
Ada yang aneh dari wajah bu Zaenab yang kali ini di lihat Zaki, ada sembab di wajahnya yang sudah mulai keriput itu. Belum lagi bibirnya yang tampak gentar entah karena apa, Dann sorot matanya yang menunjukkan kegundahan yang dalam.
"Za- Zaki ...," ucapnya lirih, lirih sekali hingga yang di dengar Zaki hanya suara desisan saja.
"Ada apa, Bu Zaenab? Ibu cari apa di sini? Ibu sama siapa di sini?" tanya Zaki berulang kali, pikirnya barang kali Bu zaenab ada di rumah sakit tersebut untuk membawa Pak Jamal yang beberapa hari lalu memang tampak tengah sakit, mungkin saja Bu Zaenab sudah pulang dan membawa suaminya ke rumah sakit untuk berobat.
Bu Zaenab tampak resah, dia memilin milik ujung jilbabnya yang berantakan entah karena apa. Dan di kejauhan, Zaki sudah bisa melihat Bu Ambar yang tadi keluar saat masih ada Bu Maryam sudah kembali dengan beberapa kantong plastik di tangan kiri dan kanannya.
"Bu, maaf sebaiknya ibu pergi dulu dari sini, bu. Bukan saya mengusir, tapi ibu lihat sendiri di sana," tunjuk Zaki ke arah ibunya yang masih berjalan ke arah mereka.
Tanpa banyak kata, Bu Zaenab bersiap hendak pergi namun langkahnya di tahan sejenak untuk menoleh pada Zaki dan melempar tatapan nanar padanya sebelum benar benar melangkah pergi karna Bu Ambar yang sudah sangat dekat jaraknya dari mereka.
Zaki yang menyadari tatapan Bu Zaenab seketika terenyuh, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang ingin di katakan Bu Zaenab tadi namun urung dia lakukan karna kedatangan Bu Ambar yang di luar prediksi BMKG .
"Lagi apa di sini, Zaki?" tanya Bu Ambar heran.
"Ah, eh Bun? Sudah pulang? Lama sekali keluarnya?" seru Zaki terkejut karna rupanya Bu Ambar kini sudah ada di depan matanya.
Bu Ambar mengangkat sedikit bawaan yang ada di tangannya.
"Beli makanan, suntuk tahu nggak ada makanan sama cemilan," kekehnya tanpa merasa berdosa.
"Ooh, ya sudah. Bunda beli apa aja itu," tanya Zaki sembari melongok hendak melihat ke dalam kantong plastik yang di bawa sang bunda.
"Adalah pokonya, oh ya itu siapa di dalam? Kok kayaknya ramai sekali?"
"Ooh, itu bapak Jatmika sama Bu Hana lagi jengukin cucunya. Ayo masuk deh, Bun kebetulan bunda sudah kembali dan bawa makanan. Di sini kan nggak ada makanan buat suguhan tamu," seloroh Zaki sembari menyingkir dari arah pintu agar sang ibu bisa masuk.
Bu Ambar masuk dengan senyum ramah di wajahnya, maklum saja perlakuan kita akan sama dengan cara orang lain memperlakukan kita bukan?.
"Assalamu'alaikum," ucapnya tak kalah ramah.
"Wa'alaikumsalam," sahut Pak Jatmika dan Dara yang sejak tadi masih asik berbincang berdua sedang bu Hana tetap sibuk dengan bayinya Dara yang sangat anteng di bawa ke dekat jendela.
"Ya ampun, besan. Kapan datang? Maaf ya saya tadi lagi keluar beli cemilan, maklumlah nungguin cucu di rumah sakit juga butuh amunisi," kekeh Bu Ambar sembari menyalami tangan Pak Jatmika.
"Iya nggak papa kok, Bu. Maklum saja, namanya cucu pertama pasti seneng sekali," balas Pak Jatmika.
"Haish, cucu pertama apanya toh? Ini cucu ketiga , sama kayak sampean. Jangan sampe yang dua kembar itu nggak di hitung, itu juga cucu saya loh ya." Bu Ambar menunjuk ke arah si kembar yang masih terlelap dengan nyenyaknya.
