
"Ini ... bukannya ibunya Mbak Dara ya?" celetuk salah satunya.
Bu Maryam tersenyum simpul dan mengangguk.
"Loh, bukannya ibu ikut anak ibu yang pelakor itu ke kampung antah berantah mantan suaminya Mbak Dara itu ya? Kok ... tiba tiba bisa ada di sini sih?" tanya salah satunya lagi dengan wajah julid, mengompori ibu ibu yang lain yang kini juga melempar tatapan tajam pada Bu Maryam, sedang Indi yang tak menyangka akan menjadi seperti ini memilih berjongkok di bawah meja jualannya sembari merapal mantra, eh doa maksudnya.
"Ah, emmm ... eh ... ibu ibu ini ... jadi mau beli kuenya kan?" ujar Bu Maryam mulai merasa tertekan, karna geng ibu ibu julid itu malah menatapnya tajam dan merangsek mendekat ke arahnya.
"Kenapa ibu bisa ada di sini?" tanya salah satu ibu ibu dengan wajah tidak enak di lihat.
"Iya, lalu dimana anak mu yang suka selingkuh sama iparnya sendiri itu? Masih hidup dia?"
"Atau sudah habis di gebukin juga sama ibu ibu di kampung si Fatan itu?"..
"Hih, kalo inget kelakuannya sumpah jadi pengen mites!"
"Sama saya juga, nggak bakalan saya kasih ampun kalau punya anak begitu mah. Ibu ini aja yang terlalu membela anak, makanya tinhkahnya jadi begitu, ngelunjak."
Ibu ibu itu mulai heboh sendiri, Indi yang sejak tadi mendengar dari bawah meja hanya bisa terdiam. Sesak sudah pasti, terlebih saat mendengar orang lain mengatakan hal yang buruk tentang ibunya karna sudah membelanya dulu, rasa bersalah itu datang lagi tapi Indi tak bisa menepisnya karna menurutnya rasa itu memang pantas ada.
Bu Maryam yang sudah kehabisan kata kata untuk menjawab pertanyaan para ibu ibu yang kini mulai perang pendapat itu akhirnya memilih diam dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Lelah yang mendera membuatnya enggan terlalu memusingkan ucapan mereka.
"Eh, Bu dari tadi kita tanya bukannya di jawab."
"Iya, malah duduk lagi nggak sopan banget sama pembeli," celetuk para ibu ibu dengan julidnya.
"Emangnya kalian ada beli? Bukannya dari tadi cuma ngegosip aja?" ketus Bu Maryam tak tahan lagi, namun untungnya dia masih bisa mengontrol nada suaranya agar tak terdengar menantang. Bisa habis dia dan Indi nanti kalau sampai di keroyok ibu ibu geng julid itu.
__ADS_1
Ibu ibu julid saling pandang lalu dengan mendengus kesal mereka mulai membuka dompet masing-masing.
"Nih, saya beli!"
"Saya juga nih, sekalian saya borong semuanya juga saya bisa kok."
"Saya juga, tuh uangnya jangan di kira kita ini miskin ya nggak mampu beli kuenya."
"Tau, belum tahu aja dia uang jajan kita sehari berapa. Borong dagangan dia setiap hari juga kita sanggup, iya kan we?"
"Iyalah, anggap aja hitung hitung membantu perekonomian rakyat jelata kayak mereka iya kan?"
"Setuju!"
Ibu ibu itu mulai melemparkan uang mereka yang rata rata berwarna merah dan biru ke hadapan Bu Maryam, tentu saja dengan senang hati Bu Maryam mengambil uang yang melayang jatuh di atas meja tersebut dan memasukkannya ke dalam toples yang di gunakan sebagai wadah sementara.
"Nah begini dong, kan enak juga jadinya. Nggak cuma mampir buat gosip tapi beli juga. Percaya deh saya kalau ibu ibu ini orang kaya," celetuk Bu Maryam sumringah.
Ibu ibu itu hanya berdehem, lalu mulai memasukkan kue kue pilihan mereka ke dalam plastik masing-masing.
