TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 18. RENCANA INDI


__ADS_3

 Malam semakin larut, curah hujan yang membasahi bumi pun seperti enggan mengurangi debitnya.


 Bruumm


 Sebuah mobil sedan putih tulang tampak berhenti di depan rumah Fatan, di ikuti dengan keluarnya seorang perempuan dengan gamis syar'i dari dalam mobil tersebut.


 Dengan berlari kecil perempuan itu membuka gerbang yang tak terkunci dan melambai pada si pengendara mobil.


"Hati-hati, Mas."


 Klakson mobil berbunyi dua kali, kemudian mobil mulai meluncur menjauh dari rumah tersebut.


"Ya ampun, Indi! Darimana kamu, Dek? Jam segini baru pulang?" seru Dara yang ternyata masih menunggu Indi di ruang keluarga.


 Saat mendengar pintu pagar dibuka bergegaslah ia melihat keluar dan mendapati Indi pulang dalam balutan gamis mewah yang sangat dia kenali modelnya.


"Nanti Indi ceritain, Mbak. Sekarang Indi masuk dulu ya, mau mandi, gerah." Indi melewati Dara dan langsung ngacir ke kamarnya.


"Baru pulang, Dek?" sapa Fatan yang juga masih duduk di sofa ruang keluarga karena menemani Dara sejak tadi.


 Indi berhenti sejenak, dan dengan senyuman semanis madu dia menjawab sapaan Fatan.


"Eh, iya Mas. Ada urusan mendadak tadi, Indi pamit ke kamar dulu ya," tukas Indi sambil kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Blam


 Pintu kamar tertutup, gegas Indi menguncinya dari dalam dan mulai melonjak-lonjak kesenangan.


"Yeeeyyyy, menang banyak!" seru Indi gembira.


 Dibukanya khimar lebar yang membalut kepalanya dan melemparnya ke sembarang arah. Berikut dengan gamis yang di pakainya pula, menyisakan tangtop dan celana legging panjangnya saja.


Indi merogoh tasnya dan menarik ponselnya dari sana.


22.45


Sudah saya transfer, tolong tepati janji kamu.


 Bunyi pesan yang baru saja masuk ke ponsel Indi. Lekas Indi mengecek m-bangking nya dan mendapati sejumlah angka di sana, yang sebelumnya hanya terisi beberapa ratus ribu saja.


"Heheheh, lumayan juga bayaran dari Mas Zaki. Kalau gini sih, mau pura-pura jadi istrinya pun aku mau," kekeh Indi sambil berguling-guling senang dibatas kasurnya.

__ADS_1


"Huummm, kira-kira uang sebanyak ini aku pake apa ya? Shopping? Jajan? Atau main saham?" tawa Indi terdengar lepas saking senangnya.


 Indi menarik nafas panjang, menikmati kebahagiaan yang baru saja serasa mengguyurnya. Namun saat memejamkan mata, yang hadir di dalam bayangan Indi hanyalah Fatan. Fatan, Fatan dan Fatan. Tak hanya dalam khayal, namun juga mulai memenuhi mimpi-mimpinya.


 Indi hampir frustasi karena hal itu, dadanya bergemuruh. Otaknya yang sudah di penuhi ambisi bekerja keras untuk mencari cara agar bisa mendapat perhatian Fatan.


"Aha! Kayaknya aku tau," cetus Indi kemudian dia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


"Hihihi, semoga aja Mas Fatan masih di sofa. Lihat aja Mas, aku akan bisa memilliki kamu tak lama lagi," gumam Indi sambil melihat pantulan wajahnya di cermin kamar mandi.


 Gila memang, namun begitulah. Cinta tidak bisa kita atur kapan dia ingin datang dan pergi. Dan anehnya setiap dia datang selalu saja membawa racun dan penutup mata panda, sampai membuat orang yang jatuh cinta selalunya buta dan tak bisa lagi membedakan benar dan salah tindakannya.


Ceklek


 Pintu kamar mandi terbuka, ruangan di rumah itu tampak sebagian mulai gelap. Karena sebagian besar lampu sudah di matikan oleh Dara.


 Kecuali ruang keluarga dan kamar Indi yang lampunya tampak masih menyala.


 Indi berjingkat pelan, kemudian melenggang santai saat melewati ruang keluarga karena menyadari ada Fatan di sana walau posisinya sedikit miring membelakanginya.


Ctik


"Lagi ngapain kamu, Dek?" gumam Dara terdengar dingin.


 Indi mengusap tengkuknya yang terasa merinding.


"Ah, nggak Mbak. Mau balik ke kamar kok, cuma kakiku kan masih sakit, belum sembuh ini yang jatuh kemaren makanya jalannya pelan-pelan," kelas Indi sambil menunjukkan betisnya yang masih tampak sedikit lebam.


