
Dengan tangan gemetar Indi berusaha mengendalikan dirinya agar tidak brtindak di luar batas, melihat kemarahan Fatan sudah barang tentu tak akan mudah untuk menolak keinginannya.
Menekan ego, Indi pun berucap lirih meminta maaf pada dua ibu dan anak di hadapannya itu, walau pada dasarnya hatinya masih sangat sakit karna di tuduh dengan keji.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Indi berkata dengan nada berat, sangat tidak ikhlas sama sekali di salahkan seperti ini sedangkan dirinya ada di pihak yang benar'.
Bu Sukri tampak tersenyum miring, begitu pun intan yang tak lagi terlihat raut wajah sedih pura puranya seperti tadi, malah tampak seringai mengejek kembali di wajahnya yang polos namun licik itu.
"Bu, Intan ... Indi sudah meminta maaf, sekali lagi saya mohon kerendahan hati kalian untuk memaafkannya, saya akan pastikan kalau Indi tidak akan lagi mengulangi kesalahannya yang sama," timpal Fatan entah apa maksudnya berkata demikian, yang malah membuat seolah memang indilah yang salah dan perlu di beri pelajaran tanpa berniat mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Indi mendesah, bukan saat yang tepat untuk mendebat. Jadi setelah minta maaf, Indi berupaya bangkit dengan di bantu Bu Maryam.
"Yah, baguslah kalau dia menyadari kesalahannya. Didik dengan baik istrimu ini, Fatan. Jangan sampai karena dia saja nama baik kamu dan mendiang orang tuamu menjadi ikut buruk," tukas Bu Sukri lalu langsung berlalu dari sana tanpa berkata apa-apa lagi.
Intan masih di sana, berpura-pura teraniaya dan memasang wajah menyesal di hadapan Fatan, walau Indi tahu semua itu hanya kamuflase.
"Mas Fatan, jangan lupa sampean ada janji sama bapak nanti setelah isya, intan tunggu di rumah ya, Mas." Intan berkata dengan senyuman manis di bibirnya, entah menguap kemana wajah sedihnya tadi.
Fatan hanya mengangguk menanggapi perkataan intan, sedang Indi tampak menahan air matanya karna melihat cara intan berbicara dengan suaminya sama persis seperti saat dulu dia mencoba menggoda Fatan. --sebagai mantan pelakor tentu saja Indi lebih paham gestur tubuh sesama spesiesnya--
Lalu, tanpa rasa malu atau sungkan sama sekali Intan meraih tangan Fatan lalu menciumnya selayaknya seorang istri mencium tangan suaminya. Namun Indi bisa melihat dengan jelas, kalau mata Intan saat ini mengarah padanya dengan senyum miring tersungging di bibirnya.
"Intan pamit, assalamu'alaikum." Intan sempat menundukkan kepalanya kepada Bu Maryam sebagai tanda berpamitan, namun yang semakin membuat jantung Indi berpacu dengan cepat dan darahnya terasa mendidih adalah saat intan hendak berbalik dia sempat mengerling nakal pada sang suami dan anehnya lagi malah di balas senyuman manis oleh Fatan seolah mereka sudah saling mengerti kata hati masing-masing.
"Wa'alaikumsalam, hati hati di jalan, Intan. Nanti habis isya Mas ke sana," tukas Fatan menyahut salam Intan sebelumnya.
__ADS_1
Indi yang sudah merasa dadanya sesak melihat kedekatan suaminya dan gadis belia itu langsung meminta sang ibu untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ayo kita masuk, Bu. Tidak ada gunanya juga kita berlama-lama di sini, tidak ada lagi yang percaya pada kita," desah Indi kecewa sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Fatan yang masih sibuk menatap kepergian Intan hingga hilang di balik tikungan jalan.
Karena di tinggal seorang diri Fatan gegas masuk ke dalam rumah, menyusul Indi dan juga ibu mertuanya. Hatinya masih belum puas mendengar jawaban Indi tentang permasalahan tadi, bukan untuk mencari kebenarannya tapi untuk kembali menyalahkan istrinya karna rupanya Fatan lebih percaya pada Intan dan ibunya ketimbang sang istri.
