
"Apa? Pulang ke kampung?" sentak Indi kaget saat mendengar curhatan ibunya mengenai tanah dan kebun mereka yang ternyata di jual orang.
"Iya, memangnya kamu ikhlas warisan kita di jual gitu aja ntah sama siapa." Bu Maryam menekuk wajahnya.
Kedua wanita beda generasi itu tampak terpekur, dalam kebingungan yang sama. Di satu sisi mereka sebenarnya ingin sekali pulang saja ke kampung, namun saat ini mereka bahkan tidak punya uang untuk membeli sebuah permen.
"Gimana caranya, Bu?" tanya Indi pasrah.
Bu Maryam menghela nafas. "Ibu juga bingung, apa kita coba pinjem ke Dara dulu. Siapa tahu dia lagi berbaik hati mau meminjamkan?"
Indi melengos. "Ibu beneran berpikir Mbak Dara bakal kasih pinjem kita uang? Bahkan biarin kita keluar dari sini aja nggak. Lihat itu! Setiap pergi gerbangnya selalu di kunci, kita itu di sini kayak tahanan, Bu. Paham nggak sih?"
Bu Maryam kembali terpekur, apa yang di katakan Indi sebenarnya ada benarnya juga. Mereka sama-sama tidak punya kuasa apa-apa di sini, selain menjalankan tugasnya di rumah itu mereka tak bisa melakukan yang lain. Sungguh pembalasan yang luar biasa sakit dari seorang wanita lembut seperti Dara.
"Ada apa?" tanya Fatan yang baru saja datang dari halaman belakang, sepertinya dia baru saja selesai menggunting rumput seperti yang di tugaskan Dara padanya .
Peluh masih membasahi tubuhnya hingga baju kaos tipis yang di pakainya menempel di punggung dan dadanya yang atletis. Sayangnya si empunya tak bisa menjaganya hanya untuk satu wanita.
"Hahhh, nggak kok." Bu Maryam menutupinya dari Fatan karna tau Fatan juga tak akan bisa membantu masalahnya.
Fatan mengangkat kedua bahu dan melintas begitu saja menuju dapur, mengambil sebotol air mineral dingin dan kembali keluar.
"Sepertinya saya akan keluar dari rumah ini setelah perpisahan saya dan Dara di resmikan." Fatan memulai ceritanya sambil duduk di hadapan Bu Maryam.
Bajunya yang basah dia buka dan menggantinya dengan handuk yang di sampirkan ke bahunya.
"Hah? Keluar dari rumah ini? Bukannya rumah peninggalan almarhum orang tua kamu sudah nggak ada?" Bu Maryam mencebik.
Fatan menggeleng. "Sebenarnya masih ada satu lagi rumah pemberian orang tua saya yang masih aman, hanya saja lokasinya agak sedikit terpencil."
"Oh ya? Dimana?" mata Bu Maryam memancarkan sedikit harapan, begitupun Indi yang sejak tadi diam namun tak hentinya mencuri pandang pada tubuh Fatan yang selalu menjadi candu baginya.
__ADS_1
Fatan menyebutkan nama sebuah tempat, dan meta Bu Maryam dan indi seolah akan lepas dari sarangnya.
****
"Zaki, bunda ... makasih ya sudah mau anterin pulang," ujar Dara sambil mengambil alih Fatur yang tidak sengaja tertidur di pangkuan Zaki yang tengah memegang kemudi.
"Ah, iya nggak papa Nak Dara. Nggak usah sungkan ya, anggap aja saudara sendiri. Yahh syukur-syukur kalo beneran jadi ... hehehehe," kekeh Bu Ambar sambil menatap penuh arti.
Dara tersenyum kikuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Farah turun dari mobil walau kondisi bocah itupun sama terkantuk-kantuk.
"Saya bantuin, Mbak." Zaki keluar dari mobil dan kembali mengambil Fatur dari gendongan Dara yang tampak ke payahan.
"Nah, gitu dong. Coba peka sedikit dari tadi, masa harus di geplak dulu baru mau ngerti sih, Zaki? gumam Bu Ambar gemes.
Zaki terkekeh dan berjalan menuju gerbang yang masih terkunci karna Dara belum membukanya.
