TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 7. SALAH SANGKA


__ADS_3

 Fatan yang terkejut langsung bangun dan berdiri, saking syoknya dia bahkan sampai tak bisa berkata-kata dan hanya berdiri mematung menatap penuh tanya pada Indi.


Indi yang sebelumnya tidur dalam posisi meringkuk memeluk lutut dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya kini duduk dengan tak kalah terkejutnya.


"Kenapa kamu bisa di situ, In? Itu kan tempat tidur Farah," marah Fatan yang merasa Indi tidak sopan dengan tidur di ranjang anaknya dan membuatnya salah paham.


 Indi menggeragap tak tahu harus menjelaskan bagaimana. Mulutnya terbuka dan tertutup namun tak ada kata-kata yang keluar dari sana.


"Lalu dimana Farah? Kenapa justru kamu yang tidur di sini bukan dia?" Fatan menggeram rendah karna menyadari Fatur mulai terganggu dengan suaranya.


 Lagi-lagi Indi tak menjawab dan hanya meremas selimut sambil menggigit bibir menahan kegelisahannya. Terjebak dalam situasi dimana dia senang bisa berdekatan dengan kakak iparnya dan malu luar biasa karena dengan tidak sopannya sudah tidur di kamar dan ranjang yang bukan miliknya sampai membuat orang lain salah paham.


 Fatur terbangun, mengucek matanya dan bertanya dengan suara serak.


"Papa sudah pulang?"


 Fatan mengacuhkan Indi, dan berjalan mendekati anak lelakinya yang masih dengan muka bantalnya.


"Hei jagoan Papa, ayo bangun sudah sore. Masa tidur siang sampai jam segini baru bangun?" ujar Fatan menoel hidung bangir putranya.


"Ngantuk, Pa. Fatur juga mimpi ketemu sama Kakek mungkin karena itu tidurnya jadi lama," dalih Fatur sambil menampakkan senyum manisnya.


 Fatan mengacak rambut putranya gemas, kemudian menggendongnya menuju keluar kamar tanpa mempedulikan Indi yang masih diam di atas kasur.


"Kalau begitu, kita mandi sama-sama ya. Habis itu kita siap-siap ke masjid," tutur Fatan sambil berlalu keluar kamar.


 Indi yang ditinggal sendirian tampak kesal, bibirnya manyun dan dengan menghentakkan kakinya dia keluar dari kamar itu pula tanpa membereskan kembali kasur Farah yang sudah dia buat berantakan.


****


"Lho, Fatur baru bangun? Tante Indi mana?" tanya Dara saat melihat Fatur dan Fatan datang bersama menuju meja makan.


 Tampak di sana sebuah mangkuk berisi sop buah yang esnya sudah mulai mencair.


"Iya Ma, Fatur baru bangun. Kok nanya Tante sama aku, Ma? Kan aku baru bangun langsung diajak Papa kesini, jadi aku nggak liat Tante," jawab Fatur polos.

__ADS_1


 Fatan menurunkan Fatur dari gendongannya dan membiarkan bocah itu berlari menuju wastafel untuk mencuci mukanya.


 Sedangkan Fatan mengambil tempat di samping Farah yang tampak sibuk dengan sop buah tanpa esnya.


"Kok tumben jam segini sudah pulang, Mas. Masih jam 4 loh," tanya Dara sambil menyiapkan semangkuk sop buah untuk suaminya.


"Iya, Sayang. Kerjaan sudah selesai semua jadi Mas pamit pulang duluan, kangen juga sama kamu sama anak-anak soalnya," jelas Fatan dengan senyum tak lepas dari bibir tipisnya.


 Dara tersipu malu, namun enggan membalas gombalan suaminya karena sedang bersama anak-anak mereka.


"Fatur mau, Ma." Fatur mengambil kursi di sebelah Dara dan menyodorkan mangkuk bergambar beruang kesayangannya.


 Dara mencubit gemas pipi gembul Fatur dan menuangkan sop buah ke dalam mangkuknya.


 Mereka makan sambil bercanda ria, sangat hangat dan harmonis. Siapa yang tidak akan iri melihat keharmonisan keluarga kecil itu, tak terkecuali Indi yang saat ini tengah menahan sesak dan air mata saat melihat kehangatan keluarga kakaknya dari balik tembok.


"Kenapa hidup kamu sejak dulu selalu bahagia, Mbak? Dan kemalangan itu? Kenapa selalu aku yang terima?" geram Indi dengan nafas naik turun.


