TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 169. KADO DARI MERTUA


__ADS_3

"Memangnya apa yang sudah mereka katakan pada kamu, sayang. Sumpah Mas ingin tahu, Mas takutnya mereka malah bicara macam macam sama kamu dan ibu, yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi." Fatan masih berusaha mendesak, sembari memegangi tangan Indi erat seakan sangat takut kehilangannya.


 Indi menghela nafas berat, mengusap lelehan air mata yang tak hentinya mengaliri pipinya dan menatap sendu mata pria yang dulu membuatnya tergila gila hingga melakukan sebuah kebodohan yang hingga kini masih di sesalinya itu.


"Bukankah seharusnya jawabannya ada di dalam benakmu sendiri, Mas? Semua ini terjadi karna kamu, bukan? Karna perjanjian yang kamu dan keluarga Sukri buat?"


 Fatan terhenyak, tenggorokannya terasa tercekat tak mampu menjawab pertanyaan Indi. Tatapan mata Indi yang sendu membuat rasa bersalah sontak merongrong dadanya.


"Kamu diam, Mas? Itu sudah menjelaskan semuanya," gumam Indi memaksakan senyumnya.


  Bu Maryam yang sudah selesai dengan barang bawaan mereka meletakkan koper dan tas itu di atas kasur, dan memandangi Indi juga Fatan bergantian.


"Kita pergi sekarang, Nak?" tanya Bu Maryam memecah keheningan.


 Indi mengangguk, lalu menyerahkan bayinya pada Bu Maryam untuk di gendong menggunakan kain jarik. Sedang dia sendiri berusaha untuk turun dari ranjang sambil menahan rasa perih di perutnya yang di sayat.


"Indi ...."


"Maaf, Mas. Untuk sekarang, biarkan kami pergi lebih dulu, menenangkan diri agar tidak menjadi lebih gila lagi," sela Indi sembari membalikkan kepalanya sedikit.


 Fatan masih tergugu di tempat tidur, kakinya bahkan terlalu lemas untuk bangkit dan menahan istri dan anaknya pergi meninggalkannya.


"Tapi kalian mau pergi kemana? Dimana Mas harus menjemput kalian nanti?"


 Indi kembali berhenti di ambang pintu, menoleh sekilas pada suaminya dan menunduk.


"Ke rumah Mbak Dara."


 Lalu kembali meneruskan langkahnya meninggalkan Fatan yang masih termangu di tempatnya.


****


Sementara itu.


"Bu, jangan lama lama ya di sana." Laila melerai pelukannya dari tubuh Bu Hana yang sudah bersiap dan tampak cantik dengan pakaian santainya.


 Rambut sebahunya di lepas bebas, dengan kacamata hitamnya bertengger di kepala. Seperti anak muda yang masih bucin bucinan.

__ADS_1


"Iya, pokonya nanti ibu pulang kalian harus sudah kasih ibu cucu ya." Bu Hana menjawab sambil mengelus pelan perut menantunya yang masih tampak rata itu.


 Laila tersipu malu, dan mengangguk sekilas dengan wajah memerah.


"Bu, ayo mobilnya sudah siap ada barang yang mau di masukkan lagi nggak?" seru Halim yang tengah membereskan barang bawaan Bu Hana ke dalam bagasi mobil.


"Sudah cuma itu kok," sahut Bu Hana dan Halim pun mengangguk lalu menutup pintu bagasi mobilnya dan berjalan mendekati ibu mertua dan menantu yang berdiri di teras rumah bu Hana itu.


"Pak bos katanya ke sana juga ya, Bu?" tanya Halim sembari mencuci tangannya di keran air yang biasa di gunakan untuk mencuci mobil atau menyiram tanaman di halaman.


"Iya, tapi nggak tahulah jadi atau nggak nya," sahut Bu Hana sekenanya sembari membenahi dandanannya dan mengangkat sebuah cermin kecil ke depan wajahnya.


 Halim terkekeh. "Ibu kayanya nggak suka sekali sama Pak bos, awas loh Bu nanti terlalu benci ujung ujungnya malah jadi cinta gimana?"


