
* Yeeeyyy udah 200 episode aja nih\, gimana kalau untuk merayakannya kita beri karma yang banyak untuk Fatan? Udah keenakan hidup seneng nih kayaknya.
Oke, lanjut.
" Kami ... pergi dari rumah mu itu karna ketidak jujuran kamu akan pekerjaan dan hubungan kamu dengan Intan dan keluarganya. Kamu yang tidak tegas sejak awal hingga kami memilih menenangkan diri di sini. Namun belum sempat hati ini tenang berpikir untuk mengambil sikap, kamu datang lagi dengan anak tidak tahu diri itu sebagai istrimu. Kamu tahu betapa terlukanya kami atas kabar itu? Dan sekarang, kami putuskan untuk tak akan pernah lagi kembali ke rumah mu itu, silahkan nikmati semuanya dan ceraikan anakku. Aku tak Sudi anakku di madu."
Blleeegggaaarrrrrr
Bak tersambar petir di siang bolong Fatan mendengar perkataan terakhir Bu Maryam, hatinya mencelos ingin rasanya dia tak memercayai pendengarannya sendiri. Namun apa daya semuanya memang nyata, padahal jika boleh memilih ingin sekali Fatan menjadikan semua ini hanya mimpi, dan saat terbangun semua akan kembali normal seperti sebelumnya.
"T- tidak, ini ... ini tidak mungkin," cicit Fatan sembari memegangi dadanya yang terasa berdebar kencang.
Di alihkannya tatapannya pada Indi, wanita yang kini sudah selesai menyusui bayinya itu tampak memasang wajah datar, seolah apa yang di katakan ibunya adalah sama kehendaknya juga.
Tes
Setetes air mata jatuh di pipi Fatan, dadanya semakin sesak membayangkan perpisahan yang tak pernah dia inginkan hadir di depan matanya. Dunianya serasa berputar, Fatan bahkan tak ingat lagi apa yang terjadi sebelum ini. Hingga sentuhan di lengannya menyadarkannya dari keterkejutannya.
Greb.
"Pergilah, Fatan. Jangan buat kami terus menderita karna ulahmu," ucap Bu Maryam dengan suara bergetar, sepertinya wanita tua itu sedang menahan tangisnya sekuat tenaga.
__ADS_1
Fatan akhirnya mengalah pada hatinya, dia kembali berdiri tegak menghadap Bu Maryam dengan mata basah oleh air.
"Saya akan pergi, Bu. Tapi sebelum itu, bolehkan saya ... memeluk putri saya lebih dulu, saya rindu sekali, Bu."
Bu Maryam akhirnya tak mampu lagi menahan tangis yang sejak tadi di tahannya, sekuat apapun dia tapi dia tetap seorang wanita dan ibu yang perasaannya sangat lembut. Tak tega juga dirinya jika harus memisahkan seorang ayah dengan anaknya walau mungkin sang anak belum paham dengan itu.
Karena tak mendapat jawaban dari bu Maryam, Fatan beralih pada Indi. Sempat di lihat olehnya kalau wanita yang masih resmi menjadi istrinya itu menangis dengan sembunyi-sembunyi.
" In, bolehkah Mas peluk anak kita?" tanyanya dengan suara yang juga bergetar karena menahan tangis.
Indi tak kuat, pada akhirnya air matanya pun tumpah pula. Namun dia menguatkan hati dan dirinya sendiri agar bisa menahan untuk tidak mengalah pada keinginan Fatan. Sudah cukup semuanya, kini dia harus bisa egois sedikit saja untuk kewarasannya ke depannya. untuk masa depan yang cerah yang harus dia siapkan untuk bayinya kelak.
Fatan melangkah maju, mendekati Indi dan mengulurkan tangannya untuk meminta bayi dalam gendongan Indi yang saat ini membuka matanya dan menatap Fatan dengan bola matanya yang bening dan indah. Bahkan warna pupilnya pun sama dengan Fatan, membuat Fatan tak tahan untuk tak menciumi pipinya.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa," lirih Fatan sembari terus menghujani wajah mungil nan lembut itu dengan kecupan ringan.
