
Zaki tergagap sesaat, dan langsung meminum air di gelasnya hingga tandas.
Kaca mobil itu terbuka, sebuah tangan muncul dari sana sambil memegang remote yang di arahkan ke pintu pagar tersebut. Tak lama pintu itupun bergeser membuka, dan perlahan badan mobil mulai masuk ke halaman rumah besar itu.
Zaki lekas lekas ingin menyusul, namun di tahan oleh tukang siomay itu.
"Udah, Mas. Santai aja, saya jamin itu nanti bakalan ada yang ke sini buat beli siomay, soalnya tiap hari juga begitu kok, Mas."
Zaki mengangguk dan menuruti perkataan tukang siomay, dan memilih untuk menghabiskan siomaynya lebih dulu dengan perlahan dan tidak terburu-buru.
Benar saja, tak lama tampak seorang pria muda berjalan ke arah gerobak siomay itu.
" Mang, kayak biasa ya." Pria itu berkata sambil tetap fokus pada ponselnya.
"Siap, Mas. Silahkan di tunggu ya." Tukang siomay mengacungkan jempolnya pada pria itu.
Sementara Zaki tampak tertegun tak bisa berkata kata.
"Loh, Pak Zaki? Lagi ngapain di sini?" tanya pria itu sambil duduk di sebelah Zaki.
"Loh, ternyata Mas Halim kenal sama mas yang ini toh? Mas ini udah dari tadi loh di sini Mas Halim, nungguin yang punya rumah datang katanya," sela tukang siomay sambil meyiapkan pesanan Halim.
"Ooh, memangnya ada apa, Pak Zaki?" tanya Halim pada Zaki.
Namun Zaki masih tergagap, ingin menjawab tapi semuanya seakan rancu di pikirannya.
Bagaimana tidak, kata Dara rumah itu adalah rumah bapaknya. Dan bapaknya tinggal sendirian, lalu kalau saat ini Halim ada di rumah itu dan tukang siomay mengatakan mobil yang dibawanya tadi adalah mobil pemilik rumah. Kan tidak masuk akal kalau Halim yang jadi bapaknya Dara, sedangkan usia mereka saja tampak tak begitu jauh berbeda.
"Mas Halim, ini pesanannya sudah siap." Tukang siomay menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hitam yang berisi siomay pesanan Halim.
"Oh, iya. Sekalian hitung itu ya," ujarnya menunjuk pada Zaki.
.
Tukanh siomay mengangguk dan tersenyum senang. "semuanya tiga puluh ribu, Mas."
"Eh, eh nggak usah Pak. Saya bayar sendiri saja," tolak Zaki berusaha mencegah Halim yang sudah mengeluarkan selembar lima puluh ribuan.
__ADS_1
Halim menahan tangan Zaki, dan menyerahkan uang itu ke tangan tukang siomay yang dengan cepat langsung mengambil uangnya dan memberikan kembalian.
"Udah, nggak usah sungkan. Ayo katanya mau ada urusan, cepetan kita masuk," ajak Halim sambil berjalan mendahului Zaki menuju ke rumah yang di yakini sebagai rumah bapaknya Dara.
Setelah mengembalikan piring ke pada tukang siomay, Zaki mengikuti langkah kaki Halim. Dan masuk ke pelataran rumah itu dengan penuh tanda tanya.
"Kalau ternyata rumah ini rumahnya Halim gimana? Malu dong aku? Masa di ku bilang bapak bapak sih? Nggak cocok banget?" gerutu Zaki dalam hatinya.
Halim berhenti di ruang makan, dengan meja makan panjang yang tampak sangat indah dengan banyak kursi di kiri dan kanannya.
"Ayo, silahkan duduk. Sebentar ya, Pak Zaki saya ambil minuman dulu," ucapnya sambil berlalu meninggalkan Zaki menuju sebuah ruangan yang terpisah, mungkin saja itu dapur.
Tak lama Halim kembali dengan sebuah piring dan segelas minuman berwarna putih seperti susu tapi lebih pekat.
"Ini, Pak. Silahkan di minum, ini susu kedelai buatan saya sendiri. Silahkan di nikmati dan beritahu saya rasanya," kata Halim sambil meletakkan gelas itu di hadapan Zaki.
