TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 131. DEKORASI EMAS.


__ADS_3

 Pemimpin rombongan itu tak lain dan tak bukan adalah Bu Hana, ya beliau datang bersama yang lain lalu membawa Bu Leha menuju ke rumahnya yang kini tersegel itu, di hadapan sana beberapa orang sudah menunggu sembari melihat lihat kondisi rumah itu dari luar.


"Tunggu dulu, ada apa ini? Siapa orang orang ini?" tanya Bu Leha bingung saat orang orang dengan dandanan rapi itu berpaling menghadapnya.


"Yah, seperti yang kamu tau. Rumah kamu ini akan kami jual supaya bisa melunasi hutang hutangmu pada kami, dan jika kamu menolak." Bu Hana menggantung kalimatnya saat terlihat Bu Leha hendak melayangkan protes. "Kamu akan kami bawa untuk berurusan dengan polisi, bagaimana? Kamu bisa pilih di antara ke duanya, mau menjual rumah ini dan membayar semua hutangmu pada kami, atau ... kita tempuh jalur hukum sedangkan kau tahu sendiri kan bagaimana kondisimu saat ini? Untuk makan saja kau menumpang, bagaimana bisa menang melawan kami semua di pengadilan jika urusan ini kita perkarakan?" sambung Bu Hana lagi dengan nada menyindir habis habisan.


 Bu Leha tertunduk, memang dia selalu takut jika harus berhadapan dengan hukum apalagi polisi, apalagi dia saat ini tak punya apa-apa untuk bisa membela diri ataupun membayar pengacara untuk membelanya di pengadilan sesuai yang di katakan Bu Hana.


"Bagaimana? Apa keputusanmu, Leha?" tanya Bu Hana sekali lagi walau sebenarnya dia sudah tau jawabannya.


 Bu Hana menyeringai sinis saat Bu Leha perlahan mengangkat wajahnya dan mengangguk terpaksa.


"Baiklah," cicitnya pelan sekali.


"Baiklah apa? Jelaskan yang lantang, Leha. Jangan seperti kucing di siram air dong." Bu Hana mengeraskan volume suaranya, tujuannya agar semua orang bisa mendengar suaranya.


 Bu Leha terjepit, saat semua orang kini menatapnya dengan tatapan geram, dia menunduk menarik nafas dalam dan berkata. "Baiklah, silahkan jual rumah ini untuk membayar hutang hutang ku pada kalian semua."


 Bu Hana tersenyum miring, lalu meminta orang orang yang sudah menunggu di depan sejak tadi untuk membuatkan akta jual belinya yang langsung di tanda tangani oleh Bu Leha walau dengan sangat berat hati.


"Baiklah, terima kasih Nyonya Hana kalau begitu kami permisi," ucap orang yang adalah makelar rumah itu sambil menyerahkan sebuah koper pada Bu Hana.


 Bu Hana tersenyum, kunci rumah Bu Leha yang sejak kemarin turut dia sita dia keluarkan lalu di serahkan pada pria itu sebelum akhirnya di bawanya pergi meninggalkan mereka semua.


"Hei, itu kan uang hasil menjual rumah kami. Kenapa kamu yang bawa?" seru Hans baru membuka mulutnya jika berhubungan dengan uang saja, Bu Hana yang baru akan berbalik untuk menyelesaikan semua itu di tempat yang lebih enak kembali berbalik dan dengan santainya menampar mulut lemes Hans dengan kacamata hitamnya.


Plaaakkk

__ADS_1


"Aduh!" seru Hans tertahan.


"Diam, dan ikuti saja. Jangan banyak bac*t!" tegas Bu Hana lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke rumah salah satu tetangga yang tak jauh dari sana yang mempunyai teras paling luas dan lega.


 Setelah mendapat izin dari si empunya teras, mereka semua duduk di sana dengan Bu Hana dan Bu Leha juga hans berada di tengah.


"Jadi rumah kalian itu lagi seharga dua ratus lima puluh juta, ini semua uangnya ada di sini. Sekarang kita rincikan supaya semua hutang kamu itu bisa lunas ya, Leha." Bu Hana mengambil alih pertemuan itu, dan Bu Leha yang sudah lemas hanya bisa mengangguk pasrah saja.


