TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 149. PERMINTAAN.


__ADS_3

 Satu minggu kemudian di sebuah rumah sakit.


" Mas janji yang nanti pulangnya beliin rujak mercon." Dara keluar dari mobil dengan raut wajah manyun, pasalnya tadi di jalan dia menginginkan mampir di penjual rujak namun Zaki malah sibuk menelpon hingga tak mendengar permintaannya.


"Iya, sayang. Nanti kita beli sama gerobak gerobak nya ya," kekeh Zaki sambil menciumi kepala istrinya yang tertutup jilbab pashmina warna maroon itu.


"Awas aja kalo nggak!" gerutu Dara lagi lalu masuk ke dalam rumah sakit dimana dia kan memeriksakan kandungannya lagi.


 Saat berjalan tanpa sengaja Dara menyenggol seseorang yang membuat makanan yang di bawa orang tersebut jatuh.


"Ah maaf, Mbak. Saya minta maaf, saya nggak sengaja," ucap Dara tergesa sambil membersihkan tumpahan minuman di pakaian wanita yang dia tabrak tadi.


"Nggak papa kok, Mbak Dara."


 Suara yang familiar membuat Dara spontan menegakkan kepalanya dan melihat siapa gerangan yang dia tabrak tadi.


"Bu guru Laila?" ucapnya dengan raut heran.


 Laila tersenyum sambil membersihkan pakaiannya yang terkena noda jus tadi, namun tak tampak raut kesal walau sedikit di wajah teduhnya yang kini tampak semakin cantik saja itu.


"Bu guru maaf banget ya, gara gara saya ...."


"Udah nggak papa, Mbak. Cuma air kok, nggak bakalan bikin mati juga," kekeh Laila berkelakar, membuat Dara akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.


"Bu guru sendirian aja di sini? Mas Halim mana?" celetuk Zaki sembari celingukan mencari keberadaan sang suami dari guru anak anaknya itu.


"Ah, ada di sana." Laila menunjuk meja pendaftaran.


 Dara dan Zaki serentak menoleh dan mengangguk ria.


"Mau periksa juga? Alhamdulillah, udah isi ya," bisik Dara di telinga Laila.


 Laila terkekeh sambil mengibaskan tangannya di udara.


"Ah belum, mbak. Ini mau ketemu temennya Mas Halim, mau konsultasi buat pasang behel perawatan buat si Elis," lanjutnya.


"Ooh, iya Elis tadi emang sempat izin, katanya hari ini nggak masuk kerja dulu mau ke rumah sakit periksa gigi kata dia. Sekarang dia dimana, Bu guru?" sahut Dara sembari mengajak Laila duduk di kursi tunggu, sedangkan Zaki langsung menyusul Halim ke meja pendaftaran untuk mendaftarkan pemeriksaan kandungan bagi istrinya. Memang suami suami idaman ya, wkwk.

__ADS_1


"Tadi pamit ke depan, katanya laper belum sarapan jadi mau beli kue dulu," jawab Laila apa adanya.


 Dara mengangguk paham, dan setelah itu mereka pun menyudahi obrolannya karna para suami sudah kembali ke habitatnya masing-masing.


"Sayang, kita langsung ke ruangan dokternya. Mumpung beli ada yang antri," celetuk Zaki.


 Dara mengangguk. "Bu guru, Mas Halim kami duluan ya."


"Duluan ya, Mas." Zaki menimpali sembari mengangguk sopan pada Halim dan Laila yang masih harus menunggu antrian di poli gigi.


  Dara dan Zaki langsung menuju ke ruangan dokter spesialis kandungan, tempat dimana mereka biasa memeriksa si jabang bayi yang usianya kini sudah otw lima bulan itu.


 Usai pemeriksaan bulanan dan USG r dimensi yang bisa memperlihatkan bentuk jelas janin di dalam kandungan, Dara cepat cepat mengajak Zaki untuk keluar dari ruangan dokter itu.


"Kenapa buru buru sih, sayang?" protes Zaki yang merasa lelah di tarik tarik dan di seret seret oleh Dara.


