
Seorang pria dengan penampilan compang camping dan wajah yang tampak kusut juga lelah berdiri di sana, tak jauh dari warung Indi yang hanya berupa meja dan payung besar di atasnya.
Sejenak semua yang ada di sana terpaku menatap pria itu, hingga tiba-tiba Bu Sondang buka suara yang membuat mereka semua terkejut.
"Heh! Kamu Fatan mokondo kan?" serunya dengan suara besar dan melengking.
Beberapa temannya bahkan sampai harus menutup telinganya saking pengangnya mendengar suara teriakn Bu Sondang yang sudah serupa toa masjid itu.
"Suaramu Lo, jeng. Kayak mobil penjual perabot," ketus Bu Ratna dengan wajah kesal.
Bu Sondang mencebik. "Biarin."
"Mau apa kamu ke sini ha? Bukankah sudah kami bilang jangan datang lagi ke sini?" sindir Bu Maryam ketus, sembari melindungi wajah bayi Indi dari cahaya silau matahari yang mulai menampakkan sinarnya.
Indi diam, tapi dia memasang wajah sama kesalnya dengan sang ibu yang saat ini bahkan nafasnya sudah naik turun menahan emosi.
Ibu ibu geng julid juga sama, memandang Fatan seperti akan menelannya bulat-bulat saat itu juga.
"Bisa kita bicara sebentar, In? Mas benar benar butuh bantuan kamu." Fatan mencoba menghiba, agar Indi bisa luluh dengannya.
Namun sayangnya, Indi malah membuang muka dan tersenyum kecut.
"Bicara apa lagi, Mas? Kita sudah selesai. Aku sudah memutuskan akan menggugat cerai kamu setelah aku punya uang nanti. Tapi tidak sekarang, aku masih mengumpulkannya," tutur Indi bersungguh-sungguh.
Fatan tampak terkesiap, namun sebisa mungkin dia tak menunjukkan ekspresi keterkejutannya di depan semua orang.
"Tolong pikirkan lagi, In. Mas msih mencintai kamu dan anak kita, Mas datang ke sini dengan niat baik, In tapi ... sebelumnya Mas bener bener butuh pertolongan kamu," cicit Fatan maish mencoba membujuk Indi.
Indi hanya bergeming, enggan sekali rasanya harus bicara dengan Fatan tapi tatap mata ibu ibu julid yang pastinya akan menjadikan semua ini bahan gosip hangat juga sangat mengganggunya.
Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Indi mengalah pada egonya, tak ingin jika terlalu banyak masalah rumah tangganya yang akan menjadi konsumsi publik.
"Kita bicara di dalam," tukas Indi pada akhirnya.
"Tapi, In." Bu Maryam tampak keberatan.
Indi mengangguk pelan. "Tidak apa, Bu biar cepat selesai. Indi titip warung ya, Bu. Dedek bayi biar Indi bawa saja ke dalam."
Indi mengambil bayinya dari gendongan Bu Maryam dan memberi kode pada Fatan agar lekas mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Huh, mau apa lagi sih laki laki nggak tahu diri itu ke sini? Udah selingkuh ini tiba-tiba datang lagi minta tolong. Huh kalau saya jadi Indi udah saya pites aja itu laki satu, ngeselin banget abisnya."
"Iya, jeng bener banget. Jangankan bicara lihat mukanya aja saya udah ogah. Bikin jijik, gelay hiiii."
Ibu ibu geng julid mulai melontarkan pendapat mereka masing masing, Bu Maryam hanya diam sembari memindai tubuh Indi dan Fatan yang menghilang di balik pintu rumah.
"Semoga tidak ada hal yang perlu di khawatirkan," gumam Bu Maryam pelan, karna saat ini perasaannya sebagai seorang ibu tiba tiba menjadi sangat khawatir. Seolah akan ada sesuatu yang terjadi dengan hadirnya Fatan di depan mereka saat ini.
*
"Mau bicara apa kamu, Mas? Waktumu lima belas menit, jangan merusak suasana dengan minta tambahan waktu," sinis Indi sembari duduk di kursi ruang tamu dengan di ikuti Fatan yang menjatuhkan bobotnya tak jauh darinya.
