
"Kenapa harus minta izinku?" sambar Dara ketus. Dia baru saja pulang dari butik dan sudah di suguhi pemandangan tak mengenakkan di tambah dengan pernyataan Bu Maryam yang hendak menikahkan Fatah dan Indi secepatnya.
"Haish, kamu lupa kalau kamu dan Fatan belum resmi bercerai. Jadi ya tentu saja butuh izin kamu kalau Fatan menikahi Indi." Bu Maryam bersungut-sungut, karena merasa Dara hanya akan menghambat rencananya saja.
Fatan dan Indi yang kini duduk berdampingan di hadapan Dara hanya menunduk tak berani menatap wajah Dara sedikit pun.
"Apa benar begitu, Mas? Kamu mau menikah dengan Indi?" tanya Dara menekan setiap kalimatnya sambil menatap tajam Fatan dan Indi.
Dara menaikkan satu kakinya ke atas kaki yang lain, menunjukkan kalau dialah yang kini berkuasa atas kehidupan mereka. Dia sudah lelah menjadi orang baik namun akhirnya hanya di injak-injak.
Fatan tampak gelagapan, sesekali tangannya mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipis.
"Jawab, Mas! Yang tegas jadi laki-laki. Jangan cuma tegas di belakang doang!" sentak Dara membuat Fatan terkesiap di tempatnya.
"I- iya ... tap- tapi ...."
"Nah kan ibu bilang juga apa, mereka mau menikah Adara. Makanya butuh persetujuan kamu." Bu Maryam menuding.
Dara mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan tak suka.
"Oh ya? Menikah butuh persetujuan aku, tapi berbuat nggak butuh izin dari aku. Wah, wah, wah, hebatnya." Dara malah bertepuk tangan dengan sinis memindai wajah tegang Fatan dan Indi yang di matanya begitu memuakkan.
Bu Maryam langsung kicep, dan kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan Dara yang singkat namun padat tersebut.
Bu Maryam menoleh sana sini, berusaha mencari jawaban apa yang sekiranya masuk akal dan bisa membuat Dara meluluskan permintaannya. Sedang Fatan dan Indi semakin dalam menyembunyikan ceruk wajahnya dengan menunduk dalam, merasa malu dan sungkan pada Dara yang menyindir mereka dengan telak.
Rasanya belum apa-apa saja mental mereka sudah terpukul mundur.
"Katakan, Mas. Apa kamu benar-benar mau menikahi gundik ini?" sergah Dara tak sabar, tangannya terangkat mengacung pada Indi yang meliriknya tak suka namun tak bisa memprotes apa-apa.
Lagi, Fatan berusaha mengangguk walau hatinya kini malah galau. Antara memilih ya atau tidak. Namun karna sudah kepalang basah kuyup ujub, akhirnya mau tak mau Fatan memilih mengiyakan.
__ADS_1
Dara melipat tangan di depan dada, dan menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa.
Air matanya menetes di pipi, hanya satu tetes tidak lebih. Itu juga hanya sekedar mewakili hatinya yang jujur saja masih terasa perih hingga saat ini.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kamu bisa langsung tanda tangan surat gugatan cerai ini." Dara menyodorkan sebuah map yang bertuliskan logo sebuah lembaga pengadilan agama.
Fatan menerimanya dan hendak membaca lebih dahulu isi dari surat gugatan tersebut. Namun Indi cepat memberikan sebuah pulpen padanya dan mendesaknya untuk langsung menandatanganinya saja.
"Wah, wah. Sepertinya gundik ini sangat tidak tahan untuk bisa menguasai 'bekasku'," sindir Dara telak.
"Mbak!" Indi menuding wajah Dara. Namun dengan santai Dara menurunkan telunjuk Indi dari depan wajahnya dan tersenyum menyeringai.
"Apa? Yang aku katakan benar bukan?"
Indi mengatupkan rahangnya kuat-kuat, rasanya geram sekali untuk mencakar wajah kakaknya itu. Namun dia urungkan mengingat dia dan ibunya masih butuh makan dan tempat berteduh di rumahnya.
"Baiklah, Fatan." Dara sengaja memanggil Fatan dengan nama, tanpa embel-embel Mas seperti biasanya. "Karna gundikmu itu sudah tak sabar, silahkan langsung saja kamu tanda tangani surat itu, dan ya kalau kamu tidak mau berbelit-belit di sidang nanti. Aku harap kamu tidak usah datang sekalian."