 Pletak


"Aduh, jahat banget sih Bu. Kepala anaknya di jitakin mulu." Halim memegangi kepalanya dan bersungut-sungut, sedangkan Laila hanya terkekeh melihat tingkah suaminya dan ibu mertuanya yang selalu random itu.


"Lagian mulutmu itu kayak nggak di sekolahkan." Bu Hana memanyunkan bibirnya.


"Iya, iya kamu duluan saja dulu ibu mau ambil sesuatu dulu di dalam," jawab Bu Hana.


 Bu Hana masuk ke dalam rumahnya, dan tak lama kembali lagi dengan sebuah paper bag hitam di tangannya.


" Sayang, ini untuk kamu. Di pakai ya," bisik bu Hana sambil menyerahkan paper bag itu ke tangan Laila.


"Wah, apa ini Bu?" tanya Laila dengan wajah penasaran.


 Laila baru saja hendak melongokkan kepalanya untuk melihat isi paper bag itu namun keburu di tahan oleh Bu Hana.


"Jangan di lihat di sini, nanti saja di rumah setelah ibu berangkat. Buka di kamar kamu ya, awas kelihatan Elis." Bu Hana terkekeh.


 Laila tersenyum dan mengangguk patuh.


"Kamu mau di bawakan oleh oleh apa nanti kalau ibu pulang?" tanya Bu Hana sambil memasang kaca mata hitamnya di tempat yang seharusnya.


"Kalau boleh sih minta bawain Chanyeol, Bu."

__ADS_1


 Bu Hana tergelak. "Kalau itu ibu juga mau, apalagi kalau bisa di bungkus bawa pulang."


 Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya berpisah sambil melambaikan tangan dengan tangis kecil di sudut mata masing-masing. Padahal cuma bakalan pisah paling lama juga satu mingguan.


 Setelah mobil yang di kendarai Halim dan Bu Hana tak terlihat lagi, Laila gegas kembali ke rumahnya di sebrang jalan. Menenteng paper bag hitam itu dengan hati yang riang, bahkan cara jalannya melompat lompat seperti anak kecil yang baru saja di belikan mainan.


"Girang banget, Mbak? Ada apa nih?" tanyaa elis yang berpapasan dengan Laila di teras rumah mereka.


 Laila tersenyum saja menjawabnya. " Anak kecil nggak boleh kepo."


Elis mencebik, lalu matanya tak sengaja menangkap bayangan paper bag di tangan Laila yang di sembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Eits, kayanya ada yang baru dapat kado lagi dari mertuanya nih."


  Laila terkejut dan buru buru menyembunyikan paper bag itu semakin jauh ke belakangnya, bahkan dia sampai mepet mepet ke dinding supaya Elis tidak bisa melihatnya.


"Ah apa sih, nggak ada kok." Laila mencoba menjawab namun gugup, membuat Elis langsung tahu kalau kakak sepupunya itu tengah berusaha berbohong namun tidak berbakat.


"Huh, ya sudah kalau nggak mau bagi bagi. Senengnya punya mertua begitu ya, semoga nanti Elis masih di ssisain yang modelan begitu satu aja, amiiin." Elis melanjutkan langkahnya menuju ke luar rumah.


"Amiiin, eh kamu mau kemana, El?" tanya Laila saat menyadari sang adik memakai sandal dan bersiap pergi.


"Ya kerja lah, Mbak. Ke rumah Mbak Dara, memangnya kemana lagi?" Elis berbalik dan menjawab apa adanya.


 Laila membentuk mulutnya menjadi huruf O.


"Ya sudah hati hati, kerja yang baik ya, Lis."


 "Siap Mbak ku." Elis mengacungkan jempolnya dan melanjutkan langkahnya kembali.


 Setelah Elis berangkat, Laila masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya dengan tak sabar. Pintu depan dan juga pintu kamar sudah dia kunci.


 Dengan seringai tipis dia duduk berhadapan dengan paper bag misterius itu, dan mulai meraihnya perlahan.


"Mweheheh, akhirnya kita hanya berdua saja. Sebenarnya apa sih isinya sampe ibu nyuruh buka di kamar sendirian?" gumam Laila sambil mengintip ke bagian dalam paper bag itu.


"Wuaaahhhh, cantiknya." Laila mengambil sesuatu yang ada di dalam paper bag itu dan mengangkatnya tinggi di depan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2