
"Zaki?" desis Dara tak percaya.
Ya, lelaki yang pernah menjadi suami dari adiknya walau hanya dua jam saja itu kini tampak gagah dengan setelah jas hitam lengkap dengan kemeja warna biru langit yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Kacamata minus yang menempel di wajahnya sama sekali tidak mengurangi ketampanannya, malah menambah nipai plus untuk hidung bangir nya yang semakin tampak ramping.
"Mama," panggil Fatur lagi, kali ini sambil menarik ujung baju Dara hingga dara tersadar sudah melamun.
"Eh, ya? Ya?" tanya Dara kaget.
"Gimana? Bolehkan om Zaki jadi papanya Fatur sama Farah? Oma Ambar udah bilang boleh, Ma. Katanya tinggal harus bilang sama Mama, kata Oma kalau mama mau kami boleh bawa om Zaki pulang ke rumah kita jadi Papanya Fatur dan Farah." Fatur menjelas panjang lebar sambil menatap Dara penuh harap.
Dara menggeser pandangannya pada Farah dan gadis kecil itu juga kini melihatnya tak ubahnya sang kakak.
"Ma," lirihnya memelas.
Hati Dara tersentuh, sebegini inginnya dua anaknya mendapatkan pengganti Fatan. Dara tau pasti anak anaknya sakit hati karna di ejek teman temannya hingga harus merengek seperti ini.
Dara berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan anak anaknya.
"Fatur, Farah ... dengerin Mama ya, yang Fatur sama Farah minta itu sesuatu yang nggak mudah, nggak sesederhana itu adanya Sayang. Semuanya butuh proses sampai kalian bisa panggil orang lain dengan sebutan Papa. Dan prosesnya itu nggak sebentar, jadi Fatur dan Farah harus bisa lebih sabar ya berdoa saja terus supaya kalian nanti bisa dapat pengganti Papa Fatan yang lebih baik, nggak harus om Zaki karena pasti om Zaki merasa terbebani nanti kalo kalian terus menerus begini," nasihat Dara pada anak anaknya sambil mengelus rambut mereka.
Mata Fatur dan Farah tampak mulai berkaca-kaca, kabut tebal seakan memenuhi wajah mereka sekarang.
"Tapi ... tapi ... kami sudah malu di ejek, Mama. Lagi pula tadi om Zaki bilang kalo dia mau kok jadi papanya Fatur dan Farah, dan mau juga kok tinggal sama kita. Terus kenapa harus nunggu lagi, Ma? Kan omnya mau?" desak Fatur tampak sedikit memaksa.
Dara tersenyum getir dan membawa kepala Fatur dalam dekapannya.
"Mungkin maksud om Zaki, dia mau jadi om kalian tapi kalau mau ketemu di luar aja jalan jalan. Nggak bisa masuk dan tinggal di rumah kita, nanti om zakinya malah di marahin Tante tetangga," ujar Dara masih mencoba membujuk.
__ADS_1
Wajah Fatur sudah basah oleh air mata.
"Tapi ... tapi ...."
"Sudah ya, Fatur sayang. Nurut sama Mama."
Zaki tiba tiba mendekat dan berbicara lembut namun tegas.
"Fatur benar kok, Mbak. Saya bersedia kalau harus tinggal di sini bareng kalian, dalam hubungan yang halal tentunya."
Dara mendongak, sedangkan ke dua anaknya kini tampak berbinar senang sambil berjingkrak riang.
"Yeeeyyyy, kita punya papa baru." soraknya terlihat gembira sekali.
Dara masih diam tak bisa berkata kata, tapi tanpa sengaja matanya dan mata tajam Zaki bertemu dalam satu garis lurus yang sama. Membuat sesuatu berdesir lembut di hati Dara.
Dara berjongkok dan mendapati anak anaknya. "Anak anak, dengerin Mama dulu ya. Kalian sekarang masuk ke rumah, ganti baju, cuci tangan dan makan ya. Mama mau bicara dulu sama om Zaki. Mau ya anak anak pinter, Mama?"
