TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 160. POLOSNYA ISTRIKU.


__ADS_3

 Pagi harinya.


"Huaahh, pagi banget kamu bangunnya, Nak?" ucap Bu Hana yang baru saja memasuki dapur dan mendapati menantunya sudah sibuk dengan bahan bahan masakan di tangannya.


 Laila menoleh dan tersenyum lembut.


"Iya, Bu habisnya lagi tanggal merah, bangun subuh tadi bingung mau ngapain. Ya sudah Laila masak aja, udah ada yang matang, Bu di meja," ujar Laila sambil tetap sibuk dengan masakan terakhirnya di dalam wajan.


 Bu Hana menghampiri tudung saji dan membukanya, aroma ayam goreng menguar dari sana membuat perutnya yang semalam sudah penuh kue dan minuman soda itu terasa kembali lapar.


"Hmmm, harumnya memang menantu ibu ini paling top, serba bisa dan pinter sekali," puji Bu Hana dan kembali menutup tudung saji karna hendak menuju kamar mandi lebih dulu.


"Ini pelengkapnya, Bu." Laila berjalan ke meja makan sambil membawa sebuah wadah berisi nasi goreng yang baru saja matang dan menguarkan aroma lezat yang tak kalah dengan ayam goreng tadi.


"Perfect!" puji Bu Hana sambil membentuk dua jempolnya menjadi huruf O.


Laila tertawa senang dan menyimpan nasi goreng buatannya itu ke dalam tudung saji.


"Laila panggil Mas Halim dulu ya, Bu biar sarapan bareng," ucapnya meminta izin..


 Bu Hana yang baru akan melangkah memasuki kamar mandi menghentikan langkahnya sejenak.


"Ajak adikmu juga, jangan Halim aja yang kamu panggil ya."


 Laila mengangguk.


"Iya, Bu. Laila pergi dulu, assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Hana dan langsung melangkah masuk ke kamar mandi setelah Laila hilang di balik tembok pembatas.


Sekitar lima belas kemudian, Bu Hana selesai dengan ritual kamar mandinya. Memakai kimono mandi dan keluar dari kamar mandi dengan satu handuk lagi di atas kepalanya.


-- bukan karna habis mandi wajib\, tapi gara gara begadang sampe kekenyangan itupun sebenarnya nggak lewat tengah malam udah molor duluan--


"Astaghfirullah!" seru Bu Hana saat mendapati kondisi kamarnya yang sangat bersih dan rapi.


 Sudah bisa di tebak siapa yang sudah merapikannya, karna saat keluar kamar tadi Bu Hana bahkan belum sempat melipat selimutnya sendiri.


"Ya ampun anak itu, rajinnya kebangetan."


 Bu Hana hanya geleng-geleng kepala saja sambil meneruskan niatnya memakai baju.

__ADS_1


"Kalo begini mertuanya di suruh kerja apa? Apa apa di kerjakan sama dia, nanti kalo aku di kira mertua zolim karna menjadikan menantu layaknya pembantu aku di hujat pembaca lagi," keluh Bu Hana sambil melangkah keluar rumah berniat melihat kondisi di rumah Laila di depan.


****


 Sementara itu.


"Ya ampun, Mas. Udahan dong ngambeknya, adek nggak sengaja loh lupanya," bujuk Laila sambil berusaha memeluk Halim dari belakang.


 Lelakinya itu dia temukan tertidur dalam posisi meringkuk di ruang tamu dengan kue berbentuk hati yang mencong sebelah di depannya. Matanya yang sembab menjelaskan apa yang terjadi semalaman di rumah itu.


"Nggak, dek Laila jahat. Nggak tepatin janji, lebih baik kita marahan aja kalo begini." Halim berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Laila di ruang tamu.


"Mas, tunggu dong," rayu Laila masih berusaha mengejar suaminya yang kini beranjak masuk ke dalam kamar.


Doorrr


Gedubrakkk


"Astaghfirullah! "


Laila cepat cepat membuka pintu kamar guna memastikan apa yang terjadi di dalam sana hingga menimbulkan suara gaduh barusan.


"Aduuuhhhh," gumam Halim merintih kesakitan sambil memegangi pantatnya yang terasa nyeri karna baru saja beradu tatap dengan lantai keramik kamarnya.


"Adudududh, pelan pelan," rintih Halim sambil mengangkat sebelah kakinya yang tadi tidak sengaja menginjak balon hingga menyebabkan dia terjatuh.


