TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 214. DESAS DESUS


__ADS_3

"Nyonya Hana Pramoedya, dengan segala kerendahan hati saya mjnta kesediaannya untuk naik ke atas panggung ini menemani saya," ujar Pak Jatmika lagi, di iringi sorak Sorai para tamu undangan yang bersahut-sahutan menatap ke arah Bu Hana yang tercenung tak menyangka .


Bu Hana tahu, pak Jatmika mencintainya bahkan sudah sangat sering menyampaikan perasaannya sejak dulu walau tak pernah dia gubris karena masih mencintai mendiang Gunawan, ayah kandung dari Laila, mantan kekasihnya.


"Bu, ayo maju." Halim mendorong sedikit pundak ibunya dengan mata berkedip-kedip menggoda ibunya.


Wajah Bu Hana mendadak berubah menjadi seperti kepiting rebus, merah merona.


"Ibu, ibu ...."


"Kenapa, Bu? Nggak nyangka ya? Jomblo sekian lama akhirnya malah di lamar di depan orang ramai begini?" kekeh Halim lagi, semakin gencar menggoda sang ibu.


"Apa sih ah?" gerutu Bu Hana merasa malu sekaligus senang bukan main.


Selama ini rupanya Bu Hana juga diam diam menyimpan rasa pada Pak Jatmika, lewat ketulusan yang di tunjukkannya saat masih di Tiongkok beberapa waktu lalu, membuat hati Bu Hana yang semula sangat kesal padanya perlahan mulai bisa menerima kehadirannya.


Beberapa saat menunggu dan tampak Bu Hana masih ragu ragu, akhirnya Pak Jatmika memutuskan turun dari panggung dan menjemput sendiri pujaan hatinya itu untuk naik ke atas panggung.


Dengan gaya ala pangeran menjemput tuan putri, Pak Jatmika berjongkok dengan satu kaki menumpu tubuhnya serta tangan kanannya terulur siap menyambut Bu Hana.


"Cieeeeee!"


"Suit! Suit!"


"Aahhhh so sweet!"


"Yang jomblo jangan nangessss!"


Dan masih banyak lagi guyonan dan gurauan para tamu undangan yang lain mengiringi langkah Pak Jatmika dan Bu Hana naik kembali ke atas panggung.


Sesampainya di atas panggung, Pak Jatmika merogoh kantong bajunya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah dan membukanya tepat di hadapan Bu Hana dalam posisi merunduk romantis. -- author bingung jelasin posisinya, jadi kalian bayangin aja sendiri ya--


"Nyonya Hana Pramoedya, maukah engkau menghabiskan sisa  hidupmu denganku?"


"Waaaaaaa! Terima, terima , terima ...."


Sorak Sorai para tamu undangan memenuhi tempat pesta, bahkan sekarang sebagian besar orang berada di sana untuk melihat langsung momen bersejarah itu, bahkan beberapa ada yang mengabadikannya lewat ponsel dan tak ketinggalan para fotografer yang di sewa Dara juga ikut mengambil momen itu.


Bu Hana menangkup wajah dengan ke dua tangannya, matanya berkaca-kaca. Sekilas dia melirik ke arah Halim dan Laila yang juga tengah menatap haru ke arahnya. Halim mengangguk setuju, begitu pula dengan Laila memberi tahu Bu Hana agar menerima lamaran Pak Jatmika.


"Bismillah, saya ... bersedia."


"Waaaaaaaaa!"


Penonton kembali bersorak, sedang pak Jatmika tampak menangis karna bahagia. Di ucapkannya hamdalah berkali kali, lalu kembali memanggil anak buahnya yang sejak tadi sudah menunggu sambil membawa koper.


"Alhamdulillah, alhamdulilah saya sangat bersyukur sekali akhirnya penantian saya selama ini tidak lah sia sia, untuk merayakan di terimanya lamaran saya ini, saya ingin mengundang semua orang yang hadir di sini saat ini untuk datang ke acara pernikahan kami nanti yang waktunya akan saya kabari lebih lanjut. Dan selanjutnya, sebagai wujud ungkapan rasa syukur saya karna lamaran saya di terima saya ingin membagi sedikit rejeki saya untuk semua yang ada di sini, ini bukan sogokan ya anggap saja ini ucapan terima kasih saya atas doa bapak dan ibu semua agar saya di terima," papar Pak Jatmika tak bisa menyembunyikan senyumnya, hatinya sangat merasa bahagia sekali saat ini.


