
"Mbak, kami pulang ya. Maaf kalau sudah banyak merepotkan, untuk uang yang sudah kami pinjam ...."
"Sudah nggak usah di bahas, hati hati di jalan ya." Dara menyela sebelum Indi sempat menyelesaikan ucapannya.
Air matanya luruh, dia memeluk Indi dan Bu Maryam bergantian menyampaikan kalimat selamat jalan dengan penuh haru.
"Kalau ada apa apa, jangan sungkan hubungi Dara ya, Bu." Dara mengusap air matanya dan tersenyum kecil pada Bu Maryam.
"Iya, terima kasih banyak ya, nduk. Sampai kapanpun kami nggak akan lupa saja jasa kamu," cicitnya masih dengan air mata di pipi.
Dara mengangguk, masih di perhatikan ya saat Bu Maryam dan Indi perlahan memasuki mobil travel yang di pesan kan Dara untuk mereka.
"Anak cantik, nanti main main ke rumah Tante ya, jangan nakal ya di sana." Dara mendekat lalu mengelus pipi halus bayi Indi yang saat ini tertidur pulas di pangkuan Bu Maryam setelah sebelumnya di gendong Fatan saat mereka berpelukan.
"Iya, Tante Dara. Doakan kami semua banyak rejeki dan panjang umur ya, supaya nanti bisa main lagi ke kota," ucap Bu Maryam seolah mewakili si bayi menjawab ucapan Dara.
Besar keinginan Dara untuk mencium pipi si bayi, namun karna takut membawa kuman Dara sekuatnya menahan perasaan itu, dan dengan berat hati membiarkan pintu mobil di tutup dan perlahan menjauh dari mereka.
Zaki merekuh Dara dalam dekapannya, lalu perlahan membimbingnya menuju ke mobil mereka sendiri.
"Kamu oke, sayang?" tanyaa Zaki setelah mereka berada di dalam mobil dan siap meluncur.
Dara mengangguk ragu. "Oke, Mas. Cuma nggak tahu rasanya kok kayak ada yang kurang?"
"Apa?" dahi Zaki tampak mengernyit, dia bahkan sampai mengurungkan niatnya untuk memutar kunci mobil yang sudah tertancap di tempatnya itu.
"Entahlah, kita pulang saja, Mas. Dara capek," keluh Dara sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok dan memejamkan mata.
Zaki mendesah pelan, lalu mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya menuju ke rumah mereka.
"Sayang, ada tukang rujak. Kamu mau beli?" tawar Zaki saat kebetulan melihat penjual rujak di sisi jalan.
Dara membuka matanya lalu bersegera duduk dengan mata lebih berbinar ketimbang sebelumnya.
"Mas, aku mau. Berhenti, Mas."
__ADS_1
Zaki memberhentikan mobilnya tak jauh dari gerobak rujak itu, dan dengan tak sabar Dara langsung turun dan memesan rujak yang sejak tadi dia inginkan.
Zaki hanya menunggu di mobil, dia tersenyum senyum sendiri saat melihat Dara tampak begitu bersemangat memilih dan menunjuk buah apa saja yang ingin dia beli. Tak sampai lima menit kemudian Dara kembali ke dalam mobil dengan sekantong plastik rujak dengan aneka buah di dalamnya, wajahnya tampak tersenyum puas. Seolah lupa dengan kesedihannya tadi saat di tinggal keluarganya pulang ke kampungnya.
" Mas mau?" Dara menawarkan sepotong nanas pada Zaki.
"Kok kamu beli nanas, sayang?" seru Zaki kaget, sebab yang dia tahu ibu hamil di larang makan nanas karna bisa menyebabkan keguguran.
Dara menaikkan sebelah alisnya heran, gerakannya yang hendak memasukkan potongan nanas itu ke mulutnya menjadi urung dia lakukan.
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Bukannya ibu hamil itu nggak boleh makan nanas?" Zaki semakin mendelik.
Dara terkekeh pelan. "Itu kalo aku makannya dua kilo mungkin nggak boleh, Mas. Lah ini kan cuma sepotong, insyaallah nggak papa, sayangku."