"Oke, bos!" tegas Fatur dan Farah sambil berlarian menuju pintu utama dan melepas sepatu mereka di sana.
Setelah si kembar pergi, Dara mengajak Zaki untuk duduk di kursi teras walau rasanyaa sangat canggung.
"Zaki, maaf. Tapi ada baiknya kamu tidak bicara hal yang tidak tidak sama anak anak, Mbak. Jujur, mbak hanya takut membuat mereka kecewa lagi, terlalu sakit melihat air mata anak anak ketimbang harus menahan semua pedih sendiri. Jadi Mbak mohon, tolong tarik kembali kata kata kamu tadi, supaya anak anak tidak terus menerus berharap sesuatu yang tidak semestinya," papar Dara panjang lebar.
Zaki terpaku, dia duduk diam di kursinya dengan debaran yang tak bisa di jelaskan dalam dadanya hingga mampu membuat dadanya sakit dan agak sesak.
"Tapi saya serius, Mbak." Zaki kembali menegaskan sambil menahan denyut denyut menggelitik di dada dan perutnya.
__ADS_1
Mata Dara melebar. "Zaki, omongan itu benar benar bisa membuat salah paham ."
Zaki menggeleng pelan. "Bagaimana lagi? Semua luapan rasa ini hanya akan jadi penyakit jika di pendam Mbak, maafkan saya tapi rasa yang berlebih untuk Mbak dan anak anak ini rupanya nyata adanya. Dan saya sudah tidak sanggup membawanya sendiri, mungkin Mbak bisa membantu saya menggenggamnya juga, dalam ikatan suci sebagai suami dan istri?"
Lagi, mata Dara seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar ungkapan Zaki yang seperti sangat asing di telinganya. Pria dingin dan urakan di sampingnya ini, tiba-tiba bisa bersikap romantis seperti ini rasanya sangat wah.
"Sepertinya kamu terlalu banyak mendengar curhatan hati Fatur sampai jadi melantur begitu, sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Untuk selanjutnya akan lebih baik kalau kamu menjaga jarak dari si kembar supaya mereka tidak terus merecoki hidup kamu."
Zaki menyugar rambutnya kasar. Sepertinya luapan rasa di hatinya benar-benar membuatnya hampir gila.
"Kenapa susah sekali membuat kamu percaya kata kata ku, Mbak?"
"Maaf?"
"Apa Mbak nggak mengerti juga? Aku punya perasaan lebih untuk Mbak dan juga anak anak tentunya," tekan Zaki walau dengan nada lembut.
Dara terhenyak. "A- apa maksudnya?"
"Aku ... aku mencintaimu, Mbak. Maaf, tapi rasa ini timbul begitu saja, dan tidak mau bilang hingga sekarang. Justru semakin kuat dan kuat apa lagi semenjak Fatur terus meminta saya untuk menjadi papanya. Rasanya semua ini seolah sudah di takdirkan."
Dara mematung mendengar pernyataan Zaki, rasanya seluruh dunianya berputar di tempat dan dia tak bisa lari dari sana. Ingin rasanya Dara menghilang ke lubang hitam saat ini juga, karena tak tahan dengan rasa hangat di pipinya.
"Tapi, kita nggak mungkin bisa bersama, Zaki."
"Kenapa, Mbak? Kalau Mbak masih belum bisa membuka hati untukkku, nggak masalah, aku akan tunggu sampai kapan pun. Aku hanya ingin bisa lebih dekat dengan anak anak selagi menunggu. Hanya saja aku perlu jawaban yang tegas untuk itu, Mbak. Setidaknya agar hati ini bisa lega atau menjadi tidak berharap lagi setelah mendengar jawabannya."
Dara menghela nafas dalam, rasanya dia sendiri bingung akan kondisinya sekarang. Seolah dunia pun tak memihak dia untuk berlari dari semua masalah 'papa baru ' ini.
__ADS_1
"Tapi ... Maaf, Zaki. Mbak nggak bisa."