TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 59. EXTRA PART.


__ADS_3

 Sejak pagi sekali Dara sudah bersiap diri untuk keluar rumah, hari ini adalah hari pembukaan cabang baru untuk butiknya yang belakangan ini lebih dia perhatikan hingga bisa maju pesat.


 Bahkan kini butik yang berdiri dari hasil jerih payahnya pribadi itu sudah mulai merambah dunia online, dan membuatnya tingkat penjualan semakin tinggi dan keuntungan yang di raup pun semakin besar.


"Kamu mau pergi?" tanya Bu Maryam yang ternyata sejak tadi memperhatikan semua gerak gerik Dara.


  Mata Dara memicing, melirik sedikit pada sang ibu yang kini tengah sibuk menyapu teras itu. Indi belum bangun, jadi Bu Maryam langsung mengambil alih tugasnya sebelum Dara kembali menghukum Indi. Sudah cukup kemarin Indi menangis karna tidak mendapat jatah makan akibat kelalaiannya sendiri.


"Iya, Dara mau pergi." Dara bangkit dan memperbaiki penampilannya sedikit.


 Jilbab pashmina yang di bentuk sedemikian rupa sehingga bisa membuatnya bebas bergerak tanpa khawatir jilbabnya terlepas. Di padu dress panjang yang memudahkan setiap pergerakannya, tampak sangat cantik dan menawan.


 Dara menyambar kunci mobil yang dia letakkan di atas meja dan langsung beranjak meninggalkan teras.


"Dara tunggu," sela Bu Maryam sambil berlari mendekati Dara.


"Ada apa lagi?" tanya Dara tanpa menoleh.


 Bu Maryam meremas tangannya seakan takut untuk bicara.


"Katakan, Bu. Waktuku tak banyak," geram Dara.


 "Ah, maaf. Ibu ... cuma mau tanya, yang kemarin kamu bilang kalau ... mengikhlaskan Fatan untuk Indi, itu ... beneran?"


Degh


 Jantung Dara serasa di sundut api rokok demi mendengar ucapan Bu Maryam yang seperti semakin tidak tahu malu itu.


 Dara mengambil nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya karena hari masih sangat pagi dan dia sedang tidak ingin bertengkar.


"Kenapa ibu mau tau?"


 Bu Maryam kembali berbinar dan lebih mendekat pada Dara, walau Dara justru semakin bergeser menjauhinya.


"Ah, maksud ibu ... kalau memang begitu, ibu ... bisa minta Fatan untuk menikahi Indi juga? Ibu malu sama orang di kampung sana, Dara. Berita ini pasti sudah sampai di sana, gimana nanti kalo ibu pulang dan malah jadi bahan gunjingan warga gara-gara anaknya batal nikah?" cecar Bu Maryam melancarkan rencananya.


"Apa ibu nggak meneruskan batal nikahnya karena apa? Ibu nggak mau bilang gitu kalo mereka batal nikah, ah maksudnya ... menikah dalam dua jam saja itu karena apa? Ibu nggak mau gitu bilang sama semuanya kalau anak kesayangan ibu itu udah main gila sama kakak iparnya sendiri?" amuk Dara mulai tak bisa mengontrol lagi emosinya .


 Walau dia sama sekali tidak menyentuh Bu Maryam karns takutnya wanita paruh baya itu malah jatuh pingsan karena dia membalas.

__ADS_1


"Dara, jangan bicara begitu. Maafkanlah Indi, dia itu masih labil, jadi maklumi aja kalo dia masih suka salah. Kasian dia, Dara. Kalau sampai nanti berita ini benar-benar tersebar di kampung, pasti nggak ada yang mau ngelamar Indi lagi nanti. Masa kamu nggak mikirin sampai situ sih, Dara?" Bu Maryam masih mencoba membujuk.


 Dara menunduk dalam, menarik nafas panjang agar tidak lupa kalau sedang berhadapan dengan ibunya. Ibu angkatnya maksudnya.


"Kalau begitu pikir ibu, maka terserah! Tapi aku minta setelah semua kemauan kalian itu terpenuhi silahkan tinggalkan rumahku. Dan sampaikan pada lelaki mokondo itu kalau hari ini aku akan ajukan gugatan cerai!"


 Dara langsung melangkah memasuki mobil dan tidak lagi mendengar jawaban Bu Maryam, tampaknya dia menggumamkan sesuatu tapi Dara sudah tak mendengarkannya lagi.


Brrrmmmmmm


 Suara mobil itu meraung dan semakin terdengar jauh meninggalkan rumah dan Bu Maryam yang merasa sudah mendapatkan solusi dari permasalahan di rumah tersebut.


"Aku harus langsung kasih tau Indi." Bu Maryam lekas berbalik dan menuju kamarnya dan Indi.


*


(Bos, target keluar dari rumah. Sepertinya menuju ke jalan besar)


 Ketik Halim di layar ponselnya, dia pun tak menyangka niat hati hanya ingin berolahraga lagi malah mendapat informasi penting terkait orang yang dia awasi selama ini.


