
Semenjak bertandang ke rumah Laila kemarin, Bu Hana menjadi seperti overprotektif pada Halim. Berbagai tingkah laku dan bahkan cara berpakaian Halim di aturnya sedemikian rupa, belum lagi cara dia menata rambut, makan, dan bahkan memakai sepatu di atur sambil marah marah.
"Kamu itu sekali kali beli baju yang agak melek dikit kenapa sih? Yang bagusan gitu loh, pake sweater turtleneck luaran jas, kan bagus kayak oppa oppa. Jangan kayak gini, apaan ini kayak bosmu yang tua bangkotan itu," ketus Bu Hana sambil menggamit kemeja polos berwarna maroon milik Halim dengan ekspresi jijik.
Halim merengut dan langsung menarik kemejanya dari tangan sang ibu.
"Ibu apaan sih? Aku mau kerja, Bu. Bukan mau fashion week," balas Halim acuh.
Lalu gegas mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya belah samping seperti biasa. Tapi lagi lagi Bu Hana merebut sisir dari tangannya dan kembali mengomel.
"Kalau nyisir itu jangan kayak begitu mulu, sesekali ubah potongan rambut kamu itu kayak Suho, yang ada di webtun terkenal itu. Norak banget sih," ucap Bu Hana lagi lagi ketus.
Tanpa mau mendengar protes sang anak Bu Hana langsung menjambak rambut Halim dan mendudukkannya di kursi meja makan.
"Mau apa lagi, Bu? Halim udah telat ini. Udahlah kayak biasa aja, memangnya kenapa harus di giniin sih?" dengus Halim sambil melihat jam tangannya yang semakin bergerak ke arah kanan.
Terbayang di pelupuk matanya bagaimana Pak Jatmika nanti akan menunggunya di lobi kantor dan mulai menceramahinya panjang lebar karna sudah terlambat padahal sebelum ini sudah di beri libur lumayan lama.
"Kamu itu Halim, coba kalau sama Laila itu yang romantis. Bisakan kamu sekedar beliin dia bunga atau coklat buat permintaan maaf? Atau setidaknya bicara yang romantis tentang masa depan sama dia? Dia itu calon istri kamu loh, Halim. Calon ibu dari anak anak kamu, apa salahnya kalau kamu bersikap manis sama dia? Toh nggak ada yang ngelarang?" oceh Bu Hana sambil terus menata rambut Halim sesuai keinginannya.
Halim mendesah lirih.
"Halim juga maunya begitu, Bu. Cuma Halim kadang bingung harus ngapain, pengennya romantis tapi mulut ga ada akhlak ini malah ngomongin hal nggak penting. Kenapa sih perempuan itu rumit banget?" keluh Halim bukannya sadar malah membela diri seakan kesalahan tidak terletak padanya.
Bletaakkkk..
Bu Hana menjitak kepala Halim, tak peduli walau nanti akan menimbulkan bekas yang membenjol.
"Aduh sakit, Bu!" seru Halim kaget sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Rasain! Biar otak kamu itu nggak konslet terus! Siapa yang bilang kalau perempuan itu rumit hah? Laki laki aja yang nggak mau mengerti, bukan perempuan yang rumit! Ngerti kamu?" bentak Bu Hana garang.
__ADS_1
Halim menciut tak berani membantah ibunya.
"Iya iya, terus Halim harus gimana supaya bisa ngambil hatinya dek Laila lagi, Bu? Ajarin dong, kan ibu yang paling paham sebagai perempuan," cicit Halim pada akhirnya.
Bu Hana tampak menyeringai puas, sambil mengusap cuping hidungnya, Bu Hana kembali menarik rambut Halim yang belum selesai di tatanya itu.
"Saran ibu, belikan dia barang yang paling dia suka atau minimal barang yang dia butuhkan. Nah, untuk ini nanti ibu juga coba cari tahu sambil main ke rumahnya. Nah sebaiknya untuk langkah awal, coba kamu mulai sekarang antar jemput Laila setiap mau bekerja, dan perbanyak obrolan tentang masa depan selama sama dia. Jangan lupa sebelum berpisah ucapkan kata kata romantis seperti, jangan lupa makan ya, jangan lupa kabarin aku nanti, atau pulangnya nanti aku jemput ya, begitu."
