TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 251.


__ADS_3

Di perjalanan pulang.


"Sayang awas! Ada batu!" seru Halim memperingati istrinya.


Gabruk!


 Terlambat, karna terlalu banyak melamun Laila akhirnya jatuh tersandung dan jatuh dengan bertumpu pada telapak tangan dan lututnya.


 Cepat cepat Halim langsung memeriksa tubuh istrinya, dia takut jika benturan itu akan berpengaruh pada sang jabang bayi yang masih sangat kecil di dalam kandungan sang istri.


"Sayang kamu nggak papa?" seru Halim cemas.


 Laila meringis merasakan telapak tangan dan lutut nya yang pedih karna mencium aspal, namun sejauh ini dia masih merasa baik baik saja.


"Nggak papa kok , Mas. Cuma perih aja ini tangannya," tunjuk Laila pada telapak tangannya yang lecet dan mengeluarkan darah.


 Halim cemas, tanpa pikir panjang lagi dia langsung menyobek bagian bawah kaos oblong yang di kenakannya dan membalut luka di tangan sang istri.


"Apa ada yang lain yang sakit? Maksud Mas, perut kamu?" bisik Halim menurunkan nada suaranya.


 Laila menggeleng dan tersenyum kecil. "Alhamdulillah nggak kenapa kenapa, mas. Kan jatuhnya juga nggak keras."


 Halim langsung menghela nafas lega, namun tetap saja dia butuh kepastian jika memang calon bayinya baik baik saja di dalam sana.


"Nanti kita cek lagi ke dokter, Mas nggak tenang kalau belum mendengar langsung dokter yang bilang kalau anak kita baik baik saja," tandas Halim tegas.


"Ya sudah kalau maunya Mas begitu, tapi gendong ya pulangnya. Kaki Laila sakit ini, mas," ujar Laila manja.


 Halim mengangguk, daripada anaknya yang kenapa kenapa akan lebih baik kalau tubuhnya saja yang remuk karna menggendong Laila sampai ke rumah tidak apa apa, itu lebih baik pikir Halim.


 Hup

__ADS_1


 Halim menahan nafas saat tubuh sang istri sudah naik ke atas gendongan punggungnya, namun demi sang anak di kuatkannya kaki kakinya untuk menopang tubuh sang istri dan mulai berjalan walau rasanya seperti nafasnya mau putus di tengah jalan.


"Laila berat ya, Mas?" celetuk Laila yang bersandar santai di pundak suaminya.


 Halim menarik sudut bibirnya memaksakan senyum terbentuk di sana walau sejak tadi dia tak bisa mengontrol lobang hidungnya agar tak terus mengembang.


"Eh, ng- nggak khhookkkkkk."


"Loh? Kok jawabnya kayak gitu, Mas? Kalau berat bilang aja Laila turun, biar aja Laila jalan kaki sendiri pulang ke rumah terus nanti kaki Laila bengkak gara gara di paksa jalan dan harus di rawat di rumah sakit nantinya," ancam Laila menggunakan jurus andalan wanita yang sumpah sangat susah di mengerti.


 Halim langsung tertawa getir. "Nggak papa kok, sayang. Sudah kamu tenang aja di sana ya, pegangan yang erat. Mas kuat kok kalau cuma gendong kamu sampai rumah."


UPS


 Lagi lagi Halim merasa masuk ke dalam jebakan Betmen, tampak dari wajah Laila yang lagi lagi mengkerut setelah mendengar ucapannya.


"Jadi kalau gendong Laila ke tempat lain Mas nggak kuat gitu?" sungutnya membuat Halim ingin menangis guling guling saat ini juga ketimbang harus beradu argumen dengan sang istri yang moodnya sedang berubah ubah pasca kehamilan rahasianya itu.


"Loh, sayang? Kenapa kok malah turun?" tanya Halim kebingungan, sungguh jika bisa memilih Halim akan lebih memilih bertarung melawan banteng ketimbang harus menghadapi istrinya yang sedang ngambek begini.


 Laila yang sedang dalam mode ngambek bin merajuk malah bersungut-sungut dan mengeluarkan lagi jurus andalannya sebagai perempuan hamil.


"Mas dari tadi Laila ajak ngomong bukannya jawab malah diam aja, Mas udah bosen sama Laila? Iya? Mas mau cari istri lagi? Mas mau Laila di poligami kayak Mbak Indi itu, iya? Iya kan, Mas? Huhuhu, kalo tahu dengan bisa hamil begini malah membuat Mas berpaling dan mau cari istri lagi, tahu begitu Laila nggak usah hamil sekalian, Mas. Mending Laila pura pura aja biar Mas turuti maunya Laila terus, nggak kayak gini. Baru di minta gendong sedikit aja ngeluh!"


