TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 107. JAWABAN MENGEJUTKAN.


__ADS_3

"Apa? Hahahhahahahahhahaahahahhah!" tawa mereka semua yang ada di ruangan itu menggema bersamaan, membuat Halim semakin malu dan menundukkan kepalanya dalam dalam.


 Elis juga tampak mencolek colek Laila dan menunjuk nunjuk ke arah Halim, seakan kasihan dengan nasibnya yang di gantung oleh Laila.


"Ya ampun, Halim ... Halim. Saya kira apa," kekeh Pak Jatmika masih belum menghabiskan tawanya.


 Pak Jatmika memegangi perutnya yang terasa kejang, kemudian dia memapah Halim untuk kembali berdiri di dekatnya sambil mengatur napas.


"Haduh, kamu bikin perut saya sakit. Ayo kita lanjut di sana saja," ajak Pak Jatmika sambil menunjuk sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut. Dimana Bu Ambar, si kembar dan Zaki juga duduk di sana.


 Halim menurut saja saat Pak Jatmika menarik tangannya untuk berdiri di sisinya.


"Laila, ke sini sebentar, nduk." Pak Jatmika melambai pada Laila yang masih berdiri di tepi ranjang Elis.


 Elis menyenggol sang kakak membuatnya terjingkat, namun gegas Laila mendekat ke arah Pak Jatmika yang memanggilnya.


"Saya, Pak." Laila berucap lirih, merdu suaranya terdengar begitu sejuk di telinga Halim yang saat ini tengah di mabuk cinta dengan wajah polos guru TK itu.


 Pak Jatmika menatap Halim, memberinya kode untuk menggeser sebuah kursi yang ada di sebelahnya untuk di duduki Laila.


"Eh, iya bos." Halim nyengir kembali dan melaksanakan titah bosnya yang hanya lewat tatapan mata itu.


 Sebuah kursi kemudian sudah berpindah tempat ke belakang Laila, siap untuk menahan tubuh gadis manis itu di atasnya.


"Monggo, silahkan duduk cah ayu," pak Jatmika mempersilahkan dengan nada lembut, membuat Laila sedikit teringat dengan almarhum sang ayah yang dulu juga sangat lembut padanya.


"Terima kasih, Pak." Laila menyahut pelan, dan duduk perlahan di kursi yang di sediakan Halim untuknya.

__ADS_1


 Halim celingak-celinguk, karna kini tak ada kursi lagi yang bisa dia duduki.


"Bos, saya ...."


" Kamu berdiri aja, laki kok lembek!" seru Pak Jatmika seakan tahu isi pikiran Halim.


 Halim mendengus pasrah, dan berdiri seperti seorang pengawal di belakang Pak Jatmika.


"Maaf, kalau saya mencampuri urusan pribadi kamu cah ayu. Tapi, saya cuma mau tahu apa benar kalau anak kampr*t ini benar-benar sudah melamar kamu dengan benar?" tanya Pak Jatmika hati hati, tanpa mempedulikan Halim yang kini mendelik di belakangnya.


 Laila masih menunduk, namun anggukan samar di berikan juga olehnya.


"I- iya, Pak. Begitulah," sahutnya pelan.


"Lalu bagaimana jawaban kamu, nduk? Apa kamu menerima ... atau menolak? Maklumlah, anak buah yang sudah saya anggap anak orang ini tampangnya memang pas Pasan. Itu juga alasan dia sudah tua begitu masih jomblo, saya harap kamu tidak gumoh ya, nduk di lamar sama dia," ujar Pak Jatmika sempat sempatnya menghina Halim.


 Halim melotot tapi tak berani menyela sama sekali, dia masih sayang dengan gajinya yang belum di bayarkan. Sedangkan Zaki, Bu Ambar dan Dara tampak menahan tawa mendengar ucapan ngasal Pak Jatmika.


"Saya ... saya ...." Laila bahkan sampai tidak sanggup untuk menjawab dengan benar, saking kuatnya keinginan untuk tertawa yang dia tahan.


"Bilang saja, Nduk jangan di tahan tahan, nanti jadi penyakit," ujar Bu Ambar mencoba menengahi karna mengira Laila tengah menyimpan masalah sendiri terdengar dari nada suaranya yang pelan dan sedikit serak.