Zaki yang masih planga plongo akhirnya hanya menurut saja dan meminum susu kedelai itu, rasanya manis walau tak begitu manis, dan juga a segar sekali. Berbeda dengan susu kedelai kemasan yang banyak di jual di toko toko.
"Gimana, Pak? Enak nggak?" tanya Halim sambil menikmati siomay yang dia beli tadi, dan sudah di pindahkan ke piring.
"Iya, eh tapi nggak usah panggil Pak ah, nggak enak. Kita kan kayanya juga nggak beda jauh umurnya, gimana kalau panggil nama saja?" ucap Halim setelah menekan sepotong besar batagor.
Zaki mengangguk setuju. " Baiklah, Halim."
Halim tersenyum dan manggut-manggut, matanya kembali fokus ke makanan di depannya. Sengaja tidak menawari Zaki karna pasti dia akan menolak setelah makan di depan sana tadi, di tambah susu kedelai buatannya bisa di pastikan kini perut Zaki sudah sangat penuh.
"Oh iya, tadi katanya kamu ada urusan penting datang ke sini, ada apa?" selidik Halim.
"Iya, ini juga yang mau saya tanyakan sejak tadi. Saya ke sini sebenarnya di minta oleh seseorang, saya ingin menemui orang yang tinggal di rumah ini yang katanya Bapaknya. Nah sekarang saya bingung, orang yang minta saya datang ke sini itu usinya nggak jauh dari saya, tapi kalau kamu yang tinggal di rumah ini. Apa kemungkinan saya salah rumah? Sebab kan tidak mungkin kamu yang dia maksud sebagai bapaknya." Zaki menjelaskan panjang lebar.
Halim tampak kembali manggut-manggut. "Mungkin yang di maksud memang bukan saya."
Mata Zaki mendadak melebar. "Lalu siapa? Bukannya ini rumah kamu? Apa saya salah rumah atau orang itu yang salah memberi alamat atau nomor rumahnya?"
Halim menggeleng dan terkekeh. "Tidak, pasti tidak. Karna ini bukan rumah saya."
"Hah, lalu? Ini rumah siapa?"
__ADS_1
"Pak Jatmika."
Dahi Zaki semakin berkerut, karna dia belum familiar dengan nama Pak Jatmika.
"Pak Jatmika siapa?" tanyanya heran.
"Saya," sahut seorang pria tua yang kini sudah berganti pakaian rumahan dengan kaos oblong dan celana panjang dari bahan kaos.
Rambutnya yang mulai memutih sama sekali tidak mengurangi ketampanannya semasa muda dulu, gurat gurat ke tampanan itu masih ada dan jelas walau wajah itu kini mulai di hiasi keriput.
Mata Zaki kembali melebar. "Tu- tuan Miko?"
Pak Jatmika mengangguk. "Nama asli saya, Jatmika. Saya sengaja pakai nama itu, supaya keren hahaha."
"Jadi ... jadi ...."
Zaki tak sanggup meneruskan kata katanya, lidahnya seakan kelu mendapati semua kenyataan ini. Rasanya jantungnya sudah ingin lepas dari tempatnya saking kencangnya dia berdetak.
"Jadi apa? Bukankah katanya kamu ada urusan penting datang ke sini? Ayo cepat katakan ada apa? Jangan sampai kamu membuang waktu saya ya." Pak Jatmika pura pura mengancam.
Zaki gelagapan, dan langsung merubah posisi duduknya menjadi lebih sopan. Keringat dingin mengucur dari dahinya, dan berkali kali di usapnya walau tak membantu sama sekali. Telapak tangannya dingin, dan tenggorokannya terasa kering sekali.
"Tu- tuan ... Sa- saya ... saya ...."
"Apa? Panggil Pak Jatmika saja kalo di luar kantor." Pak Jatmika berucap datar tanpa menatap Zaki yang kini tengah bersusah payah mengatakan maksud kedatanganya.
Zaki menelan ludah dengan susah payah, dan meneguk habis susu kedelai yang tadi masih tersisa setengah di gelas. Setelah tenggorokannya lega barulah dia kembali berkata kata.
"Saya ... saya ingin melamar anak bapak!"
"Apa?" seru Halim kaget, bahkan kini piring di tangannya melayang jatuh ke lantai.
Dan,
Pyyaaarrrrrrrr
Piring itu jatuh bersama hatinya yang juga terasa hancur berkeping-keping.
__ADS_1