TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 183. KAMPUNG TERIAK KAMPUNG.


__ADS_3

"Aahhh, berisik banget sih? Bisa ngurus anak nggak sih? Berisik tahu nggak! Jangan tahunya bikin aja nggak bisa ngurusnya! Nangis mulu kayak kaset rusak!"


 Dara dan Bu Ambar saling pandang. "Loh, suara siapa itu?"


 Cepat cepat Bu Ambar dan Dara melangkah naik ke teras rumah, dan melongokkan kepalanya ke dalam rumah. Walau mereka tahu itu tidak sopan tapi rasa penasaran mendominasi semuanya.


"Heh! Siapa kalian? Kenapa ngintip ngintip di rumah orang?" bentak seorang perempuan yang tampak masih sangat muda itu, perempuan itu berdiri berkacak pinggang sembari menatap Dara dan Bu Ambar dengan tatapan tajam menantang.


" Harusnya saya yang tanya kamu itu siapa? Kenapa bisa sampai ada di sini?" Bu Ambar tak mau kalah, malah kini mertua dari Dara itu sudah berdiri di muka pintu dengan tangan terlipat di dada.


"Ada apa ini ribut ribut?" seru seseorang yang baru saja muncul dari dalam rumah.


 Bu Ambar mengalihkan tatapannya pada orang itu, seorang wanita yang kira kira seumuran dengannya berdiri dengan anggun di sana. Pakaiannya pun tampak mahal dengan rambut di sanggul rapi, tapi tetap saja Bu Ambar tak mengenali mereka begitu pula dengan Dara. Dia sendiri jadi bingung kenapa ada orang asing yang masuk ke dalam rumah yang di sewanya untuk Indi.


"Saya yang harusnya tanya, sekali saya tanya kalian ini siapa? Kenapa ada di sini?" Bu Ambar menambahi.


 Wanita tadi tampak mendekati perempuan yang lebih muda, tampaknya mereka adalah ibu dan anak. Pembaca pasti sudah bisa menebak tapi kita main tebak tebakan aja dulu ya.


"Siapa kami? Ya kami keluarganya yang punya rumah ini lah, kenapa? Pasti kalian tetangga di sini yang iri ya? Atau ... mau minjem duit di sini? Maaf ya tapi kayaknya menantu saya yang kaya itu nggak akan kasih deh, secara dia baru aja ngabisin uang banyak buat saya dan anak saya yang sudah sah jadu istrinya ini," wanita bersanggul itu menjelaskan tanpa ada yang bertanya, dan lucunya lagi gayanya sengaja di sombong sombongkan tanpa tahu siapa lawan bicaranya saat ini.


 Dahi Dara dan Bu Ambar tampak sama berkerutnya bahkan kini mereka saling pandang dan tampak menahan tawa.

__ADS_1


"Maaf, tapi ... ibu dan adek ini yakin nggak salah rumah?" tanya Dara dengan nada suaranya yang seperti biasa, lemah lembut saat bicara dengan yang lebih tua.


 Wanita bersanggul itu mencebik, pun demikian dengan sang putri yang tampak angkuh dan arogan itu.


"Ya nggak lah, wong sekarang menantu saya yang kaya itu aja ada di dalam kamar kok. Habis ritual malam pertama sama anak saya yang cantik jelita ini," gumamnya sombong.


 Dara semakin bingung, jadi dia mulai bicara pada intinya saja.


"Maaf, Bu tapi setahu saya yang tinggal di sini Indi dan ibunya, Bu Maryam. Lalu ... kenapa dari tadi ibu sebut menantu? Menantu yang mana? Di sini kan cuma ada Indi, Bu Maryam sama bayinya?" papar Dara.


 Wanita bersanggul itu memutar bola matanya malas, lalu berjalan pelan mendekati Bu Ambar dan Dara yang berdiri di muka pintu.


"Ya suaminya si Indi itu, menantu saya."