Drrtt


Drrtt


(Bagus! Informasi yang sangat membantu, Lim. Setelah ini tim gabungan akan mengikuti kegiatannya di sekitar rumah dan bahkan di dalam rumahnya. Teruskan, aku ingin tahu lebih banyak)


 Pesan balasan dari kontak yang Halim beri nama "bigbos" itu, senyumnya mengembang. Terbayang di pelupuk matanya berapa banyak uang yang akan dia terima sebagai imbalan dari setiap informasi yang dia berikan pada sang bos.


"Hanya sebentar lagi, maka semua tugas membosankan ini akan berkahir jua. Dan akhirnya aku bisa menikah nanti," kekeh Halim sambil memandangi selembar foto seorang wanita di tangannya.


"Tunggu aku, Sayang. Sebentar lagi aku akan menjemputmu," imbuh Halim sambil beranjak dari tempatnya dan menuju pulang.


 Masih ada tugas lain yang masih harus dia lakukan setelah pulang.


"Pak Halim darimana?" sapa Elis yang baru saja keluar rumah dan hendak menuju ke rumah Dara untuk menjemput si kembar.


 Elis baru saja di daftarkan kuliah oleh Dara, jadi semalam dia mengurus semuanya sampai tidak bisa menginap bersama si kembar yang sebenarnya semakin hari malaj semakin lengket padanya itu.


"Eh, Elis. Saya baru pulang olahraga, ini mau langsung ke rumah." Halim menyahut ramah.

__ADS_1


 Elis mengangguk dan ber oh ria. "Mbak Laila sendirian tuh di rumah, Pak. siapa tahu mau nemenin."


  Setelah mengucapkan itu, Elis buru-buru lari menjauh sambil cekikikan geli. Karna semalam baru saja menggoda Laila yang tampak menyukai Halim, yang mereka tau sebagai penghuni baru komplek mereka.


 Halim hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Elis dan kembali meneruskan langkahnya untuk pulang ke rumah dinasnya selama menjadi mata-mata.


Gedubrakkk


 Tiba-tiba sebuah suara nyaring mengagetkan Halim, sontak dia menoleh dan mendapati Laila yang terduduk di lantai teras rumahnya.


"Ya ampun!" desis Halim seraya bersegera menuju rumah Laila yang hanya terbatas jalan saja sebagai pemisahnya.


"Aakkkk, duh sakit banget." Laila mengerang lirih sambil memegangi pinggulnya yang terasa remuk karna baru saja jatuh dari kursi dan langsung mencium lantai.


 Halim langsung saja memapah Laila dan mendudukkannya di atas kursi teras. Walau sambil menahan sakit akhirnya Laila bisa duduk dengan mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terus menerus meringis. Kan jadi tidak estetik.


"Kamu kenapa, kok bisa jatuh gini sih?" cecar Halim cemas, namun untuk membantu memeriksa cideranya Halim tidak berani karna menghargai privasi Laila.


 Laila menunjuk ke atas, ke arah bola lampu teras yang ternyata sudah gosyong.


"Semalem konslet, terus ga lama mati. Jadi Laila mau ganti. Pas lagi jinjit mau muter bolhamnya eh, kursinya malah melarikan diri," gumam Laila seakan sedang mengadu pada Halim.


 Halim berdiri dan mengambil bola lampu yang baru dari tangan Laila.


"Udah sini saya bantuin, lagi pula ini tuh pekerjaan laki-laki ngapain kamu segala sok sokan ganti sendiri? Kayak nggak punya tetangga yang bisa di mintai tolong aja," gerutunya sambil memasang bola lampu itu pada tempatnya dan membawa turun kembali bola lampu lama.


"Haduh, Mas Halim kenapa segala marah-marah sih? Kan saya juga nggak tau kalau ujungnya bakalan jatuh. Siapa juga yang mau sial, Mas?" Laila turut menggerutu.


 Halim tersenyum mendengar ocehan guru TK itu, sampai tanpa sadar kalau dia sedang menuruni kursi setelah memperbaiki bohlam tadi. Kursi tersebut oleng karna tak kuat lagi menahan beban tubuh Halim.


 Lalu,


 Brugh


  Kursi teras patah dan membuat Halim jatuh nyusruk di bawah kaki Laila yang langsung reflek menarik kakinya ke atas karena dia memakai gamis.


"Telat banget sih, La." Halim menyeletuk, maksud hati membahas tentang Laila yang tidak membantu memegangi kursi sewaktu Halim memanjat dan membuatnya akhirnya harus ikut terjatuh.


 Tapi apa yang ada di pikiran Laila bukan begitu, kini dia berusaha menarik gamisnya untuk dia tutupkan ke seluruh bagian kaki agar tidak di lihat Halim.

__ADS_1


"Kyaaaaaaaa!" jeritnya saat Halim bangkit dari bawah kursi dan tak sengaja menyentuh kaki Laila walau masih terhalang gamis.


__ADS_2