
"Bunda, udah Bunda. Jangan marah marah." terdengar suara Dara yang mencoba membujuk Bu Ambar, lalu tak lama tampak pula Elis yang menggandeng si kembar menuju ke kamarnya dengan terburu-buru.
Zaki yang masih mematung di tempat langsung bergegas menuju ke arah dapur dimana keributan itu terjadi.
"Ada apa ini?" tanyanya cepat sambil meletakkan bungkusan belanjaan itu ke atas meja.
Tampak di sana Bu Leha dan Hans yang tertunduk diam di depan Bu Ambar yang tampak berang, di samping Bu Ambar terlihat Dara tengah memegangi tangan ibu mertuanya itu berusaha menenangkan.
"Mas, tolong bantu jelaskan ke bunda, Mas." Dara menatap Zaki dengan tatapan memelas.
Bu Ambar dengan nafas naik turun turut menoleh pada sang putra dengan mata masih menyorot tajam.
"Kamu yang izinkan mereka masuk ke rumah ini?"
Zaki baru akan menjawab saat Dara tiba tiba langsung menyela ucapannya.
"Ini Dara yang minta, bunda."
"Tapi kenapa, Dara? Kamu kan sudah lihat sendiri kemarin bagaimana mereka berbuat seenaknya di sini? Kenapa kamu masih baik sama mereka sih?" Bu Ambar tampak semakin senewen sedangkan Bu Leha dan hans hanya bisa terdiam di tempatnya sambil masih memegangi perutnya masing-masing.
"Bun sebaiknya sabar dulu, lebih baik kita duduk dulu aja ya." Zaki mencoba menengahi dan langsung di angguki oleh Dara.
Bu Ambar tampak mendengus kesal, namun akhirnya dia menurut juga saat Dara menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan.
"Bunda di depan saja , malas rasanya semeja sama dua makhluk ini." Bu Ambar berkata ketus lalu dengan cepat berlalu dari tempat itu.
Dara terpana, namun sekejap kemudian kembali menguasai diri dan meminta Bu Leha dan Hans untuk duduk.
"Tante, Hans silahkan duduk."
__ADS_1
Zaki pun mengayunkan tangannya sebagai tanda mempersilahkan pada Bu Leha dan Hans yang masih tampak ragu ragu.
"Hmm, kami pergi aja, Zaki. Sepertinya bunda kamu nggak suka kalau kami di sini." Bu Leha berkata sungkan walau Hans terus menggoyangkan tangannya dengan tatapan protes, mungkin karna perutnya sudah sangat lapar dan ingin segera makan. Persis seperti anak kecil yang meminta jajan pada ibunya.
"Eh, Tante mau kemana? Udah di sini aja dulu, ayo duduk kita makan sama sama." Dara yang baru kembali dari tempat memasak untuk mengambil lauk langsung menahan pergerakan Bu Leha dan menariknya untuk kembali menuju meja makan.
"Iya, bude. Sudah duduk dulu saja,kita makan sama sama, kasihan Hans kalau kelamaan kelaparan." Zaki turut menahan Bu Leha dan meminta mereka untuk duduk.
"Tapi Mbak Ambar?". Bu Leha masih saja tampak tak nyaman karna tadi Bu Ambar sudah menampakkan sekali kalau dia tak suka adanya Bu Leha dan Hans di rumah itu.
"Udah, Tante. Masalah bunda nanti biar Dara yang ngomong, sekarang ayo di makan, maaf ya adanya cuma ini di rumah." Dara menyodorkan piring ke tangan Bu Leha dan Hans yang langsung di ambil Hans dengan penuh semangat, sedangkan Bu Leha tampak segan sekali.
Melihat itu, dara berinisiatif untuk mengisi piring Bu Leha dengan nasi dan lauk berupa ayam goreng tepung, oseng cumi dan sambal. Sedangkan Hans sudah lebih dulu memenuhi piringnya dengan semua itu lalu langsung makan dengan lahap.
"Sudah, Dara. Jangan banyak banyak, terima kasih ya." Bu Leha berkata sambil mengusap sudut matanya yang tiba tiba berair.
"Nggak papa, bude. Makan saja sampe kenyang, untuk yang ini Zaki nggak akan minta ganti kok,"ucap Zaki masih terdengar setengah menyindir.
Dara dan Zaki ikut makan bersama Bu Leha dan Hans, agar orang yang menjadi tamunya itu tak segan jika hanya makan sendiri. Hans bahkan sampai menambah nasi tiga kali, mungkin saking laparnya.
