TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 227. MENGIKHLASKAN.


__ADS_3

Desau angin yang berhembus membelai wajah seorang perempuan yang tengah menangis di depan sebuah pusara yang masih tampak baru, kelopak bunga yang tersebar di atas pusara tersebut masih tampak segar dan menguarkan aroma wangi. Sesekali tetesan air mata dari pelupuk mata si perempuan menetes membasahi tanah merah makam tersebut.


"Bu, apa kabar? Ibu lagi apa di sana? Apa ibu baik baik saja? Di sana dingin nggak, Bu? Intan pengen sekali nyusul ibu, kenapa ibu ninggalin Intan? Intan sendirian sekarang, Bu. Bapak tidak sedekat itu dengan Intan sejak dulu, ibu tahu sendiri kan? Dan sekarang, setelah ibu nggak ada Intan sangat merasakan arti kehilangan, Bu."


 Perempuan itu, Intan. Menyugar rambut panjangnya yang beterbangan tertiup angin, di sekanya wajah yang basah oleh air mata dan di paksa nya selarik senyum muncul di wajahnya a yang mulai tirus.


"Kira kira kapan ya, Bu intan bisa ketemu ibu lagi? Toh di sini juga tidak ada yang menginginkan Intan, Bu. Intan lelah sebenarnya, tapi ... intan bisa apa? Bahkan Mas Fatan pun seolah tidak berniat mencari Intan. Apa ini salah kita juga ya, Bu? Meninggalkan Mas Fatan begitu saja waktu itu sampai dia marah? Kalau benar begitu tentunya sekarang Mas Fatan pun tak akan mau lagi bertemu dengan Intan. Hah, sesakit ini rupanya rasanya tidak di harapkan."


 Intan diam, membaringkan kepalanya ke sisi papan nisan yang bertuliskan nama ibunya. Air mata yang sejak tadi menetes deras kini mulai surut dan mengering. Di tariknya nafas dalam, menghidu aroma tanah basah dimana jasad sang ibu berbaring di dalamnya.


 Desau angin kembali membelai wajahnya, cuaca yang mendung tanpa terik sinar mentari membuat suasana di pemakaman yang sunyi itu menjadi sejuk dan nyaman. Dan entah bagaimana intan mulai tertidur di sana, dalam posisi meringkuk di sisi pusara ibunya seolah memeluknya dalam tidur.


"Nak, maafkan ibu. Maafkan ibu tidak bisa menemanimu lebih lama lagi di dunia yang fana ini. Maaf, ibu harus pergi lebih dulu menghadap sang Khalik, ibu ... ibu sebenarnya sangat ingin lebih lama bersamamu, Nak. kau tahu itu kan? Tapi apa mau di kata, takdir lah yang memegang kendali atas semuanya, sekarang bertahanlah ya jaga dirimu baik baik, dan satu lagi tolong sampaikan permintaan maaf ibu pada bapakmu ya. Katakan padanya kalau sebenarnya ibu sangat mencintainya, selalu menyayanginya dan tak pernah berpikir untuk mengganti kan posisinya di hati ibu. Yang kuat ya, Nak ibu akan selalu mengawasi mu dari atas sana."


 Intan tersentak bangun, setelah sebait kata seperti nasihat dari ibunya menggema di telinganya dan meresap ke dalam hatinya. Di tatapnya nanar keadaan sekeliling, suasana sudah mulai senja angin dingin mulai bertiup berbarengan dengan burung burung malam yang bersiap keluar dan berpapasan dengan saudaranya yang hendak pulang ke sarang.


"Intan, ya Allah ... di sini rupanya kamu, nak. Ya Allah, bapak khawatir sekali sama kamu," seru Pak Sukri yang datang dengan mengendarai motor bututnya, berlari kecil mendapati tubuh intan yang masih membeku di depan makam sang ibu.


Intan diam saja saat Pak Sukri menubruk tubuhnya dan memeluknya erat erat m. Pak Sukri tergugu, namun intan masih bergeming di tempatnya bahkan tingkahnya seolah tak sadar jika ada sang bapak di sana.


"Intan ... nduk, ayo kita pulang ya. Sudah hampir gelap, besok kamu bisa ke sini lagi. Sekarang kita pulang dulu ya, Nduk." Pak Sukri melerai pelukannya dan menarik tangan intan untuk bergegas dari sana.