 Indi menghapus air matanya kasar, bergegas menjauh. Menyebrangi jalan untuk sekedar meluruhkan sesak di dadanya saat ini.


 Indi berjalan pelan di sekitar taman kompleks perumahan elit yang di tempati kakaknya, menikmati udara sore yang sejuk dalam ketenangan khas perumahan perkotaan.


 Tapi bentuk pagarnya membuat Indi tahu kalau pagar itu adalah pagar satu arah, artinya di empunya bisa melihatnya dengan jelas dari arah dalam.


"Mau sembunyi kemana lagi kamu?" tanya suara itu lagi kali ini dibarengi dengan suara pintu pagar yang terbuka.


 Menyadari situasi mulai tidak baik Indi mengambil ancang-ancang, melepas sandal jepit yang dipakainya dan mulai berlari sekuat tenaga.


"Hei orang miskin! Jangan lari kamu! Bayar dulu hutangmu! Hey! Berhenti!" teriak seorang ibu-ibu yang keluar dari balik pagar tersebut.


Tubuhnya tambun mengenakan setelah daster kelelawar yang lebar dan rambut di sanggul menjadi satu diatas, berlari pelan menggunakan sandal wedges ala-ala mertua sok kaya.


 Tapi bukan Indi namanya kalau akan menurut begitu saja hanya karena di teriaki begitu oleh ibu-ibu yang diketahui adalah Bu Juleha, ibunya Hans. Suaranya yang cempreng bin melengking dipastikan sebenarnya semua penghuni kompleks mungkin bisa mendengar, hanya saja kembali ke hukum tetangga kota. Urusanmu bukan urusanku, menjadikan tak ada satupun orang yang keluar walau Bu Leha terus menerus berteriak keras.


"Huh ... untung di sini nggak kayak di kampung, kalau kayak di kampung sudah habis aku di julidin netijen," gerutu Indi sambil terus berlari.

__ADS_1


 Berbelok di tikungan Indi terus saja berlari tanpa memperhatikan sekitarnya, sampai akhirnya kakinya tersandung kresek sampah dan ...


Gabruk


 Indi jatuh tersungkur dengan wajah mendarat lebih dulu ke aspal jalan. Untung saja kedua telapak tangannya terlindung sandal yang dia pakai di antara telunjuk dan jari tengahnya jadi lumayan tidak harus lecet.


"Aauuuu ...," desis Indi sambil menyentuh pipinya yang terasa perih karena mencium aspal.


Plak


 Lagi-lagi Indi apes karena lupa membuka sandal yang masih nangkring dengan setia di tangannya, jadilah akhirnya sandal itu justru menampol wajahnya sendiri.


"Sandal nggak ada akhlak!" rutuk Indi sambil menahan tangis.


 Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Namun itupun masih tak cukup mendeskripsikan Indi saat ini, akan lebih cocok jika sudah jatuh tertimpa tangga beserta buah kelapanya pula.


 Indi melepas sandal dari tangannya dan melemparnya sembarangan.


Plakk


"Aduh!" jerit suara seorang lelaki dari balik pagar sebuah rumah yang ada di samping Indi.


 Mata Indi membulat sempurna, belum habis rasa perih di pipinya kini datang lagi pula sebuah musibah yang akan menimpanya karena kecerobohannya sendiri.


 Pintu pagar terbuka, kepalang basah akhirnya Indi hanya diam berpasrah saat orang yang terkena lemparan sandalnya tadi keluar sambil menenteng sandal di tangannya, sedang tangan satunya tampak mengusap jidatnya.


"Kamu yang ngelempar sandal ya?" hardik pria muda yang keluar dari pagar itu.


 Bukannya menjawab Indi justru terpana saat melihat ketampanan wajah pria muda yang wajahnya hampir menyamai artis Korea idolanya itu, dengan mata sipit dan rambut agak berantakan benar-benar membuat Indi serasa bertemu idolanya secara nyata.


 Karna tidak mendapat respon pria itu berjalan mendekati Indi, dan menggoyangkan tangannya di depan wajah Indi.


"Hei! Kamu masih waras kan? Duh, apa jangan-jangan dia orang gila? Atau pasien rumah sakit jiwa yang kabur?" ujar pria itu berspekulasi seenak udelnya.


"Apa kamu sudah beristri?" celetuk Indi tanpa basa-basi.

__ADS_1


 Pria itu tersurut mundur.


"Hah? Apa?"


__ADS_2