Dan singkatnya, di sinilah Halim sekarang. Di dalam mobil yang sedang melaju menuju ke TK bersama Laila di dalamnya. Namun bedanya, guru manis itu sekarang memasang wajah cemberut dan tak sepatah kata pun keluar dari bibir tipisnya.
"Emmm ... dek Laila," panggil Halim ingin mulai mencoba mempraktekkan anjuran ibunya tadi.
"Hmmm?" gumam Laila bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
Halim semakin bingung, dalam hatinya dia sempat memaki karena apa yang terjadi tidak sesuai perkataan ibunya.
"Dek Laila suka warna apa?" tanya Halim nggak nyambung.
Laila menoleh dengan dahi berkerut, mungkin bingung dengan tingkah Halim yang sepertinya malah akan semakin random.
Halim memutar otak mencari jawaban yang sekiranya pas.
"Emmm, ini Mas mau request nanti nuansa tempat buat pesta pernikahan kita sesuai sama warna kesukaan kamu," cetus Halim bangga karena berhasil mendapatkan jawaban yang memuaskan -- menurutnya --
Jika biasanya Laila akan tersipu, tapi kali ini tidak. Sepertinya dia juga sudah kebal dengan omongan nggak berfaedah si Halim.
"Putih saja," jawab Laila singkat padat dan jelas, namun setidaknya bisa membuat Halim lega karna rupanya Laila tidak ada niatan untuk membatalkan rencana pernikahan mereka yang akan di gelar bulan berikutnya itu.
"Apa dek Laila juga suka emas?" tanya Halim lagi, makin random.
Laila mendengus, tapi akhirnya mengangguk pasrah. Jaman sekarang wanita mana sih yang tidak suka emas.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu nanti Mas akan minta nuansa pestanya putih dan gold. Supaya mewah," tutur Halim bangga.
Namun tidak dengan Laila, barusan padahal di kiranya Halim bertanya tentang emas yang bisa di pakai seperti perhiasan. Namun rupanya malah masih membahas masalah dekorasi pesta.
Laila merasa di permalukan walau secara tidak langsung dan Halim sepertinya juga tidak sadar, namun namanya wanita ya sadar nggak sadar di cowok nya kalau dia mau marah ya tetap bakalan marah. Haha
Sesampainya di sekolah, Laila langsung turun padahal baru saja Halim hendak beranjak untuk membukakan pintu mobil untuk calon istrinya itu.
"Dek Laila, nanti pulangnya ...."
"Assalamu'alaikum," ketus Laila lalu berjalan secepatnya memasuki halaman sekolah mengabaikan Halim yang berteriak memanggil namanya dari luar sana.
"Siapa, Bu guru Laila?" tanya seorang guru laki laki muda yang memakai seragam olahraga, sepertinya dia juga guru di Tk tersebut jika di lihat dari penampilannya.
"Bukan siapa siapa." Laila menjawab singkat lalu bergegas menuju ke kantor guru, tanpa menghiraukan Halim yang berusaha mengejarnya.
"Laila! Dek Laila!" seru Halim sambil berlari kecil.
"Berhenti, orang asing di larang masuk ke area sekolah." guru pria tadi menahan gerakan Halim dengan mencekal tangannya.
Halim menepis kasar tangan pria tadi, matanya menatap tajam pada guru pria itu yang kini tampak tak senang terhadapnya.
"Dan jangan coba untuk menyakiti Bu guru Laila, atau anda akan berhadapan dengan saya," sambungnya penuh percaya diri.
Halim mendorong sedikit bahu guru itu, dengan mata membara penuh kemarahan.
"Dan apa anda tidak tahu saya siapa?" dengus Halim tak terima.
Guru pria itu menggedikkan bahu.
"Tidak, dan saya tidak peduli. Yang saya tahu, Bu guru Laila adalah perempuan yang saya cintai jadi tak ada seorang pun boleh menyakitinya walau dia belum menerima cinta saya sejak dulu," papar pria itu lagi.
__ADS_1
Halim kembali menarik nafas panjang untuk menahan emosi yang terasa ingin meletup di ubun ubunnya itu.
"Jaga ucapanmu, bung. Jangan sampai kau menyesal karna telah salah memilih lawan," desis Halim sambil mendekatkan wajahnya pada wajah guru pria itu, mengintimidasi karna takut apa yang sudah menjadi miliknya kini terancam di rebut orang lain.