 Tapi tubuh intan seolah terpatri di tempatnya, dia termenung tatapan matanya terasa kosong dan hampa. Bibirnya terkatup rapat seolah tak menyadari tarikan tangan Pak Sukri.


"Nduk? Kamu dengar bapak to?"


 Intan masih diam, tak merespon apa apa walau sedikit jua. Pak Sukri mulai panik, terlebih kala itu suasana sekitar sudah semakin gelap dan suara puji pujian dari masjid kampung sudah mulai terdengar.


 Tanpa aba aba, Pak Sukri langsung saja membopong tubuh anaknya keluar dari area pemakaman tersebut. Di naikkannya tubuh Intan ke atas sepeda motornya dan langsung menghidupkannya.


 Suara motor butut yang bising memecah keheningan senja itu, suara lantunan adzan terdengar tak lama setelah mereka berjalan hampir dua ratus meter dari areal pemakaman. Pak Sukri memacu kendaraannya semakin cepat. Sembari memegangi tangan intan yang sengaja dia lingkarkan ke perutnya agar tidak terjatuh.


 Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan rumah, Pak Sukri membimbing intan masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintunya rapat rapat dan tak lupa menguncinya dari dalam. Setelah itu beliau langsung duduk di dekat Intan yang masih saja diam tak bergeming sama sekali di kursi ruang tamu.


"Nduk, apa yang terjadi? Kenapa sejak tadi kamu diam saja? Apa bapak ada salah sama kamu? Bicaralah, Nduk bapak minta maaf jika itu benar. Tolong jangan begini, Nduk maafkan bapak. Maafkan bapak karna tidak terlalu peduli padamu. Maafkan bapak ya," tutur Pak Sukri mulai terisak.


. Intan mulai merespon, di lirikkannya matanya ke arah Pak Sukri walau mimik wajahnya masih datar seperti sebelumnya.


"Pak," gumamnya lirih, lirih sekali bahkan hanya serupa bisikan.


 Pak Sukri mendekat agar bisa mendengar perkataan intan lebih jelas lagi.


"Ya ya, Ini bapak Nak. Katakan lah, apa yang ingin kamu sampaikan pada bapak?" cecar Pak Sukri cepat.


 Intan kembali menatap lurus, Pak Sukri memegang tangannya dan terasa dingin di sana.


"Ibu bilang ... ibu minta maaf sama bapak. Ibu tidak sengaja melakukan semua kesalahan itu sama bapak. Ibu juga bilang, ibu masih cinta dan sayang sama bapak. Jadi ... Intan mohon, tolong maafkan lah ibu dengan tulus, Pak. Doakan ibu karna hanya itu yang di butuhkan ibu saat ini," gumam intan lagi.


 Pak Sukri seperti tertampar oleh kata kata anaknya, di tatapnya lekat foto almarhumah Bu Sukri yang masih terpajang di dinding rumahnya.

__ADS_1


 Air mata Pak Sukri mulai berkumpul di pelupuk matanya, tangisnya tak terbendung walau dia sudah berusaha menahannya sekuat tenaga.


"Iya, nduk. Bapak sudah memaafkan ibumu. Semuanya sudah bapak maafkan, bapak juga masih sangat mencintai ibumu, sangat sangat mencintai ibumu, nduk. Dan ya, bapak akan mengirimkan doa untuk ibumu, kita doakan ibumu sama sama ya.".


 Intan mengangguk lemah, dan menyunggingkan segaris senyum tipis sembari menatap foto ibunya di dinding sana.


"Ya sudah." Pak Sukri menyeka air matanya. "Sekarang kita langsung sholat maghrib dan lanjut mendoakan ibumu ya. Kita kirimkan juga bacaan surah Yasin untuknya supaya tenang di sana."


 Intan mengangguk dan menuruti ajakan bapaknya untuk melaksanakannya sholat maghrib berjamaah bersama. Setelah itu mereka melanjutkan membacakan surah Yasin dan tahlil di khususkan untuk almarhumah Bu Sukri agar arwahnya tenang di alam sana.


