
Mohon maaf semuanya karna keteledoran author babnya jadi tertukar, ini bab sebelumnya ya. Sekali lagi author minta maaf pembaca semua.
***
"Maaf, tapi bukankah sudah pernah Mas katakan kalau mas sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan yang tidak sehat dengannya sejak dulu? Kenapa kamu masih menanyakan hal itu lagi, sayang? Bukankah harusnya kamu tahu jawabannya?" ucap Fatan ambigu.
Intan semakin terisak di tempatnya, sebelah tangan Indi langsung meraihnya dalam dekapan. Kembali lagi, semua itu dia lakukan karna rasa kemanusiaan semata tidak ada alasan lain yang mendasarinya lagi.
"Tapi, Mas. Intan baru saja kehilangan bapaknya. Pak Sukri meninggal beberapa hari yang lalu, dan sekarang Intan sebatang kara. Dia hanya punya kamu sebagai tempat kembalinya, Mas," sahut Indi dengan air mata mulai menggenangi netranya, sementara itu Fatan langsung tampak kehabisan kata kata mendengar ucapan Indi barusan.
Untuk beberapa saat tak ada satupun dari mereka yang membuka suara, semua saling diam hingga seorang petugas polisi yang tadi mengantarkan Fatan ke ruang jenguk kembali menjemputnya.
"Maaf, waktu jenguk sudah habis. Tahanan akan kami bawa lagi ke sel."
Fatan menarik nafas dalam lalu menatap sekilas pada petugas polisi itu.
"Sebentar ya, Pak. Ada yang ingin saya sampaikan lebih dulu pada istri saya."
"Baik, tapi tolong jangan terlalu lama."
Fatan mengangguk paham dan petugad berseragam coklat itu pun kembali menunggu di luar ruangan.
"Jadi bagaimana keputusan kamu, Mas? Jangan egois dengan hanya memikirkan diri sendiri. Tolong pikirkanlah baik baik agar tak ada hati yang akan tersakiti setelah ini," pungkas Indi menyeka air mata yang sempat jatuh menetes di pipinya.
"Baiklah, beri Mas waktu untuk memikirkan ini lebih dulu. Sekarang pulanglah, hati hati di jalan dan titip salam untuk Inara ya."
Indi mengangguk, lalu setelah itu mereka pun berpamitan untuk pulang bertepatan dengan petugas polisi yang kembali menjemput Fatan untuk di bawa kembali ke selnya.
__ADS_1
*
"Sudah selesai, in? Maaf ya ibu nggak bisa nyusul masuk ke dalam. Inara rewel soalnya," ucap Bu Maryam kala Indi dan Intan baru saja menapaki halaman kantor polisi yang beralaskan batako itu.
Cuaca memang sedang panas terik saat itu hingga suasana sore pun masih seperti layaknya siang hari.
"Coba sini Indi yang gendong, Bu." Indi mengangkat tangan bersiap menggendong putrinya yang masih menangis dari gendongan Bu Maryam.
"Cup, cup, cup. Sayang bunda, kenapa Nak? Inara kenapa nangis? Inara mau es krim?" tanya Indi sembari menatap mata bening milik putrinya yang kini tampak basah oleh air mata itu.
Inara perlahan mengangguk, lalu merebahkan kepalanya di dada Indi. Tangisnya perlahan mulai tak terdengar sekeras tadi mungkin karna sudah cukup lama menangis dan dia mulai kelelahan.
"Tadi sudah ibu tawarin beli es krim tapi Inara menolak, in." Bu Maryam melangkah mendekati Indi yang tampak sibuk dengan ponselnya guna memesan taksi online kembali.
"Lalu ibu belikan yang lain nggak? Jajanan yang lainnya gitu supaya dia tenang?" tanya Indi masih berbaik sangka pada sang ibu.
Namun sayangnya Bu Maryam justru menggeleng, menjelaskan semua yang terjadi pada Inara hingga menjadi serewel itu tadi.
