TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 104. BIANG MASALAH 3.


__ADS_3

 Sementara Bu Maryam di tahan di ruangan garasi itu, bersama Indi dan juga Fatan di dalam sana. Di jaga oleh beberapa bodyguard yang sudah di wanti wanti oleh Pak Jatmika agar tidak meninggalkan tempat sampai acara pesta selesai. Walau bagaimanapun mereka harus tetap memprioritaskan acara ini ketimbang huru hara yang di buat oleh Bu Maryam.


"Dasar anak tak tahu di untung! Bisa bisanya kamu malah membeberkan semuanya ke keluarga mereka hah? Kamu nggak memikirkan nasib ibu? Nasib anak dalam kandunganmu itu? Kamu pikir suamimu yang kere ini bakalan bisa menghidupi kita layak seperti dulu lagi? Dia saja bahkan tidak tahu harus makan apa besok!" amuk Bu Maryam sambil menunjuk nunjuk wajah Indi yang kini duduk meringkuk dalam dekapan Fatan yang sejak tadi bahkan belum terdengar suaranya.


"Coba kamu pikir! Kalau sampai mereka benar benar melaporkan ibu ke polisi lalu ibu di penjara, memangnya kalian bisa membebaskan ibu hah? Makanya kalau punya otak itu di pakai buat mikir, jangan sok suci padahal sendirinya kotor!" imbuhnya geram.


 Indi menangis tersedu-sedu mendengar semua makian ibunya, namun dia tak menampik satu apapun karna memang begitulah adanya. Sepeninggalan Dara dan keluarganya tadi, Indi sebenarnya sempat pula memohon agar Dara tidak memenjarakan ibunya namun Dara hanya diam tak bergeming, sampai akhirnya pintu tertutup rapat dan memisahkan mereka.


Brakk


Brakkk


 Brrakkkk


 Bu Maryam mencoba menendang pintu ruangan itu, berharap satu tendangan darinya akan membuatnya terbuka. Namun sayang, harapan tinggallah harapan, bukannya pintu yang terbuka tapi kaki Bu Maryam yang rasanya lepas dari engselnya.


"Hah! Nggak berguna kalian semua! Hei, kalian yang di luar, bukakan pintunya! Jangan maunya di suruh suruh saja kalian sama di Mak lampir itu! Dia itu perebut warisan orang! Dia tak tahu malu, mungkin saja dia bayar gaji kalian pakai uang haram! Kalian tahu itu? Dia merebut harta warisan almarhum suamiku, dan dia pasti bayarkan gaji kalian pakai uang haram itu! Lebih baik kalian bantu aku untuk mengalahkan wanita ular itu, supaya kalian tidak terus menerus di tindas dan di beri gaji uang haram!" pekik Bu Maryam mencoba memprovokasi orang orang yang dia tahu berjaga di depan pintu ruangan itu.


Brakkk


Brakkkk


Braaakkkk


 Lagi, Bu Maryam mencoba menendang bagian pintu itu, walau dia tahu usahanya itu akan sia sia belaka karena pintu itu sangat kokoh dan tebal.

__ADS_1


 Merasa kesal karna usahanya tak kunjung membuahkan hasil, Bu Maryam berbalik dan memelototi Indi juga Fatan yang tak terlihat peduli sama sekali, bahkan Fatan kini terlihat mengusap pelan perut buncit Indi seolah ingin mengurangi rasa nyeri yang di rasakan istrinya itu.


"Heh, Fatan! Kamu itu buta ya? Kamu nggak lihat dari tadi ibu berusaha buka pintu ini, padahal kamu laki laki harusnya lebih peka lah. Masa malah lembek begitu!" marah Bu Maryam sambil menuding wajah Fatan yang tampak acuh tak acuh itu.


"Kamu juga Indi, sudah tahu kamuyang salah karna sudah bicara sembarangan, malah sekarang kamu yang enak enakan duduk seakan semua ini terjadi bukan karena kebodohan kamu yang membocorkan semuanya!" Bu Maryam beralih pada Indi.


 "Cukup, Bu!" tegas Fatan yang sejak tadi menahan suaranya agar tak menyakiti hati ibu mertuanya itu, namun sepertinya Bu Maryam bukanlah tipe orang yang senang di beri kelonggaran.


 Bu Maryam semakin mendelik saat Fatan sudah berani membentaknya.


"Heh! Turunkan nada suaramu ya! Aku ini mertuamu! Derajatku sama seperti orang tuamu yang sudah membusuk jadi tanah itu! Jadi kamu ...."


"Apa?" sela Fatan dengan menatap tajam mata Bu Maryam.


 Bu Maryam tampak terkesiap, mulutnya membuka dan menutup seakan hendak mengucapkan sesuatu namun urung.