 Dan tanpa mereka sadari, di sudut kamar yang mereka gunakan untuk sholat. Di sudut gelap yang tak terjangkau sinar lampu, tepatnya di sisi pintu. Berdiri sosok Bu Sukri dengan tampilan sebagaimana terakhir kali dia bersama Intan. Menyunggingkan senyum yang sangat tipis namun matanya meneteskan air mata.


"Terima kasih ... terima kasih banyak sudah sudi memaafkan ku, Mas. Sekarang, aku bisa lebih tenang untuk pergi ke alamku. Selamat tinggal, sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya. Aku menyayangimu, Mas. Ibu menyayangi mu, Nak. Jaga diri kalian baik baik ya."


 Dan setelah mengucapkan itu, walau tak ada yang bisa mendengar perlahan sosok itu hilang. Membaur dengan angin yang berhembus dan pergi dengan damai. Tepat di hari ke empat puluh setelah tanggal kematiannya.


****


 Dara dan bayinya sudah di perbolehkan pulang, kini mereka semua sudah berkumpul di rumah Dara. Bu Ambar memilih tinggal di sana sementara sampai Dara lebih baik dan bisa mengurus bayinya dengan baik dan mandiri. Tapi sebenarnya alasan sebenarnya karna Bu Ambar ingin selalu menjaganya agar tak ada orang usil yang akan merusak mental Dara dan membuatnya menjadi baby blues.


"Sudah di minum obatnya, Nak?" tanya Bu Ambar yang baru saja selesai menjemur si kecil.


 Dara tersenyum dan mengangguk samar. "Sudah, Bun. Masakan bunda memang selalu terbaik."


 Bu Ambar mengulas senyum tipis. "Kamu ini bisa saja memujinya, masakan kamu jauh lebih enak ketimbang masakan bunda. Pokoknya habis ini gantian kamu yang masakin bunda sering sering ya," kekeh Bu Ambar sembari membuka pakaian si kecil agar tidak gerah.


 Dara tergelak. "Insyaallah, Bun. Dara akan masakin apapun yang bunda mau setelah lebih sehat nanti."


 Suasana rumah terasa agak sepi, Zaki bekerja sedangkan si kembar yang sudah masuk sekolah dasar sudah berangkat lebih pagi ketimbang biasanya. Mereka akan di antar oleh Zaki saat pagi dan pulangnya nanti akan di jemput oleh Elis. Dan jika pagi begini, Elis akan berada di rumah Dara membantunya merawat rumah dan si kecil.


Tok


Tok


Tok


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Dara yang tengah sibuk menatap wajah bayinya, bayi yang tengah asik menyusu itu seolah tak terganggu sama sekali oleh perlakuan ibunya malah dia memejamkan mata saking menikmati hidangan yang tersedia untuknya.


"Mbak? Elis boleh masuk?" tanya Elis menyembulkan kepalanya dari ambang pintu yang memang tidak tertutup.


 Dara mengangguk. " Masuk saja sih, Lis memangnya siapa yang ngelarang? Kecuali kalo itu pintu terkunci baru nggak boleh. Tapi kan ini Mas Zaki masih libur, jadi kayaknya bakalan lama lagi deh itu pintu baru di kunci," kekeh Dara bercanda.


 Elis melangkah masuk sembari menahan tawa, ingin tertawa lepas tapi dia takut membangunkan bayi kecil yang ada di dalam dekapan ibunya itu. Elis mengambil tempat duduk di sisi ranjang Dara dan menatap gemas bayi mungil yang tampak kuat menyusu itu.


"Gemes ya, mbak? Rasanya pengen gigit," kekeh Elis, menyolek pipi tembam si bayi.


"Heh, sembarangan. Ini Mbak yang ngeluarin saja rasanya belum hilang perihnya, ini kamu seenaknya saja mau gigit. Bikin sendiri gih kalo mau di gigit gigit," balas Dara tertawa pelan.


 Elis begidik. "Ih nggak dulu ah, masih takut Mbak."

__ADS_1


"Halah gayanya sekarang takut, nanti kalo sudah merasakan nagih," ujar Dara mencebik.


"Apaan sih, Mbak Dara ah." Elis menutupi wajahnya yang merona malu.


 Tak lama candaan mereka pun terpaksa berhenti kala Bu Ambar masuk sambil membawa sepanci air panas yang akan dia pakai sebagai campuran air mandi si bayi.


