
Seminggu berlalu sejak peristiwa itu, hari ini Halim di perbolehkan libur. Bukan libur sih tepatnya tapi dia yang terus menerus merongrong Pak Jatmika untuk memberinya waktu istirahat. Karna seminggu terakhir ini dia selalu di suruh ini dan itu oleh Pak Jatmika yang sedang sibuk mengurus pernikahan Dara dan Zaki yang hanya kurang beberapa minggu lagi.
Halim melangkah gontai di depan rumah yang di berikan Pak Jatmika untuknya, rumah yang berada tepat di depan rumah Bu guru Laila yang selama beberapa waktu belakangan ini tidak sempat dia tempati karena kepadatan jadwalnya.
"Loh, Pak dokter di sini? Saya kira udah pindah," celetuk Laila yang kebetulan saat itu tengah menyapu halaman rumahnya yang di penuhi daun mangga yang kering.
Halim mendongakkan dan tersenyum kecil, selama sibuk ini dia bahkan hampir lupa akan keberadaan Laila yang selalu memasang wajah manis saat bertemu dengannya. Atau hanya Halim saja yang terlalu lemot untuk memahami itu.
"Iya, Bu guru. Sayaa beberapa waktu kemarin sibuk, makanya baru bisa balik ke sini sekarang." Halim menyahut ramah.
"Hayuk atuh, mampir dulu ke rumah kalo gitu. Biar saya buatkan teh," ajak Laila tak kalah ramah.
Merasa mendapat angin segar setelah semua kesumpekan di rumah yang sunyi itu, Halim mengangguk dan mengikuti langkah Laila menuju rumahnya.
"Elis mana, Mbak?" tanya Halim saat melihat rumah Laila yang tampak lengang.
"Ada di kamarnya, lagi kurang enak badan, Pak dokter. Untungnya si kembar lagi nginep di rumah kakeknya jadi dia nggak perlu masuk kerja, kasian soalnya kalau di paksa, badannya panas bener semalem," Laila menyahut setelah meletakkan sapu lidinya di tepi pagar pembatas teras sederhana rumahnya.
"Boleh sayaa periksa?" tanya si pria serba bisa ini, entah bagaimana dulunya Pak Jatmika menguliahkan Halim ini. Dia kuliah jurusan kedokteran dan mendapat nilai IPK yang tinggi, namun oleh Pak Jatmika malah lebih sering di minta mengurusi hal hal remeh seputar kantor dan urusan pribadinya sendiri.
Tapi, namanya bos ya kan. Ya bebas aja sih, selama ada duit.
Laila mengangguk, dan masuk lebih dulu ke dalam rumah. Sedangkan Halim kembali ke rumahnya yang berada tepat di sebrang jalan untuk mengambil peralatan kedokterannya.
Saat kembali ke rumah Laila, tampak di ruang tamu Elis sudah berbaring dengan berselimut kain tebal. Wajahnya tampak pucat dan giginya bergemeletuk karna menggigil.
__ADS_1
"Yah, beginilah Pak. Kondisinya si Elis dari semalem, sejak kehujanan beberapa hari lalu itu pulang pulang langsung demam begini. Udah beberapa hari ini panasnya naik turun, minta obat di puskesmas juga nggak mempan, mungkin karna Pak dokter nggak masuk jadi obat yang di kasih kayaknya kurang sesuai sama sakitnya Elis," papar Laila sambil mengusap kening Elis yang tampak berkeringat dingin.
"Iya, saya nggak bisa masuk beberapa waktu karna ada hal yang harus saya urus dan belakangan juga ngurusin pernikahannya anaknya Bos saya. Ya sudah, coba saya periksa dulu ya. Semoga saja sakitnya bukan sakit yang bahaya," cetus Halim
"Bapak jangan nakut nakutin dong," ketus Elis tiba tiba sambil mengangkat sedikit kepalanya dari bantal untuk menatap Halim tajam.
Halim terkekeh. "Bercanda, paling nanti saya suntik pake jarum buat sapi ya."