"Hooooreeeeeeeeee!" seru para penonton dan mulai merangsek maju kala Pak Jatmika mulai turun dari panggung dan meminta anak buahnya membuka koper yang rupanya berisi banyak sekali amplop berwarna putih yang sudah di isi dan susun rapi.


Pak Jatmika mengajak Bu Hana turun, memintanya membantu membagikan semua amplop itu pada para tamu undangan yang tampak sangat antusias menunggu gilirannya.


"Tolong antri ya bapak bapak, ibu ibu insyaallah semua kebagian kok." Suara Pak Jatmika kembali terdengar lewat pengeras suara.


Para tamu undangan kompak mengatakan iya, dan mulai antri dengan teratur tanpa berdesakan satu sama lain. Menerima amplop dengan sumringah dan tak lupa mengucap terima kasih dan selamat untuk Pak Jatmika juga Bu Hana.


Syukurlah, amplop yang di sediakan Pak Jatmika cukup untuk semua tamu undangan bahkan berlebih hingga sisanya di berikan pada para anak buah dan keluarga saja.

__ADS_1


"Ecieeee calon manten baru," goda Dara kala Pak Jatmika memasuki rumah dengan  wajah sumringah,  rona bahagia tak bisa di sembunyikan sama sekali.


"Terima kasih ya, Nak kamu sudah berbesar hati menerima permintaan bapak." Pak Jatmika merangkul pundak putrinya.


Dara mengangguk. "Apa saja asalkan Bapakku tersayang ini bahagia, tapi ... tetap saja bapak nggak boleh sampai lupa sama almarhumah simbok."


"Iya, iya nggak akan ada yang bisa menggantikan ibumu di hati bapak . Beliau sudah menempati posisi tersendiri di dalam sini." Pak Jatmika memegang dadanya dengan raut wajah bersungguh-sungguh.


"Alhamdulillah, semoga semua berjalan lancar dan sesuai harapan ya, Pak. Semoga bapak bahagia," doa Dara tulus.


"Amiiin," tukas Pak Jatmika lalu mereka pun masuk ke dalam rumah dengan beriringan.


****


Tuk


Gabruk


"Aduuuhhhhh," erang Elis kala kakinya a tak sengaja tersandung batu dan langsung membuatnya limbung dan jatuh ke aspal.


"Ahahahah, kenapa kamu Lis? Kok bisa jatuh?" gelak Laila lepas.


Laila mengulurkan tangannya membantu Elis bediri namun tawanya tak kunjung surut.


"Mbak ih, ketawa mulu bukannya prihatin ini kaki Elis berdarah nih," keluh Elis sembari mengusap lututnya yang ternyata mengeluarkan darah.


Laila menutup mulutnya. "Ya abisnya kamu kenapa? Jalanan mulus begini kok bisa bisanya jatuh sih?"


Bibir Elis tampak mengerucut. "Ya ... nggak kenapa kenapa sih, cuma ... masih syok aja ternyata ibu di lamar, sama bapaknya Mbak Dara lagi. Itu artinya, nanti kita bakalan jadi saudara dong sama Mbak Dara?"


Bu Hana yang berjalan pulang bersama dengan mereka hanya membuang muka, enggan menanggapi karna sejujurnya dirinya pun masih tidak menyangka akan di kamar seromantis itu oleh seorang yang tak di sangka sangkanya pula.


"Ah, eh i- iya ... iya ." Bu Hana tampak salah tingkah, sedang di belakang para ladies itu tampak halim yang sejak tadi masih saja sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dia lakukan entah hanya sok sibuk atau sibuk beneran nggak ada yang mau tahu.


"Wah, sepertinya bakalan seru ya Mbak kalau nanti ibu sama bapaknya Mbak Dara pengantin . Jadi nggak sabar pengen lihat ibu di dandani jadi pengantin, pasti cantik sekali. Secara kan ibu memang masih gadis, eh ." Elis menutup mulutnya seraya terkekeh sedang Bu Hana semakin tampak salah tingkah memdengar ucapan Elis.


Bu Hana akhirnya mempercepat langkahnya, untungnya baju yang di pakainya bukan baju yang ribet jadi tidak membuatnya repot untuk mengangkat bagian roknya kala berjalan cepat.


"Loh, Bu! Kok malah lari sih, ayo dong kita gosip dulu, Bu." Laila berseru sembari berlari kecil hendak menyusul ibu mertuanya yang kini sudah berada di halaman rumahnya.