 Laila mengedarkan pandangannya ke seantero kamar, lalu tak lama tawanya pun menyembur keluar.


"Bwahahaha, ini kamu yang ngehias kamar kita ya, Mas?" tanyanya spontan.


 Mendengar itu Halim langsung pasang mode ngambek lagi, dengan kening berkerut dan mulut mengerucut persis ikan badut.


"Kalau nggak suka bilang aja, jangan menghina dong."


 Halim bersungut-sungut sambil membuang muka ke arah lain, enggan bersitatap dengan sang istri yang sudah mengecewakannya dirinya tadi malam, padahal janji pulang setelah isya, malah pulang setelah subuh dasar pembohong, batin Halim kesal.


"Eh ngambek, maaf ya Mas. Abisnya semalam ibu ngajakin marathon drakor, nggak enak mau nolaknya, niatnya nanti jam sembilan pulang eh malah kebablasan. Maafin ya, Mas," bujuk Laila sambil berjongkok di hadapan Halim di antara balon balon yang tersebar di seluruh lantai kamarnya, jadi wajar saja kalau tadi Halim sampah terinjak.


"Hmmmm," gumam Halim tetap cuek, seolah di hadapannya tak ada apapun.


 Padahal hatinya sebenernya meleleh juga melihat tatapan mata Laila yang teduh dan memabukkan. Tapi namanya lagi ngambek tentu saja harus meyakinkan, jangan mudah luluh sebesar apapun tantangannya.

__ADS_1


"Cium nih," ancam Laila mulai kesal dan berdiri menghadap Halim bersiap untuk mendekatkan wajahnya.


 Halim yang kesenangan malah memejamkan mata dan memonyongkan bibirnya menunggu ciuman itu datang.


'hehehe, kena kamu, Mas.' Laila tersenyum miring dengan sebuah balon dan sebuah jarum pentul di tangannya.


 Halim memajukan bibirnya karna tak sabar menunggu bibir Laila mendekat, namun tak kunjung sampai hingga dia terus maju tanpa membuka matanya.


 Laila juga semakin memajukan balon itu dengan jarum sudah siap di tangan kirinya, wajahnya mencong mencong karna takut ikut kaget saat balon itu


Doorrr


"Eh copot copot copot!" seru Halim terjingkat dari tempat duduknya,dan mundur ke belakang karena kaget.


 Laila sendiri langsung berlari keluar karna ikut terkejut.


"Huaaaa! Penjahat, maling, begal! Tolong!" seru Elis langsung keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di dadanya, bahkan rambutnya masih penuh dengan busa sabun.


"Laila ada apa?" seru Bu hana yang rupanya baru datang dari rumahnya dan langsung berlari masuk begitu mendengar suara ledakan dari dalam rumah.


 Laila tergelak sambil memegangi perutnya yang terasa tegang karena berhasil mengerjai Halim yang sok sokan ngambek itu.


"Halim mana?" tanya Bu Hana setelah tawa Laila mereda.


 Laila menunjuk pintu kamar, dan Bu Hana langsung menghambur ke sana pasalnya sejak tadi tak terdengar suara Halim dari sana bahkan suara kentutnya pun tak terdengar.


 Laila yang turut merasa cemas karna melihat ekspresi sang mertua pun langsung membuntutinya, sedangkan Elis memilih kembali ke dalam kamar mandi guna meneruskan mandinya yang tertunda.


"Huhuhu, ya Allah Halim ! Haliiimmnmm."


.


 Suara Bu Hana mengagetkan Laila yang tengah mengambil segelas air di kulkas untuk dia berikan pada Halim, karna cemas dia langsung meninggalkan gelas itu dan berlari menuju kamarnya.


"Bu, Mas Halim kenapa? " seru Laila dengan wajah cemas yang tak bisa di sembunyikan.


 Bu Hana menoleh menampakkan wajahnya yang basah oleh air mata.


"Tolong panggil ambulan, Halim sesak nafas."


 Mata Laila membulat seketika, dengan terburu buru dia mendekat ke arah ranjang dimana Halim terbaring dengan nafas tersengal dan mata yang terpejam.

__ADS_1


"Mas, kamu kan dokter juga. Ayo sembuh kan diri kamu sendiri, Mas." Laila berkata dengan polosnya, bahkan dengan pedenya dia menyerahkan stetoskop Halim ke tangannya yang entah dia dapatkan darimana.


__ADS_2