Lalu dengan santainya Dara mencelup kuah rujak dan memakan potongan kecil nanas itu lalu mengunyahnya dengan nikmat.
"Sayang kamu serius kan? Mas nggak mau loh kalau calon bayi kita kenapa kenapa," ucap Zaki masih menyimpan kecemasan.
Dara menggeleng sembari tersenyum kecil.
Mendengar itu dengan cepat Zaki merebut bungkusan rujak itu dari tangan Dara lalu mulai memindai mana buah nanasnya dan memakannya walau kini wajahnya tampak merah padam.
"Enak kan, Mas?" kekeh Dara yang tahu kalau Zaki tak kuat makan pedas, tapi berusaha kuat demi anaknya di dalam perut sang istri agar tak kepanasan gara gara nanas.
Semua nanas sudah libas, dengan menahan pedas Zaki mulai menjalan kan kembali mobilnya. namun anehnya sejak tadi Dara merasa kalau Zaki membawa mobilnya lebih cepat ketimbang biasanya, keringat juga membasahi keningnya dan menetes hingga ke pakaian yang di pakainya.
Lalu tak lama mobil tiba-tiba berhenti, Zaki langsung keluar tanpa berkata apa apa pada Dara.
"Mau kemana, Mas?" seru Dara, namun tak di sahuti oleh Zaki yang sudah menghilang entah kemana.
Karna tak di tanggapi Dara langsung badmood, dia merengut sambil menyandarkan tubuhnya di jok dengan bibir manyun ke depan.
Hup
__ADS_1
Brugh
Gluk, gluk, gluk, gluk
Dara menoleh saat tiba-tiba Zaki kembali dengan sebuah botol air mineral besar di mulutnya, hingga isinya tandas setengah barulah dia melepaskan botol itu dengan nafas terengah-engah.
Melihat itu Dara tak bisa menahan tawanya. "Pedes ya, Mas?"
Zaki mengelap mulut dan keningnya sambil terkekeh. "Itu tukang rujak katanya punya kebun cabe juga, makanya nggak kira kira pake cabenya. Bisa pedes banget begini."
Dara masih tertawa mendengar alasan Zaki, padahal memang dia saja yang tidak kuat pedas malah nyalahin tukang rujaknya lagi.
"Pulang ya, kasihan anak anak pasti nungguin." Zaki kembali menyalakan mesin mobil dan menjalankannya membelah jalan raya.
****
Lima belas menit kemudian mereka akhirnya sampai di depan rumah Bu Ambar, karna si kembar di titipkan di sana karna sebab izinnya Elis.
Namun saat turun Dara dan Zaki di kejutkan dengan suara lantang yang terdengar cukup keras dari dalam rumah.
"Sudah aku bilang nggak ada tempat untuk kalian di rumah ini! Pergi kalian!"
Dara dan Zaki saling pandang beberapa saat.
"Mas bunda, Mas!" seru Dara sembari mengikuti langkah Zaki yang langsung memburu menuju pintu rumah.
"Bude! Hans!" serunya saat tiba di depan pintu, Zaki semakin terkejut saat melihat tangan Bu Leha tampak sudah bersarang di lengan Farah, anak sambungnya.
"Huaaaaa!" tangiss Farah pecah, karna cubitan yang di lakukan Bu Leha di lengannya.
"Hei! Kurang ajar! Berani kau menyakiti cucuku hah!" marah Bu Ambar sambil menyambar jilbab lusuh Bu Leha dan menariknya hingga si empunya kepala terjungkal ke depan.
Melihat situasi yang kacau, gegas Dara masuk dan mengamankan anak anaknya ke kamar Zaki lalu menutup pintunya rapat-rapat.
"Arghggh, lepaskan!" seru Bu Leha sembari berusaha melepaskan tarikan tangan Bu Ambar di kepalanya.
__ADS_1
"Tidak akan! Dasar benalu, selamanya akan tetap jadi benalu! Memalukan! Tidak di tolong malah melukai anak yang tidak bersalah! Lihat saja, akan aku masukkan kalian ke penjara. Kamu dan anakmu yang gobl*k itu akan mendekam di dalamnya!"
Teriak Bu Ambar berang hingga tanpa sadar memukuli kepala Bu Leha dengan membabi buta.