Pak Jatmika menyambut dengan tawa, lalu Bu Hana pun meninggalkan mereka sejenak untuk menyapa Bu Hana di sudut sana.
Sebelum itu, terlebih dulu Bu Ambar membuka kantong plastik bawaannya dan meletakkan isinya ke meja dimana Zaki sudah duduk di depannya.
"Tolong di susun, Zaki. Nanti kalau sudah ajak mertuamu makan," ujar Bu Ambar pelan namun masih terdengar di telinga Zaki.
Zaki menjawab dengan anggukan saja.
Bu Ambar pun melipir ke arah calon besannya juga itu, yang saat ini tengah sangat menikmati masa masa menimang sang cucu.
"Jeng, ayo kita makan dulu yuk. Ngemil aja sih, saya tadi ada beli martabak." Bu Ambar mengajak Bu Hana.
Bu Hana menoleh dan tersenyum senang. "Iya, jeng. Nanti saja, yang ini lebih asik soalnya," kekehnya sambil menunjuk bayinya Dara yang perlahan mengedipkan matanya karna silau dengan suasana luar.
"Sudah ayo, nanti bisa gendong lagi jeng. Saya nggak akan ngelarang kok, cuma sudah sepantasnya tamu itu di jamu," paksa Bu Ambar kali ini di barengi dengan menarik pelan lengan Bu Hana agar wanita setengah baya yang masih cantik itu mau ikut dengannya.
Setelah mereka semua duduk di sofa, bayi Dara terdengar merengek. Bu Hana malah tersenyum haru mendengar rengekannya, mungkin saja begitu merindunya dia dengan kehadiran seorang bayi yang belum kunjung datang ke rahim menantunya saat ini.
"Jeng, sudah sini biar di susui Dara dulu. Jeng makan dulu, santai santai aja ya nanti gendong lagi saja setelah bayinya kenyang," kata Bu Ambar lembut, dan dengan perlahan Bu Hana memindahkan bayi itu dari pelukannya ke dalam gendongan Bu Ambar, sebelum akhirnya berpindah pada Dara untuk di susui.
__ADS_1
Sembari bercengkrama dan makan cemilan yang di beli Bu Ambar tadi, sesekali terdengar suara tawa dari sebuah keluarga yang berkumpul itu.
"Kira kira kapan bapak sama Bu Hana mau mengadakan acara pernikahannya? Supaya kami juga bisa bersiap siap," celetuk Zaki tiba tiba, membuat wajah dua sejoli yang sudah lamaran itu memerah karenanya.
Bu Hana menatap Pak Jatmika, dan begitu pula sebaliknya. Mereka malah saling tatap dalam kebingungan yang sama.
"Bagaimana kalau nanti acaranya di barengi sama acara aqiqahnya dedek bayi aja?" celetuk Dara memberi saran, yang langsung di tanggapi dengan berbinar oleh Pak Jatmika.
"Ya ya, kamu benar Nak. Gimana dek Hana? Apa kamu juga setuju dengan sarannya Dara? Lebih cepat lebih bagus to?" tanya Pak Jatmika meminta pendapat calon istrinya.
Bu Hana tampak tersipu malu, lalu perlahan dia pun mengangguk jua.
"Baiklah, terserah Mas saja."
"Yes! Alhamdulillah," seru Pak Jatmika penuh semangat.
Semua yang hadir di sana juga mengucapkan kalimat yang sama, semua senang menyambut niat baik yang segera akan di laksanakan itu.
"Eh, tunggu dulu." Bu Hana kembali menyela, karna ada sesuatu yang dia lupakan.
"Kenapa, dek? Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Pak Jatmika.
Mengangguk Bu Hana. "Iya, Mas. Saya mau tahu memangnya acara aqiqahnya si bayi kapan? Soalnya kan kita belum punya persiapan apapun."
"Benar juga," gumam Pak Jatmika.
"Rencana kalian acara aqiqahnya akan di laksanakan kapan, Zaki?" pak Jatmika melempar tanya pada anak menantunya.
Zaki menatap Dara, lalu beralih pada Bu Ambar.
"Bagaimana kalau satu bulan lagi saja? Atau sekalian menunggu bayinya umur 40 hari juga boleh, biar lebih tenang dan nyaman mengurus semuanya." Bu Ambar memberi saran.