 Setelah mendapat anggukan dari Bu Leha, Bu Hana lekas membuka koper tersebut di dalamnya tampak berlembar-lembar uang merah dalam susunan yang sudah di bedakan per sepuluh juta.


"Pertama, hutangmu yang paling besar ada pada saya. Yaitu seratus juta, dan sekarang saya minta kamu ambil dari sini seratus juta dan berikan pada saya, jangan curang menghitungnya karena semua orang ini menjadi saksinya." Bu Hana mendorong koper itu ke hadapan Bu Leha dan membiarkannya menghitung uangnya.


 Bersama Hans, Bu Leha menghitung uang itu hingga pas seratus juta lalu di serahkannya kepada Bu Hana dengan tatapan tak rela. Begitu pula Hans yang baru pertama kali memegang uang sebanyak itu, dia tampak bersungut-sungut saat uang itu akhirnya berpindah tangan ke tangan Bu Hana yang kini bisa tersenyum lega karna uangnya yang bertahun-tahun di larikan Bu Leha akhirnya kembali.


"Baiklah, terima kasih, Leha. Karna akhirnya setelah bertahun-tahun akhirnya kamu memenuhi janji kamu untuk mengembalikan uang ku, yah walaupun harus di paksa lebih dulu." Bu Hana berkata sambil menyindir dan memasukkan uang miliknya ke dalam kantong kertas yang sudah di siapkan nya.


"Nah, sekarang silahkan selesaikan urusan dan sangkutanmu pada yang lainnya itu. Jangan sampai kamu tidak mengembalikan hak mereka," tegas Bu Hana sambil menunjuk pada orang orang yang saat ini turut menunggu untuk uang mereka di kembalikan.


 Mereka maju satu persatu dan menyebutkan nominal hutang Bu Leha padanya, hingga akhirnya setelah semua selesai uang yang tersisa hanya tinggal lima puluh juta saja.


 Bu Leha menutup koper itu dan memeluknya di dada, seakan tak rela isinya berkurang untuk membayar semua hutangnya.


"Semua ini gara gara anda! Lihat sekarang uang Mamaku tinggal sedikit! Coba saja kemarin kita selesaikan baik baik pasti sekarang kami masih punya uang yang banyak!" marah Hans yang sejak tadi tampak paling tak rela uang uang itu berpindah tangan ke orang orang yang di hutangi Bu Leha.


"Terserah apa katamu bocah edan! Yang penting sekarang uangku sudah kembali. Aku tidak punya urusan lagi dengan kalian, dan bay!" balas Bu Hana lalu melangkah cepat untuk kembali pulang ke rumah Halim, anaknya.


 Meninggalkan Bu Leha dan Hans yang masih termangu di depan teras rumah orang itu.

__ADS_1


"Hei! Mau sampai kapan kalian bengong di sini, udah sana sana pergi. Nanti di kira rumahku tempat penampungan orang terlantar lagi," ketus di empunya rumah sambil mendorong tubuh Bu Leha dan Hans hingga keluar pagar dan menutupnya kembali.


 Bu Leha dan Hans hanya bisa terbengong sambil gigit jari karena kini mereka tak punya rumah lagi.


****


Di teras rumah Laila.


"Dek, kamu mau dekorasinya yang mana?" tanya Halim sambil menyodorkan ponselnya pada Laila.


 Laila mengambil ponsel itu, lalu mulai mengeser layarnya untuk melihat lihat semua dekorasi pernikahan yang tampak indah itu dengan berbagai model dan warna warna yang cantik.


 Akhirnya pilihan Laila jatuh pada sebuah dekorasi berwarna hijau Sage yang tampak manis dan elegan.


"Laila mau yang ini aja, Mas." Laila menyodorkan kembali ponsel Halim pada si empunya.


 Namun saat melihatnya dahi Halim tampak mengernyit heran.


"Kamu yakin mau yang ini?"


 Laila mengangguk mantab.


"Iya, kenapa?"


"Nggak, Mas kira kamu bakalan minta dekorasi warna putih dan emas kayak yang kemarin kita diskusikan, padahal Mas udah pesan emasnya loh di toko langganan Ibu. Buat dekorasi," ujar Halim enteng.


 Mata Laila seketika melotot.

__ADS_1


"Apa, Mas? Emas buat dekorasi?"


__ADS_2