
"Apa, Mbak? Kerja sambilan?" kaget Indi saat Dara menyampaikan rencananya sepulang dari masjid.
Mereka hanya berdua di dalam kamar Indi, Fatan dan si kembar tengah bermain di lapangan tak jauh dari rumah mereka bersama anak-anak komplek lainnya.
Dara mengangguk mantab.
"Iya, kerja sambilan. Sepulang kamu kuliah misalnya, besok kamu sudah mulai masuk kuliah kan? Nah pulangnya kamu bisa tuh langsung kerja sampai malam." Dara menegaskan hasil buah pikirannya.
Indi mendesah berat sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terlahir sebagai anak bungsu dan yang paling di sayang oleh kedua orang tuanya tentu saja membuat Indi sama sekali belum mempunyai pengalaman bekerja, jangankan bekerja pada orang lain mengerjakan pekerjaan rumah pun masih bisa di hitung jari berapa kali selama hidupnya.
"Tapi, Mbak. Mau kerja apa? Aku kan nggak ada pengalaman," keluh Indi yang sudah kalah sebelum berperang.
Dara duduk di tepi ranjang, tak jauh dari Indi dari yang berbaring telentang di kasurnya.
"Justru itu kamu harus mulai belajar mencari pengalaman, kamu sudah mulai dewasa Dek. Sudah saatnya kamu belajar bertanggung jawab atas diri kamu sendiri. Lagi pula memangnya kamu lupa kalau kamu punya hutang sama rentenir?" ucap Dara menohok.
Indi memutar tubuhnya menjadi tengkurap dan menopang kepalanya menggunakan kedua tangan.
"Indi nggak lupa, Mbak. Cuma takut aja, soalnya Mbak tau sendiri hidup Indi selama ini gimana,"
Dara menggeleng pelan sembari tersenyum sabar, menampakkan aura keibuan yang terpancar terang dari dirinya.
Tangannya terulur mengelus lembut rambut adik bungsunya yang terasa agak kasar karena belum sempat keramas.
"Ada saatnya kita harus keluar dari zona nyaman kita sendiri, In. Dan buat kamu, Mbak rasa ini saat yang tepat," ucap Dara yakin.
Indi menatap Dara intens, Dara mengangguk mantab dan beralih menggenggam tangan Indi erat.
"Baiklah, Indi coba Mbak," tukas Indi akhirnya.
"Mbak yakin kamu pasti bisa," tegas Dara sambil berlalu keluar kamar, dan menutup pintunya perlahan.
Membiarkan Indi seorang diri dengan berbagai macam pikirannya.
****
Malam beranjak semakin larut, si kembar sejak tadi sudah kembali ke kamarnya dan tertidur pulas karena lelah bermain-main.
Di meja makan tampak dua sejoli yang membuat siapa saja iri itu tengah duduk bersebelahan sambil menikmati mie instan dalam keremangan cahaya lampu yang hanya di hidupkan satu.
"Memang nggak ada yang ngalahin nikmatnya makan mie tengah malam," ujar Fatan sambil mengaduk mienya agar tercampur dengan telur setengah matang kesukaannya.
Dara mengangguk sambil menyeruput kuah mienya.
"Paling the best pokoknya, ya kan Mas?"
Fatan mengangguk mantab, dan dengan cepat menghabiskan semangkuk mienya sampai tandas tanpa sisa.
"Alhamdulillah," gumam Fatan setelah bersendawa sebelumnya.
__ADS_1
Dara gegas mengambil mangkuk kotor mereka dan langsung mencucinya, tidak terbiasa menumpuk piring kotor di wastafel. Bahkan Dara sudah mulai mengajari si kembar untuk langsung mencuci piring bekas makan mereka setelah habis, agar tidak menumpuk dan menggangu pemandangan.
"Oh iya, gimana soalnya rencana kamu tadi, Sayang?" celetuk Fatan teringat akan pembicaraan mereka di masjid sore tadi.
"Alhamdulillah berjalan lancar, Mas. Semoga saja sesuai yang kita harapkan," tandas Dara tanpa menoleh karena sedang sibuk memandikan mangkuk dan gelas kotor yang baru saja mereka pakai.
"Apa kamu sudah mencarikan tempat kerja sambilan yang cocok untuk Indi? Soalnya dia kan belum pernah kerja di manapun,"
"Ah iya benar, kenapa aku bisa lupa ya Mas? Duh, gimana ini? Mas ada solusi?" tanya Dara sambil mengelap tangannya dan duduk di dekat Fatan kembali.
Fatan tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat sesuatu yang sejak tadi sudah di pikirkannya tetapi terlupa.
"Ah iya, Mas ingat. Bagaimana kalau di cafe punya temen Mas? Lokasinya nggak jauh dari kantor Mas, cuma bersebrangan jalan aja. Katanya di sana lagi butuh pelayan paruh waktu," cetus Fatan memberi ide.
Mata Dara tampak berbinar senang, secara refleks kepalanya mengangguk cepat.
"Boleh, Mas. Aku setuju, kayaknya juga nggak terlalu jauh dari kampusnya Indi, jadi dia nggak perlu bolak balik ke rumah dulu. Bisa langsung ke sana aja,"
Setelah mencapai kata sepakat, kedua pasangan suami istri itupun kembali ke kamar mereka. Mematikan semua lampu dan membuat seluruh ruangan menjadi gelap untuk menghemat listrik.
Hujan yang tadi turun rintik-rintik serta merta menjadi deras, guntur bersahut-sahutan dengan angin yang berhembus kencang membawa butiran hujan menampar sisi jendela kaca.