"Zaki juga setuju."
"Kamu bagaimana, dek Han?" tanya Pak Jatmika meminta pendapat Bu Hana.
Bu Hana manggut-manggut saja lalu menjawab. "Baiklah, begitu juga cocok kok. Setidaknya waktunya tidak begitu mepet dan kita bisa mempersiapkan semuanya dengan baik dalam waktu empat puluh hari ini. Dara juga bisa sekalian memulihkan kondisinya dulu , iya kan?"
"Benar benar," timpal Dara senang.
Semua setuju dengan keputusan tersebut, dan setelah mencapai kata sepakat mereka kembali bercanda masalah hal lain yang akan di lakukan untuk persiapan acara nanti. Seperti dekorasi dan konsumsinya..
Saat tengah asik berbincang, terdengar suara gaduh di luar ruangan. Ruangan yang biasanya kedap suara itu kini terasa seperti mendengar suara suara samar dari bagaian luar. Yang artinya suara gaduh itu cukup berisik dan mengganggu hingga bisa menembus ruangan kedap suara tersebut.
"Ada apa itu?" tanya Zaki entah pada siapa, karna mereka semua yang ada di dalam pun tidak tahu apa yang tengah terjadi di luar sana.
"Kita lihat sama sama," tandas Pak Jatmika langsung berjalan ke arah pintu dengan di ikuti Zaki di belakangnya.
"Yang lain tunggu saja di sini, takutnya terjadi sesuatu yang bahaya di luar sana. Biar Bapak sama Zaki saja yang melihat keluar," tegas Pak Jatmika yang langsung di turuti oleh semuanya.
Usai membuka pintu dan keluar, Zaki lekas menutup kembali pintu ruangan rapat rapat karna tak ingin suara berisik itu mengganggu tidur sang putri dan si kembar di dalam sana.
Orang orang yang berlarian ke satu arah menjadi sasaran pandang mereka pertama kali.
"Pencuri!"
"Pencuri! Kejar!"
"Dia lari ke sana! Kejar semuanya!"
__ADS_1
"Jangan sampai lolos, jaga dari pintu gerbang depan ,jangan biarkan dia lolos!"
Seruan seruan itu terdengar bersahutan sahutan di sana, penasaran dengan apa yang terjadi Zaki lekas menahan pergerakan seorang perawat laki laki yang kebetulan lewat dengan berlari kecil di dekatnya.
"Mas, Mas tunggu Mas."
"Iya, Mas? Ada apa?" tanya perawat itu dengan wajah panik, mungkin dia masih syok dengan apa yang terjadi sebelumnya.
"Ini ada apa ya, Mas? Kenapa orang orang pada lari ke sana dan teriak teriak begitu?" tanya Zaki cepat, karna perawat itu seolah tak ingin berlama lama di sana.
"Oh ini, ada yang menculik bayi, Mas. Dari raungan bayi, di bawa kabur bayinya."
Zaki mengangguk paham.
"Ya sudah ya, Mas saya mau bantu ngejar lagi bayi itu. Soalnya itu bayi masih di tahan rumah sakit karna orang tuanya belum bayar biaya rumah sakitnya," ucap perawat itu lagi sebelum akhir berlari kembali meninggalkan Zaki dan Pak Jatmika di depan ruangan Dara.
"Penculikan bayi rupanya, Pak. " Zaki memberi tahu Pak Jatmika lagi, walau sebenarnya dia sudah tahu kalau Pak Jatmika pastilah sudah mendengar langsung dari apa yang di sampaikan si perawat tadi.
"Iya, bapak juga denger kok tadi. Ya sudah, kita masuk lagi saja. Nggak ada urusannya sama kita kok, lagi pula yang ngejar dan mengurusnya juga sudah banyak kita jangan ikut ikutan lah." Pak Jatmika berbalik hendak masuk ke dalam ruangan lagi.
Namun dengan cepat Zaki menahan pergerakannya.
"Ada apa lagi?" tanya Pak Jatmika seraya berbalik.
"Zaki masih penasaran, Pak. Bagaimana kalau kita ikuti dulu mereka dan lihat bagaimana akhirnya nanti." Zaki berusaha membujuk bapak mertuanya itu.
