
"Ada siapa, Mas?" Dara yang sejak tadi diam di kamar tiba tiba keluar karna mendengar suara Zaki yang meninggi, karna cemas dia pun melihat keluar walau tubuhnya masih lemas dan wajah yang pucat.
"Ah, bukan siapa siapa, Sayang." Zaki menjawab tanpa memperdulikan wajah Bu Leha yang merona merah karna tidak di akui.
Dara mendekat lalu duduk di samping sang suami, Zaki reflek memeluk pinggang sang istri yang masih tampak lunglai itu.
"Ya ampun, Dara. Masa kamu lupa sama saya? Tantenya Zaki loh ini, tantenya kamu juga sekarang, kemarin tante ada kok di pernikahan kalian," ucap Bu Leha tanpa di tanya, sebab Dara sejak tadi tidak begitu memperhatikan siapa tamu suaminya.
"Ooh, Tentenya Mas Zaki? Kok cuma di kasih Aqua gelas sih, Mas. Kan a ...."
"Ah iya, katanya bude Leha maunya minum air putih aja kok, Sayang. Kan bude punya diabetes, nanti kumat lagi kalau minum yang manis manis," sela Zaki sebelum Dara sempat menyelesaikan ucapannya dan sebelum Bu Leha kembali menyambar ucapannya.
Dan berhasil, Bu Leha yang baru saja hendak membuka mulut untuk mengatakan protesnya kini kembali menutup mulutnya dengan tatapan sebal.
Dara mengangguk pasrah, dan tak lagi banyak bertanya selain lemas mulutnya juga semakin merasa pahit.
"Oh ya, bude. Istriku lagi nggak enak badan, aku mau nemenin dia dulu, lebih baik bude pulang kalau sudah nggak ada keperluan," ucap Zaki tegas.
Tapi bukan Bu Leha namanya kalau mau pergi sebelum apa yang menjadi tujuannya terpenuhi.
"Heh, kok pulang sih, Zaki? Kan tadi bude minta tolong sama kamu buat masukin kerja si Hans di perusahaan kamu sama pinjem uang tiga puluh juta. Terus gimana? Masa iya belum dapat udah di suruh pulang sih?" protes Bu Leha sambil bersedekap dada.
Hans pun sama walau tak banyak bicara tapi gayanya yang tengil setengah gila itu membuat Zaki enek sekali melihatnya.
"Zaki nggak ada uang sebanyak itu, bude. Dan juga di perusahaan Zaki nggak ada lowongan kerja semua sudah penuh. Jadi apa yang bisa Zaki kasih? Harapan? Maaf bude, Zaki nggak kayak bude yang suka nebar harapan ke orang-orang yang terjebak rayuan apa rentenir bude." Zaki kembali menolak tegas, dia sudah lelah terus menerus di peralat oleh budenya untuk mendapat uang gratis.
Bu Leha tampak bersungut-sungut.
"Lha terus ini Tante ke sini nggak dapat apa apa gitu? Tcih, katanya orang kaya tapi kok pelit."
"Siapa yang bilang saya orang kaya? Saya nggak pernah tuh bilang bilang ke orang lain kalau saya orang kaya, bude kali."
__ADS_1
Skak mat!
.
Bu Leha tercengang sampai kehabisan kata kata untuk melawan keponakan pintarnya itu, tak di sangka Zaki yang dulu begitu royal padanya setiap meminjam uang kini mulai berani membalas kata katanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Elis yang baru saja kembali dari pulang sebentar ke rumahnya tadi, di tangannya tampak sebuah kantung kresek yang tampak penuh sesak.
"Wa'alaikumsalam," sahut Dara dan Zaki, tapi bu Leha dan Hans hanya melengos saja dan menjawab salam Elis dengan tidak ikhlas sama sekali. Bagi mereka menjawab salam orang miskin yang tidak bisa memberi keuntungan untuk mereka sama saja buang buang tenaga.
"Dari mana, Lis?" tanya Dara pelan, karna sejak tadi berada di kamar Dara sampai tidak tahu kapan Elis pergi keluar.
"Dari rumah, Mbak. Tadi Mbak Laila telpon katanya mangga di depan rumah sudah di panen sama Mas Halim, jadi sebagian di suruh bawa ke sini. Gede gede loh, Mbak yang ini lebih gede dari yang kemarin mungkin karna kemaren sempat di kasih pupuk," sahut Elis sambil mendekat ke arah Dara dan menunjukkan isi dari kantong keresek di tangannya.
Dara mengambil sebuah mangga yang tampak besar dan ranum, wanginya bahkan memenuhi seluruh bagian ruangan itu. Bu Leha dengan kekepoan akutnya mulai mendekat walau sadar saat ini dirinya tak lagi di acuhkan.
