TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 115. PENDEKATAN YANG SALAH.


__ADS_3

"Nak Laila, maaf ya lama." Bu Hana kembali muncul dari dalam rumah sambil membawa sebuah nampan berisi teh hangat juga roti sebagai cemilan.


 Laila tersenyum dan beringsut sedikit saat Bu Hana memilih untuk duduk tak jauh darinya.


"Nggak papa, Bu. Maaf merepotkan, malah ibu bikinin teh, duh jadi takut betah," kekeh Laila sembari menutup mulutnya dengan tangan.


 Bu Hana meletakkan segelas teh hangat dengan warna kehijauan di hadapan Laila.


"Nggak repot sama sekali buat calon menantu mah, ayo mari di minum. Ini teh kesukaan ibu, rasanya enak sekali ibu yakin kamu juga pasti suka," ucap Bu Hana sambil mendekatkan gelas itu pada Laila.


 Laila mengangguk dan mengambil gelas keramik cantik tempat teh itu berada, menghirup aromanya yang menenangkan lalu menyesapnya sedikit. Rasa teh hijau yang ringan dan segar memenuhi mulutnya, membuat ingin minum lagi dan lagi.


"Astaghfirullah, Bu tehnya langsung habis. Ya Allah, Laila sampai nggak sadar saking enaknya," ucap Laila sambil menurunkan gelas cantik yang sudah kosong itu kembali ke piring tatakannya.


 Bu Hana mengerling.


"Nah kan, ibu sudah tebak kamu pasti suka. Nanti kalau kamu sudah jadi menantu ibu setiap hari kita bakalan ngeteh dan me time sama sama," kekeh Bu Hana melambungkan angan Laila akan masa depannya nanti dengan Halim yang entah bagaimana caranya tiba tiba sudah jadi calon suaminya saja.


 Teringat olehnya beberapa hari lalu saat Bu Hana datang tergopoh-gopoh ke rumahnya di ikuti Halim di belakangnya.


 Kejadian itu sangat cepat, yang intinya Bu Hana tanpa basa basi langsung saja melamar Laila menjadi menantunya, dan Laila yang kaget pun hanya bisa mengangguk pasrah walau sebenarnya dia juga sudah menerima lamaran Halim sebelumnya.


"Bu, Laila pamit ya. Sudah siang Laila harus ngajar," ucap Laila sambil melirik arloji di tangannya.


 Bu Hana bangkit berdiri.


"Tunggu sebentar," pungkasnya lalu cepat berbalik ke dalam rumah dan kembali keluar dengan Halim di belakangnya.


"Kamu anter calon menantu ibu sekarang," tegasnya pada Halim yang tampaknya baru saja selesai mandi itu, bahkan rambutnya yang basah saja belum di sisir.


"Nggak usah, Bu. Laila bisa sendiri," tolak Laila halus sambil berdiri dan hendak keluar dari rumah Halim.


"Eh tunggu," sela Bu Hana lagi, membuat Laila mengurungkan langkahnya.


 Bu Hana dengan cepat meraih kunci mobil Halim yang ada di atas meja hias dan menyerahkannya ke tangan Halim yang masih terbengong melompong.


"Kamu anter Laila atau kamu ibu kutuk jadi tonggeret?" bisik Bu Hana penuh penekanan.


 Sontak kesadaran Halim kembali dan dia langsung bergegas menarik Laila ke luar rumah.


"Ayo, Mbak saya antar."


"Heh, apa apaan itu sudah calon istri masih panggil Mbak?" protes Bu Hana kesal, kini dirinya sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu rumah.


 Halim mengacak rambutnya kesal.


"Ah ibu, masa yang begini juga mau di permasalahkan?"

__ADS_1


"Bodoamat! Dia itu calon istri kamu, biasakan panggil dia dengan panggilan sayang dong!"


"Ya apa? Apa?" kesal Halim pada ibunya sampai membuat Laila pusing dan memilih pergi berjalan kaki.


"Ya sudah saya pergi sendiri saja kalau begitu ya, ssaya sudah terlambat."


"Dek la, tunggu." Halim menggamit tangan Laila dan membuat wajah Laila memerah karenanya.


"Nah begitu dong, baru romantis." Bu Hana mengacungkan jempolnya lalu langsung menutup pintu rumah rapat rapat karna tak ingin mengganggu anak dan calon menantunya.


 Mungkin takut yang kali ini gagal lagi seperti sebelumnya karna tak suka melihat Halim yang terlalu lembek pada sang ibu.


 Tersadar, Halim langsung melepas pegangan tangannya pada Laila lalu menggaruk kepalanya dengan kikuk.