Pak Jatmika mendesah berat. "Ah mau ngapain juga nanti kalau tahu, Zaki? Buang buang waktu aja ah."
"Ya sudah kalau bapak nggak mau, Zaki aja lah." Zaki melepas tangan Pak Jatmika dan melenggang pergi ke arah dimana orang orang tadi berlarian.
"Jangan lupa nanti pas balik ke sini beliin telor gulung sama es kelapa muda yang di depan itu ya, Zak," ucap Pak Jatmika kemudian langsung menghilang di balik pintu dan menutupnya rapat rapat.
Zaki mendengus. "Huh, diajak barengan nggak mau. Tapi nitip, bilang aja males jalan kaki, Pak Pak.".
Zaki kembali meneruskan langkahnya, entah apa yang membuatnya begitu penasaran dan menuntunnya ke arah kerumunan orang orang yang kini berkumpul di dekat pos keamanan rumah sakit. Dari arah sana Zaki bisa mendengar suara tangisan seorang perempuan juga teriakan dan sumpah serapah orang orang yang melihat m, suaranya saling bertumpang tindih hingga tak jelas siapa saja pemilik suara tersebut.
Zaki merangsek maju, dia sangat penasaran dengan siapa orang yang sudah dengan sengaja menculik seorang bayi dari ruangannya.
"Permisi, permisi," ucap Zaki sopan ,namun semua orang yang di senggolnya untuk bisa maju malah meliriknya dengan tatapan tajam dan kesal.
"Hei, Mas hati hati dong. Lihat nih kaki saya ke injek," protes salah satu orang yang tidak sengaja di injak kakinya oleh Zaki.
"Ah iya kah? Saya minta maaf Mas kalau begitu, maaf sekali. Saya cuma mau ke depan kok mau memastikan siapa orang yang tadi di kejar kejar itu," terang Zaki.
Orang itu tampaknya tak peduli, setelah Zaki meminta maaf dia langsung melenggang pergi begitu saja tanpa berkata kata lagi, hanya raut wajahnya saja yang masih tampak menyimpan kekesalan.
"Huhuhu, tolong jangan ambil bayi itu. Biarkan saya membawanya, dia cucu saya dia darah daging saya kenapa saya tidak boleh membawanya pulang? Huhuhu."
Zaki spontan menoleh ke arah pos keamanan rumah sakit yang saat itu penuh sesak dengan orang orang di bagian luarnya. Namun di dalam sana cukup lega karna orang orang yang tidak berkepentingan di larang untuk memasuki ruangan dan hanya di perbolehkan melihat dari sela kaca jendela yang terbuka sedikit saja. Untuk mengurangi kemungkinan adanya orang orang tak bertanggung jawab yang akan mengambil video kejadian itu dan memviralkannya. Itu bisa berbahaya bagi reputasi rumah sakit tersebut.
"Wah parah sekali, biarpun itu cucunya kan tetap saja namanya biaya rumah sakit ya harus di bayar dulu. "
"Ya, tapi kasihan juga loh m. Siapa tahu dia memang belum punya uang untuk bayar, masa iya ibunya yang baru melahirkan bayi itu harus bolak balik ke rumah sakit terus setiap waktu untuk nyusuin bayinya? Sedangkan dia saja belum sembuh sehabis melahirkan. Harusnya pihak rumah sakit bisa memberi kompensasi."
"Ah tapi tetap saja, namanya menyalahi aturan itu namanya sama saja salah."
Berbagai pendapat dari orang orang yang tengah berkerumun itu membuat Zaki semakin penasaran. Posisinya yang hanya terhalang satu orang saja untuk bisa mengintip dari jendela membuatnya tak sabar, namun saat Zaki hendak meminta agar orang itu sedikit bergeser rupanya dia malah berlalu karna hendak ke kaamar mandi.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, gegas Zaki merangsek maju dan mengedarkan pandangan ke dalam ruangan pos keamanan tersebut. Matanya kembali membuat sempurna saat mendapati orang yang di maksud sekian banyak orang tadi itu rupanya ....
__ADS_1
"Astaghfirullah, Bu Zaenab?" gumamnya lirih.