
Sementara itu di rumah Laila.
"Minum dulu, Mas." Laila keluar dari rumah sambil membawa sebuah nampan berisi teh hangat untuk Halim yang kini tengah duduk bertelanjang dada di teras rumahnya, mereka tidak berduaan di dalam dapur Laila ada Bu Hana yang tengah mengulek bumbu rujak untuk di makan dengan mangga muda yang tadi di petik Halim.
"Makasih banyak ya, Dek Laila." Halim tersenyum manis sambil mengangkat gelas tehnya dan menyeruputnya perlahan.
Namun tak sampai satu detik dia menyemburkan lagi air teh yang sudah masuk ke mulutnya itu dengan ekspresi kaget.
"Panas," desisnya sambil melirik ke arah Laila yang tampak menahan tawa.
"Kan baru di bikin, Mas jadi wajar masih panas."
Akhinya Halim menyerah dan meletakkan kembali cangkir teh itu di tempatnya semula membiarkannya untuk menjadi dingin sesuai keinginannya.
Laila mengambil tempat duduk yang tak jauh dari Halim, tangannya tampak sibuk mengupas kulit mangga muda yang akan di makan dengan bumbu rujak nantinya.
"Dek Laila," panggil Halim beberapa saat kemudian.
"Ya, Mas?" sahut Laila tanpa mengalihkan tatapannya dari pisau dan mangga di tangannya.
"Kamu ... suka kan hadiah dari Mas?" tanya Halim lagi.
Sejurus Laila mendongak, lalu mengulas senyum semanis madu hingga membuat Halim diabetes.
"Alhamdulillah, suka sekali kok, Mas. Memangnya kenapa?" tanya Laila masih dengan senyum di bibirnya.
"Soalnya itu ibu yang pilih, Mas cuma takut modelnya terlalu tua buat kamu."
"Kamu ngatain ibu tua?" ketus Bu Hana yang tiba-tiba keluar sambil membawa sebuah cobek kayu berisi bumbu rujak yang baru saja di buatnya.
Halim mengusap tengkuknya kikuk.
"Ya nggak begitu maksudnya, Bu. Halim cuma takutnya modelnya nggak sesuai sama yang di sukai dek Laila," pungkas Halim sambil mengambil sepotong mangga muda dan mencoleknya di bumbu rujak yang di letakkan ibunya di atas meja.
Tak butuh waktu lama, wajah tampan Halim langsung berkerut karena masamnya mangga berpadu bumbu rujak yang pedas manis itu pecah di mulutnya.
__ADS_1
"Halah kamu itu sok tahu, ibu ini biar sudah tua begini ibu itu paham loh model model yang di sukai sama anak anak muda kayak kalian. Bukan kaya kamu itu, usia muda selera kok kayak kakek kakek." Bu Hana berkata ketus sambil ikut memakan rujak mangga itu dan wajahnya berubah tak ubahnya Halim tadi.
"Iya, Mas. Laila suka kok, Mas tenang aja." Laila turut menimpali namun urung untuk ikut mengambil mangga muda itu karna melihat ekspresi wajah Halim dan Bu Hana yang terlihat tidak senang saat memakannya.
Membayangkannya saja membuat gigi Laila ngilu seketika.
"Terus sudah kamu pakai, dek kalungnya?" tanya Halim sembari menyeruput teh manisnya tadi yang kini sudah menjadi lebih hangat.
Laila menunduk sesaat dan tersenyum.
"Sudah, Mas. Kalungnya cantik sekali."
Ya kemarin saat tengah bertengkar hebat dengan Laila memang Halim sempat juga dengan Bu Hana perihal warna yang akan di gunakan untuk dekorasi pernikahan mereka nanti. Semua perkataan Laila dia utarakan tanpa ada yang terlewat, dan serta merta saat itu juga Bu Hana langsung menyeretnya menuju ke sebuah toko emas yang lumayan terkenal lalu menyuruh Halim membelikan satu untuk Laila.
Dan pilihannya jatuh pada sebuah kalung sederhana namun mempunyai liontin berbentuk hati yang sangat indah. Sebenarnya bukan hanya hadiah itu membuat Laila luluh dan memaafkan Halim, namun cara Halim meminta maaf dengan tulus ala ala Drakor itu lah membuat Laila akhirnya luluh.
