
Pagi harinya.
"Heh! Bangun bangun bangun! Siapa yang ngizinin kamu tidur di sini hah? Bikin kotor tokoku aja ini gembel, ahhh sana sana sana, jangan bikin rejeki ku seret gara gara orang jijik lihat kamu di sini ya!"
Seorang pria bertubuh kurus berkacamata datang ke toko pagi pagi sekali, dengan penampilan yang sudah rapi namun wajahnya tampak tak bersahabat sama sekali. Dia bahkan dengan mudahnya menendang tubuh lemas Fatan yang sejak tadi malam belum lagi terisi makanan, bahkan air minum pun tak setetes jua melewati tenggorokannya.
Fatan membuka mata dengan susah payah, tubuhnya terasa sakit sakit karna tidur di atas lantai hanya beralaskan kardus bekas yang sudah sobek di beberapa bagian. Belum lagi angin dingin yang semalam menerpa cukup kencang membuatnya terasa menggigil hingga kembung.
"Heh! Kenapa malah melamun? Ini bukan hotel apalagi tempat penampungan gembel! Sudah sana pergi, jangan merusak pemandangan dan toko saya dengan muka kamu yang kampungan itu!" Si pemilik toko lagi lagi membentak dengan keras, membuat Fatan terperanjat dan dengan terpaksa menarik paksa tubuh lemahnya untuk bangkit dan meninggalkan pertokoan tempatnya beristirahat semalam.
"Dasar gembel menyusahkan saja!" gerutu si pemilik toko sembari membuka gembok di pintu rolling tokonya dengan wajah kesal.
Fatan melangkah menjauh, tampak di deretan pertokoan itu toko toko mulai buka. Rupanya pertokoan itu merupakan deretan penjual kain tekstil, rata rata yang di jual di sana adalah kain meteran dari berbagai jenis dan bahan. Dan kebanyakan tokonya sudah buka, melihat banyaknya karyawan yang tengah membawa gulungan kain ke teras pertokoan untuk di pajang.
Kruuucccuuuuukkkkkk
Fatan memegangi perutnya yang tiba tiba berbunyi nyaring, perih melanda sepertinya penyakit magh nya mulai kambuh lagi. Kebetulan saat itu di depan salah satu toko ada seorang pedagang mie ayam yang tengah membuat pesanan salah satu bos toko kain di deretan tersebut. Aroma mie ayam yang menyeruak membuat Fatan semakin merasa kelaparan. Namun dia hanya bisa menelan ludah sembari memperhatikan ke arah mangkok mie yang sudah berpindah tangan ke pembelinya itu dengan tatapan nelangsa.
"Apa kamu lihat lihat? Bikin hilang selera makan saja!" bentak orang yang memegang mangkuk mie ayam tersebut.
Fatan mendesah pelan, kembali menundukkan kepalanya dan berjalan pelan menjauhi pedagang mie ayam yang menatapnya dengan tatapan sulit di artikan tersebut.
Setelah beberapa meter berjalan, Fatan tiba di ujung deretan ruko tersebut yang merupakan toko kosong, dengan tong sampah besar di ujungnya.
"Hah, aku lelah sekali." Fatan bersandar di dinding toko, nafasnya naik turun karna tubuh yang lemas dan kelaparan.
Syuutt
Pluk
Sebuah mobil yang baru saja melintas membuang sebotol air mineral yang hanya tersisa separuh ke arah tong sampah lalu langsung berlalu begitu saja. Fatan menoleh kala botol itu menggelinding keluar dari sudut tong sampah menuju ke arah jalanan.
__ADS_1
Tap
Fatan memungutnya, lalu segera kembali ke tempat duduknya semula dan membuka tas berisi pakaian yang berada di pundaknya.
"Hhhh, lumayan dapat air minum." Fatan membuka tutup botol dan mulai meminumnya.
Glek
Glek
Glek
Isi botol langsung tandas, dan Fatan memilih menyimpan botol bekasnya ke dalam tas. Berpikir jika nanti pasti akan bisa di gunakan untuk di isi air kembali, siapa tahu ada orang baik yang akan memberikannya minum. Sementara itu Fatan masih belum tahu kemana arah kakinya harus melangkah saat ini, dia benar benar bingung sedang selembar uang pun dia tak punya.
Saat tengah asik melamun, Fatan bahkan tak menyadari saat seseorang datang mendekat padanya dan menyodorkan semangkuk mie ayam ke hadapannya.
