
"Bu, ibu kenapa?" tanya Halim saat melihat sang ibu pulang dalam keadaan menangis padahal belum lama tadi beliau baru saja pergi ke rumah Laila.
Bu Hana tak mengindahkan pertanyaan anaknya dan langsung memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Tok
Tok
Tok
"Bu, jangan kayak gini, Bu. Ayo cerita ada apa? Jangan bikin Halim cemas, Bu." Halim masih berusaha membujuk Bu Hana, namun beliau masih tak bergeming di kamarnya.
Menutup wajahnya dengan bantal dan menumpahkan semua gundah dan air matanya di sana.
"Bu, apa ada yang salah? Cerita sama Halim, Bu. Ibu masih anggap Halim anak ibu kann?"
Lagi, Halim masih mencoba membujuk ibunya. Namun Bu Hana masih enggan menyahut, hingga akhirnya terdengar suara orang dari luar rumah. Dengan berat hati terpaksa Halim menangguhkan dulu urusan sang ibu dan melihat siapa gerangan di luar sana.
Tok
Tok
Tok
"Permisi," ucap sang tamu lagi, dari suaranya seperti mereka lelaki dan juga perempuan.
"Sebentar," sahut Halim sambil membukakan pintu.
Dan terlihatlah senyum kedua orang yang masih asing bagi Halim itu saat pintu terbuka sepenuhnya.
"Siapa ya?" tanya Halim.
"Masnya calon pengantin pria kan?" ucap sang lelaki yang usianya sekitar dua puluh tahunan dan mempunyai kulit yang sangat putih.
Halim hanya mengangguk saja, tanpa berniat bersuara. Batinnya masih berkecamuk dengan apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya.
"Kami asisten MUA yang di sewa Bu Hana, untuk mendandani Mas guna acara ijab qobul nanti malam." kini sang perempuan yang menjawab, usinya tampak lebih matang ketimbang si lelaki, dan memakai jilbab pashmina yang di ikat di lehernya.
Kening Halim mengernyit mendengar jawaban mereka, lalu lamat-lamat dia mengamati suasana di luar, masih terang.
__ADS_1
"Tapi ini kan masih siang?" protes Halim yang merasa acaranya masih lama, karna matahari tampak masih bersinar itu.
"Iya, Mas. Kami harus cepat karna harus merias ibu Mas juga, sekarang juga calon pengantin wanitanya juga sudah mulai di rias kok." sang perempuan kembali menjawab.
Halim menarik nafas, dan pada akhirnya mengizinkan mereka masuk sebelum di omeli tetangga absurd nya yang bahkan tidak keluar rumah saat akan ada acara seperti ini.
"Sebentar ya, saya panggilkan ibu saya dulu." Halim beranjak hendak menuju ke kamar ibunya lagi.
"Iya, Mas.".
Halim berjalan pelan, batinnya tak menentu saat sampai ke depan pintu kamar ibunya. Di tempelkannya telinga di pintu kamar itu, berharap bisa mendengar suara sang ibu dari dalam sana.
Namun nihil, tak ada suara apapun yang terdengar. Membuat Halim akhirnya menyerah dan memilih kembali mengetuk pintu kamar ibunya.
Tok
Tok
Tok
"Bu, tukang riasnya sudah datang. Apa ibu belum mau keluar? Ayo keluar sebentar, Bu. Kasian mereka menunggu," ucap Halim berharap kali ini ibunya akan bersedia membuka pintu.
Sesuai perkiraan, akhirnya Bu Hana keluar. Namun yang menjadi perhatian Halim adalah wajah sang ibu yang tampak sembab dan memerah sekali. Namun begitu, Bu Hana tampak tetap memaksakan senyumnya di hadapan Halim.
"Ibu kenapa, bu? Kenapa ibu nangis?" tanya halim lirih sekali, agar orang orang yang sedang berada di ruang tamu itu tak bisa mendengarnya.
Bu Hana hanya menggeleng pelan.
"Ibu nggak papa, cuma terharu saja kamu sudah akan menikah."
Suara Bu Hana terdengar sangat serak, mungkin karna sejak tadi menangis. Halim tau itu, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah itu.
"Ya sudah, tapi nanti kalau ibu sudah mau cerita bilang sama halim ya, Bu. Halim pasti bantu ibu sebanyak apapun itu." Halim memegang kedua bahu ibunya sambil menatap netranya dalam.
