
Zaki menepuk jidatnya lalu merebahkan diri di atas kasur sambil menghembuskan nafas lelah.
"Astaghfirullah, sesulit inikah menghadapi istri yang sedang hamil?" keluhnya sambil menutup matanya dengan sebelah tangan.
Dara semakin cemberut melihat tingkah suaminya, dan mengambil bantal yang kemudian dia pukulkan ke tubuh Zaki.
Bugh
Bugh
Bugh
"Mas Zaki jahat! Berani beraninya kamu selingkuh di saat aku lagi hamil begini!" seru Dara asal, sambil terus memukulkan bantal di tangannya pada Zaki yang kini sudah bangkit untuk melindungi wajah dan tubuhnya dari serangan Dara.
"Astaghfirullah, sayang .kamu ngomong apa? Mas berani sumpah Mas nggak kayak gitu, kamu kenapa sih, sayang?" Zaki berusaha menangkap tangan Dara lalu membawanya ke dalam pelukannya.
Air mata Dara tampak menetes, padahal sebelum hamil Dara bisa di bilang sangat jarang menangis. Sepertinya ini bawaan si jabang bayi, yang membuat ibunya menjadi melow begini.
"Mas Zaki jahat," lirihnya kesal, tapi tetap saja menyurukkan wajahnya ke ceruk dada Zaki yang bidang dan berlama-lama di sana menghidu aroma tubuh sang pujaan hati.
"Ekhem!" seru Bu Ambar berdehem, sambil melipat tangan di dada melihat kemesraan anak dan menantunya itu.
"Bunda masih di sini loh ini, tolong hargai sedikit janda satu ini ya. Jangan malah mesra-mesraan kenapa sih?" dengus Bu Ambar berpura-pura sewot, namun rupanya mampu mengembalikan mood Dara yang sebelumnya berantakan menjadi baik kembali.
"Bunda mau juga?" kekeh Dara sambil melerai pelukannya dari tubuh Zaki.
Bu Ambar tampak terkesiap.
"Eh, apa sih kok malah nanya begitu? Ya nggak lah, ngapain bunda mikirin begituan lagi, udah mau punya cucu ke tiga juga. Udah bukan waktunya lah." Bu Ambar mengibaskan tangannya di depan wajah lalu beranjak keluar dari kamar pasangan itu sebelum melihat adegan romantis mereka lagi.
"Mau kemana, Bun?" seru Zaki sambil menahan tawa melihat wajah senewen ibunya.
"Keluar! Bunda tunggu di depan, buruan kalian siap siap. Ajak aja Dara, Zaki. Jangan di tinggal, nanti anaknya ngences lagi kalau nggak di turutin." Bu Ambar berucap tegas hingga suaranya terdengar memenuhi kamar.
__ADS_1
Dara bangkit dari duduknya dan berjingkat senang.
"Yyeeeyyy, jadi ikut!" serunya layaknya anak-anak yang mendapat hadiah sesuatu yang sangat di inginkannya.
Melihat itu Zaki lekas bangkit dan memeluk tubuh istrinya yang mulai berisi itu dari belakang.
"Hei, hei sayang. Berhenti melompat lompat begitu, kamu mau membuat anak kita sakit hm?" ucap Zaki sambil berusaha menahan pergerakan Dara yang seakan memberontak untuk terus melompat-lompat.
Dara berbalik lalu memeluk Zaki erat sekali.
"Aku senang sekali, Mas. Aku mau makan sepuasnya di acara Laila nanti," tukasnya percaya diri.
Zaki tersenyum getir, namun untuk menyenangkan hati Dara akhirnya dia memilih mengangguk saja.
Gegas mereka bersiap, waktu sudah berjalan menuju malam acara yang akan di laksanakan setelah isya itu kini sudah mulai di padati para tamu undangan. Tenda acara yang berkelip indah tampak memanjakan mata, semua handai taulan yang hadir pun sepertinya turut menikmati suasana acara yang bisa di bilang megah bak pesta di hotel berbintang itu.
Zaki membukakan pintu mobil untuk istrinya, walau jarak rumah mereka dekat namun Zaki memaksa memakai mobil agar Dara tak kelelahan berjalan kaki.
