TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 229. KEMBALI BERTEMU.


__ADS_3

 Setelah kejadian itu, Bu Zaenab terkesan lebih diam dan memilih untuk menghindar dari Ziva. Sedikit banyaknya Ziva jadi merasa tenang karna tak ada lagi radio rusak yang akan mengganggu keterangannya dan anaknya dalam beristirahat.


Kringg


Kringg


Kringgg


 Kala tengah bersantai setelah menyusui bayinya dan membuatnya terlelap nyenyak karna mabok susu, sebuah panggilan masuk ke ponsel Ziva yang saat itu juga tengah asik berselancar di dunia Maya melihat lihat postingan yang menarik menurutnya.


 Bibirnya menarik senyum begitu melihat nama siapa yang baru saja melakukan panggilan padanya. Dengan segera Ziva mengangkat panggilan tersebut dan mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum, Mas?"


"Wa'alaikumsalam, kamu lagi apa Dek?" suara lembut Amar memenuhi gendang telinga Ziva, membuatnya langsung tersipu.


" Baru habis nidurin si kecil, nggak lagi ngapa ngapain kok, Mas. Memangnya ada apa?"


"Mas ada kabar gembira buat kamu, ah maksudnya buat kita dek."


 Mata Ziva sontak berbinar. "Oh ya? Apa itu, Mas?"


"Alhamdulillah, Mas dapat pekerjaan tetap dek."


 Air mata Ziva sontak meluncur turun tanpa bisa di cegah, rasa senang bahagia dan terharu membuatnya bahkan tak mampu berkata kata.


"Dek? Kamu masih di sana?" panggil Amar lagi karna tak kunjung mendapat suara sang kekasih hati.


"Ah, i- iya Mas Ziva masih di sini kok." Ziva menyahut sambil menyeka air mata yang terus turun tanpa henti dari sudut netranya, bibirnya mengulum senyum yang sangat manis walau dia tahu sang suami tak akan bisa melihatnya.


"Kamu nggak seneng ya Mas dapat pekerjaan tetap?" tanya Amar lagi dengan nada suara yang tak lagi sebersemangat tadi.


Ziva menggeleng cepat. "Eh, bukan begitu Mas. Ziva cuma kaget, terharu, nggak nyangka ya pokoknya rasanya campur aduklah sampai nggak bisa berkata kata. Tapi yang pasti, Ziva senang sekali mendapat kabar ini dari Mas, rasanya kayak dapat oase di tengah gurun pasir ya, Mas?" kekeh Ziva berkelakar.

__ADS_1


Terdengar pula suara tawa dari sebrang sana, di iringi suara ribut kendaraan yang berlalu lalang di sekitar Amar.


"Iya, Alhamdulillah Mas juga masih nggak nyangka ini. Mas pulang sekarang ya, nggak sabar rasanya mau cerita langsung sama kamu, dek."


"Ah, iya Mas. Pulanglah, aku tunggu ya," pungkas Ziva sebelum akhirnya mematikan sambungan teleponnya setelah saling mengucapkan salam.


 Ziva menatap layar ponselnya dengan tak percaya, akhirnya setelah bertahun tahun bersama suaminya bisa kembali bersemangat dengan sebuah pekerjaan tetap yang sejak dulu begitu di rindukannya. Walaupun Ziva belum tahu pekerjaan apa yang di maksud sang suami, namun dari nada suara yang penuh semangat yang baru saja dia dengar dari suaminya a menbuatnya yakin kalau pekerjaan itu pastilah pekerjaan yang di harapkan atau yang sesuai dengan minat sang suami. Ah, rasanya dia tak sabar untuk segera bertemu dan bercengkrama dengan suaminya tentang itu.


Ziva kembali merebahkan tubuhnya dengan perlahan di samping anaknya, di tatapnya dalam wajah polos tanpa dosa yang tengah terlelap itu, bahkan bayi itu sama sekali tidak terganggu dengan suaranya a saat menelpon tadi yang mungkin saja terdengar berisik dan mengganggu.


"Anak hebat, anak kuat, anak Sholehah. Terima kasih karna sudah hadir di hidup Bunda dan ayah ya," bisik Ziva seraya menjatuhkan sebuah kecupan ringan di pipi gembil sang bayi yang selalu membuatnya gemas sendiri itu..


 Bayi mungil berpipi tomat itu menggeliat sejenak, sebelum akhirnya buang angin dan kembali tidur dengan lelapnya.


Ziva menahan tawa, sebuah suara yang biasanya tabu jika terdengar dari orang dewasa, rupanya bisa terdengar begitu lucu dan menggemaskan dari seorang anak bayi. Ah, tak habis habisnya dia bersyukur dengan semua nikmat yang dia miliki kini.