"Aku lupa hari ini ibu sama Indi mau pulang ke kampung, Mas. Katanya mereka sudah boleh pulang," tegas Dara sambil mengehentikan laju langkahnya dan menetralkan deru nafas yang serasa ngos ngosan itu.


"Nah kan kamu kecapean, udah jalan santai aja ya, sayang. Lagi pula kan rumah sakit tempat Indi di rawat nggak jauh jauh banget dari sini," ucap Zaki cemas.


 Sejurus kemudian, mereka sudah kembali ke dalam mobil dan bersiap meluncur menuju ke rumah sakit dimana Indi dan bayinya di rawat.


****


Sementara itu di rumah sakit dimana Indi di rawat.


"Mas, kamu kok kayak gelisah gitu kenapa?" tanya Indi pada Fatan yang tampak mondar mandir sambil memegangi ponselnya, dari raut wajahnya Indi tahu kalau ada yang tengah mengganggu pikiran yang pujaan hati.


"Ehm, ini ada masalah sedikit. Tapi nggak papa kok, kamu nggk usah ikut mikirin ya. Biar Mas aja, bukan masalah besar kok," sahut Fatan sembari tersenyum, walau senyuman itu tampak getir di mata Indi.


 Namun karna tak ingin kembali bersitegang akhirnya Indi memilih diam dan tak banyak bertanya, baginya Fatan sudah bersikap baik padanya saja sudah cukup membuatnya senang tanpa harus membuat masalah baru lagi.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." terdengar panggilan di pintu, gegas Fatan membukanya dan mempersilahkan tamu mereka masuk.


"Wa'alaikumsalam," sahut Indi.


"Eh, Mbak Dara. Sama siapa, Mbak?" lanjut Indi sembari merentangkan tangannya untuk memeluk Dara.


"Sama Mas Zaki, lagi di luar dia Mbak suruh beliin rujak. Abisnya pengen banget," sahut Dara tersenyum.


 Indi tersenyum getir, tak di pungkiri masih ada sekelumit penyesalan di hatinya sudah melepaskan pria sebaik Zaki.


"Sayang, Mas keluar dulu ya. Mau telepon," ucap Fatan kemudian membuka pintu dan berjalan keluar setelah Indi menganggukkan kepalanya.


 Dara tersenyum simpul. "Ecie udah sayang sayangan aja ini nampaknya."


"Alhamdulillah, Mbak. Berkat si kecil," sahut indi tersipu.


"Ngomong ngomong si kecil? Dimana ibu?"


"Tadi keluar nganter asi buat di kecil, Mbak. Alhamdulillah ASI-nya deras dan bagus, jadi kondisinya juga membaik dan stabil."


"Alhamdulillah, tapi kalian yakin mau pulang aja? Apa nggak sebaiknya nunggu sampe si bayi kuat dulu?" Dara tiba-tiba merasa sedih, karna setelah sekian lama akhirnya kini mereka bisa kembali sedekat ini.


 Indi menggeleng lemah. "Nggak papa, Mbak. Malah ngerepotin Mbak aja nanti kalo lama lama di sini, biaya rumah sakit ini pasti nggak murah, Mbak. Kami ... takut nggak bisa bayar nanti, apalagi sekarang ada bayi yang harus kami penuhi kebutuhannya."


"Kenapa harus di pikirkan sih? Mbak ikhlas nolong kalian," ujar Dara lirih, karna tak ingin sampai ada yang mendengar walau mereka hanya berdua di ruangan itu.


"Nggak, Mbak. Biarpun Mbak ikhlas, tapi kami harus tetap tahu diri." Lagi Indi menolak saran Dara dan tetap kekeh dengan keputusannya.


"Kalau begitu nginap di rumah Mbak dulu ya, si kembar pasti kangen banget sama kamu dan ibu. Apalagi sekarang ada adik bayi, pasti mereka seneng," pinta Dara penuh harap.


 Indi menatap Dara dengan tatapan nanar. "Mbak yakin?"


 Dara mengangguk mantab.


 Indi membuang muka, kali ini tetesan air mata tak dapat lagi ia bendung.


"Aku bahkan nggak bisa lupa bagaimana tatapan kebencian dari Fatur waktu dia tahu aku merebut papanya, Mbak."

__ADS_1


__ADS_2