TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 249.


__ADS_3

Setelah berhasil menghubungi Pak jamal yang hingga saat itu masih menginap di rumah Ziva, akhirnya bu Zaenab dan Zulfa pun bisa masuk ke dalam rumah. Setelah tentunya Amar mengantarkan kunci rumah yany memang di bawa Pak Jamal ke sana.


Bahkan sampai saat itu tiba bu Zaenab sama sekali tak mengucapkan terima kasih sama sekali.  Entah apa yang membuat orang tua satu itu bersikap demikian, selalu saja bersikap ketus pada Amar yang sudah sangat baik padanya.


"Zulfa, mau sampai kapan kamu bediri saja di sana?" sergah Bu Zaenab ketus, sembari melempar tatapan sinis pada anaknya yang baru saja menyandang status janda muda itu .


Zulfa yang tengah memperhatikan rumah Dara dan Zaki dari sisi samping rumah dengan berpura pura menyapu langsung terkejut dan berbalik menatap ibunya.


"Ah, itu ... emmm, Zulfa ... Zulfa cuma ..."


"Cuma apa? Sudah hampir setengah jam ibu lihat kamu berdiri saja di sana ya, Zulfa. Apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya hah?" bentak Bu Zaenab tak suka, terlebih dia masih memendam dendam pada Bu Ambar yang tempo hari sudah menjadikannya pembantu gratisan hanya karna dia mengotori lantai terasnya. Bu Zaenab sudah bersumpah sejak hari itu akan membalas perbuatan Bu Ambar suatu saat nanti dengan yang lebih kejam dari pada itu.


-- lebay banget sih Bu Zaenab\, segala cuma di suruh angkut air pake ember kecil aja bilangnya kejam.--


Zulfa tertunduk diam, anak itu memang sejak dulu tak akan pernah berani melawan ibunya. Berbeda dengan Ziva yang akan langsung balas marah jika memang dirinya tidak melakukan kesalahan.


"Nah kan, diem kan kamu? Sekarang ayo jujur, apa yang sejak tadi kamu perhatian di sana itu hm? Ayo ngaku! Jangan sampai ibu jual kamu ke mucikari ya!"  geram Bu Zaenab semakin kesal.


"Sumpah, Zulfa nggak ngapa ngapain, Bu." Zulfa masih membela diri.


Namun  bukan Bu Zaenab namanya kalau langsung percaya begitu saja, tanpa aba aba bahkan di secepat kilat langsung menubruk zulfa dan membuatnya menyingkir dari tempat berdirinya sejak tadi. Di gantikan Bu Zaenab yang kini berdiri di sana, tepat di celah pagar rumah yang bisa dengan leluasa langsung melihat ke arah halaman rumah Dara.

__ADS_1


Seketika mata bulat Bu Zane menjadi bertambah besar, di gertakannya rahangnya pertanda dia sedang sangat marah saat ini.  Sedang zulfa yang menyadari keadaan tak lagi kondusif hanya berani tertunduk tanpa berkata apa apa, hanya air mata yang mewakili ketakutannya, berharap saat ini Ziva ada di sisinya dan melindunginya seperti saat mereka kecil dulu.


"Oooh, jadi sejak tadi kamu itu lagi ngintipin si Zaki? Iya?" bentak Bu Zaenab sembari mencengkram dahi Zulfa erat, membuat zulfa meringis menahan sakit dan perih akibat kuku kuku Bu Zaenab yang menancap di kulit wajahnya, terutama di sekitar leher dan dagu.


Air mata Zulfa tumpah ruah membasahi pipinya a yang tirus dan putih pucat, sementara bibirnya sama sekali tak mampu berkata apapun karna kencangnya cengkraman tangan Bu Zaenab. Kilat amarah yang sejak dulu hanya dia lihat di mata Bu Zaenab saat memarahi Ziva, kini dia lihat pula di depan matanya, yang berarti untuk pertama kalinya Zulfa merasakan rasanya menjadi pesakitan. Di hadapan ibunya sendiri pula.


"Anak ini kalau diberi tahu bisanya cuma nangis saja, cobalah menjadi wanita itu yang kuat seperti Ziva! Dia bahkan sekarang sudah berani membalas ibu. Masa iya sampai saat ini kamu bahkan masih selembek ini, Zulfa? Ya ampun, pantas saja kamu sellu di injak injak sama mantan suami kamu itu dan ibunya yang cerewet dan sok kecakepan itu." Bu Zaenab mulai mengomel, tapi tak di tujukan untuk Zulfa. Tangan tuanya yang tambun malah bergerak menghapus lelehan air mata di sudut netra putrinya.


Namun Zulfa masih menangis, malah semakin deras ketimbang sebelumnya.


Bu Zaenab pun turut menjatuhkan air matanya, mata tuanya lekat menatap wajah anak perempuan bungsunya yang mirip sekali dengan suaminya itu.


Zulfa mengangguk samar, sungguh baru kali ini dia mendengar secara langsung Bu Zaenab berkata sebijak itu. Jika biasanya hanya bisa marah marah dan mengomel, kali ini sungguh Zulfa di hadapkan dengan sosok ibunya yang lain, yang berbeda di banding biasanya. Namun entah kenapa di sudut hatinya yang lain dia malah merasakan getaran aneh yang membuatnya seperti takut akan kehilangan.


Sontak Zulfa langsung menubruk tubuh sang ibu, menenggelamkan wajahnya di ceruk dada perempuan tua yang sudah memberinya kehidupan itu. Di tumpahkannya segala tangis dan sesak yang mengekang dada, hingga akhirnya semua bisa lepas dan membuat dirinya lebih plong ketimbang sebelumnya.


"Permisi."


Sapaan dari seseorang yang datang membuat momen sedih antara ibu dan anak itu harus berhenti, secepatnya Zulfa langsung melerai pelukan dan mengusap sisa jejak air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.


"Maaf, Bu saya mengganggu," pungkas seseorang itu yang ternyata adalah Zaki yang datang sembari membawa sebuah rantang susun di tangannya.

__ADS_1


"Ah, iya Zaki? Ada apa ya?" tanya Bu Zaenab mencoba tampak biasa saja.


Zaki tersenyum simpul lalu mengangkat rantang yang kini ada di tangannya.


"Ini, Bu saya mau mengantarkan titipan dari istri saya untuk makan malam ibu dan Zulfa."


Bu Zaenab langsung melangkah mendekat, meninggalkan Zulfa tetap pada posisinya semula.


"Makasih banyak ya, Zaki.bulangin juga sama si Adara terima kasih, ini ibu terima ya sepertinya ini pasti enak," gumam Bu Zaenab sumringah.


Zaki mengangguk. "Iya, Bu. Ya sudah kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, mau gantian sama istri jagain bayi."


Bu Zaenab mengangguk dan setelah itu langsung melangkah masuk ke dalam rumah, dengan raut tak sabar hendak mencicipi masakan Dara yang ada di dalam rantang tersebut.


"Ayo, fa masuk. Kita makan dulu," tandas Bu Zaenab memanggil Zulfa.


"Iya, Bu sebentar ," sahut zulfa kemudian.


Sementara kakinya masih enggan beranjak dari tempatnya bahkan hingga tubuh Zaki kembali menghilang di balik pintu rumahnya, meninggalkan Zulfa dengan hatinya sendiri yang tak dapat dia atasi.


"Semoga rasa ini tak akan semakin berkembang, sadarlah Zulfa dia bukan untukmu," gumamnya mensugesti diri.

__ADS_1


__ADS_2