TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 239. DI USIR.


__ADS_3

Haris mengangkat bahu. "Yah, harusnya kamu tahu apa maksud saya. Mulai saat ini kamu saya talak! Kamu bukan lagi istri saya dan saya juga bukan suami kamu. Dan kamu, tidak akan mendapatkan sedikit pun harta Gono gini dari saya karna semua yang kita miliki mulai saat menikah hingga saat ini semua adalah hasil kerja keras saya. Silahkan tinggalkan rumah ini tanpa membawa apapun selain apa yang kamu bawa dulu saat menginjakkan kaki di rumah saya."


Zulfa menatap suaminya ah maksudnya mantan suaminya yang baru saja menjatuhkan talak padanya itu dengan tatapan nanar, tenggorakannya terasa tercekat hingga tak dapat berkata kata lagi. Sementara Bu Zaenab menatap tak percaya pada menantu yang selama ini begitu di sayanginya itu. Namun dia pula yang menjatuhkan angannya hingga ke jurang yang terdalam.


"Apa yang kamu katakan, Nak Haris? Kamu pasti bercanda kan? Iya kan? Tidak mungkin kamu menceraikan Zulfa begitu saja kan? Apa lagi apa tadi kamu bilang? Tanpa harta Gono gini? Apa pula maksudnya itu? Haha, kamu terlalu pandai berkelakar, Nak Haris." Bu Zaenab berupaya bersikap seperti biasa saja, seolah tak ada yang terjadi di saat ini.


Padahal semua itu juga terjadi karja dirinya a yang terlalu gengsi dan banyak tingkah.


Sementara Zulfa kini sudah tergugu di samping Bu Zaenab, tubuhnya yang kurus tak terawat itu mulai lemas hingga dia harus berpegangan pada tangan Bu Zaenab agar tak limbung dan jatuh.


Haris berdecak, sembari menyugar rambutnya. " Maaf, Bu saya rasa ucapan saya sudah cukup jelas. Sekarang silahkan kalian angkat kaki dari sini karna ini rumah saya. Dan kamu Zulfa, tunggu saja surat cerai resmi dari saya. Tapi saya harap kamu tidak datang ke persidangan agar urusan kita cepat selesai."


Setelah mengucapkan itu Haris langsung berlalu, keluar dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir di luar halaman. Rupanya di dalam sana juga sudah ada Bu Tika yang menunggu dengan seringai puas di wajah penuh make up nya.


Zulfa dan Bu Zaenab masih mematung di tempatnya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun apalah daya ,inginnya menganggap semua ini hanya mimpi sekarang justru kenyataan yang di hadapkan pada mereka.


"Bu, setelah ini kita mau kemana?" lirih Zulfa yang masih terisak sembari memegangi tangan ibunya.


Bu Zaenab melengos, inginnya datang ke zulfa agar bisa ikut hidup enak dengan anaknya yang bersuamikan orang kaya itu. Justru kini yang dia dapati ternyata harapan hanyalah tinggal harapan semata. Pupus semuanya tanpa sisa.


Setelah itu, tanpa permisi tiba tiba masuklah empat orang lelaki bertubuh kekar dan berwajah sangar. Berjalan mendekat dengan raut tak bersahabat.


"Bukannya tadi sudah di suruh Pak bos buat pergi? Kenapa malah melamun di sini ha? Kalian budek ya? Apa perlu kami yang menyeret kalian keluar dari rumah ini hm?" seru salah satu dari mereka membuat Zulfa dan Bu Zaenab sontak terlonjak kaget.


Beberapa dari mereka mulai membunyikan jemari tangannya dengan kepala bergerak ke kiri dan ke kanan. Seringai miring yang mereka tunjukkan membuat nyali Bu Zaenab dan Zulfa menguap begitu saja.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini, Bu. Zulfa tidak mau berurusan sama mereka," bisik Zulfa cemas.


Bu Zaenab akhirnya mengangguk, dan dengan berat hati mereka pun keluar dari rumah tersebut. Berjalan beriringan dengan masing masing menbawa tas berisi pakaian di tangan.


****


Sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak pasang mata yang seolah menatap prihatin pada mereka. Namun Zulfa dan Bu zaenab memilih acuh dan terus melangkah hingga ke jalanan yang lebih lengang dan sepi.


Di sana Zulfa yang merasa bersalah langsung meraih tangan ibunya hingga langkah kaki Bu Zaenab pun berhenti.