Matanya tak lepas menatap sosok kecil yang tertidur di dalam gendongan Indi, sosok yang begitu dia rindukan tapi tak bisa di genggam karena kebodohannya dan kelicikan orang lain.
"Apa kau hanya datang ke sini untuk melamun? Maaf aku tidak punya waktu untuk itu, Mas. Jadi ... sebaiknya sekarang juga kamu pergi," tukas Indi saat melihat Fatan tak kunjung bicara, hanya menatap buah hatinya dengan lekat dengan mata berkabut.
Fatan terkesiap, menghapus sudut matanya dengan cepat dan berdehem melonggarkan tenggorokannya yang terasa tercekat sejak tadi. Di urungkannya niat untuk meminta bayi itu dari Indi untuk bisa dia gendong sejenak, karna ia yakin Indi tak akan mengizinkan.
__ADS_1
"I- Indi ... Mas, mas hanya ... hanya ...."
"Waktumu sisa sepuluh menit, Mas." Indi menyela.
Fatan mengusap keringat yang mengalir dari pelipisnya, lalu memperbaiki posisi duduknya yang mulai tak nyaman.
"Baik baik, mas akan cepat. Jadi begini, Mas butuh bantuan kamu, sangat butuh selain kamu tidak ada orang lain yang bisa Mas minta pertolongan lagi saat ini, jadi ... jadi Mas harap sekali kamu akan bersedia membantu Mas kali ini saja," pinta Fatan memelas, besar harapannya agar Indi bisa mengatakan iya.
Kening Indi tampak berkerut dalam, sembari menimang bayinya dia menatap Fatan lekat.
"Bantuan apa? Jika terlalu berat maka aku katakan saja langsung, Mas. Aku tidak bisa," tolak Indi tanpa mau mendengar lebih lanjut.
Fatan mendesah, sorot matanya mendadak menjadi sayu.
"Mas ... di kejar kejar polisi, In. Mas mohon bantu Mas untuk sembunyi." Fatan berkata lirih sembari menundukkan kepalanya dalam.
"Apa? Jadi kamu buronan?" seru Bu Maryam yang tak sengaja mendengar percakapan terakhir Indi dan Fatan saat hendak masuk ke dalam rumah.
****
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum, Mbak Dara. Assalamu'alaikum!"
Hari sudah menjelang sore, Dara yang sedang bersantai di teras belakang rumahnya terpaksa beranjak dari posisi wuenaknya untuk melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.
"Huh, kayaknya Mas Zaki lupa lagi nutup pagar rumah nih. Ada mulu orang yang main nyelonong masuk aja, mana lagi pewe begini. Nggak di bukain nanti katanya sombong, haaahhh." Dara menggerutu sepanjang jalan menuju pintu utama.
Dengan demikian Dara jadi punya sedikit waktu untuk menikmati waktu nya sendiri sembari minum teh dan mendengarkan lagu klasik yang bagus untuk bayi di kandungannya. Dan karna bawaan si bayi juga, dia jadi kesal setiap kali ada yang mengganggu waktu santainya itu.
Ceklek
Dara membuka pintu dengan sedikit kasar, di tampakkannya wajah muram agar si tamu bisa lekas pergi begitu pikirnya.
"Wa'alaikumsalam, eh Bu Zaenab? Ada apa ya, Bu?" tanya Dara dengan datar, terlebih dia merasa tak ada urusan apa apa lagi dengan keluarga Bu Zaenab dan Pak Jamal terlebih setelah bapak tua yang bijak itu sudah sembuh total dan keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu.
"Uhmmm, hehehe ini Mbak Dara ... duh gimana ngomongnya ya?" kekeh Bu Zaenab salah tingkah, wanita yang memakai jilbab terusan berbahan Jersey dengan warna marun itu tampak bergerak gerak gelisah sambil ******* ***** jemari tangannya.
"Ada apa, Bu? Saya kebetulan lagi ada yang di kerjain, nggak bisa lama lama terima tamu." Dara mulai kesal, namun tak sepenuhnya a dia tunjukkan agar tak terkesan tidak sopan pada tamunya yang penuh tua.