"Silahkan di makan, dik." Pria tua yang Fatan lihat tadi tersenyum ramah sambil membungkuk menyerahkan mangkuk mie ayam ke pada Fatan.
"Tap- tapi ... tapi saya tidak punya uang, Pak." Fatan berkata jujur, dengan wajah sedih.
"Tidak sudah di pikirkan, ini silahkan di makan."
Sudut mata Fatan berair, di tatapnya wajah tua itu dengan penuh haru.
"Te- terima kasih banyak, Pak." Fatan terisak.
"Hahaha, kenapa menangis? Sudah makanlah, supaya kamu punya tenaga." Pak tua itu menepuk pundak Fatan.
Fatan makan dengan lahapnya, selain karna perutnya yang sudah sangat kelaparan rasa mie ayamnya juga tergolong sangat enak walau hanya jualan di gerobakan.
Selama menunggu Fatan makan, pak tua penjual mie ayam juga melayani beberapa pembeli yang membungkus pesanannya. Dia melayani semuanya dengan ramah tamah dan penuh senyum.
__ADS_1
"Pak, saya sudah selesai. Sekali lagi terima kasih karna sudah berbaik hati memberi saya makan," ucap Fatan sembari melangkah mendekat dengan membawa mangkok bekas mie ayamnya tadi yang isinya sudah tandas sepenuhnya.
"Sama sama, kamu sudah kenyang? Kalau belum biar saya buatkan lagi." Pak tua itu menawarkan.
Fatan menggeleng cepat. "Tidak usah, Pak. Itu saja sudah cukup, kalau boleh saya minta air minumnya saja buat bekal saya."
"Oh, silahkan. Ambil saja sebanyak yang kamu mau," sahut Pak tua itu sembari menunjuk galon air kecil yang ada di ujung gerobak mie ayamnya yang berwarna dominan biru itu.
Fatan tersenyum, mengeluarkan botol plastik yang tadi di simpannya di dalam tas dan mengisinya hingga penuh.
"Terima kasih, Pak."
"Sama sama, oh ya apa kamu butuh pekerjaan?"
"Ya? Sepertinya saya butuh, Pak. Saya butuh uang untuk ongkos pulang ke kampung," sahut Fatan sembari duduk di dekat Pak tua itu.
"Bagaimana kalau kamu kerja sama saya? Kemungkinan dalam satu bulan kamu sudah bisa dapat uang untuk ongkos pulang."
Fatan menatap pak tua di sampingnya dengan senyum lebar, namun senyum itu surut saat mendapati tatapan mata Pak tua itu yang menyiratkan maksud lain.
****
Sementara itu di kampung Fatan.
"Pak, saya mohon jangan di teruskan lagi. bapak bisa masuk penjara kalau sampai orang itu meninggal," tegas Pak RW yang saat itu bertandang ke rumah Pak Sukri setelah mendengar desas-desus kalau sahabat karibnya itu mengamuk dan hendak mendatangi rumah salah satu tuan tanah di desanya tersebut untuk memberinya pelajaran.
Nafas pak Sukri tampak naik turun, menahan emosi yang sepertinya sudah sangat siap di muntakan.
"Tidak bisa, Kar! Saya harus menuntut balas atas perlakuan dia pada keluarga saya. Dia sangat kurang aj ar, bukan saja membuat warga di sini menjadi miskin karena terlilit hutang dengannya. Tapi dia bahkan berani bermain serong dengan istriku, Kar! Kau tahu? Istriku! Bayangkan kalau itu terjadi pada keluargamu!"
Pak RW yang bernama Kardi itu, mendesah berat. Lalu menatap lekat mata sang sahabat yang baru kali ini dia lihat begitu marah hingga membuat mata dan wajahnya memerah. Padahal pak Sukri terkenal dengan sifatnya yang lemah lembut dan sangat penyayang. Hingga saat melihatnya marah sampai seperti ini sangat mengerikan sekali.
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Suk? Apa kamu siap menerima konsekuensinya jika sampai kamu lakukan apa yang kamu katakan tadi? " tanya Pak RW yang sepertinya sudah tak bisa menahan emosi sahabatnya itu.
Pak Sukri mengangguk. "Ya, akan aku lenyapkan dia dan juga istriku yang durjana itu dari muka bumi ini. Dengan tangan ku sendiri."