"Apalagi yang mau ibu ungkit, Bu? Kenapa ibu masih tidak berubah? Ibu tahu kalau apa yang terjadi semuanya benar, Dara tidak salah, Bu! Kitalah yang salah, kenapa ibu malah masih memaksakan kehendak sendiri? Bahkan sampai memaksa kami untuk ikut ke sini dan ikut pula menerima konsekuensi dari perbuatan aneh ibu ini!" bentak Fatan lagi menyampaikan apa yang sejak tadi dia rasakan.


 Bu Maryam memaksa Fatan dan indi untuk datang ke acara pesta pernikahan Dara, saat dia dengar dari salah satu tetangga Dara yang kebetulan temannya memberi tahu tentang pesta itu. Padahal mereka sama sekali tidak di undang, Bu Maryam ingin datang karena memang ingin merusak pesta Dara dan mempermalukan dia sekeluarga, namun sayangnya malah kejadiannya terbalik, merekalah yang di permalukan.


"Mas Fatan benar, Bu. Sadarlah, semua yang di lakukan Mbak Dara itu benar, kita sudah tidak perlu mengganggu hidupnya lagi, Bu. Lebih baik kita atur hidup kita sendiri mulai sekarang. Indi malu, Bu. Malu." Indi mendesah berat sambil menyusut sisa air mata di sudut pipinya dan kembali mengusap lembut perutnya yang sudah mulai berkurang tegangnya.


"Kalian ... kalian ...." Bu Maryam seperti hendak mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya tercekat hingga dia hanya bisa menunjuk nunjuk dengan bibir bergetar.


 Ceklek

__ADS_1


 Pintu ruangan tiba tiba terbuka, seorang bodyguard masuk dengan membawa sebuah nampan di tangannya. Nampan itu berisi makanan, dan di belakangnya tampak pula satu orang lagi membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan yang ada di prasmanan pesta.


"Makanlah, dan bersyukurlah karna bos kami masih berbaik hati pada nasib kalian. Dan satu lagi, berhenti membuat kegaduhan seperti tadi, atau ...."


 Bodyguard itu menggerakkan ujung jempolnya mengitari leher dengan ekspresi menyeramkan. Bu Maryam sampai begidik di buatnya dan menutup wajahnya agar tak terlihat sang bodyguard dengan tato naga di wajahnya itu.


"Terima kasih, Bang." Fatan mewakili yang lain dan mengangguk ramah pada sang bodyguard bertampang preman itu.


 Sang bodyguard mengangguk samar dan kembali menutup pintu setelah dua nampan itu berpindah tempat ke lantai.


Blam.


 Pintu ruangan kembali tertutup rapat, Bu Maryam melongok untuk melihat isi dari makanan yang di bawakan pada bodyguard itu, perutnya yang sejak pagi belum di isi makanan itu meronta meminta untuk di isi, apalagi isi makanan itu tampak sangat menggiurkan.


"Glup." Bu Maryam menelan ludahnya kasar, dengan mata berbinar hendak meraih makanan itu.


"Tunggu, Bu." Fatan menyela, hingga tangan Bu Maryam yang sudah mengambang di udara hendak mengambil satu dari tiga buah piring berisi nasi yang lengkap dengan lauk pauknya itu berhenti.


"Ada apa sih? Kenapa kamu seweot sekali sama ibu?" ketusnya sambil menatap Fatan dengan tatapan tak senang.


 Fatan tersenyum miring, ternyata beginilah rupa asli ibu mertuanya ini yang selama ini tersembunyi di balik topeng kebaikan karna kucuran uang darinya. Dan saat Fatan baru saja berhenti menghujaninya dengan uang, dia sudah kelimpungan dan mengira mereka akan segera jatuh miskin sampai sampai harus berbuat seperti sekarang ini. Mengakui harta orang lain sebagai miliknya untuk mendapat uang.


"Makanan itu dari Dara, ibu baru saja membuat kerusuhan di acaranya. Apa ibu tidak takut kalau dia berniat membalas dan memasukkan racun di makanan yang di siapkan untuk ibu?" cetus Fatan.


 Bu Maryam kembali meneguk ludah, di tariknya lagi tangannya yang sudah mengambang di udara itu. Dan memandangi lekat nasi dengan lauk bagian ekor ayam di masak kecap yang merupakan kegemarannya itu, Dara sangat tahu itu dan sering memasakkan bagian ekor ayam kecap setiap kali dia bertandang ke rumahnya dulu.

__ADS_1


' apa mungkin Dara berniat meracuniku?' batin Bu Maryam sambil menatap nanar pada ayam yang terus melambai padanya itu.


__ADS_2