"O- oohh, begitu ya Mbak Dara. Ya udah kalau begitu ... hmmm kalau gitu langsung saja ya, Mbak." Bu Zaenab diam lagi, masih dengan senyum kikuk di wajahnya yang mulai timbul flek hitam efek KB yang dia gunakan.
Dara menghembuskan nafas kasar, masih mencoba bersabar menghadapi tetangganya yang satu ini. Tapi sepertinya Bu Zaenab sadar, hingga dia lekas lekas menyampaikan maksud ke datangannya pada Dara.
"Jadi gini, Mbak Dara. Kalau boleh saya mau minta uang lagi," ujar Bu Zaenab dengan entengnya, malah di barengi dengan cengengesan yang tak ada bagus bagusnya sama sekali di lihat.
"Uang? Maaf, uang apa ya Bu Zaenab? Saya kan nggak pernah ngutang sama ibu apalagi janji mau kasih uang, kok ... tiba tiba minta ke saya?" tanya Dara sembari melangkah menuju kursi teras dan menjatuhkan bobotnya di sana, kakinya lumayan pegal juga membawa beban perutnya yang mulai membuncit besar itu terlalu lama.
Bu Zaenab melangkah cepat mengikuti langkah Dara, lalu tanpa di persilahkan dia ikut menghenyakkan bokongnya di kursi teras yang bersebelahan dengan kursi yang di duduki Dara sekarang.
"Eh eh iya kamu memang nggak ada hutang atau janji apa apa sama saya, Mbak Dara. Tapi kan ... tapi kan ..."
"Tapi apa, Bu Zaenab? Bisa cepet nggak? Saya udah capek ini duduk di luar, mau rebahan." Dara memegangi pelipisnya yang mulai berdenyut, untuk pertama kalinya dia berkata ketus pada tetangganya yang datang berkunjung, sebab memang benar benar sudah sangat kesal dan menguras emosi yang sejak tadi dia tahan.
__ADS_1
Bu Zaenab masih saja tampak Kikuk padahal Dara benar benar sudah tak kuat duduk terlalu lama, di tambah lagi perutnya yang membesar membuatnya mulai sering sesak nafas.
"Tapi kan suami saya jadi nggak bisa kerja seperti sekarang gara gara nyelamatin si Fatur, Anaknya Mbak Dara kan? Dan kalau suami saya nggak kerja nggak ada yang nyari nafkah di rumah, wong dia aja belum sembuh benar. Kepalanya bahkan masih suka pusing katanya, kan kemarin di jahitnya banyak gara gara nolongin Fatur yang nyebrang sembarangan waktu itu. Terus ...."
"Langsung ke intinya aja, Bu Zaenab. Saya pusing," sela Dara cepat, terlebih kala mendengar Bu Zaenab mulai membawa bawa anaknya, Fatur dalam masalah ini entah apa yang dia inginkan tapi Dara sepertinya sudah bisa menebaknya. Wanita matre seperti Bu Zaenab ini pastilah masalah tak akan jauh jauh dari uang, seperti yang dia ucapkan tadi.
"Hehehe, ya ... kalau Mbak Dara sama keluarga sadar diri sih nih ya, heheh kalau bisa selama suami saya belum bisa kerja dan menafkahi kami lagi, ya ... Mbak Dara sama suami bantu bantu gitu, berapa ... gitu kan? Ya ... formalitas aja anggap aja sebagai tanda terima kasih karna sudah menyelamatkan anak kalian." Bu Zaenab mulai berkata lancar tanpa Tedeng Aling Aling lagi, bahkan dengan sumringahnya dia mengatakan itu seolah tengah meminta dana bansos dari pemerintah.
Nah kan, benar apa yang sejak tadi Dara pikirkan. Padahal Bu Zaenab ini sudah mendapat uang yang lumayan banyak dari Zaki waktu mereka masih di rumah sakit, dan uang itu jumlahnya tak sedikit masa iya sudah habis, sedangkan biaya rumah sakit saja semuanya di tanggung oleh Zaki? Dan uang terima kasih itu? Kalaupun memang ada bukannya sudah di berikan waktu itu? Kenapa sekarang malah minta lagi? Sungguh tidak sopan.