"Permisi, assalamualaikum."


 Baru saja kembali merebahkan tubuhnya, suara ketukan di pintu depan mengusik Ziva. Matanya yang baru saja terpejam terpaksa terbuka kembali karna suara itu tak kunjung berhenti. Biasanya Bu Zaenab yang selalu rajin membuka pintu karna kepo dengan siapa yang datang, namun saat ini setelah kejadian perang mulut dengan Ziva dan dia tidak bisa menjawab itu membuatnya menjadi enggan melakukannya. Mungkin, entahlah.


"Permisi."


"Assalamu'alaikum."


 Lagi, suara itu kembali terdengar pertanda jika memang tak ada yang beranjak membukakan pintu.


 Akhirnya dengan perlahan Ziva turun dari ranjangnya, di tahannya perih yang masih terasa di bagian jalan lahirnya yang terpaksa di jahit karna adanya robekan pasca melahirkan. Setelah itu dia melangkah dengan pelan dan hati hati, sedang ketukan di pintu seperti sudah tak sabar lagi untuk di bukakan.


"Sebentar!" seru Ziva setelah berada di luar kamar, tujuannya tentu saja agar orang yang berada di luar sana mendengar dan menunggu dengan sabar dia yang tengah berusaha berjalan mendekati pintu yang tertutup tersebut.


Ceklek


Ceklek

__ADS_1


 Ziva memutar dua kali kunci yang tergantung di lubang pintu, lalu menekan handle nya dan pintu pun terbuka dengan pelan.


"Nduk?" sapa sang tamu untuk pertama kalinya, Ziva sejenak menegang di tempatnya. Tangannya masih memegangi gagang pintu yang terasa dingin di telapak tangannya.


Seraut wajah yang begitu dia rindukan kini ada di hadapannya, wajah tua yang teduh dan bijak yang selalu dia impikan kini nyata di depan matanya.


 Mata Ziva kembali mengembun, dengan langkah cepat dia membawa diri ke dalam pelukan lelaki tua itu.


"Bapak!" serunya tergugu.


 Pak Jamal datang, dengan membawa buah tangan untuknya. Walaupun sebenarnya buah tangan itu adalah pemberian Zaki dan Dara untuknya.


"Nduk, kamu apa kabar?" tanya Pak Jamal setelah melerai pelukan mereka dan menelisik tubuh Ziva.


"Alhamdulillah, Ziva baik baik saja Pak. Bapak sendiri gimana? Sehat?" sahut Ziva seraya menyeka air mata yang masih meluncur turun di wajahnya.


 Pak Jamal mengangguk, mata tuanya juga berembun walau sekuat tenaga di tahannya.


"Oh ya, nduk. Kenalkan, ini Mas Zaki, dia yang nganterin bapak ke sini. Dan sekaligus tetangga bapak yang paling baik," ujar Pak Jamal sambil menunjuk seseorang yang sejak tadi berdiri di sudut teras menonton kehangatan antara bapak dan anak yang sudah lama tak bertemu itu.


 Ziva menoleh dan tersenyum hangat. "Terima kasih banyak ya, mas. Sudah mau mengantar bapak saya," ucapnya tulus.


 Zaki mengangguk. "Sama sama, Mbak . Sudah sewajarnya kok."


"Ya sudah, kita masuk dulu ya. Kebetulan Mas Amar juga lagi perjalanan pulang. Masnya masuk dulu juga ya, jangan langsung pulang, saya buatkan teh dulu." Ziva menoleh zaki.


 Awalnya Zaki ingin menolak karna ingin langsung pulang saja, namun Pak Jamal yang terus membujuknya membuatnya tak enak dan akhirnya menurut untuk setidaknya minum segelas air suguhan lebih dulu sebelum pulang.


 Selagi menunggu Ziva yang masuk ke dalam dapurnya, Pak Jamal dan Zaki bercengkrama ringan. Untunglah obat yang di berikan Zaki lumayan cepat bereaksi dan membuat Pak Jamal tak lagi merasa pusing dan lemas.


 Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki dari bagian luar rumah, di susul pintu yang terbuka tanpa di ketuk lebih dulu..


"Ziva! Ibu minta uang, buat bayar ari ...."

__ADS_1


 "Loh, Zaenab? Kamu kok ada di sini?" seru Pak jamal yang tak menyangka akan bertemu sang istri lagi di rumah anaknya.


 Bu Zaenab sendiri langsung tampak salah tingkah, terlebih kala menyadari kehadiran Zaki pula di sana.


__ADS_2