"Sekali lagi terima kasih lho, bund. Kami sudah di perbolehkan numpang mobilnya," tukas Dara sebelum masuk ke rumah.
"Bunda mampir dulu yuk," ajak Dara ramah, wajah sebenarnya dari seorang Dara yang selama di khianati seakan berusaha menjadi macan betina kelaparan.
Bu Ambar tersenyum dan menggeleng. "lain kali aja, Dar. Bunda capek juga ini, pengen rebahan. Nanti biar mobil kamu di urus sama si Zaki."
"Ah, nggk usah, Bun. Biar nanti Dara yang ambil sendiri ke bengkelnya, nggak enak ngerepotin terus." S
Dara menolak tegas karna sejak tadi selalu saja Bu Ambar mengandalkan Zaki untuk membantunya.
"Mbak Dara, kayaknya kita masuk dulu aja deh. Lumayan pegel juga lama-lama ini," kekeh Zaki yang sejak tadi berdiri menunggu kedua wanita beda usia itu bercengkrama.
Fatur yang masih terlelap nyaman di gendongannya tampak tak terganggu sama sekali.
"Ah, iya. Mari masuk, Zak. Bun, Dara masuk ya," pamit Dara akhirnya dan mereka pun masuk beriringan dengan Zaki membuntut di belakang.
__ADS_1
Jantung Zaki berdebar keras saat akan kembali memasuki rumah dimana dia pernah menggaungkan ikrar janji suci yang langsung saat itu juga di khianati oleh sang pujaan. Hingga kini sakitnya pun masih terus terasa, entah kapan Zaki bisa berdamai dengan masa lalunya itu. Dan entah akan seperti apa tanggapannya saat tahu Indi akan menikah dengan Fatan.
"Zaki, sini faturnya rebahin di sini aja." Dara menunjuk sebuah ranjang dengan gambar mobil berwarna merah yang menjadi kegemaran anak-anak.
Sedang Farah tampak sudah membaringkan tubuhnya di ranjang bergambar princess yang letaknya persis di sebelah ranjang itu.
Zaki menurunkan Fatur dari gendongannya secara perlahan, dan setelah berhasil langsung memakaikan selimut pada bocah itu.
"Papa," gumam Fatur seperti mengigau, dari bibirnya terpancar senyum yang lebar dan manis sekali, hingga lesung pipinya terlihat jelas.
Zaki terpaku sesaat menatap wajah polos bocah lelaki itu, sampai panggilan Dara mengagetkannya dan membuatnya keluar dengan terburu-buru.
"Loh, Mas Zaki di sini?" tanya sebuah suara yang sebenarnya sangat ingin di hindari Zaki saat ini.
Namun kepalang basah, akhirnya Zaki memilih mandi saja sekalian.
"Iya, kenapa ya? Apa saya tidak boleh bertandang ke rumah ini? Bahkan pemiliknya saja tidak melarang kok," sindir Zaki tanpa menoleh, hanya Dara yang saat ini sengaja melirik perubahan ekspresi wajah Indi yang tampak terkesiap mendengar jawaban tegas Zaki.
"Emmm, itu ... itu ... nggak gitu, Mas. Maksudnya ....."
"Kalau begitu saya permisi, Mbak Dara saya permisi," pamit Zaki sambil berjalan cepat keluar dari rumah itu dan langsung masuk ke mobilnya sebelum melajukannya dengan kecepatan sedang.
Dara kembali masuk setelah memastikan gerbang depan kembali terkunci dengan baik, dia tidak ingin peliharaannya lepas atau justru tertabrak mobil di jalan.
Dara menyeringai sinis saat melewati Indi yang masih terpekur di tempatnya.
"Lihat dirimu sekarang, bahkan seekor kucing saja mungkin enggan meminta sedikit makanan darimu. Mereka tau kalau kau, tidak lebih mampu mencari makanan dari mereka." Dara menunjuk wajah Indi yang memerah dan langsung berlari meninggalkan Dara begitu saja.
Dara masih berdiri di tempatnya, menatap dengan datar arah yang di lalui Indi tadi.
"Kalian yang menoreh luka, kalian yang memulai semuanya. Maka akan aku pastikan kalian akan mendapatkan luka yang sama untuk mengakhiri semuanya."
__ADS_1