TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 138. KONDISI INDI 2.


__ADS_3

"Hei! Perempuan kurang ajar! Jaga ucapan kamu itu ya, percuma sekali di sekolahkan kalau ucapan saja masih sembarangan!" umpat Indi lagi sambil menuding wajah intan yang kini malah menyeringai mengejek.


Intan tergelak.


"Apa?. Kamu mengatai aku? Nggak salah itu? Bukannya itu diri kamu sendiri ya, Mbak? Ngaca dulu dong makanya sebelum menghina orang."


 Indi semakin berang mendengar hinaan dari Intan, selama ini dia diam karna merasa anak kecil seperti intan tak perlu terlalu di tanggapi, tapi ternyata bukannya berhenti intan malah semakin menjadi-jadi.


 Dengan emosi berkobar indi meraih sebuah lampu minyak tanah yang biasa di gunakan sebagai penerang jika ingin keluar rumah di malam hari, atau jika mati listrik. Lalu berjalan tegas menuju ke arah Intan yang masih berdiri mengejek di pagar rumahnya.


"Mau apa kamu, Mbak? Mau ngelempar aku pake lampu itu? Mau masuk penjara kamu?" desis Intan dengan senyum mengejek yang tak lepas dari bibirnya.


 Indi semakin berang, dan dengan gelap mata dia mengangkat tangannya tinggi hendak melayangkan lampu minyak itu ke kepala Intan yang bahkan tampak tak takut sama sekali.


"Kurang aj Ar!!" seru Indi sambil mengayunkan tangannya ke arah kepala Intan.


"Berhenti!"..


 Saat tinggal sejengkal lagi lampu minyak itu menghantam kepala Intan, seseorang menghentikan aksi Indi. Memegangi tangannya dan mendorongnya mundur.


 Indi terhuyung, hingga hampir saja jatuh ke belakang jika saja tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Bu Sukri?" desis Indi dengan wajah tegang.


 Bu Sukri berdiri angkuh di hadapan Indi, matanya menatap nyalang seakan bisa memakan Indi bulat-bulat.


"Mau apa kamu hah? Mau melukai putriku?" hardik Bu Sukri keras sambil menuding wajah Indi yang mulai pias.


Mendengar suara ribut di depan rumahnya, Fatan dan Bu Maryam yang berada di dalam rumah pun gegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Ya Allah, Indi!" seru Bu Maryam khawatir lalu lantas memegangi Indi yang tangannya kini terasa sedingin es.


 "Ada apa ini? Ada apa, Bu?" tanya Fatan pada Bu Sukri yang masih berkacak pinggang di sana.


 Melihat adanya Fatan di sana, Intan yang memang sudah merancang semua ini mulai berakting sedih, seakan perempuan yang paling tersakiti.

__ADS_1


"Huhu, Mas istrimu mengatai aku pelakor dan hendak merebut mu dari dia. Hanya karna kamu pernah mengantarku pulang tempo hari dan menyebabkan kamu pulang kemalaman," isak intan berpura pura dengan akting yang sangat sempurna.


 Indi melotot mendengar ucapan intan yang berbanding terbalik dengan kejadian sebenarnya.


"Bohong! Jangan memutar balikkan fakta kamu ya! Justru kamu yang sudah mengatai aku pelakor!" marah Indi sambil menunjuk wajah Intan dengan ekspresi tegang dan tak terima .


 Namun intan malah semakin memperkuat aktingnya dan mulai mengeluarkan air mata buayanya.


"Huhuhu, hiks ... hiks ... kamu lihat sendiri kan, Mas? Sekarang Mbak Indi malah tega menuduhkan semuanya padaku? Padahal aku nggak mungkin bilang begitu, akh sadar kamu itu suaminya terlepas bagaimana pun cara dia mendapatkan kamu. Tapi sampai sekali hatimu Mbak malah menuduhku?"


 Indi semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya, bisa bisanya gadis yang bahkan baru berusia tujuh belas tahun itu memutar balikkan fakta untuk menjatuhkannya.


 Indi menoleh pada Fatan, tampak wajah suaminya itu memerah seperti menahan amarah.


"Apa benar yang di katakan Intan, in?" geramnya tertahan.


 Indi dengan cepat menggeleng.


"Nggak, Mas! Itu semua tidak benar, nggak mungkin aku marah kalau nggak ada yang memulai. Malahan dia duluan yang datang lalu mengatai aku pelakor, Mas! Bukan sebaliknya, percaya sama aku, Mas!" jerit Indi berusaha membujuk suaminya agar percaya padanya.


 "Mbak! Kenapa kamu malah tega sekali menuduh ku sih? Apa kamu punya buktinya kalau aku mengatakan semua itu? Nggak kan, Mbak?" ucap Intan lagi, membuat Fatan kembali menolehkan kepalanya pada Indi dengan tatapan tak suka.