Elis memelototkan matanya dan mengangkat tinju kecilnya ke atas berusaha untuk tampak garang.
"Eit, El. Jangan macem macem ah, pak dokter saya tinggal dulu ya, mau bikinin teh." Laila bangkit dan meninggalkan tempatnya untuk menuju dapur.
Elis kembali berbaring, dan gigil di tubuhnya kembali menyerang. Halim meminta izin pada Elis untuk memeriksanya, setelah beberapa kali menempelkan stetoskopnya di dada Elis dan melakukan serangkaian pemeriksaan lain, akhirnya Halim bisa mengetahui sakit yang di derita Elis.
"Gimana kondisi Elis, Pak dokter?" tanya Laila sambil meletakkan cangkir teh itu di hadapan Halim.
"Nggak begitu parah kok, sepertinya Elis terkena tipes. Mungkin dia sering kelelahan belakangan ini?" Halim menyesap teh yang di suguhkan Laila untuknya.
Laila mengelus paha Elis dari luar selimutnya, masih terasa gigil gadis itu walau tak sekuat tadi.
"Iya, Elis juga cari kerja tambahan sejak Mbak Dara sering pergi sama si kembar. Dia bantu bantu di rumahnya Mpok Juleha yang ada di ujung gang sana, Pak dokter. Sebenarnya pulangnya boleh kapan saja setelah pekerjaannya selesai katanya, tapi sejak Mbak Dara lebih sering bawa si kembar Elis jadi lebih lama ada di sana, katanya dia ambil lembur biar bisa dapat uang tambahan. Terakhir saya tahu Elis ambil upah nyuci gosok juga di sekitar sana sampai pulangnya kadang malem," terang Laila dengan mata menatap sendu pada adik sepupunya itu.
"Dan Mbak tahu Elis mengerjakan semua itu?" tanya Halim pelan, karna si tilik dari wajahnya Laila bukanlah wanita yang akan membiarkan orang terdekatnya terlalu memaksa diri untuk bekerja keras.
Laila mendesah berat. "saya awalnya nggak tahu, tapi semalam setelah saya desak akhirnya Elis mau mengaku semua itu. Dan saya ... saya ... rasanya saya jadi nggak berguna sebagai kakak, sampai Elis harus bekerja sendiri begitu."
__ADS_1
Tangis Laila turun perlahan, Elis tak bergeming seperti dia sudah tertidur pulas karna menahan pusing yang teramat sangat efek sakitnya.
"Sekarang Elis sakit ... dan itu ... itu ... gara gara saya," imbuh Laila dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
Hati Halim terenyuh melihatnya, dan tanpa perintah siapapun tangannya bergerak terulur ke arah pipi Laila dan menghapus jejak air mata itu dari sana.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, saya tahu Mbak Laila bukan orang yang seperti itu."
Degh
Degh
Degh
Laila terpana saat merasakan kondisi jantungnya yang tiba tiba tidak baik baik saja, begitu pula Halim saat matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan Laila dalam jarak yang lumayan dekat.
Lagi, tangan Halim seakan mempunyai pikirannya sendiri, tanpa di duga tangan kekar namun halus dan bersih itu bergerak menuju pucuk kepala Laila dan menepuknya perlahan. Membuat Laila serasa meleyot kalau bahasa kerennya.
Laila diam seribu bahasa, jantungnya seakan bekerja seratus kali lebih cepat memompa darah menuju otak untuk tetap bisa berpikir waras. Namun sayangnya gejolak rasa yang entah apa namanya menenggelamkan kewarasannya.
"Pak dokter maaf, sepertinya ... sepertinya ... saya juga perlu di periksa. Sekarang jantung saya rasanya sakit, dan detaknya terlalu kencang tidak seperti biasa, wajah saya juga panas, nafas saya berat, lalu ... di perut saya rasanyaa ada yang terbang. Apa ... saya sakit parah?" celetuk Laila dengan polosnya.
Blushhhh..
Pipi Halim seketika memerah dan panas mendengar kepolosan Laila.
__ADS_1