"Harusnya kamu bisa lebih menjaga lisan kamu, Indi! Jangan sembarangan bicara, kamu itu hanya pendatang di sini kamu belum kenal warga sini jangan membuat masalah lah setidaknya. Kalau sampai tadi kamu nekat dan membuat intan terluka bagaimana? Mau kamu di penjara gara gara menuruti ego kamu itu?" omel Fatan saat menyusul Indi dan ibunya di meja makan.
Indi yang tengah minum segelas air pun sampai tersedak di buatnya, perih hatinya belum hilang dan kini Fatan malah menaburkan garam dan jeruk nipis lagi ke atas luka itu. Sakit sekali, namun sedikit pun Indi tak bisa membela diri.
Bu Maryam memegang tangan Indi, berusaha menguatkan putrinya di saat tak ada lagi yang bisa mereka andalkan. Sedangkan Fatan merasa apa yang di katakan nya benar semakin menjadi-jadi.
"Intan itu anak baik-baik! Sejak kecil aku sudah mengenal dia, bisa bisanya malah kamu bilang dia pelakor? Kenapa kamu mengatai dia begitu hah? Apa karna kamu iri dengan kecantikan dia yang lebih dari pada kamu? Sadar, Indi! Yang pelakor itu kamu, bukan dia! Jangan sembarangan bicara kalau tidak mau di benci banyak orang!" imbuh Fatan lagi sambil menunjuk nunjuk wajah Indi yang tertunduk diam.
Tangannya tak henti mengelus perutnya yang buncit sambil beristighfar berkali kali, menenangkan dirinya sendiri agar tak terpancing dan malah membuat situasi semakin runyam.
Fatan melengos, seperti kesal di nasehati oleh ibu mertuanya itu.
"Ibu bela saja terus anak kesayangan ibu itu, dari dulu memang ibu sudah pilih kasih. Lihat saja bagaimana sekarang? Dara yang tidak pernah mendapat kasih sayang ibu saja sekarang sukses dan berjaya, dan lihat anak kesayanganmu ini, Bu. Jadi apa dia sekarang? Beban saja kan?" sindir Fatan terang terangan tanpa memikirkan apakah ucapannya akan menyakiti hati istrinya atau tidak.
"Fatan! Jaga bicaramu kamu!" seru Bu Maryam tak terima, dia bangkit lalu memeluk Indi yang sudah tergugu dalam dekapannya.
Sakit sekali hatinya mendengar hinaan yang di layangkan Fatan untuk anaknya, sebagai seorang ibu pastinya Bu Maryam tak ikhlas seorang yang tak bertanggung jawab seperti Fatan menghina sang putri yang kini bahkan tengah mengandung.
"Halah! Sudahlah! Ibu dan anak sama saja, menyusahkan!" sanggah Fatan sambil berlalu menuju ke luar rumah, entah kemana. Seperti biasa lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga.
__ADS_1
Brakkk
Fatan menutup pintu depan dengan kasar, membuat Indi dan Bu Maryam terjingkat karena terkejut.
"Astaghfirullah," gumam Bu Maryam sambil memeluk Indi semakin erat dalam dekapannya.
"Bu, Mas Fatan berubah, Bu. Kenapa sekarang dia menjadi orang yang berbeda, tidak seperti yang kita kenal dulu." Indi terisak dalam pelukan ibunya.
Bu Maryam hanya sanggup menggeleng.
"Semoga saja tidak ada apa-apa, kita tidak punya tempat pulang lain selain di sini. Hanya di sinilah kita bisa bertahan, kita doakan saja semoga Fatan bisa menyadari kesalahannya dan kembali seperti dulu."
Indi mengangguk pasrah, namun baru saja Bu Maryam mengatupkan bibirnya. Kegelapan pun menyelimuti mereka.
Tit
Tit
Tit ....
"Ya Allah, token listriknya habis lagi, In?" tanya Bu Maryam dalam kegelapan itu.
"Iya, Bu. Maaf karna Indi belum bisa bantu ibu cari uang untuk memenuhi kebutuhan rumah ini ya, Bu."
"Ya sudah, kalau begitu kita beli lilin dulu ke warung ya. Ibu belum punya uang lebih untuk beli token listrik."
__ADS_1
"Lilin? Ibu mau ngeped?"
"Astaghfirullah, Indi. Kamu sakit hati boleh, sakit jiwa jangan."