"Lis, tolong kembalikan pancinya ke dapur dong." Bu ambar keluar dari kamar mandi dan menyodorkan panci bekas memasak air panas tadi pada Elis.


"Oke, Bu." Elise menerima panci itu gegas membawanya keluar.


 Sedangkan Bu Ambar beranjak ke ranjang Dara dan menatap wajah cucunya dengan ekspresi tak sabar.


"Masih kuat ya nen nya, Dara? Duh bunda nggak sabar pengen mandiin," ujar Bu Ambar terkekeh kecil.


"Sudah nggak kok, Bun paling sebentar lagi sudah ini. Toh nanti habis mandi bakalan nyusu lagi dia," sahut Dara.


"Ya sudah, bunda siapkan baju gantinya dulu."


 Bu Ambar beranjak, mengambil pakaian ganti, bedong dan tak lupa rangkaian skinker bayi yang sudah di persiapkan lengkap oleh Dara sebelum sebelumnya.


 Dan tepat setelah semuanya siap, si bayi juga sudah selesai menyusu.


"Nah, sudah selesai ya anak cantik nen nya. Yuk mandi dulu sama Oma yuk," ajak Bu Ambar seolah bayi mungil itu mengerti ucapannya.


 Bu Ambar meraih tubuh si bayi dari pangkuan Dara dan menciuminya sejenak sebelum meletakannya kembali ke atas kasur dan mulai membuka pakaiannya satu persatu dengan hati-hati.


 "Ya ampun, Bun lihat dia menggeliat." Dara berkata takjub melihat bayinya yang menggeliat kala pakaiannya di buka, seluruh tubuhnya tampak memerah dan sangat menggemaskannya.


 Dara tampak sangat antusias, sebab ini menjadi pengalaman pertamanya, sebab dulu saat si kembar masih bayi semua urusan mereka di urus oleh Bu Maryam dan Dara tak di izinkan mengambil keputusan apapun atas anak anaknya karna Bu Maryam menilainya belum mampu. Jadi semua tentang si kembar Bu Maryam yang mengurus hingga memberikan MPASI dini dulu saat mereka masih bayi, dan Dara tak ingin itu semua terulang kembali kini.


 Bu Ambar langsung membawa si bayi ke kamar mandi, tak lama sebuah tangisan melengking terdengar dari sana. Dara langsung menegang dan merasa was was takut anaknya kenapa kenapa, namun ketegangannya berangsur membaik setelah mendengar suara Bu Ambar yang berusaha membujuk anaknya T walau masih menangis tapi setidaknya Dara tahu tak ada yang perlu di khawatirkan.


"Nah, sudah selesai kan? Pinter cucu Oma ya, sudah mandi, sudah wangi ini." Bu Ambar keluar dari kamar mandi dengan menggendong si bayi yang sudah di mandikan dan kini berbalut handuk menuju ke atas kasur.


 "Tadi kenapa nangis keras begitu, bun?" tanya Dara masih belum tenang jika belum mendengar kesaksian langsung dari sang ibu mertua.


 Bu Ambar mengulas senyum. "Nggak papa, namanya bayi wajar kalau kaget pas nyentuh air. Nanti semakin besar juga nggak lagi, karna akan terbiasa sendiri."


 Dara manggut-manggut paham, di lihatnya dengan seksama cara Bu Ambar memakaikan pakaian si bayinya dengan cekatan namun tampak tak kesulitan sama sekali. Malah si bayi tampak anteng karna tak perlu menunggu lama untuk selesai berpakaian dan di bedong juga.


"Nah, selesai. Coba sini Oma mau cium dulu, ummm ... wanginya cucu Oma," ujar Bu Ambar tampak puas menatap cucunya yang kini sudah anteng dalam balutan bedong berwarna peach yang dia belikan tempo hari. Bahkan pita berwarna senada juga ikut menghiasi kepala si bayi yang sudah di tumbuhi rambut sejak dari dalam kandungan itu.


 Dara juga tampak tersenyum kecil menatap kemesraan ibu mertuanya dan bayinya.


 Namun di saat tengah asik menatap mereka, suara ketukan di pintu depan membuyarkan lamunannya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Mbak Dara, tolong saya Mbak!"


__ADS_2