
Ceklek
"Hei, kalian boleh keluar." Seorang bodyguard dengan jas hitam lengkap dengan kacamata hitamnya melongokkan kepalanya ke dalam ruangan yang selama beberapa hari ini mengurung Bu Maryam, Indi dan Fatan.
Bu Maryam langsung berdiri dengan wajah bringas memburuk bodyguard itu walau tubuhnya sebenarnya kalah besar.
"Dasar orang gil*! Kenapa kami islain kurung segini lamanya hah? Masih punya otak nggak sih kalian? Kalau sampai kami mati di sini gimana?" sergah Bu Maryam melotot.
Bodyguard itu hanya mendesah dan menggerakkan sedikit tubuhnya, itupun sudah hampir membuat Bu Maryam terjengkang karna kaget, tubuhnya yang semula bersandar di tangan kekar sang bodyguard langsung limbung dan hampir jatuh.
"Kurang aj*r!" omelnya lagi sambil menatap nyalang sang bodyguard.
"Bu, sudah." Indi mengingatkan, namun tak di gubris oleh Bu Maryam.
"Diam kamu, anak nggak berguna. Jangan lupa kalo semua ini juga berkat mulut embermu itu! Sampai kita berhari hari ada di dalam sini." Bu Maryam menunjuk wajah indi yang pucat dan sayu.
Indi terdiam, tak lagi membalas ucapan sang ibu.
Bu Maryam kembali menatap si bodyguard yang acuh tak acuh saja padanya itu, malah dengan santainya bodyguard berbadan besar itu menghidupkan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya tinggi tinggi.
"Kalian ...." Bu Maryam mengangkat telunjuknya menunjuk wajah sang bodyguard.
Namun dengan cepat bodyguard itu menangkap tangan Bu Maryam dan tertawa mengejek.
"Sudahlah, ibu tua. Berhentilah mengoceh dan keluar saja jika masih ingin menikmati matahari, jangan sampai kalian membangkitkan jiwa psikopat ku lagi ya." Bodyguard itu berbisik lirih di telinga Bu Maryam.
Seeerrrrrr
Seperti ada yang menabur pasir di tengkuknya, Bu Maryam langsung menegang. Tanpa banyak kata dia langsung berjalan keluar di ikuti Indi dan Fatan yang saling berangkulan di belakangnya.
Di luar, mereka sudah di sambut oleh banyak bodyguard berpakaian sama dengan yang membuka pintu tadi. Semua menatap mereka dengan sinis, tak ada senyum ataupun sapaan ramah. Kecuali seringai dan tatapan tajam tak ada lagi yang di temui mereka di sana.
__ADS_1
"Sepertinya daging mereka akan enak," bisik salah satu bodyguard yang bertubuh kurus pada teman di sebelahnya.
Bu Maryam menoleh nyalang pada bodyguard itu, dan tubuhnya semakin merinding saat mendapati pria kurus itu malah menjilat bibir saat menatapnya. Bu Maryam bergidik, dia masuk ke sela antara Indi dan Fatan karna mulai ketakutan.
"Sebenarnya ini ada apa? Kami di bebaskan atau tidak? Kenapa kalian menatap kami seperti itu?" tanya Indi mencoba memberanikan diri, walau diapun sebenarnya sama takutnya dengan sang ibu dan Fatan yang saat ini wajahnya pun turut memucat.
Pria bertubuh besar yang tadi membukakan pintu mendekat, memindai tubuh Indi dari atas sampai bawah sambil sesekali menjilati bibirnya aneh.
"Ka- kamu mau apa?" cicit Indi sambil memeluk tubuhnya sendiri dan merapat ke tubuh Fatan dan Bu Maryam. Mereka benar benar di cekam ketakutan saat ini.
"Teman teman, wanita ini hamil. Pasti rasa janinnya enak sekali," ucapnya lantang dan di ikuti sorak sorai dari para bodyguard yang lain.
Di mata Indi saat ini mereka tampak seperti suku Badui pemakan manusia itu. Mengerikan.
Fatan memeluk Indi dan Bu Maryam dalam dekapannya, dalam posisi saling berdekatan mereka bisa saling merasakan getaran tubuh masing-masing yang ketakutan. Tak ada ucapan yang terlontar, mereka hanya bisa saling menatap dan menerka arti tatapan masing-masing.
Air mata lolos dari pelupuk mata Indi, dia menyesali semua perbuatannya. Begitu pula Bu Maryam dan Fatan, air mata sudah mengalir deras di wajah mereka kala mendekat suara derit panjang seperti bunyi pisau daging beradu dengan dinding semen tak jauh dari mereka.
