
Indi berlari menuju kamarnya sambil terisak, hal itu tentu saja memicu rasa penasaran si kembar yang kebetulan tengah bermain bersama sambil menonton tv di ruang keluarga.
Setelah memanggil kedua orang tuanya, Fatur beserta Dara dan Fatan bergegas menuju kamar Indi, terdengar sayup Isak tangis di dalam sana. Namun sayangnya pintu kamarnya dikunci dari dalam oleh Indi.
"Dek! Kamu kenapa? Kamu nangis? Ayo cerita sama Mbak, Dek. Jangan kayak gini," bujuk Dara sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Indi.
Tak ada sahutan, hanya isakan yang tadi sayup terdengar kini tak lagi bersuara.
Mereka bertiga saling pandang di depan pintu kamar Indi, menajamkan pendengaran mereka masing-masing.
"Tante?" panggil Fatur agak keras.
Masih sunyi, tak ada sahutan. Dara mulai panik, akhirnya dengan cepat Dara menuju ke sebuah nakas tak jauh dari sana dan mengobrak-abrik isinya.
"Dapat!" seru Dara sambil menenteng sebuah anak kunci.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, namun tak ada Indi di dalamnya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka melihat Indi tengah duduk meringkuk di sudut bagian bawah ranjang sambil menelungkup kan kepalanya di lutut.
Melihat itu Fatan berinisiatif mengajak Fatur keluar ruangan, dan membiarkan istrinya menangani adiknya sendiri.
"Dek," lirih Dara sambil menyentuh tangan Indi yang terasa dingin, suara isakan Indi masih terdengar walau tak sekeras tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Dara lagi, karena tak mendapat respon sebelumnya dari Indi.
Dara mengelus kepala Indi yang tertutup jilbab instan, perlahan Indi mulai mengangkat wajahnya. Menampakkan raut sembab dengan air mata dan ingus memenuhi wajahnya.
"Mbak ...." tangis Indi kembali pecah, bahunya sampai berguncang karena tergugu.
Dara lekas memeluknya dan menengkannya, setelah beberapa saat barulah Dara kembali menanyai Indi.
"Ada apa? Kamu bikin kami khawatir tau nggak? Udah buruan cerita," desak Dara yang sudah tak sabar.
Indi menghapus air matanya kasar, kemudian menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita.
"Tadi di depan, pas aku baru pulang di anter Zaki dari tempat kerja. Aku ketemu Hans, Mbak. Anaknya Bu Juleha, rentenir yang waktu itu aku ceritain. Nah disitu dia main rebut aja hapeku Mbak, habis itu langsung pergi ngebut pake motor sama temennya. Mana dia pake teriak kalo hape itu buat bayar hutangku sama ibunya, kan waktu itu Zaki masih ada di situ dan dia liat semua kejadiannya. Aku malu, Mbak." Indi kembali terisak sampai sesak napas karena hidungnya penuh dengan ingus.
Dara terpana mendengar cerita Indi, sedangkan Indi beranjak berdiri menyambar kotak tisu dan menempelkannya ke hidungnya.
Srrooottt
Indi mengeluarkan semua ingusnya di tisu tersebut sampai bisa bernafas lagi.
__ADS_1
"Geli Dek ah," protes Dara sambil begidik.
Indi membuang semua tisu bekas pakainya dan kembali duduk di atas kasurnya.
"Jadi gimana dong, Mbak? Sekarang hape Indi nggak ada lagi. Aku juga malu berat Mbak sama Zaki," keluh Indi sambil meletakkan kepalanya di atas bantal.
"Ya mau gimana lagi? Semua sudah terjadi kan? Ambil hikmahnya aja kan dengan begitu berarti hutang kamu sama rentenir itu sudah lunas. Jadi kamu bisa pake uang gaji kamu nanti buat beli hape lagi," ucap Dara menenangkan.
Indi menghela nafas berat.
"Tapi gabut, Mbak. Masa aku nggak pake hape sih?"
Dara terkekeh sambil beranjak keluar kamar.
"Ya udah sih, kan jadi bisa fokus kuliah dan kerja aja. Nggak ribet sama scroll video-video nggak jelas lagi kamu." Dara menutup pintu, meninggalkan Indi yang masih galau karena tak pegang ponsel.
****
Esoknya mereka sarapan bersama, Fatur dan Farah tampak bersemangat dan menikmati makanan mereka sambil bercanda.
Berbanding terbalik dengan Indi yang tampak lesu dan tak bersemangat sama sekali.
