
Malam mulai larut, Intan yang tak kunjung kembali membuat Pak Sukri resah. Sejak tadi pria yang sebagian rambutnya sudah mulai memutih itu mondar-mandir di depan rumahnya sembari menilik jalanan berharap sang putri satu satunya akan lekas kembali pulang.
"Ada apa tho, Pak?" tanya Bu Sukri yang sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi.
Pak Sukri menoleh dengan mimik wajah resah. "Intan belum pulang juga, bapak cemas, Bu."
Bu Sukri menyeringai, sebenarnya inipun sudah masuk ke dalam rencananya agar sang suami tak akan curiga dengan semua skenarionya.
"Ya sudah, bapak tunggu saja biar ibu yang jemput Intan ke rumahnya Bu Maryam ya. Paling juga dia betah di sana soalnya kan intan suka sama bayi, Pak. Mungkin dia masih main sama bayinya Indi," gumam Bu Sukri memainkan perannya dengan sangat baik.
Pak Sukri mengangguk mengiyakan, dan duduk menunggu di kursi teras.
"Ibu berangkat dulu, pak." Bu Sukri menuruni teras dengan membawa sebuah senter di tangannya.
"Bapak anter saja, Bu?" ucap Pak Sukri.
"Bapak yakin? Bukannya tadi katanya pinggangnya sakit habis dari kebun?" tanya Bu sukri berpura pura khawatir.
Padahal dalam hatinya tengah bersorak girang karna semua sesuai rencananya.
"Nggak, bapak bisa kok. Bapak masih kuat kalau cuma ke rumah di Fatan, bapak juga kepengen jenguk bayinya dari kemarin belum sempat."
Pak Sukri bangkit dengan tertatih, memang rasanyaa pinggangnya seperti hendak patah namun di paksanya juga demi mengetahui langsung kondisi anaknya saat ini.
Putri yang begitu di sayanginya sejak bayi walau Intan bukanlah anak kandung mereka, sebab Bu Sukri sudah di vonis mandul. Walau begitu tak pernah terlintas di pikiran Pak Sukri untuk meninggalkannya terlebih setelah ada Intan sebagai pelengkap mereka.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa saat dengan memapah tubuh Pak sukri, mereka pun sampai di depan rumah Fatan. Namun anehnya di depan sana tampak banyak sekali warga yang berkumpul dan berkasak kusuk seolah tengah terjadi sesuatu.
"Ya Allah, Pak e ada apa ya di rumah si Fatan? Apa anaknya sakit lagi?" cetus Bu Sukri berpura pura tidak tahu, padahal semuanya dia dan si lintah darat lah yang mengaturnya.
"Ayo kita ke sana saja ,Bu ne." Pak Sukri melangkahkan kakinya di iringi Bu Sukri di sampingnya.
Sampai di sana mulai terdengar suara tangisan yang bisa di tebak Bu Sukri adalah suara anaknya, Intan.
Bu Sukri mengedarkan pandang, lalu matanya bersirobok dengan si rentenir yang ternyata juga ada di sana. Si rentenir mengacungkan jempol di bawah pinggangnya, sembari tersenyum lebar menandakan misi mereka berhasil.
Bu Sukri mengangguk samar lalu melangkah naik ke teras rumah Fatan yang sudah penuh warga lainnya itu.
"Wah parah sekali, padahal orang tuanya orang baik baik loh, malah begitu kelakuan anaknya."
"Iya, masih muda malah begitu kelakuannya. Mungkin karna bukan anak kandung makanya kelakuannya nggak ada yang ngikut orang tuanya. Mungkin orang tua kandungnya orang nggak bener nih makanya jadinya begitu."
Suara suara sumbang mulai terdengar, Bu Sukri malah santai saja menanggapinya berbeda dengan Pak Sukri yang wajahnya sejak tadi sudah pias dan cemas bukan main.
Semakin ke dalam tampak kerumunan tak begitu ramai, namun beberapa orang tampak memegangi tangan Fatan dan Intan yang saat ini tengah menangis.
