
Beberapa waktu sebelumnya.
*Kita ke Indi Fatan dulu ya. Kayanya seru nih bahas yang iya iya dulu.
"In, ada tetangga yang mau jenguk kamu dan bayi kamu." Bu Maryam masuk ke dalam kamar Indi, di sana dia tengah berbaring telentang dengan bayinya berada di sisinya.
"Kenapa nggak di suruh masuk aja, Bu?" tanya Indi dengan suara pelan sekali, karna perutnya terasa sangat linu jika bicara terlalu keras. Bahkan sejak awal pasca operasi Indi sangat takut bersin, apalagi batuk hingga setiap rasa itu datang Indi akan menekan hidungnya kuat kuat walau rasanya menyebalkan saat ingin bersin tidak jadi itu. Ya kalian tahu sendiri lah kan.
"Tadi ibu kira kamu tidur, makanya ibu pastikan dulu ke sini. Ya sudah, ibu panggil dulu ya mereka," terang Bu Maryam lalu kembali berbalik ke teras dimana para tetangga yang rata rata adalah ibu ibu tetangga itu untuk masuk.
"Assalamualaikum," ucap mereka semua bersamaan saat masuk ke dalam kamar indi.
"Wa'alaikumsalam," sahut Indi pelan, sambil memaksakan kedua sudut bibirnya untuk membentuk selarik senyum tipis.
Para ibu ibu yang terdiri dari lima orang itu meletakkan bawaannya masing-masing tak jauh dari tempat Indi berbaring, sesuai tradisi yang ada di sana jika ada tetangga yang baru melahirkan maka akan di jenguk sambil membawa kebutuhan bayi seperti bedak, sabun cuci atau pakaian bayi, tak jarang roti dan panganan ringan pun di bawakan.
"Ini, neng. Maaf ya cuma bisa ngasih sedikit," ucap salah satu ibu ibu yang merupakan tetangga yang rumahnya paling dekat dengan rumah indi dan Fatan.
"Nggak papa, Bu. Maaf merepotkan," sahut Indi masih berupa bisikan, itupun sudah cukup membuat perutnya sangat nyeri dan perih.
Sesekali Indi meringis saat rasa sakit di perutnya terus saja datang, pasca pulang dari rumah sakit tempo hari dan jalan buruk yang di lalui membuat bekas operasi Indi kembali mengeluarkan darah, untungnya sudah langsung di beri obat oleh bidan desa. Namun tetap saja rasa sakitnya sewaktu waktu masih kembali hingga Indi sangat mengandalkan ibunya untuk merawat bayinya.
"Bayinya perempuan atau laki-laki, in?" tanya Bu Hasanah, tetangga Indi yang paling dekat itu.
Wanita tambun itu mendekat mengambil tisu basah dan mengelap tangannya sebelum menggendong bayi mungil Indi yang terlelap di sampingnya. Sedangkan Bu Maryam sedang ke dapur untuk membuatkan minuman untuk para tamunya.
"Alhamdulillah perempuan, Bu." Indi menjawab lemah.
__ADS_1
"Kok suaramu pelan sekali sih, in. Biasan juga teriak teriak kalau berantem sama si intan anaknya Bu Sukri," tanya salah satu tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Bu Hasanah, Bu Tejo namanya orangnya sangat cerewet dengan beraneka ragam gelang dan perhiasan emas menempel di tubuhnya entah asli atau tidak tak ada yang tahu, tapi dia ngakunya sih asli, ngakunya padahal suaminya hanya seorang buruh di ladang ladang orang yang kerjanya pun hanya saat panen dan musim tanam tiba.
"Kan Indi habis di sesar, Bu. Ya wajarlah kalau nggak bisa ngomong keras," bela Bu hasanah yang menggendong bayi Indi yang mungil dan berkulit sangat merah itu.
"Oalah, habis sesar toh. Katanya ya kalo di sesar itu belum sah jadi ibu, belum ngerasain rasanya ngeden, nggak tahu rasanya ngeluarin bayi lewat jalan yang seharunya," oceh Bu Tejo sambil melambai lambaikan tangannya hingga gelang gelang yang melingkar di pergelangan tangannya saling beradu dan menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik.
Indi hanya bisa tersenyum kecut mendengar hinaan yang di lontarkan tetangganya itu, wajar saja di kampung tersebut belum ada yang melahirkan secara sesar. Walaupun kondisi bayinya sungsang tetap akan di usahakan lahir normal walau itu beresiko besar bagi ini dan bayinya. Karna bagi sebagian besar masyarakat desa melahirkan dengan jalan normal lebih terhormat dan lebih di anggap sebagai perempuan sempurna ketimbang harus di sesar.