Dara meringkuk di bawah lengan suaminya karena merasa tidak nyaman dengan suara hujan dan petir itu.
"Sayang, berhentilah menggodaku," desis Fatan berbisik di telinga istrinya.
"Siapa yang goda kamu sih, Mas? Kamu kan tahu aku takut suara hujan," gerutu Dara kembali masuk ke dalam dekapan hangat Fatan.
Fatan terkekeh kecil, kemudian memiringkan tubuhnya sampai menghadap istrinya dan memeluknya erat.
"Kepalanya memang takut, tapi lutut sama kakinya daritadi jahil. Kamu pikir Mas mati rasa nggak bisa rasain gerakan kamu di bawah sana?" goda Fatan membuat pipi Dara merona merah.
"Apaan sih ah, orang nggak ngapa-ngapain juga," kilah Dara membenamkan wajahnya di antara dada dan lengan Fatan.
Fatan tersenyum smirk dan beranjak bangun sampai berada di atas tubuh istrinya.
"Kamu harus tanggung jawab, Sayang. Kamu sudah membangunkan singa yang sedang tidur, dan sekarang dia harus di tidurkan lagi kalau tidak mau dia mencari mangsa lain," desah Fatan di telinga Dara.
Fatan meniup telinga istrinya, membuat Dara merinding seluruh tubuh bagai terdengar aliran listrik tegangan rendah.
Dan akhirnya, di antara gemuruh petir dan air hujan yang turun dengan derasnya. Mereka melakukan kewajiban masing-masing, memberi dan menerima madu cinta yang selalu mereka bina bersama agar tetap terasa manis.
****
"Hayo ngapain subuh-subuh udah mandi?" seru Indi saat mendapati Dara keluar dari kamar mandi dapur dalam keadaan rambut basah.
Wajah Dara memerah.
"Gerah, Dek. Kan semalem hujan, jadi hawanya subuh malah sumuk," kilah Dara sambil berlalu menghindari adiknya dan menuju dapur.
__ADS_1
Indi masuk ke kamar mandi, sedangkan Dara mulai sibuk meracik bumbu untuk membuat nasi goreng, menu simpel sarapan keluarnya pagi ini.
"Masak apa, Mbak?" tanya Indi sekeluar dari kamar mandi, rupanya dia hanya kebelet dan bahkan tidak mencuci mukanya walau sudah bangun dari tidur.
"Mau bikin nasi goreng buat sarapan, kamu kok nggak sekalian mandi? Hari ini ke kampus pagi kan?" Dara balik bertanya.
Indi membuka kulkas, mengambil sebuah kaleng minuman soda dan meminumnya sambil berdiri.
"Heh! Nggak boleh Dek pagi-pagi sudah minum yang bergas, mana sambil berdiri lagi. Nggak sopan, Dek." Dara mengomeli Indi dan lekas merebut kaleng minuman itu kemudian memasukkannya lagi ke dalam kulkas sebelum akhirnya menutupnya rapat.
"Aaah, Mbak. Kenapa di masukin lagi sih? Indi kan haus, Mbak," rengek Indi seperti bocah kecil.
Dara menggeleng.
"Nggak! Sekali nggak tetep nggak! Ini masih pagi banget dan kamu bahkan belum cuci muka atau sikat gigi, bisa-bisanya malah minum soda. Kalau kamu sakit perut gimana?" omel Dara panjang lebar.
Indi mengalah, melawan ibu-ibu anak dua yang sedang mengomel memang tak akan ada menangnya.
Indi duduk di meja makan dan menatap kesal Dara yang kembali sibuk memotong sosis dan bakso untuk campuran nasi gorengnya.
"Mbak, hari ini aku ke kampus pake apa? Kemarin mau bawa motorku ke sini nggak tau bawanya pake apa, kalo naik ojol apa nggak boros banget misal tiap hari? Apa minta anterin Mas Fatan?" tanya Indi bertubi-tubi.
Dara mengehentikan sejenak aktivitas mengaduk nasinya, dan berbalik menatap Indi sambil berkacak pinggang. Bukan bermaksud sombong, namun bagi ibu-ibu meletakkan tangan di pinggang saat masak sudah menjadi keharusan. Nggak percaya? Coba aja, dan rasakan sendiri sensasinya.
"Hari ini kamu pake motor Mbak dulu, besok Mbak minta Mas Fatan buat aturin ekspedisi buat bawa motormu ke sini," jawab Dara enteng, dan kembali sibuk dengan aktivitas mengaduk nasi gorengnya.
Setelahnya di lanjutkan dengan menceplok telur, tentu saja sembari menunggu tangan Dara akan selalu berada di pinggang. Sangat nyaman.
"Huh, kirain motornya mau di kasih buat aku," gumam Indi sambil membaringkan kepalanya ke atas meja.
"Kamu mau motor baru?" celetuk Dara.
Indi mengangkat kepalanya dengan bersemangat.
"Mau, mau!" serunya.
"Kerja!" tandas Dara sambil bertawa lepas.
Indi memanyunkan bibirnya karena baru sadar di kerjai oleh kakaknya.
"Mau kerja apa?" sungut Indi kesal.
Baru saja Dara hendak menjawab, muncul Fatan dari balik pintu dapur.
"Kerja di cafenya Zaki mau?"
Mata Indi membulat sambil menatap Fatan.
"Apa? Cafe Zaki? Zaki punya cafe? Zaki yang itu atau ...."
__ADS_1