 Padahal itu semua sebab Laila kini tengah menahan tawa yang sudah di penghujungnya itu.


"Saya permisi sebentar," ucap Laila dengan suara nyaris tak terdengar.


 Sepeninggalan Laila, gegas Halim menduduki kursi yang tadi di duduki Laila. Dia menatap kesal pada bosnya itu.

__ADS_1


"Aduh, bos! Kenapa segala ngomong kalo saya tua sih? Jomblo karatan lagi, duh bisa bisa Laila malah nolak saya dong, bos. Gimana sih?" protes Halim sambil mengacak rambutnya yang memang sudah acak acakan itu.


"Lha terus kenapa? Memang kenyataannya begitu kok," kekeh Pak Jatmika tak merasa bersalah sama sekali.


 Halim semakin menampakkan raut gelisah nya, gerakannya tak tenang seiring rasa cemas berlebih yang dia rasakan.


"Duh, tapi ya nggak gitu juga kali ngomongnya bos ah. Bos kayaknya sengaja mau bikin saya jomblo selamanya ya, emangnya bos nggak tahu kalau ibu saya yang doyan snorkeling itu udah maksa maksa buat punya cucu lima?" tegas Halim kebingungan.


 Pak Jatmika tak bisa lagi menahan tawanya, pun dengan semua orang yang ada di sana. Mereka semua kembali kompak menertawakan Halim.


"Apa, cucu lima. Subhanallah, sepertinya ibunya Mas Halim bener bener suka anak anak ya," ucap Zaki di sela sela tawanya .


 Halim menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir kuda lagi. Sepertinya kuda saja capek cengirannya di pinjam Halim melulu, kalo di hitung utang kayaknya bon si Halim ini sudah banyak sama si kuda.


"Iya, Pak Zaki. Soalnya ibu saya itu nggak mau menikah, saya aja di ambil dari panti sama beliau. Jadi sekarang beliau rindu sama suara tawa dan tangisan bayi, makanya desak saya terus ini. Katanya kalau kali ini gagal lagi, beliau mau pulangin saya ke panti, kan saya takut kalau nanti di pulangin ke panti saya mau tidur dimana. Kasur saya waktu kecil dulu kan ya pasti udah nggak muat," keluh Halim lagi lagi mengundang gelak tawa semua orang.


"Ya ampun, Halim ... Halim. Malang benar toh nasibmu," kekeh Bu Ambar yang turut kasihan namun tertawa juga mendengar curhatan Halim.


"Ya makanya itu, Bu. Kali ini saya harus berhasil melamar Mbak Laila, selain sudah cinta saya juga perlu menyelamatkan masa depan saya. Makanya bos, jangan begitu dong ngomongnya ... Setidaknya bilang yang bagus bagus kek biar Mbak Laila berkenan menerima lamaran saya," pinta Halim memelas.


 Pak Jatmika menarik nafas panjang untuk mengurangi tawanya yang masih berderai. Setelahnya dia menepuk nepuk pelan pundak Halim seakan memberi semangat.


"Kamu tenang saja, kalau Laila benar punya perasaan yang sama dengan kamu. Insyaallah, walau saya bicara seribu hal jelek tentang kamu pun dia akan tetap mantab memilih kamu. Percaya sama saya, saya nggak mungkin menjerumuskan kamu. Justru saya melakukan ini supaya kita tahu calon wanita yang akan menjadi istri kamu, itu benar mencintai kamu atau hanya sekedar kasihan sama kamu." Pak Jatmika kembali tergelak.


 Ucapannya terdengar seperti main main, tapi maknanya sangatlah dalam. Halim sendiri sampai terhenyak mendengarnya, baru dia tahu kalau sang bos ternyata segitu perhatiannya pada nasib percintaannya. Dan sampai rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkan wanita yang sesuai untuknya, walau caranya mungkin agak ekstrem dan nyeleneh di mata orang awam.


 Setelah tawa semua orang reda, pintu ruangan kembali terbuka. Laila masuk dengan wajah yang terlihat jauh lebih berseri ketimbang tadi.

__ADS_1


 Dengan senyum mengembang sempurna Laila menatap Halim dan melontarkan kalimat yang membuat siapapun melongo dibuatnya.


"Saya bersedia menjadi istri Mas Halim, dan saya juga mau punya anak lima."


__ADS_2