"Sudah kalian pulang saja sana! Ibu mau mandi!" seru Bu Hana sambil cepat cepat masuk dan menutup pintu rumahnya rapat rapat dan tak lupa menguncinya agar tak ada yang bisa sembarangan masuk ke dalam.


Setelah sampai di dalam dia masih bisa mendengar suara cekikikan Laila dan Elis yang masih saja terus membahas dirinya dan Pak Jatmika. Wajah Bu Hana terasa memanas, terlebih kala menatap cincin bermata berlian berwarna putih yang kini resmi melingkar di jari manis kanannya.


"Aahhh, nggak nyangka akhirnya jadi begini. So sweet," lirih Bu Hana sembari menutup wajahnya dengan ke dua tangan, salah tingkah sendiri dengan otaknya tak malah traveling.


****


Malamnya, acara tasyakuran Indira pun berjalan dengan lancar. Sebagian bapak bapak yang hadir untuk membaca Al berjanji pun turut membicarakan lamaran Pak Jatmika tadi. Semua tampak sumringah karna kebagian amplop pemberian Pak Jatmika yang isinya lumayan itu.


Setelah si bayi di beri nama dan di potong rambutnya, acara di lanjutkan dengan makan bersama. Semua hidangan di keluarkan dan para tamu makan sembari bercakap-cakap.


"Kalau Pak Jatmika sih enak ya, mau nikah lagi kondisinya duda. kaya lagi, siapa juga yang bisa nolak," kekeh salah satu tetangga yang duduk dekat dengan Pak Jatmika.


"Ah, bapak bisa saja. Mungkin memang sudah jodohnya,  Pak," kilah Pak Jatmika.


"Eh tapi bener Loh, Pak Jatmika. Di kita besar seperti di sini ini, aki aki juga bakalan laku sama anak ABG sekali pun asal ada duitnya, apalagi mapan dan bos kaya Pak Jatmika gini, wuihh yang masih sekolah pun bakalan antri sama keluarga nya sekaligus buat di jodohin sama Pak Jatmika," timpal yang satunya lagi.

__ADS_1


Pak Jatmika hanya tersenyum menanggapi ,toh semuanya bebas berpendapat sesuai isi otaknya mereka masing masing. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya saja, ingin tenang saja atau menyahuti setiap ucapan mereka yang sekiranya tak cocok dengan pikiran kita hingga akhirnya akan berbuntut panjang bahkan bisa jadi malah bermusuhan. Pak Jatmika tidak menginginkan itu, jadi dia memilih diam dan mendengarkan saja apaa kata para tetangga anaknya itu.


"Tapi sama Bu Hana juga bagus sih, denger denger katanya sebenarnya Bu Hana itu masih gadis kan? Beliau menolak menikah sejak dulu dan malah adopsi anak, ya si Halim itu yang kerja di puskesmas. Katanya beliau takut menikah karena pernah di sakiti," imbuh bapak bapak yang pertama bicara tadi dengan mulut penuh daging kambing yang di sembelih khusus untuk acara aqiqahan Inara ini.


"Uhuk, uhuk. " Pak Jatmika langsung tersedak kala mendengar ucapan pria  berpeci hitam itu, padahal hal itu adalah rahasia yang hanya segelintir orang saja yang tahu tapi darimana pria itu bisa tahu kalau Bu hana masih gadis?. Batin Pak Jatmika tak hentinya bertanya tanya.


"Minum dulu, Pak." Pria di samping Pak Jatmika mengulurkan sebuah minuman mineral gelasan, dan langsung ditenggak Pak Jatmika hingga tandas.


"Ah, masa sih begitu? Wah beruntung sekali dong Pak Jatmika kalau begitu, dapatnya janda tapi rasa gadis." Pria yang satu lagi terkekeh sembari memandang Pak Jatmika yang kini memasang wajah datar.


"Saya permisi dulu," tandas Pak Jatmika sembari bangkit dari tempat duduknya sebelum para pria bermulut emak emak itu mulai bicara lagi, entah kenapa Pak Jatmika sudah merasa tak suka jika ada yang membicarakan Bu Hana di depannya apalagi membicarakan hal hal yang tak seharusnya mereka bicarakan.


"Eh, Pak mau kemana? Belum habis ini makanannya," tegur si pria yang sejak tadi terus saja membicarakan Bu Hana di depannya.


Pak Jatmika berpaling, dan menatapnya dengan nyalang. "Sudah nggak nafsu, kalian habiskan saja semuanya."