"Wong pas ibu tawarin yang lain dia nya juga nggak mau kok, ya sudah ibu bawa keluar saja. Wong di sana jadi perhatiaan orang gara gara dia menangis terus, kan malu ibu." Bu Maryam menambahi sembari bersungut-sungut.
Lagi lagi Indi hanya bisa terdiam, tak akan ada gunanya juga berdebat dengan ibunya di tempat umum seperti ini. Sifat jelek Bu Maryam sejak dulu tak sepenuhnya hilang, dia masih sangat suka melempar kesalahan pada orang lain walau sebenarnya dialah yang salah. Apalagi di tempat ramai seperti ini, bisa bisa Bu Maryam akan berakting sebagai orang yang paling tersakiti dan akan membuat image Indi menjadi jelek di mata orang orang yang melihat nanti.
Tak lama taksi online yang di pesan indi pun sampai, segera mereka masuk namun kali ini Indi langsung mengambil posisi duduk di depan dan membiarkan ibunya dan Intan duduk di belakang.
"Tujuannya sesuai titik lokasi ya, Bu?" tanya sang supir ramah.
Indi mengangguk. "iya, Pak langsung ke sana saja."
__ADS_1
Supir itu langsung menjalankan mobilnya membelah jalan raya dengan kecepatan sedang.
"Kita langsung pulang kan, in? Badan ibu capek sekali rasanya soalnya, habis gendong si Inara kesana kemari tadi. Sudah nggak sabar pengen rebahan ini," tukas bu Maryam seenaknya.
Indi mendesah panjang, lalu menelisik tubuh anaknya yang kini terkulai lemas di pelukannya. Inara tidak tidur seperti yang semula di kira Indi, namun anak manis itu hanya bersandar ke dadanya dengan mata terbuka dan sesekali masih tampak sesenggukan sisa menangis tadi.
"Indi kamu itu di tanyain kok malah diem aja," seru bu Maryam kesal.
Indi melirik sekilas, lalu dengan malas dia menjawab.
"Kita mampir dulu, Bu. Indi mau belikan Inara es krim."
Sontak Bu Maryam yang sejak tadi bersandar santai di sandaran kursi mobil langsung mengangkat tubuhnya dan melotot menatap Indi tajam.
"Apa? Beli es krim? Ngapain lagi pake beli beli sih? Kan tadi sudah ibu bilang anak kamu itu nggak mau es krim! Nggak mau juga jajan! Jadi buat apa masih maksa beli kalau ujung ujungnya juga nggak akan di makan. Jangan mubadzir deh, In jangan buang buang uang mentang mentang kamu yang menghasilkan uang itu sendiri. " Bu Maryam langsung marah marah hanya karna mendengar indi ingin membelikan anaknya sesuatu.
Selalu saja seperti itu, Indi seolah tak pernah boleh membelanjakan uangnya untuk kepentingan sang putri. Selalu saja di larang dengan alasan ini dan itu, yang terkadang Indi pun bingung apa tujuannya.
Tak ingin berdebat, Indi memilih diam ketimbang nanti harus ngeyel ngeyelan dengan ibunya dan malah berakhir malu sendiri bertengkar di dalam mobil.
Indi memilih menatap putrinya yang kini tampak meringkuk di dalam dekapannya, tatap mata bening itu menembus hati Indi seolah mengatakan untuk jangan meninggalkannya sedetik pun lagi.
"Inara mau es krim kan, Nak?" tanya Indi pelan.
Dan benar saja ,anak cantik itu mengangguk walau samar. Dan semua itu cukup untuk membuat Indi membulatkan tekad untuk tidak mengindahkan ucapan sang ibu tadi.
"Huh, buang buang saja terus uangmu itu untuk memanjakan dia. Lihat saja nanti setelah uangmu habis dan dia akan jadi anak manja yang bisanya cuma meminta tanpa memikirkan susahnya mencari uang," dengus Bu Maryam yang merasa tak di gubris oleh Indi.
__ADS_1
"Sudah, Bu berhenti bicara dan diamlah!" marah Indi yang tak tahan lagi untuk hanya diam mendengar umpatan ibunya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu.
*Lanjut ke sebelah.