"Bu Zaenab minta berapa?" tanya Dara yang pada akhirnya memilih mengalah, ketimbang urusannya jadi panjang dan waktu bersantainya habis hanya karna meladeni Bu Zaenab yang dia tahu tak akan berhenti mengejar sampai apa yang dia inginkan dia dapatkan.
Bu Zaenab tertawa kegirangan, lalu menggeser kursinya lebih dekat ke arah Dara dengan sorot mata berbinar.
"Nggak banyak kok, Mbak Dara. Dua juta saja buat satu minggu ini," tukasnya tanpa rasa sungkan sama sekali.
"Apa? Dua juta? Buat satu minggu?" seru Dara kaget.
****
Malamnya.
"Lis, tolong bantu tidurin anak anak ya. mbak agak kurang enak badan ini, nanti habis itu kamu boleh pulang," titah Dara pada Elis yang tengah menyuapi si kembar makan.
"Siap, Mbak. Nanti habis ini langsung tidur," sahut Elis tanpa merasa keberatan sama sekali.
Dara mengangguk lalu setelah berpamitan pada anak anaknya untuk tidur lebih dulu dia melangkah menuju kamarnya. Tepat saat Zaki baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, karena suami dari Dara itu baru saja selesai mandi setelah pulang kerja.
"Muka kamu pucat banget, sayang. Kecapekan ya?" tanya setelah memakai kimono handuknya dan mendekati sang istri yang kini memilih bersandar di ranjang sembari meluruskan kakinya yang terasa pegal.
"Iya, Mas belakangan ini jadi gampang capek rasanya. Padahal cuma jalan dari teras ke belakang tapi rasanya ngos ngosan," papar Dara menceritakan apa yang dia rasakan.
Zaki tersenyum simpul, mulai memijit kaki istrinya dengan lembut dan tetap setia mendengar curhatannya. Sesuatu yang sangat di butuhkan para wanita terutama para istri, kasih sayang dan pengertian.
"Ya sudah, gimana kalau besok Mas minta bunda tinggal di sama kita buat sementara? Biar kamu ada temennya, ada yang bantuin juga kalau mau apa apa," gumam Zaki lembut, penuh kasih sayang sembari mengelus rambut Dara.
Dara mengangguk pelan, seolah tak punya tenaga untuk membantah seperti biasa karna dia tak enak jika merepotkan mertuanya yang sangat baik padanya itu.
"Terserah kamu saja, Mas. Tapi pastikan dulu kalau bunda nggak repot," sahutnya.
Zaki mengangguk, dan kembali melanjutkan memijat kaki istrinya hingga Dara bersuara lagi.
"Mas."
"Hmmm? Kenapa sayang?" tanya Zaki, masih dengan kelembutan yang sama yang selalu membuat Dara jatuh cinta lagi dan lagi dengan suaminya itu.
Tapi ingatan tentang apa yang terjadi sore tadi membuat Dara tak bisa menikmati kehangatan sifat suaminya, hatinya malah merasa kesal luar biasa.
"Mas, masa tadi sore Bu Zaenab ke sini dan minta uang sama Dara," ucap Dara spontan.
Zaki mengangkat wajahnya cepat. "apa? Minta uang? Buat apa?"
Dara mengangkat bahu. "Nggak tahu, katanya buat mereka selama Pak Jamal belum bisa balik kerja lagi setelah dari rumah sakit. Katanya Pak Jamal belum sembuh total dan masih butuh istirahat jadi belum bisa kerja, dan masa dia bilang juga kalau nafkah mereka jadi tanggung jawab kita, Mas. Karna suaminya jadi begitu karna nolongin anak kita," jelas Dara menggebu gebu.
Wajah Zaki terlihat menegang, jelas sekali kalau saat ini pria itu tengah menahan emosi.
"Mana mintanya nggak tanggung tanggung lagi," imbuh Dara, "masa dua juta cuma buat satu minggu. Kan Bu Zaenab cuma tinggal berdua sama Pak Jamal. Anak anaknya kan udah pada punya rumah sendiri."
__ADS_1
"Mas nggak habis pikir sama Bu Zaenab itu, padahal dua hari yang lalu dia minta sepuluh juta sama Mas, dengan alasan yang sama. Masa sekarang sudah minta lagi sama kamu," geram Zaki sembari mengepalkan tangannya karna kesal.