Lalu langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah Dara dengan nafas naik turun menahan kesal.


"Pak, sudah makan?" tegur Indi yang kala itu tengah menggendong baby Inara di ruang tengah, melihat Pak Jatmika masuk membuatnya ingin menegur karena sudah sangat lama sejak terakhir mereka bertegur sapa dengan baik baik saja.


Pak Jatmika melengos, membuang pandangan dari Indi. Indi menunduk, sadar jika tak semua anggota keluarga Dara akan begitu mudah menerimanya lagi. Apalagi sejak tadi Bu Ambar yang juga ada di sana pun bersikap seolah tak melihatnya sama sekali walau Indi sudah berusaha menegurnya baik baik.


"Dimana Dara, anak saya?" tanya Pak Jatmika ketus, tanpa mau melirik sedikit pun pada Indi.


"Mbak Dara, ada di kamarnya sepertinya, Pak. Mau Indi panggilkan?" tawar Indi mencoba mengambil hati Pak Jatmika.


"Nggak usah, saya bisa sendiri." Pak Jatmika berbalik dan  berjalan menjauh meninggalkan Indi seorang diri di sana.


Indi menjatuhkan diri di karpet bulu yang berada tepat di bawah kakinya, berusaha menahan agar tangisannya tak keluar dari netranya. Suasana sedang tidak mendukung untuk itu, jadi Indi sekuat mungkin mencoba bertahan untuk tidak menangis sekarang.


"Inara, Inara mama yang cantik, anak mama yang Sholehah, jadi kekuatan mama ya, sayang. Jangan pernah tinggalin Mama ya, Nak mama sayang sekali sama Inara." Indi menghibur diri dengan mengajak bicara anaknya walau dia tahu sang anak belum bisa menjawabnya setidaknya senyum dan tawa dari Inara sudah cukup membuatnya terhibur.


Tak lama  tampak Bu Maryam muncul dari dapur dengan tergopoh-gopoh.


"In, kamu makan dulu gih. Biar Inara ibu yang gendong, dari tadi kan kamu belum makan," ujar Bu Maryam sembari meminta Inara dari gendongan Indi.


"Memangnya ibu sudah makan?" tanya Indi balik.


Bu Maryam menggeleng. "Sudah, ibu mah gampang kamu saja dulu yang makan. Kamu itu menyusui jadi harus makan banyak, sudah sana biar Inara sama ibu dulu."


Akhirnya Indi mengalah, dengan cepat dia melangkah menuju dapur untuk makan lebih dulu agar bisa bergantian dengan ibunya.


Di dapur  ada banyak orang dari usaha katering yang di pesan Dara tengah menyiapkan bingkisan makanan yang akan dibawa oleh para tamu undangan nanti saat pulang.  Saat Indi masuk ke dapur dia kebingungan dimana dia bisa mengambil makanan untuk dia makan, karna semua makanan sepertinya akan di masukkan ke dalam kotak kotak kertas untuk bingkisan.


"Cari apa, in?" sapa seseorang sembari menepuk pundak Indi, membuatnya terjingkat seketika.


Indi cepat berbalik dan menarik nafas lega kala mendapati Dara tengah berdiri di belakangnya dengan senyum terkembang.


"Ah, ini Mbak. Ibu nyuruh indi makan, tapi ..." Indi mengedarkan pandang ke seluruh bagian dapur. " Indi bingung yang boleh di makan yang mana?"


Dara terkekeh sambil mengelus elus lengan indi. "Ya ampun, Indi, Indi. Kirain ada apa, ya sudah sini Mbak kasih tahu tempatnya."


Dara beranjak masuk ke dalam dapur bersih, dimana dia biasa memasak. Memang tempat dimana Indi masuk tadi adalah tempat yang biasanya di gunakan untuk meletakan meja makan yang saat ini di tepikan lebih dulu ke gudang agar lebih lega tempatnya.


Dara membuka pintu laci atas dan menunjukkan Indi beberapa lauk yang sudah di sisihkan untuk tuan rumah.


"Itu, makanlah yang banyak ya. Mbak ke depan dulu," tukas Dara.

__ADS_1


Indi mengangguk dan langsung mengambil piring untuk tempatnya makan. Namun baru saja memindahkan secentong nasi ke dalam piringnya suara ketus seseorang membuatnya berhenti dari aktivitasnya.


"Hei! Mau apa kamu di sini? Mau mencuri ya?"


__ADS_2