Tangannya yang kekar menarik Indi dalam sekali sentakan, tubuh wanita hamil itu menggigil matanya terus saja menatap sang suami dan ibunya yang kini menjerit histeris meminta Indi di lepaskan.
"Jangan! Jangan sakiti anakku! Dia sedang hamil, kasihanilah dia!" seru Bu Maryam terisak.
Fatan ikut beringsut sedikit ke depan, memberanikan diri memegang kaki sang pria besar.
"To- tolong jangan sakiti istriku, aku mohon. Kasihanilah dia, dia sedang hamil anak kami, biarkan dia hidup. Ambil saja aku jika kalian mau," pintanya pilu.
Indi menangis tersedu-sedu dalam cengkraman kasar sang bodyguard bertubuh besar. Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat dengan tangan tak hentinya mengusap perutnya yang buncit.
Pria besar itu menatap ke bawah, dimana Fatan masih menghiba padanya dengan wajah bersimbah air mata.
"Apa katamu? Menggantikan dia? Hummm ... tawaran yang menarik, tapi ... sayangnya kau bahkan tidak mempunyai janin di dperutmu seperti dia. Padahal janin yang belum matang dalam rahim adalah favorit kami," dengusnya santai, seakan apa yang di katakan nya adalah sesuatu yang biasa.
__ADS_1
Fatan semakin tergugu, matanya tak lepas menatap Indi yang saat ini juga tengah menatapnya dengan nelangsa.
"Kalau begitu ambil saja aku! Anggap saja aku pengganti untuk calon cucuku yang ada di perut anakku. Tapi kami mohon, biarkan mereka hidup." Bu Maryam maju dan menjatuhkan dirinya di dekat Fatan, sama sama memohon pada sang bodyguard bertubuh besar untuk melepaskan Indi.
Indi merasa terharu dengan pengorbanan ibu dan suaminya, tapi semua percuma tampak sang bodyguard tak tertarik sama sekali dengan mereka.
"Tcih! Apa katamu ibu tua? Mengambil dirimu? Haha, jangan bercanda tubuhmu yang tua dan keriput itu tak akan selezat seorang bayi yang belum lahir. Kau tau rasa mereka? Ahhhh, bahkan daging Wagyu pun tak akan sanggup menandinginya. Benar kan teman teman?" ucap sang pria besar sambil melempar pandangan ke seluruh antero ruangan yang penuh dengan pria berpakaian sama dengan dirinya.
"Ya! Benar! Kami setuju!" seru mereka bersamaan, suara riuh yang menggambarkan betapa tak sabarnya mereka akan Indi dan bayinya yang bahkan baru berusia 4 bulan dalam kandungan itu.
"Tapi ... aku punya penawaran lain," desis sang pria besar seakan memberi angin segar bagi Fatan dan Bu Maryam.
Mereka menatapnya dengan penuh harap.
"Apa itu? Katakanlah." Fatan kembali memegangi kaki sang pria besar.
Senyum miring terbit di bibir hitam pria itu, dan dengan kode mata saja dia meminta para temannya yang lain menyeret tubuh Fatan dan Bu Maryam yang tidak siap ke sebuah meja besar di tengah ruangan.
"Ada apa ini? Kenapa kami di ikat di sini? Apa kamu kalian?" seru Fatan ketakutan.
Pria besar yang masih memegangi Indi tampak tertawa lepas, sampai bahunya berguncang saking kerasnya tawa itu.
Dia melepaskan Indi dan memberikannya untuk di pegangi oleh temannya yang lain. Sementara dia berjalan dengan sebuah pisau daging besar di tangan kanannya dan sebuah garpu yang tak kalah besarnya di tangan kirinya.
Berjalan mengitari meja dimana Fatan dan Bu Maryam di ikat dalam posisi berbaring.
"Hahahaha, kenapa kalian bertanya? Lihatlah wajah ketakutan itu, bukankah tadi kalian sendiri yang meminta untuk menggantikan dia." Menunjuk Indi yang saat ini menangis histeris. "Lalu, kenapa bertanya? Harusnya kalian bersiap untuk pertunjukan yang menyenangkan ini, heeeaaahhhh!"
Sang bodyguard mengayunkan pisau dagingnya ke atas, dan di saat bersamaan jeritan ketakutan Indi, Bu Maryam dan Fatan terdengar begitu memilukan.
"Aarrtghhhhhhh! Tidaaakkkkkkkkkk!"
__ADS_1