"Kalau begitu kamu yang pegang lengan Mas ya, biar keliatan mesra," sahut Zaki pula.
Dara terkekeh, namun tak urung menuruti jua permintaan suaminya itu.
Bu Ambar yang berjalan di belakang dua sejoli itu kembali sewot.
"Mesra terooossss!" sindirnya sambil berjalan mendahului Zaki dan Dara.
Bukan cemburu, namun Bu Ambar hanya ingin sekedar bercanda dengan anak dan menantunya itu. Bu Ambar bukanlah tipe tipe ibu dan mertua seperti di novel novel yang masih suka merecoki urusan rumah tangga anak dan menantunya. Beliau berkata demikian hanya sekedar bercanda saja, dan Zaki juga Dara sangat paham hal itu.
"Cieee yang pengen punya suami lagi," ledek Zaki sambil menahan tawanya.
Dara pun ternyata ikut terkekeh di samping suaminya.
Bu Ambar melengos.
__ADS_1
"Hilih, nanti kalau bunda nikah lagi kalian yang sewot sama bunda. Soalnya kan bunda bakalan lebih mesra dari kalian," kekeh Bu Ambar dengan nada canda.
"Iya deh iya, yang mau mesra mesraan." Zaki dan Dara kembali terkekeh.
Bu Ambar tak lagi menanggapi karna melihat adanya Bu Hana di depan rumahnya tengah termenung seorang diri. Bu Ambar berinisiatif mendekatinya sedangkan Dara dan Zaki memilih untuk langsung ke tempat pesta karna ingin melihat kondisi si kembar yang sudah lebih dulu berada di sana sebelumnya karna di bawa Elis.
"Jeng, lagi apa di sini? Kok sendirian?" tanya Bu ambar setelah berada di dekat Bu Hana.
Bu Hana yang sedang melamun itu tampak tersentak, namun sedetik kemudian seulas senyum dia pamerkan pada Bu Ambar.
"Ah, nggak papa, Jeng. Di dalam sana ramai sekali, sampai sesak nafas saya. Lagipula acaranya belum di mulai, masih menunggu penghulunya sampai makanya saya memilih ke sini dulu buat cari angin." Bu Hana beralasan sambil mempersilahkan Bu Ambar duduk di kursi terasnya.
"Tapi kayaknya jeng Hana habis nangis ya, matanya kelihatan sembab?" tunjuk Bu Ambar pada kantung mata Bu Hana yang terlihat membengkak.
Bu Hana lekas mengusap pelan bawah matanya, dan ternyata benar kantung mata itu terasa membengkak di sana.
"Ah ini, ini karna saya kurang tidur saja kok, Jeng. Bukan karna habis menangis," dalih Bu Hana menutupi kejadian yang sebenarnya.
Bu Hana memang habis menangis, untuk sebuah alasan yang hanya dia seorang yang tahu.
Bu Ambar tampak memasang wajah prihatin, namun karna si pemilik masalah tak mau bercerita maka Bu Ambar pun tak punya hak untuk memaksa.
"Jeng, sepertinya itu penghulu yang kita tunggu. Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Sepertinya acaranya juga sudah waktunya di mulai," ajak Bu Ambar mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk sebuah rombongan yang baru saja keluar dari mobil berwarna hitam yang parkir tak jauh dari rumah Halim dan Bu Hana.
Bu Hana menurut saja saat Bu Ambar memegang tangannya dan membawanya menuju ke tempat acara ijab qobul akan di laksanakan.
Sampai di sana benar saja, seorang pria paruh baya yang memakai jas dan kopiah hitam sudah duduk di hadapan Halim. Di sisi kiri dan kanan mereka sudah bersedia pula empat orang lelaki yang akan bertindak sebagai saksi pernikahan Halim dan Laila malam ini.
Bu Ambar membawa bu Hana untuk duduk di pelataran tepat di belakang pengantin, namun sejak tadi Bu Hana tampak hanya diam sambil sesekali mengusapkan tisu ke wajahnya dengan diam diam.
Hingga saat Laila di apit oleh Dara dan Elis untuk di dudukkan di samping Halim, tangis Bu Hana tak dapat di bendung lagi.
"Mas Gunawan ... Mas Gunawan," bisiknya di antara Isak tangisnya.
__ADS_1