksa nginep di sana soalnya Mas lupa bawa kunci rumah. Kamu juga di panggil nggak bangun, ya udah Mas kesana dari pada habis badan Mas di sedot nyamuk."


Dara manggut-manggut seakan mendengarkan dengan seksama apa yang di ucapkan oleh Fatan, padahal dia hanya sedang menghubungkan peristiwa yang sebenarnya terjadi sebelum Fatan dan Indi kembali ke rumah.


"Terus, kok bisa bareng Indi? Emangnya semalem kamu kemana?" telisik Dara lagi.


"Ke ... ke ... ya ke perusahan lah. Eh, ya ketemu klien maksud, kan kamu tau sendiri," ujar Fatan gugup.


Keringat yang mengalir di keningnya mulai membesar sampai menyerupai biji jagung.


"Terus kok bisa ketemu Indi? padahal sore itu Indi pamit mau ngerjain tugas kampus." Dara berjengkit mendekati Fatan.


Fatan yang sudah kesal terus di tanya, akhirnya memilih mendorong tubuh Dara yang menghalangi jalannya dan dengan cepat berlalu ke kamar.


"Ah, si*l! kenapa Dara bangunnya cepet banget sih? kan jadi kacau semuanya kalau begini!" umpat Fatan sambil mengacak sprei yang sebelumnya sudah tertata cantik di atas kasur.


Dara mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga saat Fatan menutup pintu kamar dan terdengar dua kali bunyi kunci yang di putar dari dalam.


"Hah, sampai kapan kalian akan terus bersembunyi begini, Mas. Hari pernikahan Indi sudah semakin dekat, aku hanya bisa berharap semoga sebelum itu kalian bisa sadar tanpa harus aku bersikap berbeda dari biasanya."


Dara mengelus dada dan menekan debaran jantungnya yang serasa bertalu.


"Astaghfirullah, tahan Dara tahan. Jangan terlalu terbawa amarah, biarkan alam bekerja sesuai porsinya. Ingat jangan kotori tanganmu, Dara." Dara mulai mensugesti dirinya sendiri.


Tak berapa lama terdengar suara berisik dari luar, Dara gegas menghampirinya namun baru saja menginjak lantai raut wajah cemas Indi sudah terpampang nyata di depan pintu.


"Mbak!" seru Indi kaget.


Dara hanya menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan ponselnya. "Kenapa kamu?"


Indi berjalan pelan mendekati Dara, sejujurnya dia takut namun untuk menghindar juga tidak mungkin karna mereka tinggal di atap yang sama.


"Mbak, maaf." Indi berdiri tepat di belakang Dara, membuat Dara refleks menutup ponselnya dengan tangan agar tidak terlihat oleh Indi.


Bisa gawat kalau sampai Indi tau dirinya tengah bertukar kabar dengan para karyawannya di grup chat.


"Maaf? maaf buat apa? emangnya kamu salah apa?" tanya Dara membalik perkataan Indi.


Indi mendesah berat. "Emangnya Mbak nggak khawatir aku pulang larut semalem? atau Mbak nggak tau sampe tega ngunciin pintu depan semaleman? padahal aku gedor pintu loh Mbak semalem, tapi Mbak nggak bangun buat bukain pintu."


Tapi Dara justru menanggapinya dengan santai, tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Gimana? tugas kuliah kamu udah selesai?" serang Dara sambil menatap tajam Indi, dan berhasil dengan mulus membuat Indi tercengang dan kehilangan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2