Dara sengaja tidak bertanya apapun pada Indi saat ini, menunggu sampai anak-anak berangkat sekolah bersama Fatan barulah Dara mendekati Indi.
Indi yang sedang memasang sepatu sneaker di kakinya hanya mengangguk pelan, tak ada semangat untuk bicara apalagi tersenyum.
"Udah nggak usah terlalu di pikirin. Nanti kamu Mbak pinjemin laptop Mbak, buat kuliah sekaligus buat hiburan kamu sampai bisa beli sendiri," imbuh Dara memberi solusi.
Indi menatap Dara dengan mata berbinar.
"Yang bener, Mbak?" tanya Indi memastikan.
Dara mengangguk pelan sambil tetap melanjutkan kegiatannya menyemprit bunga-bunga gantung di terasnya.
"Okelah kalau begitu, aku berangkat dulu ya Mbak," pamit Indi sambil mencium pipi kanan dan kiri Dara.
Kemudian berjingkat riang menuju motor yang di pinjamkan Dara untuknya.
Dara hanya tersenyum kecil saat melihat adiknya kembali senang dan mengendarai motor dengan semangat.
****
"Indi tunggu!" panggil Fatan yang sudah menunggu Indi di pelataran kafe.
__ADS_1
Indi kuliah siang hari ini, jadi pagi dia di tugaskan bekerja oleh Zaki. Menyesuaikan jadwal kampusnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Indi sembari berjalan mendekat setelah memarkirkan motornya.
"Ini." Fatah menyodorkan sebuah kotak persegi panjang dengan gambar ponsel berwalpaper bulan di atasnya.
Mata Indi membulat sempurna dengan mulut ternganga tapi tak mampu berkata-kata.
"B ... buat aku, Mas?" tanya Indi setelah terdiam beberapa helaan nafas.
"Iya, buruan ambil. Mas mau balik ke kantor," tegas Fatan seraya mengambil tangan Indi dan meletakkan box ponsel itu di tangannya.
Kemudian melenggang pergi, menyebrangi jalan raya untuk sampai ke kantornya.
Indi masih terpaku di tempatnya, namun tak di pungkiri kalau hatinya saat ini berbunga-bunga dan jantungnya berdisko tak karuan.
Berkali-kali Indi menatap kotak ponsel itu dan punggung Fatan yang semakin berjalan menjauh. Senyumnya terkembang sempurna, karena mengira ponsel di tangannya adalah pemberian Fatan. Tanpa dia sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya dari balik pintu.
****
"Widih, langsung beli hape baru," ledek Zaki saat masuk ke dapur dan mendapati Indi tengah menatap kotak ponsel yang belum di bukanya itu sambil tersenyum-senyum.
"Eh, Bos. Maaf saya ngelamun, saya langsung cuci piringnya habis ini," ujar Indi sambil memasukkan kotak ponselnya ke dalam tas.
"Ngapain buru-buru? Saya kan nggak ngomong apa-apa?" kekeh Zaki sambil duduk di kursi dapur, berhadapan dengan Indi.
Beberapa saat saling pandang, tapi mereka hanya saling diam tanpa bicara. Sampai akhirnya Indi memutus kontak mata itu dan berdehem cukup keras.
"Ekhem, maaf Bos. Kalau begitu saya lanjut kerja dulu," pamit Indi langsung ngibrit menuju ruangan loker dan menyimpan tasnya di sana sembari berganti seragam kerja.
Zaki sendiri tampak kikuk dan memilih menyeduh kopi di pantry, tak jauh dari wastafel tempat Indi berkutat dengan piring dan perkakas kotor.
"Kerja yang bener, jangan mentang-mentang punya hape baru nanti nggak ada saya terus kamu main hape aja. Kalau sampai kejadian saya potong gaji kamu," ancam Zaki sambil berlalu bersama kopinya yang baru jadi.
Indi terpana mendengar ucapan Zaki, namun ingin menjawab rasanya tak kuasa. Akhirnya Indi memilih diam saja dan mengangguk, walau dalam hatinya tengah merutuk.
'Dasar cowok aneh, tadi ngajakin pandang-pandangan. Sebentar lembut, sebentar aneh, sebentar ngomel-ngomel kaya emak-emak. Untung Bos, kalo bukan udah ku tampol,' batin Indi.
Indi kembali fokus dengan pekerjaannya, yang lambat sekali jika dilihat orang yang sudah biasa bekerja. Namun itu tak mengurangi semangatnya untuk terus belajar.
Tanpa dia sadari sepasang mata yang terus menatapnya sejak tadi, masih mematri pandangan pada dirinya.
Siapa dia?
__ADS_1