Fatan terperanjat, dia tidak menyangka sama sekali kalau Dara yang sejak dulu begitu mencintainya kini bisa berbalik memusuhinya, bahkan untuk sekedar memanggil Mas padanya saja sudah sangat berat di bibir Dara.
Dara berdecih. "Baiklah, bagus! Lakukan sesuka kalian. Aku tidak peduli lagi."
Dara melangkah meninggalkan mereka untuk menuju kamarnya sendiri. Merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur empuk saksi cintanya dan Fatan sejak pertama kali mereka menikah.
"Kalian jahat, Mas. Kalian jahat!" tangis Dara pecah, pertahanan sekuat benteng takesi itu akhir runtuh juga.
Ya, hati wanita mana yang tak akan sakit. Setelah di khianati kini malah dengan mudahnya mereka meminta izinnya untuk menikah. Entah kata apa yang bisa di gunakan untuk mendefinisikan sakit yang tengah di rasakan Dara saat ini. Hanya menangis sepuasnya yang dia lakukan, berharap setelah ini perasaanya bisa kembali normal.
****
Di rumah Laila.
__ADS_1
"Om ganteng!" seru Farah sambil menyambut kedatangan Halim yang baru saja pulang dari rumah sang bos dan langsung menuju rumah Laila saat melihat si kembar tengah bermain di terasnya.
"Hei, anak cantik. Kalian lagi apa?" tanyanya pada Fatur dan Farah yang tampak tengah asik menggambar dengan krayon.
"Fatur sama Farah lagi gambar pemandangan, Om ganteng." Farah mengangkat kertas gambarnya dan menunjukkannya pada Halim.
"Wah, gambar Farah bagus. Pasti di ajarin Mama ya." Halim menerima gambar itu dan meniliknya.
Kepalanya geleng-geleng melihat hasil gambar Farah yang memang termasuk halus dan rapi untuk ukuran anak seusianya.
Farah mengambil kembali kertas gambarnya dengan wajah murung. "Sebenarnya iya, Mama yang ngajarin Farah gambar. Cuma sekarang Mama suka sibuk terus Farah sama Fatur di titipin di sini terus. Padahal Farah kangen main sama Mama."
Fatur bangkit dan mengusap air mata yang keluar dari netra adik kembarnya itu, jiwa seorang kakak benar-benar ada di dalam dirinya sampai dia selalu merasa tak tega setiap kali Farah menangis.
"Jangan nangis, Farah. Nanti cantiknya ilang," ujar Fatur menirukan apa yang di katakan Elis setiap kali membujuk Farah agar berhenti menangis.
Mendngar suara tangisan Farah, Elis yang tengah mengambil makanan di dapur untuk menyuapi anak asuhnya itu gegas kembali ke teras untuk melihat apa yang terjadi.
"Ya ampun, Farah. Sayang kenapa nangis? Ada yang sakit? Ada yang nakalin Farah ya? Kasih tau Mbak El sayang," bujuk Elis sambil memangku Farah dan mengusap air matanya.
Farah mengusapkan wajahnya ke dada Elis menyembunyikan tangisnya yahg semakin kuat.
"Pasti Bapak ya?" tuduh Elis sambil menunjuk Halim yang terbengong karna bingung apa yang harus dia lakukan untuk membujuk anak kecil yang menangis.
"Enak aja, bukan saya tau!" ucap Halim cepat sambil mengibaskan kedua tangannya di depan.
"Terus ini Farah kenapa? Perasaan tadi sebelum ada Bapak, anak-anak anteng aja gambarnya. Udahlah ngaku aja, pasti Bapak kan pelakunya yang bikin Farah sampe nangis begini." Elis masih kekeh dengan pendapatnya dan tak mau mendengarkan penjelasan Halim sama sekali.
Farah menyentuh wajah Elis, membuatnya otomatis menatap wajah polos dan sembab gadis kecil itu.
"Farah nangis bukan gara-gara Om ganteng kok, Mbak El. Tapi Farah kangen Mama, tapi ... Farah nggak akan nangis lagi kalau Om ganteng mau jadi Papanya Farah."
__ADS_1
Mata Halim membulat lebar, begitu juga Elis yang langsung di merasa begitu syok mendengar permintaan sederhana namun berat yang keluar dari bibir mungil gadis kecil itu.
Fatur berdiri dan menatap Farah kesal. "Fatur nggak mau punya Papa om ini, Fatur maunya yang jadi Papa kita itu Om baik!"