Indi terhenyak, dia sadar dia tak punya bukti apapun sekarang dia baru mengetahui betapa liciknya gadis polos di hadapannya itu. Bahkan kini di sela tangisnya saat tak ada yang memperhatikan Intan menyeringai puas melihat nasib Indi.


"Indi jawab! Aku tanya apa kamu punya buktinya kalau memang intan yang sudah mengatai kamu dan bukan sebaliknya?" tegas Fatan lagi, sambil berjalan lebih mendekat pada Indi.


 Indi mulai gemetar, dia sontak memeluk ibunya erat karna tak tahu apa yang harus di lakukan.


"A- aku ... Aku, ..."


"Jadi kamu nggak punya buktinya?" desis Fatan terdengar sangat mengerikan di telinga Indi.


"Aku memang tidak punya, tapi aku berani bersumpah kalau aku berkata benar, Mas." Indi masih mencoba meyakinkan suaminya, walau dia tahu Fatan tak akan percaya dengannya dengan mudah.


 Fatan melengos lalu menyugar rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


"Hah, ada ada saja!" umpatnya kesal.


 Bu Sukri yang sejak tadi diam kini maju selangkah, dengan tubuh tegak lurus dan tatapannya yang angkuh mencoba mengintimidasi keadaan.


"Dan jangan lupa kalau kamu hampir saja mencelakai anak saya, Indi," ucapnya menyulut api di tengah suasana emosi itu.


"Apa? Mencelekai bagaimana maksud ibu?" tanya Fatan terkejut.


 Bu Sukri dengan santainya menunjuk lampu minyak yang kini sudah terjatuh ke tanah itu, minyaknya berserakan membasahi tanah dan rumput di sekitarnya.


"Istri kamu mencoba memukul anak saya dengan itu, kamu tahu sendiri kan akibatnya kalau sampai itu terjadi. Bukan hanya anak saya yang bisa masuk rumah sakit, tapi istri kamu yang du ngu ini juga bisa saya masukkan ke dalam penjara," papar Bu Sukri tanpa beban di wajahnya, namun setiap kata yang meluncur keluar dari bibirnya membuat jantung Indi bagaikan di hujam belati, perih dan sakit sekali.


 Indi menatap pasangan ibu dan anak yang sepertinya sudah merencanakan semuanya serapi mungkin itu, matanya memanas karena kini posisinya terpojok. Fatan pun tampaknya lebih percaya pada perkataan Bu Sukri ketimbang dirinya.


 Fatan kembali mendekati Indi, dan menarik tangannya sebelum menjatuhkannya ke bawah kaki Bu Sukri.


"Fatan! Indi!" seru Bu Maryam kaget, saat Indi sudah berpindah dari pelukannya ke bawah kaki majikannya itu.


 Bu Maryam memburu tubuh Indi dan berusaha menegakkannya kembali, tapi serta merta Fatan langsung menahannya.


"Jangan bantu Indi, Bu! Biarkan dia bertanggung jawab dengan perbuatannya!" sela Fatan tegas.


 Bu Maryam tampak salah tingkah, terlebih saat melihat air mata indi mulai membanjiri wajah pucatnya. Bu Maryam tak tega, namun juga tak mungkin membantah ucapan menantunya yang sekarang lebih tempramen itu. Bisa di bayangkan bagaimana akibatnya nanti.


 Fatan mendorong tubuh Indi hingga kembali jatuh tersungkur ke hadapan Bu Sukri yang menyeringai sinis pada mereka.


"Cepat minta maaf!" sentak Fatan pada Indi sambil mendorong dorong bahu Indi hingga tubuhnya yang berisi itu semakin terdesak ke tanah, dan membuat perut buncitnya terhimpit.


"Fatan jangan begitu, perut Indi tertindih." Bu Maryam mencoba memperingati menantunya, agar tak terlalu kasar pada sang anak yang kini terlihat meringis kesakitan.


  Namun bukannya mendengar ucapan mertuanya, Fatan malah berpaling pada intan dan memintanya mendekat.


"Intan, kemarilah juga."


 Intan masih berpura pura menghapus air matanya, namun tanpa Fatan sadari saat ini intan tengah tersenyum penuh kemenangan dan bersorak girang di dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah intan berdiri di dekat sang ibu, yang artinya juga di hadapan Indi yang bersimpuh di tanah itu. Fatan kembali menyuruh Indi untuk meminta maaf, tanpa perasaan.


"Cepat minta maaf pada Bu Sukri dan intan, jika tidak aku akan menceraikan kamu sekarang juga!"


__ADS_2