Bu Hana mengusap sisa jejak air mata di wajahnya dan tersenyum simpul walau tampak hambar di mata Halim.
"Yah, tentu saja, Nak. Sekarang ayo kita bersiap, ini pernikahan kamu jangan sampai kita tidak tampil sempurna."
Halim mengangguk patuh, setidaknya kini hatinya mulai lega karna sudah melihat ibunya kembali ceria, setidaknya sampai nanti sang ibu siap menceritakan keluh kesahnya pada Halim lagi. Dan Halim berharap semoga itu bukanlah hal yang terlalu serius.
__ADS_1
*
Di tempat lain.
"Sayang, kalau masih lemas mendingan di rumah aja ya. Si kembar biar Mas yang bawa, jadi kamu bisa istirahat." Zaki masih tampak mencoba membujuk istrinya yang kini tampak cemberut itu.
"Nggak, Mas. Dara nggak papa, cuma lemas sedikit kok nanti di sana bisa duduk aja. Yang penting bisa lihat acara ijab qobulnya Halim sama Laila," rajuk Dara tak mau tahu.
Bahkan kini Dara malah memunggungi Zaki sambil melipat tangannya di dada. Bibir tipisnya mengerucut hingga lima meter jauhnya. --ini bercanda --
"Tapikan, sayang ...."
"Heuheu ... dedek bayi, lihat itu Papa kamu masa kita nggak boleh ikut ke acaranya oom Halim. Kan kita juga mau makan rendang ya, Sayang. Makan es krim, salad buah, es kelapa muda, ya kan. Masa nggak boleh, sabar ya, Nak papa nggak sayang lagi sama kita," isak Dara mulai melancarkan jurus andalannya, yaitu apalagi kalau bukan bicara pada sang bayi yang kini sudah hampir tiga bulan di kandungan itu.
Zaki menepuk jidatnya, pasalnya setiap kali menginginkan sesuatu Dara pasti akan selalu bertingkah seperti itu agar kemauannya di turuti. Jika tidak dia akan ngambek sepanjang hari dan mengunci diri di kamar tanpa mau keluar. Lalu akan memesan banyak sekali makanan cepat saji untuk dia makan sendiri di kamarnya sampai Zaki menuruti kemauannya.
"Hei, ayo berangkat. Kalian ini ngapain aja sih dari tadi? Kenapa belum siap juga?" ucap Bu Ambar yang sudah rapi dengan gamis cantik berpayet ramai di dadanya.
Membuat tampilannya tampak glamour namun tetap elegan.
"Rame banget bajunya, Bun." Zaki menyeletuk.
Bu Ambar mencebik.
"Ya sekali kali nggak papa sih, Zaki. Bir bunda ini juga kelihatan kayak masih muda gitu loh. Udah ayo kalian cepetan siap siap, kenapa malah duduk santai sih. Acaranya nanti keburu di mulai," tegas Bu Ambar lagi sambil mengayunkan tangannya menyuruh Zaki dan Dara bergegas.
Tapi Dara malah semakin mencebik.
"Mas Zaki nggak bolehin Dara ikut, Bunda," adunya pada Bu Ambar.
"Loh,memangnya kenapa, Zaki? Jangan macam macam kamu ya, Dara itu lagi hamil jangan berani beraninya kamu main gila di belakang dia ya!" Bu Ambar menuding wajah Zaki dengan ekspresi marah.
Zaki menggaruk tengkuknya pelan.
"Ya bukan begitu juga maksudnya, bunda. Zaki itu nggak ngizinin karna Dara masih suka lemas, takutnya nanti di sana nyium banyak bau bauan yang kecampur malah jadi mual, repot lagi. Bukan karna ada maksud apa apa, nggak."
Tapi Dara malah berdecak, memutar tubuhnya sampai menghadap Zaki dan menatap netranya tajam.
"Kenapa nggak bilang aja kalau kamu nggak pengen aku ikut karna mau ketemu sama mantan kamu, Mas?" sentak Dara tampak marah.
__ADS_1
"Apa? Jadi itu maksud kamu nggak bolehin Dara ikut Zaki? Dasar anak kurang ajar!" Bu Ambar mengangkat tangannya siap di layangkan ke tubuh Zaki.