Bayi cantik itu tampak tak terganggu sama sekali, bahkan dia mengedipkan matanya beberapa kali saat Fatan menatapnya lekat.
"Baik baik sama Mama ya, nanti Papa datang lagi jengukin dedek." Fatan menjatuhkan sebuah kecupan lembut yang sangat lama di kening bocah kecil itu, dan seolah tahu bayi itu mengangkat tangan mungilnya dan menyentuh kulit wajah Fatan.
Fatan mengangkat wajah, tersenyum lebar pada bayi kecil di pelukannya itu, yang entah kapan bisa di peluk erat lagi seperti saat ini. Di tatapnya setiap inci dari wajah si bayi untuk dia ingat di dalam memori otaknya, besar harapannya untuk bisa tinggal bersama kembali dengan istri dan anaknya setelah ini. Semoga saja badai ini cepat berlalu. ( Kalau pembaca menginginkan tapi ya, Tan kalau mereka seneng elu menderita ya apa boleh buat, haha)
__ADS_1
"Papa pamit dulu ya, Nak. Semoga kita cepat bertemu lagi, satu yang harus dedek tahu Papa sayang sekali sama dedek dan juga Mama." Fatah melempar tatapan pada Indi yang rupanya juga tengah menatapnya, lekas Indi menunduk dan membuang pandangannya ke arah lain.
Setelah menyerahkan kembali bayi kecilnya ke dalam pelukan indi, Fatan lekas berpamitan dan tak lupa mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. Setelah itu kembali menoleh satu kali lagi ke arah si bayi yang juga menatapnya, dan meneruskan langkah dengan berat hati meninggalkan rumah tersebut.
****
Senja sudah tiba, Fatan masih saja berjalan tak tentu arah di tepian jalan raya. Sesekali sinar dari lampu sorot mobil menerpa wajahnya, membuatnya harus mengangkat tangan untuk melindungi matanya yang silau.
"Kemana aku harus pergi ya? Beginilah kalau orang miskin, mau minta tolong ke sana kemari pun pasti nggak akan ada yang bantu. Ke rumah keluarga pun nggak punya, ke rumah istri di usir. Apes banget sih nasib?" gerutu Fatan sambil terus melangkah tak tentu arah.
Hingga kakinya menapaki sebuah pelataran ruko yang tampak lumayan bersih dan tertutup, tak banyak kendaraan yang lewat di depan sana membuat tempatnya lumayan nyaman jika hanya untuk beristirahat sejenak. Melepas lelah setelah hampir setengah hari hanya di habiskannya dengan berjalan kaki tanpa tujuan.
"Istirahat di sini dulu lah, lumayan nggak begitu kelihatan orang dan nggak kena angin juga," gumam Fatan sambil mencari cari sesuatu yang sekiranya bisa di jadikan alas duduk olehnya.
Beberapa buah kardus bekas yang teronggok di sudut halaman ruko menjadi pilihannya, di ambilnya dan di susun sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang nyaman untuk melepas penat -- ala gelandangan maksudnya--
Sembari menatap dari kejauhan kendaraan yang berlalu lalang di depan sana , Fatan merenungi nasibnya yang tiba tiba menjadi sangat sial saja lebih parahnya terlunta-lunta seperti ini setelah menikah dengan Intan.
"Sepertinya pepatah beda istri beda rejeki itu benar adanya ya?" gumam Fatan sembari menarik senyum getir di wajahnya, terbayang waktu masih beristrikan Dara dan di beri kehidupan yang sangat layak hingga dia lupa bagaimana rasanya kelaparan dan kekurangan, hingga dia bersama Indi yang walaupun kekurangan tapi masih bisa makan, sampai kini dia bersama Intan yang jangankan makan uang satu lembar pun dia tak punya. Betapa miris nasib Fatan, untuk menyesal pun sudah sangat terlambat sekarang.
Fatan menelungkupkan wajahnya di antara lutut, meresapi semua penyesalan paling besar yang pernah ada dalam hidupnya, mengkhianati Dara.
__ADS_1