"Maaf reflek," cicitnya pelan.


 Laila mengangguk walau dalam hatinya dia sedikit kecewa karna Halim melepas pegangannya.


"Ayo naik, saya antar. Sudah siang takutnya kamu telat," ucapnya kemudian.


 Lagi Laila mengangguk tanpa banyak kata lagi, jujur saja dia cukup kecewa dengan sikap Halim yang berubah ubah padanya itu.


"Semangat ya kerja ...."


Braaakkk


 Laila tak mengindahkan perkataan Halim, rasanya dia masih dongkol sekali dengan sikap plin-plan calon suaminya itu.


 Halim menggaruk kepalanya bingung .


"Hah, beginilah kaum wanita itu. Siap siap Halim, bentar lagi kelar hidupmu tinggal sama dia wanita."Halim menyemangati dirinya sendiri.


****


 Siang harinya.


"Lis, kamu di rumah aja ya sama anak anak. Saya mau ke butik dulu yang di jalan F ya. Mungkin nggak lama, jangan buka pagar buat orang yang nggak kenal ya, Lis." Dara berpesan pada Elis yang kini sudah kembali sehat dan sedang mengganti pakaian sekolah si kembar dengan pakaian rumah.


"Siap, Mbak. Tenang aja, serahkan semuanya sama Elis." Elis menepuk dadanya bangga.


 Dara hanya geleng-geleng kepala saja menanggapinya, lalu berpamitan pada ke dua buah hatinya.


"Mama ke butik dulu ya, Sayang. Nanti Mama pulang kalian mau di bawain apa?" tawar Dara.


"Farah mau cake coklat ya, Mama," seru Farah mengacungkan tangannya dengan semangat.


 Tapi Fatur masih diam dan tak menyahut satu katapun.

__ADS_1


"Kalau Fatur mau apa?" tanya Dara mengajukan pertanyaan.


 Fatur mengangkat wajahnya dengan tatapan serius.


"Fatur mau Mama ke dokter, supaya Fatur cepat punya adik."


 Dara tergelak sedang Elis tampak menatap mereka penuh tanya.


"Iya iya, nanti sekalian jalan Mama mampir ke dokter ya. Doain aja ya supaya Fatur sama Farah bisa cepet punya adik." Dara mengelus pipi gembul Fatur dan menciumnya gemas.


 "Beneran?" tanya Fatur girang.


 Dara mengangguk.


"Beneran."


"Ya udah Mama berangkat ya." Dara berjalan menuju mobil berwarna alpukatnya dan melajukannya dengan di iringi lambaian tangan ke dua anaknya.


 Sepeninggalan Dara, Elis langsung menutup pagar lalu menguncinya. Kemudian mengajak si kembar untuk masuk ke dalam rumah.


"Eh Fatur, tadi ... Fatur minta adik sama Mama?" tanya Elis sesampainya mereka di ruang tv, tempat biasa mereka bermain menghabiskan waktu.


 Fatur mengangguk mantab.


"Iya, soalnya temen temen Fatur sama Farah mamanya sering bawa bayi kalo nganter mereka ke TK. Katanya itu adiknya, lucu loh Mbak El. Makanya Fatur sama Farah juga mau," sahut Fatur tegas.


 Farah mengangguk setuju.


"Iya, kemarin juga temen kita ada yang pamerin adiknya yang rambutnya di jepit pake pita kupu kupu. Lucu banget, Farah gemas."


 Elis tampak manggut-manggut, lalu mengajak si kembar untuk makan siang lebih dahulu sebelum melanjutkan bermain.


 Di mobil Dara tampak memasang airpods di telinganya dan menelpon suaminya.


"Assalamu'alaikum, Mas," ucapnya saat akhirnya panggilan itu di angkat oleh Zaki yang tengah berada di kantornya saat ini.


"Wa'alaikumsalam, Sayang? Kenapa?"


"Ke dokter?" ucap Dara ambigu, namun Zaki langsung bisa menangkap maksudnya.


" Rumah sakit ibu dan anak di jalan B?"


 Dara tersenyum senang dengan kesigapan suaminya.


"Tepat sekali," sahutnya penuh semangat.


"Kita bertemu di sana lima belas menit lagi, okey?"

__ADS_1


"Okey, Mas. Assalamu'alaikum," ucap Dara mengakhiri panggilannya dengan senyum senang terpatri di wajahnya.


Terbayang olehnya akan ada kehidupan lagi di dalam perutnya setelah ini, semoga saja semua akan sesuai yang di harapkan mereka terutama si kembar.


__ADS_2