"Nah kan apa ibu bilang, Laila pasti suka model kalungnya. Siapa dulu yang pilih?" Bu Hana menepuk dadanya bangga tapi sejurus kemudian kembali wajahnya mengkeret karna asamnya mangga yang di makannya.
"Kalau begitu ... apa Mas boleh liat kalungnya pas di pakai, dek? Mas penasaran akan jadi secantik apa Kaling itu di leher kamu?" imbuh Halim terang terangan.
"Sembarangan kamu kalo ngomong!"
"Lha kenapa lagi sih, Bu? Kan cuma mau lihat, dimana salahnya?" ketus Halim bersungut-sungut sambil mengusap usap keningnya yang terasa nyeri sedikit.
Untungnya hanya sebonggol biji mangga yang di lempar sang ibu kalau sampai Bu Hana khilaf dan mengambil pisau pengupas buah untuk di lempar ke Halim bagaimana? Berabe ini novel.
"Kepalamu itu ada isinya atau nggak hm? Bisa bisanya yang begitu katanya biasa. Kamu lupa kalau leher perempuan itu aurat? Sembarangan sekali minta lihat kalung yang di pakai Laila. Nggak nggak! Nanti aja kalau sudah sah kalian menikah baru lihat sepuasnya badan istri kamu itu." Bu Hana berucap sepedas sambal ayam geprek.
Namun walau ucapannya pedas, tapi Halim dan Laila tahu semua yang di katakan Bu Hana adalah benar.
Halim menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mulai cengar cengir nggak jelas.
"Iya deh iya, maaf Bu. Kan Halim lupa," pungkasnya membela diri.
Laila sendiri hanya tersenyum simpul sambil mengupas sebuah mangga yang matang untuk di makan bersama bumbu rujak karna ternyata dia tak tahan untuk mencoba mangga muda. Terlalu asam dan getir di lidahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian tampak dari arah jalan Elis berlari kecil kembali menuju rumah, di belakangnya tampak si kembar mengikuti dengan riangnya.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka bersama sambil melepas sandalnya masing-masing di bawah tangga teras.
"Wa'alaikumsalam," sahut Laila, Halim dan Bu Hana.
Si kembar gegas menyalami mereka semua dengan senang hati, lalu saat tiba saat bersalaman dengan Laila si kembar malah menggelendot manja.
"Waduh, anak anak ganteng cantik ini anak asuhnya Elis ya?" celetuk Bu Hana yang baru sekarang bertemu dengan si kembar.
Fatur dan Farah tersenyum malu, lalu dengan kompak mereka mengangguk.
Mata Bu Hana tampak berbinar.
"Ibu mau punya cucu kembar begini, pasti langsung rame rumah ibu nanti."
Halim langsung tersedak teh yang sedang di minumnya sedangkan Laila langsung menunduk salah tingkah.
"Iya, Bu. Elis juga mau punya keponakan kembar," sahut Elis pula turut mengompori dua sejoli yang sebentar lagi akan resmi bersanding di pelaminan itu.
"Oh ya, Lis. Kamu pulang lagi mau ngapain? Bukannya tadi udah ambil mangga? Udah di kasih ke Mbak Dara mangganya?" cecar Laila mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak semakin malu.
Raut wajah Elis yang semula senang kini tampak tertekuk dengan bibir mengerucut.
"Huh, apaan ambil mangga niatnya buat Mbak Dara sama yang lain malah di serobot semua sama Bu Leha si rentenir itu, Mbak. Dari dulu ibu ibu aneh satu itu memang nggak ada tobat tobatnya ngerecokin hidup orang, Mbak. Mana gaji Elis juga masih ada di sana lima ratus ribu pas kemarin Elis masih ngupah nyuci gosok di rumahnya. Hih, pokonya kalo inget itu orang bawaannya pengen nyantet aja Elis, Mbak." Elis berkata sambil melotot melotot dan jarinya menunjukkan nunjuk udara bebas mungkin saking menghayatinya.
Tapi mendengar perkataan Elis, Bu Hana langsung menyela karna seperti merasa familiar dengan orang yang di maksud Elis.
"Elis tunggu, tadi kamu bilang siapa? Bu Leha? Leha, Juleha?" tanya Bu Hana .
Elis mengangguk.
"Iya, Bu. Kenapa?"
Bu Hana tampak mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
"Ternyata di sini dia bersembunyi selama ini."