"Wah mangganya besar besar, sepertinya enak sekali itu," celetuknya lalu mengambil sebuah mangga yang tengah di pegang Dara dengan santainya.
Dara sendiri sampai tercengang di buatnya, kok bisa ada manusia setidak tahu malunya seperti Bu Leha ini.
Namun saat melihat di sana masih ada Bu Leha, Bu Ambar kembali melengos.
"Ngapain kamu masih di sini, Leha?" ketusnya.
Bu Leha tampak tak acuh bahkan dengan santainya menciumi mangga yang ada di tangannya dengan tatapan lapar seperti ingin memangsa mangga itu.
"Ya nggak papa, kenapa memangnya, Mbak? Namanya ini rumah keponakan ku masa iya aku nggak boleh main ke sini?" dengus Bu Leha lagi.
Bu Ambar mendekat dengan tatapan sinis.
"Lebih baik sekarang kamu pulang, bawa anakmu itu dan ambil uang untuk mengganti uangku yang kamu pakai untuk ganti rugi bunganya si Zaenab tadi! Cepat! Atau kalau nggak jangan salahkan kalau ponsel anakmu ini aku jual." Bu Ambar tampak mengeluarkan sebuah ponsel bermata dua dengan warna putih itu.
__ADS_1
Dara menoleh dan menatap ponsel yang sepertinya dia kenali itu, setelah beberapa saat berpikir barulah Dara ingat kalau ponsel itu adalah ponsel Indi yang dulu di belinya dengan uang hasil meminjam pada Bu Leha. Yang karna tak bisa membayar ponselnya di rebut lagi oleh Hans. ( Baca episode awal)
"Hei, enak saja main jual jual ponsel orang! Kembalikan! Kembalikan sekarang ku bilang!" bentak Hans tak tahu sopan santun walau kini yang tengah berhadapan dengannya adalah orang yang lebih tua darinya.
Bahkan Hans berdiri berkacak pinggang dengan dada membusung seperti gorila.
Mata Bu Ambar mendelik saking marahnya, baru kali ini ada anak ingusan yang berani membentaknya padahal merekalah dalang di balik semuanya.
"Heh! Apa kamu berani berteriak sama aku hah? Sudah paten sekali kurasa ilmu mu itu? Iya?" sentak Bu Ambar lagi kali ini sambil menunjuk wajah Hans yang tengilnya luar biasa itu.
Hans mencebik tak peduli, membuat Bu Ambar semakin geram di buatnya.
"Leha! Ajarkan anakmu ini sopan santun atau akan aku pastikan kalian akan di permalukan di seluruh perumahan ini!" tandas Bu Ambar kali ini menunjuk Bu Leha.
Bu Leha malah tampak santai, seperti sama sekali tidak terpengaruh.
"Semua sudah ku ajarkan pada anakku, harusnya Mbak yang ajarin anak Mbak ini sopan santun masa ada tantenya ke rumah bukannya di terima dengan baik malah sandalku yang di buang! Lihat itu, entah dimana di gadaikan sopan santunnya segala berani ngatain anak orang lagi," dengus Bu Leha seperti orang paling benar di dunia ini.
Wajah Zaki merah padam, sebagai anak tentu saja dia tak ikhlas jika sang ibu di katakan tak becus mengajarinya padahal yang mengatakan itulah yang tidak becus dengan segala bukti yang ada.
"Bude! Lebih baik bude pulang sekarang juga! Pergi dari sini sebelum aku lupa kalau bude itu orang tua yang harus di hormati!" amuknya dengan urat urat yang bersembulan dari pelipisnya pertanda betapa saat ini Zaki tengah menahan marah yang amat sangat.
Bu Leha melengos, lalu dengan santainya dia merampas kresek berisi mangga yang ada di tangan Elis dengan kasar.
"Baik, tante pergi tapi ini semua buat Tante karena kamu menolak memberi kami buah tangan atau pinjaman!" dengusnya sambil berjalan cepat menuju ke luar rumah sambil menarik tangan anaknya itu.
"Tapi, bude ...."
Zaki ingin menahan pergerakan Bu Leha, namun dengan cepat Elis menahannya karna kalau orang seperti Bu Leha semakin di lawan akan semakin menjadi jadi.
"Udah, Pak Zaki nggak papa. Nanti Elis ambil lagi di rumah mangganya, masih banyak kok." Elis berkata cepat.
__ADS_1
Zaki mundur lalu mengelus dadanya sambil beristighfar berulang kali meredam rasa emosi yang menggelayut di dadanya sejak tadi.
"Astaghfirullah, kok bisa ya ada manusia kayak begitu?" gumamnya setelah suara motor bodong milik Hans terdengar menjauh.