"Ah, jaman kan sudah semakin maju, Bu Tejo. Ya nggak harus normal jugalah, kalau memang tidak bisa masa mau di paksakan," sahut Bu Hasanah lagi lagi membela Indi.
Bu Tejo hanya diam mendengar pembelaan Bu Hasanah, karna sebenarnya Bu Tejo lumayan segan juga pada Bu Hasanah sebab suaminya bekerja pada suami Bu Hasanah sebagai penjaga ladang.
"Ibu ibu, ini silahkan di minum dulu. Maaf adanya cuma ini," ucap Bu Maryam yang baru kembali dari dapur dengan membawa sebuah nampan berisi lima gelas teh.
"Terima kasih banyak, Bu. Ini ada sedikit buat Dede bayinya, di simpan dulu Bu." Bu Hasanah menunjuk kantong kantong plastik di hadapannya yang masih tergeletak di dekat Indi berbaring.
"Bu Maryam, cucunya kecil sekali ya." celetuk salah satu ibu ibu yang duduk tak jauh dari posisi Bu Hasanah yang tengah memangku si bayi.
"Yah, ya jelas kecil lah, Bu. Wong lahirnya saja masih tujuh bulan kok," sela Bu Tejo lagi seakan akan apa yang terjadi itu adalah aib yang sangat besar, padahal wajar saja bayi lahir di usia kandungan 7 bulan jika terindikasi adanya bahaya pada bayi jika tidak segera di lahirkan.
Ibu ibu itu mengangguk, lalu mulai menatap ibu ibu lain di sebelahnya dan mulai bergunjing sambil sesekali melirik jijik ke arah bayi Indi.
Bu Hasanah melirik dua ibu ibu itu dengan tajam, dan seketika ibu ibu itu langsung terdiam dan berpura pura meminum tehnya sambil membuang pandangan ke arah lain.
Bayi di pangkuan Bu Hasanah mulai merengek, suaranya yang kecil mulai terdengar namun tetap saja tidak semelengking suara bayi sehat pada umumnya.
" In, ini bayimu kayaknya haus deh. Coba di susui dulu," ujar Bu Hasanah lembut sembari menyerahkan bayi mungil itu pada Indi.
__ADS_1
Namun Indi malah tampak kebingungan, karna bahkan untuk mengangkat tubuhnya pun dia kesulitan.
"Indi, itu bayimu nangis kok malah tiduran aja sih kamu itu, bukannya cepat anaknya di ambil terus di susui." Bu Tejo lagi lagi mengeluarkan kata katanya yang ketus sembari menatap Indi dengan sinis.
Indi masih diam, dia hanya bisa menatap sang ibu yang kini juga tampak menatap iba dirinya.
"Sini, Bu Hasanah biar saya yang kasih susu bayinya." Bu Maryam akhirnya mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi Indi dari gendongan Bu Hasanah.
Walau bingung, Bu Hasanah akhirnya menyerahkan juga bayi mungil yang tengah menangis itu ke tangan neneknya. Dan Bu Maryam mengambil botol susu dari penghangat yang di belikan Dara sebelum mereka pulang ke kampung beberapa hari yang lalu.
.
"Cup, cup, cup diam ya, sayang nenek. Ini ini susunya, minum dulu ya," gumam Bu Maryam menimang cucu nya dengan penuh kasih sayang.
.
Dia berbalik badan agar tak ada yang tahu kalau saat ini air mata yang sejak tadi di tahannya merembes jua ke pipi tuanya.
Melihat kejadian itu sudah tentu para ibu ibu yang semula sudah anteng mulai lagi berkasak kusuk menceritakan Indi. Yang kasus melahirkannya berbeda dengan warga kampung yang lain.
"Kok bukan kamu langsung sih Indi yang nyusuin bayi kamu, kenapaa malah di kasih susu botol?" celetuk salah satu ibu ibu dengan tatapan penuh tanya.
Indi mencoba tersenyum walau dalam hatinya tercabik-cabik sebab tak bisa mengasihi bayinya secara langsung.
"Bukan nggak mau, Bu. Indi belum kuat bangun, jahitan pasca operasinya masih basah jadi nyeri sekali kalau di buat bergerak. Lagi pula itu bukan susu formula kok, Bu itu ASI perah." Indi mencoba menjelaskan kondisinya berharap sang tetangga mau mengerti dan tak berpikir macam-macam.
"Halah, makanya kalau tahu bakalan kaya begini ya kamu itu nggak usah maksa mau melahirkan lewat operasi. Sudah sendiri kan akhirnya? Miskin aja belagu," sindir Bu Tejo tak habis habisnya membuli Indi dengan kata katanya yang super nyelekit.
__ADS_1