"Ibu marah sama Zulfa? Maafin Zulfa, Bu."


Bu Zaenab menghela nafas panjang, lalu berbalik dan menatap nanar wajah putrinya yang sendu itu.


Setelah itu mereka kembali berjalan.


"Kenapa ibu tanya begitu? Bukannya rumah kita masih ada? Kenapa harus bingung pulang kemana?". tanya zulfa lagi sembari menggandeng tangan ibunya.


"Iya, rumah itu memang masih ada. Tapi sepertinya di kunci karna bapak kamu ada di rumah si Ziva. Entah sampai kapan dia akan ada di sana, lalu bagaimana kita mau masuk?" Bu Zaenab kembali lagi ke mode mengomel.


Zulfa berfikir sejenak, namun sebenarnya dia juga tak bisa memikirkan jalan keluar yang terbaik bagi mereka saat ini. Terlebih sekarang hatinya sedang sangat sakit dan kalut karna baru saja mendapat kata talak dari suaminya. Yang tidak pernah dia sangka sangka sebelumnya.


"Apa kita ke rumah Mbak Ziva saja, Bu? Bukankah lebih baik begitu?". Saran Zulfa.


Bu Zaenab berdecak. "hah kalau itu ibu lebih tidak setuju, memang kamu pikir apa yang membuat ibu sampai harus ke rumah kamu segala dan sampai di begal itu, ha? Ya gara gara Mbak kamu itu mengusir ibu dari rumahnya."

__ADS_1


Kening Zulfa berkerut, kata setahunya Ziva bukanlah orang yang seperti itu jika tidak dis singgung lebih dulu. Pasti ada sebabnya hingga sang Kakak tega mengusir ibunya, dan Zulfa yakin Bu Zaenab tak akan bicara jujur jika dia bertanya. Jadi Zulfa memilih menyimpan pertanyaannya dan akan dia tanyakan langsung pada Ziva di lain kesempatan.


"Lalu bagaimana menurut ibu? Sekarang kita harus kemana, Bu?" lirih Zulfa putus asa , belum lagi karna kaki kurusnya yang sudah pegal berjalan sejak tadi.


"Sudah, kamu lebih baik pesan hotel saja dulu. Setidaknya kita punya tempat istirahat untuk malam ini." Bu Zaenab berucap seenaknya.


Zulfa menarik nafas panjang. "Pesan hotel mau bayar pake apa, Bu. Uang Zulfa yang tersisa saja tinggal satu juta mungkin,  itupun untuk sampai nanti Zulfa bisa bekerja sendiri. Dan harus cukup, darimana uangnya mau bayar hotel segala?"


"Loh? Bukannya kamu punya perhiasan?"  tanya Bu Zaenab kaget mendengar penuturan Zulfa. Padahal selama ini setiap bertandang ke rumahnya Zulfa terlihat selalu memakai perhiasan yang lengkap di tubuhnya. Tak akan semua itu tak ada harganya, sedang Bu zaenab sendiri pernah memegangnya dan tahu sendiri jika semua perhiasan itu asli.


Zulfa menunduk dan menggeleng pelan. "Sebenarnya semua itu di pegang sendiri sama Mas Haris, Bu. Zulfa cuma boleh pake setiap mau keluar saja, nggak boleh simpan sendiri. Semua baju-baju bagus yang Zulfa pakai biasanya itu juga. Semua di simpan rapi sama Mas Haris. ,Zulfa tidak di beri kebebasan memakai semua itu tanpa seizinnya."


"Apa?? Jadi semua itu bukan punya kamu? Jadi sekarang pun kamu pulang tanpa membawa apa apa barang sebiji pun?" seru Bu Zaenab yang tiba tiba langsung merasa seluruh alam menggelap di sekitarnya.


Sebelum matanya tertutup sempurna,   Bu Zaenab masih dapat mendengar suara teriakan Zulfa yang histeris.


"Bu, jangan pingsan di sini dong, Bu. Ini perkebunan, gimana Zulfa ngangkat ibu nanti? Ibu kan berat!"


Sontak bu Zaenab langsung bangun dan batal pingsan.


"Dasar anak kurang ajar," gerutunya sambil berjalan cepat meninggalkan Zulfa.


"Loh? Beneran nggak jadi nih pingsannya, Bu?"


"Nggak! Udah nggak mood!"

__ADS_1


__ADS_2