"Nah, udah kan? Sekarang kami sudah beli kue dagangan ibu, jadi ... artinya sekarang kami boleh dong tahu ceritanya kenapa ibu bisa ada di sini? Apa anak ibu yang pelakor itu ada di sini juga?" celetuk salah satu ibu ibu yang sudah memasukkan sekresek penuh kue sesuai dengan nominal uang yang tadi dia berikan pada Bu Maryam.
Bu Maryam tersenyum tipis sembari mengigit bibir bawahnya, matanya perlahan melirik ke arah Indi yang masih berjongkok di bawah meja sembari menatapnya cemas.
"Eh, Bu! Di tanyain kok diem aja. Kalau nggak mau jawab kita balikin lagi nih kuenya, nggak usah jadi beli sekalian." salah satu ibu ibu itu mengancam sembari mengangkat kresek nya yang sudah penuh kue ke atas.
Bu Maryam gelagapan, namun merasa aneh dengan rombongan ibu ibu itu masa mau tau masalah orang lain sampe maksa maksa.
__ADS_1
Tapi karna tak ingin kue yang sudah di beli itu di kembalikan lagi, Bu Maryam akhirnya menghela nafas berat. Baru saja ingin berkata jawaban dari pertanyaan ibu ibu itu terdengar suara Indi dari belakang punggungnya.
"Saya ada di sini? Apa yang mau ibu ibu tanyakan?" cetusnya datar, seolah tak takut sama sekali dengan ibu ibu yang kini menatapnya sengit itu.
Bu Maryam sendiri kaget, padahal belum lama tadi dia melihat Indi masih tampak ketakutan di bawah meja. Tapi sekarang tiba tiba dia jadi berani dengan bersedekap di belakang ibunya.
"Ooohhh, jadi ini si pelakor. Akhirnya setelah berbulan bulan nggak ketemu kamu kembali lagi ke sini? Mau ngapain kamu ha? Mau nyari mangsa baru ya? Karna si Fatan udah kere?" hina si ibu ibu julid.
Indi menghela nafas panjang, andai saja punya keberanian lebih dari ini pasti dia akan mengatakan semuanya pada ibu ibu itu apa yang terjadi dengan rumah tangganya. Tapi bukankah itu namanya membuka aib sendiri, dan Indi masih waras untuk tidak membeberkan hal itu.
****
"Melamun lagi, La?" tegur Bu Hana sembari singgah ke rumah menantunya yang sudah hampir satu minggu ini tak mau keluar rumah, kerjanya di rumah hanya melamun dan menangis. Walau semua tugas rumah tetap dia kerjakan seperti biasanya.
Tapi tetap saja, sebagai ibu mertua yang perhatian pada menantunya Bu Hana merasa cemas saat tak lagi melihat dan mendengar suara tawa ceria menantu yang sudah di anggap anaknya sendiri itu.
"Ah, nggak Bu. Cuma lagi bosan saja," kilah Laila sembari membenahi letak jilbabnya yang berantakan.
Bu Hana tersenyum tipis, meletakan sebuah box kue ke hadapan Laila yang tengah duduk di meja makan dan ikut duduk di hadapannya.
"Bagaimana kalau hari ini kita periksa ke rumah sakitnya? Habis itu, ibu temani kamu belanja di mall? Kamu mau? Biar nggak bosan?" tawar Bu Hana seraya membuka box kue yang memakannya sepotong..
Laila mendesah panjang, hal yang selama beberapa hari ini mengganggu pikirannya sekarang kembali di hadapkan padanya.
"Tapi, Laila merasa belum siap, Bu."
"Justru itu, La." Bu Hana menarik nafas. "Kita perjelas semuanya supaya kamu juga bisa jadi tenang. Bukan cuma kamu, La tapi ibu juga jadi nggak tenang karna masalah ini. Kamu pikir ibu nggak panas denger ibu ibu geng julid itu membicarakan kamu terus menerus? Bahkan sampai menggosipkan kamu ke orang orang banyak?" tegas Bu Hana yang sudah tak tahan lagi dengan ke labilan menantunya itu.
__ADS_1