 Air mata Laila merembes membahasi jilbab instan yang di kenakannya, sedang Halim kini malah seperti kambing congek yang bingung harus bagaimana menghadapi moodswing istrinya itu.


"Sudah Mas! Nggak usah sandiwara sok baik lagi sama Laila, dasar laki laki buaya buntung. Sana, Mas! Kalo memang kamu mau cari istri kedua sana! Cari saja sama kamu, tapi jangan pernah berharap kalau anak ini akan tahu kalau kamu bapaknya. Aku bakalan bawa dia jauh dari kamu, Mas kalo kamu berani main api di belakang aku!" bentak Laila lagi tanpa jeda dan tak bisa di tahan, hingga beberapa warga yang rumahnya ada di dekat tempat mereka berdiri sekarang mulai mengintip dan mendengarkan, sangat kepo sekali.


 Tak inginm menjadi bahan gunjingan warga lagi, akhirnya Halim mendekati sang istri. Di rangkulnya pundak Laila dan mendekapnya erat, lalu menjatuhkan sebuah kecupan di keningnya dengan mesra, walau dia tahu sedang di saksikan oleh beberapa pasang mata yang mengintip diam diam dari celah pagar rumah masing-masing.


"Shhhh, sudah ya sayang. Jangan marah marah terus, nanti kalau kamu marah kan kasihan anak kita yang masih di dalam perut ini, nanti dia stress loh kalo denger mamanya marah marah begini. Apalagi dia di dalam perut kamu sendirian kan? Nanti dia takut gimana? Kan bisa saja dia mengira kamu lagi marahin dia? Sudah ya, jangan marah marah lagi sayangku," bujuk Halim lembut.

__ADS_1


Laila masih bersungut-sungut, hingga akhirnya salah satu dari warga yang tengah mengintip itu tak tahan untuk ikut nyeletuk.


"Wah, Mbak Laila sudah hamil ya? Selamat ya, Mbak!"


"Iya iya, selamat ya! Ternyata yang katanya Mbak Laila mandul itu cuma mitos!"


"Ayo Pak dokter, bikinin kembaran buat anaknya, biar nggak sendirian di dalam perutnya."


 Halim terkekeh mendengar yang terakhir itu, belum lagi wajah Laila yang kini justru berubah menjadi merah padam. Lalu tangamnya dengan lincah bergerak mencubit perut Halim.


"Dasar lemes!" geramnya tertahan, padahal Halim sendiri yang meminta agar kehamilannya di rahasiakan, tapi ujung ujungnya dia juga yang membeberkannya, sama warga pula. Dasar Halim sedeng.


 Halim meringis memegangi perutnya yang terkena cubitan maut dari sang istri, namun semua itu tak akan ada artinya ketimbang melihat senyuman terkulum di bibir mungil istrinya yang kini mulai kembali berjalan dengan langkah terseok-seok, mungkin benar jika kakinya masih terasa sakit akibat jatuh tadi.


 Maka dengan sigap Halim langsung berlari menuju sang istri dan berjongkok di depannya, mempersilahkan istrinya naik ke atas gendongannya seperti tadi.


"Silahkan Ratuku, punggung ini akan sentiasa kuat menopang dirimu kemanapun," gombal Halim yang langsung mendapat sorakan dari warga warga yang mengintip.


 Namun nyatanya hal itu sukses membuat Laila tersenyum cerah, dan setelah kembali naik ke gendongan Halim, Laila berbisik. "Habis ini beliin seblak, bakso mangkok sama es teler ya."


 Halim mengangguk. "Siap ibu Ratu, selama belum Civic yang di minta insyaallah saya masih kuat."


Pletaakkkk


 Laila menjitak kepala Halim saking gemasnya.


"Romantis banget sih suaminya," ucapnya sambil membuang batu yang tadi gunakan untuk menjitak kepala Halim dengan raut wajah puas.


*Hahahah rasain kaooo Halim! Perempuan Hamil kok di lawan.


*Bentar lagi tamat, setelah ini pindahan ke Novel SUAMIKU AJAIB' yah, yayayyayayaya.

__ADS_1


*Yang pengen sharing sama author misal ada yang mau kisah hidupnya di bikin novel bisa ya, yuk bisa yuk. Mau kontaknya author buat sharing? Nanti di share di bab selanjutnya ya, dadah.


__ADS_2