 Dara tampak mengangguk pelan, dan berjalan mendekati Indi.


"Iya, Mbak paham kok maksud kamu. Tapi pesen Mbak, lain kali kalau keluar kamar mandi atau keluar dari kamar pas Mas Fatan ada di rumah. Jangan sengaja pake pendek-pendek gini ya? Mbak cuma khawatir ada kejadian yang nggak di inginkan gara-gara hal ini. Kamu paham kan maksudnya Mbak, Dek?" terang Dara lembut sekali.


 Indi mendesah pelan.


"Iya, Mbak. Kalau gitu aku langsung ke kamar ya. Mau ganti baju," pamit Indi sambil kembali meneruskan langkahnya menuju kamar.


 Dara mendesah kemudian menggelengkan kepalanya pasrah.


"Semoga kamu ngerti maksud Mbak, Dek," lirih Dara sambil beranjak menuju suaminya yang kini tampak sudah tertidur itu.


'Untung tidur,' batin Dara sambil menoel hidung mancung Fatan yang tampak nyaman sekali terlelap di kursi sofanya.

__ADS_1


 Sedikit banyak Dara bersyukur karena saat Indi lewat hanya memakai kimono tadi Fatan sudah dalam keadaan tidur pulas.


"Mas, pindah ke kamar yuk," ajak Dara sambil menggoyang pelan lengan suaminya yang terasa sangat kekar itu. Otot-ototnya terlatih dan terbentuk sempurna karena rutin mengikuti gym bersama Zaki. Teman yang di temuinya saat dulu bersama-sama menjadi relawan di peristiwa banjir bandang beberapa tahun lalu.


  Dan salah satu yang berhasil mereka selamatkan adalah Dara, yang sampai kini belum di ketahui lagi dimana keberadaan keluarga kandungnya.


 Fatan tampak menggeliat sebentar, sebelum membuka matanya yang terasa sangat berat untuk bisa terbuka.


"Loh, Sayang? Mas ketiduran ya,m maaf ya," ujar Fatan lirih, kantuknya belum usai dan menunggu untuk kembali keperaduannya yang benar.


 Dara mengangguk pelan sambil tersenyum manis.


"Nggak apa-apa, Mas. Ini kan rumah kamu sendiri. Terserah kamu mau tidur dimana asal sendirian," kekeh Dara menutupi kegelisahan hatinya saat ini.


 Fatan menggaruk tengkuknya sambil beranjak berdiri dan menggamit tangan istrinya, untuk di ajaknya ke kamar.


 Setelah sampai di kamar, Dara mematikan lampu utama, menghidupkan lampu tidur yang redup kemudian menghidupkan AC dalam derajat yang di butuhkan tubuh mereka pelan-pelan.


"Indi gimana, Sayang? Udah kamu tanyain ada apa dia bisa pulang semalem ini?"


 Dara mendekati suaminya dan masuk ke dalam satu selimut.


"Belum aku tanyain, Mas. Belum sempet, udah besok aja sekalian deh pas kita semua sarapan bareng. Sekarang kita tidur dulu," ujar Dara sambil mendahului Fatan untuk memejamkan matanya.


 Fatan memeluk Dara erat, sambil berusaha memejamkan matanya. Cukup lama sampai akhirnya Dara tampak mulai pulas tertidur.


 Fatan tersenyum puas, kemudian perlahan menurunkan Dara dari pelukannya dan meraih ponselnya di dalam kantong celana bola yang di kenalannya di balik sarung.


"Maafin Mas ya, Sayang. Tapi Mas terpaksa lakuin ini, Mas nggak akan lama tenang aja. Cuma perlu waktu sebentar buat menuntaskan hajat ini, sekali lagi Mas mohon maafin Mas."


 Fatan membawa ponselnya dan perlahan berjalan keluar sambil menatap Dara penuh rasa bersalah. Namun tak sedikitpun rasa bersalah itu mampu membuat kakinya berhenti melangkah.


 Berbagai macam bayangan berkecamuk dalam kepalanya, membuat Fatan kembali bersemangat untuk pergi keluar kamar. Sembari memegangi sarungnya yang akan melorot dan sedikit membungkuk menutupi tegaknya keadilan yang tak boleh dilihat oleh siapapun yang tidak di kehendaki oleh Fatan.


 Fatan kembali menggumam lirih.


"Semoga kamu nggak akan pernah tau hal ini ya, Sayang. Mas masih cinta banget sama kamu, biarpun hal ini juga mulai menjadi candu Mas belakangan ini. Sekali lagi Mas minta maaf, tolong jangan bangun sampai Mas balik lagi ke kamar ini."


Ceklek


Pintu kamar tertutup, meninggalkan gelap yang menyelimuti. Seakan kelam itu berada tepat di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2