"Dara, Zaki ... sekali lagi terima kasih," ucap Bu Leha setelah nasi di piring mereka semua tandas.
"Sama sama, Tante." Dara menjawab sambil tersenyum manis, membuat Bu Leha semakin merasa tak enak karena kemarin sempat membuat keributan di rumahnya.
Dara di bantu Zaki dengan sigap mengambil piring piring kotor dari atas meja dan dari hadapan Bu Leha dan Hans, Bu Leha tampak sungkan namun Hans malah bertingkah layaknya bos. Membuat Zaki harus mati matian menahan kesal dan dongkol karenanya.
"Dara, biar tante bantu ya?" Bu Leha hendak mengambil tumpukan piring kotor dari tangan Dara, namun di cegah oleh Dara.
"Nggak usah, Tante. Biar Dara aja," tolak Dara halus.
__ADS_1
"Nggak papa, sudah seharusnya." Bu Leha tetap dalam pendiriannya dan berhasil membawa piring piring kotor ke wastafel.
"Sudah biarkan saja, sayang. Kamu juga butuh istirahat kan? Biarkan orang orang ini belajar caranya berterima kasih." Zaki berkata sambil menatap tajam pada Hans yang kini malah asik mencungkil giginya dengan tusuk gigi dan berpura-pura tak mendengar.
"Hah, lihatlah bahkan setelah di bantu pun anak kurang ajar ini masih saja tengil dan tidak tahu terima kasih!" sentak Bu Ambar yang ternyata sejak tadi mengintip kegiatan mereka dari balik lemari hias yang ada di antara ruang makan dan ruang keluarga.
Hans masih berpura pura tak peduli bahkan saat Bu Ambar berjalan mendekatinya dia dengan santainya kembali menuang kan air ke gelasnya dan meminumnya, padahal gelas kotornya tadi sudah di bawa Bu Leha untuk di cuci dan dia seenaknya saja memakai gelas yang baru.
"Kamu itu tuli atau bodoh sih hah?" Bu Ambar mendekat dan menoyor langsung kepala Hans, membuat si empunya kepala langsung menatapnya berang.
"Kenapa harus main kepala sih? Kayak orang nggak pernah di ajari sopan santun saja," dengus Hans sambil memegangi kepalanya yang tadi di toyor Bu Ambar, lalu kembali duduk santai di tempatnya sambil memainkan tusuk gigi di mulutnya.
Bu Leha yang mendengar ribut ribut di luar segera mencuci tangannya yang penuh dengan sabun cuci piring dan bergegas kembali ke meja makan.
Bu Ambar yang sudah naik pitam kini terlihat benar-benar marah dengan wajahnya yang berubah memerah.
"Leha! Bawa keluar anak kurang ajar mu ini dari sini, sebelum aku akan memanggil warga untuk kembali mengusir kalian!" bentak Bu Ambar dengan nafas tak beraturan.
Dara hendak melangkah mendekati Bu Ambar berniat kembali menenangkannya, namun langkah di tahan oleh Zaki yang sejak tadi juga sudah merasa geram dengan tingkah Hans yang seperti bos itu. Sangat tidak mengenang budi. Akhirnya Dara terpaksa diam di tempat membiarkan Bu Ambar kembali melampiaskan kemarahannya pada ibu dan dan anak itu.
"Mbak, tolong jangan usir kami. Kami mau pergi kemana lagi, Mbak? Rumah kami sudah di sita warga, kan Mbak tahu sendiri." Bu Leha memeluk sang anak dengan mata memerah seperti menahan tangis, ingin mencoba meluluhkan hati Bu Ambar.
Namun bukannya luluh, Bu Ambar malah mendelik mendengar ucapan Bu Leha.
"Apa kau bilang hah? Jadi maksudmu, kalian mau menumpang tinggal di sini? Di rumah ini begitu?" bentak Bu Ambar semakin berang.
Dan dengan tidak tahu malunya Bu Leha mengangguk masih sambil memeluk kepala anak kesayangannya itu yang kini hanya diam seperti cengo saja.
"Kan Zaki itu keponakan saya juga, Mbak. Dara juga, pasti mereka mau menerima saya dan Hans di sini, secara Dara kan baik sama kami. Tadi saja dia yang mengajak kami ke rumah ini kok, itu tandanya dia bersedia menampung kami di sini."
__ADS_1
Dara langsung ternganga mendengar cara berpikir Bu Leha yang menurutnya sangat luar biasa itu, dia sendiri sampai kehabisan kata kata untuk menjawab perkataan yang terdengar lebih seperti pernyataan dari Bu Leha itu.
"Benar-benar ajaib," desis Dara sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.