"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa anak saya di pegangin begitu? Apa salah dia? cecar Pak Sukri yang langsung merasa tubuhnya limbung dan lemas hingga terduduk di lantai di bawahnya.
Bu Sukri masih saja pandai berakting, dia berpura pura menangis dan memeluk tubuh sang suami dari samping.
"Pak! Pak tolong dengarkan saya dulu, Pak ini nggak seperti yang bapak pikirkan." Fatan saat itu berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Pak Sukri bahwa semua orang ini hanya salah paham.
__ADS_1
Beberapa warga tampak ingin mendengarkan, namun dengan cepat Bu Sukri memprovokasi keadaan.
"Sudah diam kamu, Fatan! Kamu harus bertanggung jawab atas anak saya,kamu harus menikahinya karena sudah membuat malu keluarga. Kalian memang kurang aj ar, bisa bisanya kalian berbuat demikian saat tidak ada yang tahu. Memalukan," hardik Bu Sukri sembari mengeluarkan air mata buayanya, membuat orang orang yang tadinya ingin mendengar penjelasan Fatan berbalik mendengar perkataan Bu sukri.
"Tapi kami tidak melakukan apa apa, Bu! Kami hanya makan bersama saja di sini. Lihat bahkan rantang makanan yang kata Intan pemberian ibu masih ada di sini." Fatan menunjuk rantang yang bahkan belum sempat di buka itu.
Bu Sukri mendengus karna bingung harus menjawab apa, tapi untungnya salah seorang yang tengah memegangi tangan Fatan angkat bicara dan langsung membuat Bu sukri bernafas lega.
"Halah! Makan bersama apanya, wong ranjangnya saja belum terbuka begitu kok, jelas jelas tadi kami melihat kalian sedang mesra mesraan berdua, mas pikir kami nggak tahu kalau kalian cuma berduaan di rumah ini? Mbak Indi sama ibu dan anaknya pergi kan? Pinter banget cari kesempatan dalam kesempitan kamu, Mas."
Bu Sukri menyeringai sinis, merasa puas dengan sanggahan yang di berikan pria yang dia yakini adalah anak buah si rentenir itu.
Sedang Pak Sukri yang sejak tadi sudah lemas hanya bisa terisak lemah di pelukan istrinya, bahkan tubuhnya pun terasa berat untuk di gerakkan.
Warga lain mulai terprovokasi, mereka tak hentinya berteriak-teriak meminta agar Intan dan Fatan di nikahkan lalu di usir dari kampung tersebut.
Banyak di antaranya yang meneriakkan itu adalah anak buah di rentenir yang berusaha memuluskan rencana Bu Sukri dan bos mereka yang saat ini mengawasi dari luar rumah.
"Pak, bagaimana ini? Warga semua menuntut supaya intan di nikahkan langsung dengan Fatan, Pak." Bu sukri berpura menangis sembari mendekap suaminya, sedangkan Intan di sana masih terisak dengan tangan di pegangin oleh salah seorang anak buah si rentenir yang lainnya.
Pak Sukri tak kuasa menahan kesedihan, putri yang di besarkan dengan berbagai macam nilai nilai agama yang baik, entah bagaimana caranya kini bisa terjerumus bahkan hingga mencoreng arang di wajah ke dua orang tua yang sudah merawatnya sejak bayi. Pak Sukri masih saja tak habis pikir dengan itu.
"Pak, cepat beri keputusan warga sudah semakin beringas." Bu Sukri kembali mendesak karna Pak Sukri tak kunjung buka suara.
Karna tak tahan, akhirnya Pak Sukri pun menjawab. "Nikahkan saja mereka, panggil wali hakim ke sini karna aku bukan bapak kandungnya, setelah itu biarkan mereka pergi dari kampung ini. Jangan memelihara orang orang seperti mereka di sini. Silahkan lakukan sesuai yang saya katakan tadi, saya mau pulang tidak sudi saya lama lama berada di sini."
__ADS_1
*Flashback end