"Iya, saya istri ke dua Mas Fatan. Kenapa? Kok kaget begitu? Belum pernah liat wanita secantik saya ya?" tanya gadis muda yang tak lain sebenarnya adalah intan itu sambil berjalan berlenggak lenggok dan mengibaskan rambutnya ala ala model.


"A- apa? Istri ke dua?" gumam Dara tak percaya, terlebih fisik gadis itu yang tampak masih seperti gadis belasan tahun, belum cocok untuk menikah apalagi menjadi istri ke dua.


 Dengan mata membelalak lebar Bu Ambar maju, memindai lekat wajah Intan dengan tatapan jijik.


"Jadi kamu pelakor?"

__ADS_1


 "Jaga bicara anda ya nenek tua!" Intan menyodorkan telunjuknya ke hadapan Bu Ambar, seolah lupa kalau saat ini dia bukan lagi berada di desa dimana bapaknya punya pengaruh dan hampir semua warga pro dengan keluarganya.


  Bu Ambar menatap telunjuk di depan matanya itu dengan geraman rendah, wajahnya mulai mengeras pertanda emosinya siap meledak.


"Kamu ...."


"Apa? Kamu pikir karna sudah tua maka aku akan takut begitu? Tidak akan! Aku Intan, putri kesayangannya Bapak Sukri utomo, orang yang paling dihormati di desa ....."


 Intan menggantung kalimatnya seolah baru menyadari dimana dia berada sekarang, perlahan tangannya tersurut mundur begitupun wajah cantiknya yang tadi terlihat garang perlahan mulai melunak.


"Apa? Kenapa tidak di teruskan? Baru sadar ada dimana sekarang, iya? Duh duh, pelakor muda yang malang." Bu Ambar melipat tangannya di dada sambil tertawa meremehkan.


"Hei! Berhentilah mengatakan anakku pelakor! Kau tidak tahu apa apa dan bukan siapa siapa! Lalu kenapa seenaknya menghakimi orang? Lagipula anak saya ini bukan pelakor seperti yang kamu tuduhkan ya! Kalau punya mulut itu di sekolahkan biar tidak sembarangan mengatai orang!" amuk Bu Sukri membela anaknya, bahkan tangannya yang kini terangkat menggantikan telunjuk intan menuding Bu Ambar.


"Lalu apa namanya wanita muda yang mau menikah dengan pria beristri kalau bukan pelakor ha? Wanita simpanan? Atau apa? Lagi pula sejak tadi yang bicara tidak sopan itu bukannya kalian? Saya dan anak saya ke sini untuk menjenguk Indi tapi kenapa malah kalian yang ada di sini? Ini bahkan bukan rumah kalian!" Bu Ambar menepis telunjuk Bu Sukri dari hadapannya dengan kasar, hingga Bu Sukri tersurut mundur karna tak siap dengan dorongan Bu Ambar yang kuat.


 Tangan Bu Sukri tampak terkepal marah, namun anehnya sejak tadi mereka ribut di depan namun tak ada satupun penghuni lain di rumah itu yang keluar. Seolah tidak mendengar keributan yang terjadi di teras rumah itu. padahal rumah itu juga tidak bisa di katakan besar hingga suara ribut di teras saja bisa tidak terdengar.


"Pergi kalian dari sini! Jangan membuat keributan di rumah orang! Dasar orang kampung!" Intan berseru marah tanpa memikirkan ucapan yang terlontar dari mulutnya.


"Hei! Harusnya kalian yang pergi dari rumah ini, sebab ini rumah anak saya!" bentak Bu Ambar membuat intan dan Bu Sukri terdiam seketika.

__ADS_1


"Hah? Apa katamu tadi? Coba ulangi sekali lagi?" ujar Bu Sukri dengan nada suara yang lebih pelan dari tadi.


  Bu Ambar tersenyum miring, biarlah berbohong sedikit setidaknya dia bisa mengusir orang orang tidak berkepentingan ini dari rumah yang biaya sewanya di bayarkan oleh menantunya.


__ADS_2